Salam,
Saya sebenarnya berketurunan Rawa...datuk and nenek mmg berasal dari pagar ruyong yang duduk di dong dan kuala dong, raub.....Cuma seperti orang lain...sy mmg blur terus.......
Ini nama datuk saya.....
Sebelah Ibu
Mat Dong xxx
Dunah xx
Sebelah ayah pulak
Hitam bin xxxx
Mahya xxxx
Mungkin boleh saya hubungi tuan, yang mana boleh memungkinkan saya untuk mengetahui salur keluarga saya.....
Ini no hp saya : 012 9142500
Rozita Abdul Rahim
Human Resource Unit
Malaysian Industry Government Group for High Technology (MIGHT)
Level 6, Block 2
Menara PJH
Presint 2
62100 Putrajaya
Tel : 03 - 83157 888
Fax : 03 - 88888 232
Khamis, 5 Mac 2009
Selasa, 3 Mac 2009
Alam Minangkabau (02)
Alam Minangkabau (02)
Ditulis oleh Ibrahim Dt. Sangguno Dirajo
Sabtu, 28 Agustus 2004
IV. Penghulu Pertama
Lama pula antaranya orangpun bertambah ramai pula. Pada suatu hari bermusyawarah pula ninik Sri Maharaja Diraja dengan Datuk Suri Diraja dan Cateri Bilang Pandai, serta segala orang banyak dari kampung Pariangan dan Padang Panjang di Balai Saruang tadi.
Musyawarah itu adalah untuk memilih orang yang akan menjadi yang memerintah dan menghukum dibawah raja.
Adapun orang yang akan ditanam jadi ketua adalah orang yang akan menjadi penghulu orang banyak itu, dengan fungsi antara lain :
Kusuk yang akan menyelesaikan
Keruh yang akan menjernihkan
Sesat yang akan menghimbau
Terluncur yang akan menghelakan
Itulah orang yang akan memimpin orang banyak, dibawah ninik Sri Maharaja Diraja.
Didalam permusyawaratan itu dicapai kata sepakat yakni akan menanam dua orang ketua, seorang di Pariangan dan seorang di Padang Panjang. Hasil kesepakatan itu dikembalikanke kepada ninik Sri Maharaja diraja dan beliau menyetujui.
Pada kesempatan itu Datuk Suri Diraja bertitah "Berbahagialah kamu sekalian, telah sama sama sepakat untuk menanam dua orang ketua yang akan menjadi penghulu oleh kamu sekalian. Apa nama pangilan dan apa nama pangkatnya bagi keduanya ?"
Mendengar titah Datuk Suri Diraja itu, tidak ada yang dapat menjawab sebab belum ada kata mupakat tentang itu. Sekalian orang banyak itu memohon kepada ninik Sri Maharaja Diraja untuk kembali bermusyawarah untuk menetapkan apa nama panggilan dan pangkat bagi keduanya tadi.
Tetapi setelah beberapa saat lamanya mereka duduk timbang menimbang, hasilnya nihil sama sekali. Akhirnya sekalian orang banyak itu memulangkan kata kepada ninik Sri Maharaja Diraja.
"Telah puas kami bersama sama mencari nama pangkat dan nama pangilan bagi ketua kami, namun tidak dapat oleh kami, melainkan sebuah kata ketua saja. Oleh sebab itu kami serahkan saja kepada Tuanku semua, apa yang baik bagi Tuanku, kami akan menurut saja."
Setelah itu bertitahlah ninik Sri Maharaja Diraja kepada sekalian orang banyak itu : "Adapun orang akan kita jadikan ketua itu tentulah akan dipilih dari kita yang hadir disini, yaitu orang yang lebih pandai dan baik tingkah lakunya. Sebab orang itu, pergi tempat kita bertanya, pulang tempat kita beberita. Orang itulah yang akan memelihara buruk baiknya kita sekalian, tempat kita mengadukan segala hal yang baik dan buruk.
Orang itu yang akan menimbang mudharat danmanfaat diatas kita sekalian serta menghukum barang sesuatunya buruk dan baik.
Oleh sebab itu sepanjang pendapat hamba, patutlah kita muliakan benar orang itu dengan semulia mulianya daripada kita yang banyak ini. Kita tuakan orang itu dengan kata mupakat bersama dan tuanya kita samakan dengan orangtua ninik mamak kita yaitu 'datuk' namanya. Dengan demikian kepadanya kita panggil Datuk meskipun umurnya lebih muda daripada kita.
Kita wajib menghormatinya, apa titahnya kita junjung, apa perintahnya kita turut, agar sentosa kita dari marabahaya selama hidup didunia ini. Jikalau kita tidak bertindak dan tiada turut menurut, niscaya tiadalah kita mendapat keselamatan"
Mendengar penitahan ninik Sri Maharaja Diraja itu, senanglah hati sekalian orang banyak itu. Panggilan Datuk sampai sekarang tidak berubah. Itulah asal mulanya maka segala penghulu itu dipanggil Datuk dan disebut orang juga ninik mamak, ninik daripada mamaknya orang banyak. Setelah putus kata mupakat, diadakan helat jamu di kampung Pariangan dan Padang Panjang.
Pada masa itu ditetapkan kedua penghulu tadi seorang di Pariangan bergelar Datuk Bandaharo Kayo dan seorang lagi di Padang Panjang bergelar Datuk Maharaja Besar. Itulah penghulu pertama yang ada dipulau andalas ini, yang disebut juga pulau Perca.
Adapun Datuk Suri Diraja bukanlah penghulu yang diangkat orang, beliau diberi nama seperti itu hanya karena beliau berkarib dengan raja. Beliau dipanggil datuk karena tuanya saja, dan lagi beliau adalah orang cerdik pandai, lubuk akal lautan budi, tempat orang berguru dan bertanya pada waktu itu di Pariangan Padang Panjang, serta menjadi guru oleh ninik Sri Maharaja Diraja.
Dengan bertambah ramainya orang di Pariangan dan Padang Panjang, oleh ninik Sri Maharaja Diraja dengan mupakat segala isi kampung diberi nama Nagari Parangan Padang Panjang. Sampai saat ini nama itu tidak pernah dirubah orang dan itulah nagari tertua di pulau Andalas ini.
Dari pernikahan ninik Sri Maharaja Diraja dengan adik datuk Suri Diraja yang bernama Tuan Putri Indah Jalia, lahirlah seorang yang bernama Sutan Paduka Besar.
Disadur oleh : Dewis Natra
Sumber : Buku Curaian Adat Minangkabau
Penerbit : Kristal Multimedia Bukittinggi
Ahad, 1 Mac 2009
TITIK BUKAN NOKTAH
TITIK BUKAN NOKTAH
BLOG SDRA HASHIM ZABIDI, KUALA LIPIS PAHANG
http://titikbukannoktah.blogspot.com
Dibawah ini ialah pantun Datuk Empat Moyang Lapan yg saya petik dari buku Salasilah milik En. Zakaria bin Imam Ngah PJK, (aruah) bekas Ketua Kampung Tersan, Mukim Sega,Raub Pahang. Pemantun ialah sepupu ayah saya dan Pak saudara pupu pada saya.
Ikan tiar ikan jemadi - ikan kerapu ikan tetuka
kita dilahirkan kedunia ini - dengan adanya ibu dan bapa.
Ikan kerapu ikan tetuka - ikan raya ikan lelumba
dgn adanya ibu dan bapa - begitu juga lahirnya mereka.
Ikan raya ikan lelumba - ikan cencaru ikan pelata
begitu juga lahirnya mereka - dengan beribu dan berbapa.
Ikan cencaru ikan pelata - ikan aya ikan lemuduk
dengan beribu dan berbapa - yg kita panggil datuk.
Ikan aya ikan lemuduk - ikan lambai ikan memparang
yg kita panggil datuk - seramai empat orang.
Ikan lambai ikan memparang - ikan raya ikan tetuka
yg seramai empat orang - mereka juga beribu berbapa.
Ikan raya ikan tetuka - ikan lambai ikan memparang
mereka jua beribu bapa - seramai dilapan orang.
Ikan lambai ikan memparang - ikan pelata ikan selayang
seramai dilapan orang - yang kita panggil moyang.
Ikan pelata ikan selayang - ikan kaci ikan alu alu
yg kita panggil moyang - yang mesti diambil tahu.
Ikan kaci ikan alu alu - ikan bunang ikan petanda
yg mesti diambil tahu - supaya senang mengenal saudara.
Ikan bunang ikan petanda - ikan selayang ikan lepu
supaya senang mengenal saudara - berpangkat moyang tuk dan pupu.
Ikan selayang ikan lepu - ikan pelaga ikan keli
berpangkat moyang tuk dan pupu - serta juga muhrim dan wali.
Ikan pelaga ikan keli - ikan kalang ikan haruan
serta juga muhrim dan wali - perkara yg dituntut Tuhan.
Ikan kalang ikan haruan - ikan gelama ikan tiram
perkara yg dituntut Tuhan - bagi yang beragama Islam.
Ikan gelama ikan tiram - ikan duri ikan limbat
bagi yg beragama Islam - wajiblah cari sebelum terlambat.
Ikan duri ikan limbat - ikan mina ikan batulu
wajiblah cari sebelum terlambat - dengan bertanya orang yg tahu.
Ikan mina ikan batutu - ikan todak ikan tenggiri
dgn bertanya orang yg tahu- jika tidak kita yg rugi.
Ikan todak ikan tenggiri - ikan lidah ikan kerisi
jika tidak kita yg rugi - hingga berbalah sesama sendiri.
Ahad, 22 Februari 2009
Alam Minangkabau (01)

Alam Minangkabau (01)
Ditulis oleh Ibrahim Dt. Sangguno Dirajo
Sabtu, 07 Agustus 2004
Dewasa ini sangat minim sekali informasi mengenai adat yang kita dapati, seringkali kita mendengar tambo alam Minangkabau, tapi kita tidak seperti apa isi tambo itu sebenarnya. Begitu juga dengan adat Minangkabau seperti apa adat tersebut. Mulai dari tulisan ini kami dari admin akan memuat tulisan dari Ibrahim Dt. Sangguno Dirajo dalam bukunya Curaian Adat Minangkabau. Serta ucapan terimakasih kepada penerbit Kristal Multimedia Bukittinggi yang telah berkenan memberi ijin untuk menyadur isi buku tersebut.
Sedikit tentang penulis Ibrahim dilahirkan di sungayang Sumatera Barat pada tahun 1958. Pendidikan dimulai di Sekolah Government di Batusangkar, tamat tahun 1968. Pada tahun 1870 beliau menjadi juru tulis Tuanku Titah di Sungai Tarab. Tuangku ini ahli dibidang adat Minangkabau. Maka saat itu beliau tertarik dan memperdalam pengetahuan dibidang Adat Minangkabau sehingga beliau diangkat menjadi Penghulu Andiko pada tahun 1913 dengan gelar Datuak Sangguno Dirajo.
Dalam tulisan alam Minangkabau akan dimuat berseri. Semoga hal ini bermanfaat bagi pembaca.
I. Pulau Andalas
Menurut bunyi Tambo Alam Minangkabau, adapun orang yang pertama datang mendiami pulau andalas adalah ninik kita Sri Maharaja Diraja namanya. Beliau datang datang kemari dari tanah besar Voor Indie, tanah Rum kata orang tua tua, dan beliau kesini bersama dengan ke enambelas orang laki laki perempuan dari kasta Cateri. Selain itu dibawanya juga Kucing Hitam, Harimau Campo, Kambing Hutan dan Anjing Muk Alam.
Dikatakan Kucing Hitam, Harimau Campo dan lain lainnya itu, sekali kali bukanlah bangsa binatang, tetapi manusia biasa juga. Mereka dijuluki dengan nama nama seperti itu sesuai dengan tingkah laku dan perangai mereka. Semuanya perempuan dan dipelihara oleh ninik Maharaja diraja seperti memelihara anaknya sendiri.
Ninik Sri Maharaja Diraja berlayar dari tanah besar itu dengan sebuah perahu kayu jati. Mula mula mereka berlayar melalui pulau Jawa yang saat itu belum terlihat tanah pulau Jawa itu. Yang tampak hanya puncak gunung Serang dan dipulau itu perahu beliau tertumpuk batu karang sehingga mengalami kerusakan dan tidak bisamelanjutkan perjalanan. Pada saat itu menitahlah ninik Sri Maharaja Diraja kepada mereka yang berada diatas kapal itu "Barangsiapa yang dapat memperbaiki kapal ini seperti sediakala, akan hamba ambil sebagai menantu"
Mendengar titah itu beb erapa cerdik pandai segera berunding, mencari akal agar dapat memperbaiki perahu itu. Maka dengan karunia Allah, maka lima orang tukang segera bekerja dan kapal itu dapat diperbaiki kembali. Sri Maharaja merasa senang dan suka hati serta memuji kepandaian para tukang tersebut.
Kemudian perjalanan dilanjutkan sampai pada suatu kektika mereka melihat sebuah gosong tersembunyi di dalam laut. Tergilang gilang kelihatan dari jauh kira kira sebesar telur ayam, hilang timbuldilamun ombak.
Setelah sampai disitu kiranya ada tanah lebar dengan datarannya, berlabuhlah ninik Sri Maharaja Diraja diatas gosong itu. Gosong itu adalah puncak gunung merapi yang sekarang ini. Disanalah berdiam ninik Sri Maharaja Diraja bersama dengan para pengikutnya. Itulah ninik kita yang mula mula mendiami pulau Andalas ini, hingga menjadi juga oleh yang tua tua dengan memakai pantun ibarat :
Dimana mulanya terbti pelita
Dibalik tanglun nan berapi
Dimana mulanya ninik kita
Ialah di puncak gunung Merapi
Kata orang yang menceritakan, takkala ninik Sri Maharaja Diraja berada di puncak gunung Merapi itu beliau berdo' a supaya disusutkan air laut.
Dengan karunia Tuhan air laut semakin hari semakin susut juga dan bertambah lebar tanah daratan sehingga nyatalah tempat tempat itu adanya diatas gunung yang sangat besar.
Kata sahibulhikayat, takkala beliau masih berdiam dipuncak gunung itu, dengan takdir Tuhan orang orang yang bernama Kucing hitam, Harimau campo, Kambing hutan dan Anjing Muk Alam masing masing melahirkan seorang anak perempuan. Begitu pula istri Ninik Sri Maharaja Diraja melahirkan seorang anak perempuan pula. Sekalian semua anak itu dipelihara oleh ninik Sri Maharaja Diraja dengan kasih sayang yang tiada dibedakan. Kemudian kelak setelah anak anak itu besar, mereka dinikahkan dengan 5 tukang yang memperbaiki kapal tadi.
II. Galundi Nan Bersela dan Guguk Ampang
Setelah beberapa lama mereka berdiam dipuncak gunung itu, air laut sudah berangsur susut juga dan bertambah besar juga tanah daratan, maka sekalian orang itu berpindah kesebuah lekung dipinggang gunung Merapi itu.
Oleh Sri Maharaja Diraja tempat itu diberi nama Labuhan Sitembaga. Disitulah pada masa dahulu ada Sirengkak nan Berdengkang. Disitu pulauntuk pertama kalinya orang menggali sumur untuk tempat mandi dan tempat mengambil air minum, karena disekitar tidak ada air tawar, yang ada hanya air laut.
Selanjutnya mereka membuat sepiring sawah bernama sawah setampang benih. Disebut setampang benih karena dengan padi yang setampang itu sudah mencukupiuntuk makan orang disaat itu, karena mereka belumbanyak. Padi itu pula menjadi asal padi yang ada sekarang. Sepanjang cerita orang tua tua.
Lama kelamaan tumbuh pula Galundi nan Bersela, air laut bertambah susut juga dan daratan bertambah luas, maka Cateri Bilang Pandai mencari tanah yang lebih baik untuk mereka huni.
Ditemukan sebuah guguk disebelah kanan dari Galundi nan Bersela tadi, dan sekalian orang yang berada di Galundi berpindah ke ketempat baru itu. Tempat itu diberi nama oleh ninik Sri Maharaja Diraja serta Cateri Bilang Pandai dengan nama Guguk Ampang.
III. Nagari Pariangan dan Padang Panjang
Tidak berapa lama antaranya, orang orang yang menetap di Guguk Ampang berpindah pula dengan membuat setumpak tanah yang datar di baruh Guguk Ampang itu.
Tanah disini lebih baik daripada tanah di Ampang Gadang. Mereka pun berbondong bondong membuat tempat tinggal ditempat yang baru ini dan oleh ninik Sri Maharaja Diraja beserta Cateri Bilang Pandai tempat ini diberi nama Perhurungan. Guguk Ampang tadi pada saat ini bernama kampung Guguk Atas. Lama kelamaan orangpun bertambah kembang juga, dan kampung Perhurungan bertambah maju. Orang semakin hari semakin riang pula.
Atas prakasa ninik Sri Maharaja Diraja beserta cerdik pandai masa itu, dibuat semacam permainan anak negeri seperti Pencak Silat, Tari Payung dan bermacam peralatan untuk gung dan talempong, gendang, serunai rabab, kecapi dan lain lain sehingga menjadikan orang bertambah riang juga disetiap waktu.
Suasana masyarakat yang selalu dalam keadaan riang itu, menimbulkan keinginan dari ninik Sri Maharaja Diraja dan Cateri Bilang Pandai untuk menganti nama kampung menjadi Pariangan.
Kemudian karena bertambah kembang juga, seorang hulubalang ninik Sri Maharaja Diraja pergi membuat tempat tinggal dekat sebuah batu besar disuatu tanah disebelah kanan pariangan. Karena tempat itu baik pula, berdatangan orang pariangan membuat tempat tinggal disitu.
Lama kelamaan tempat itu menjadi sebuah kampung yang ramai pula. Oleh Cateri Bilang Pandai kampung itu diberi nama Padang Panjang. Sebab yang pertama sekali menemukan daerah itu adalah hulubalang yang menyandang gelar Pedang nan Panjang. Kampung Pariangan dan Padang Panjang semakin hari semakin ramai, dan kedua kampung ini dibawah hukum ninik Sri Maharaja Diraja.
Pada suatu hari bermusyawarahlah segala isi kampung Pariangan dan Padang Panjang untuk mendirikan sebuah Balairung tempat raja duduk menghukum (memerintah) beserta orang besar lainnya Datuk Suri Diraja, Cateri Bilang Pandai yang bernama Indra Jati. Balairung itu didirikan didalam kampung Pariangan, dihiasi dengan lapik lalang.
Ruangan hanya sebuah saja sehingga sampai saat ini disebut orang Balai Saruang. Disitulah tempat ninik Sri Maharaja Diraja dan orang orang besarnya menghukumwaktu itu.
Disadur oleh : Dewis Natra
Sumber : Buku Curaian Adat Minangkabau
Penerbit : Kristal Multimedia Bukittinggi
Bahasa Rao Di Nogori Sembilan
Bahasa Rao Di Nogori Sembilan
Walaupun sudah beberapa kali datang kerumah Pak Shawal, namun hari rabu itu saya di telepon oleh beliau cukup lama. Berkali-kali beliau mengatakan dalam telepon itu “sekondakhati bukanlah generasi pertama yang datang ke tanah Melayu”. Menurut pengusaha berjaya keturunan Rao Koto Rajo asal Tapah itu, “jauh sebelum sekondakhati, telah ramai orang Rao yang berhijrah ke tanah Melayu”. Pengaruh orang Rao menurutnya telah sampai ke nogori sembilan. Orang mandahiling yang ada di Perak menurutnya semua menggunakan bahasa Rao, pengaruh bahasa Rao juga terdapat dalam bahasa Kelantan dan sebagainya.
Menurut beliau, suku yang mempengaruhi adalah suku yang kuat dan kokoh, sehingga orang lain terpengaruh dan ingin menjadi bagian darinya. Sejarah mencatatkan bagaimana Barat dan Eropah menjadi ke Árab-araban dan mengikut style Arab dizaman keemasan Islam dahulu dan sekarang dunia menjadi ke Barat-baratan yang mengikut gaya Barat kerana saat ini adalah zaman keagungan Barat yang mengalahkan dunia lain. Pak Shawal melanjutkan, “cubo dongar ge lagu nogori sombilen, apo kono eh jang”...
Sebagai seorang akademisi yang terikat dan berpegang teguh pada prinsip dan data-data ilmiyah, saya tidak mahu menerima kenyataan itu begitu sahaja tanpa soal selidik terlebih dahulu. Hari sabtu saya pergi ke Maydin masjid India membeli dan memborong semua koleksi CD Ally Noor & Mastura. Saya langsung “jatuh cinta” mendengar lagu-lagu itu. Di samping kelakar, cerita dalam lagu hampir sama dengan kisah saya. Seolah lagu-lagu itu menceritakan nasib saya yang ditinggal kahwin oleh seorang kekasih setelah empat tahun lebih kami berkawan baik. Seperti cerita itu, saya juga telah jumpa dan mendapatkan persetujuan orang tuanya. Tetapi taqdir menentukan lain yang membuat saya ridha dan tawakkal menerima taqdir dari_Nya dan menjadi “bujang lapuk” hingga ke hari ini.
Mendengar lagu-lagu negeri Sembilan yang dinyanyikan oleh Ally Noor & Mastura memang menyeronokkan. Tetapi tanpa disadari ada sesuatu yang lain dalam lagu yang terkenal dan menggelitik dengan lagu apo kono eh jang itu. Pernah tak kita menyedari bahawa di dalam lagu-lagu itu terdapat banyak sekali unsur-unsur bahasa Rao. Penulis pernah belajar di Tapanuli selama tujuh tahun dan belajar di Minangkabau selama empat tahun. Bahasa yang dilagukan oleh kedua artis nogori sembilan itu bukanlah bahasa minang murni, dan bukan pula bahasa mandahiling, tetapi terdapat unsur-unsure bahasa Rao yang banyak di dalamnya.
Pertanyaan selanjutnya adalah kenapa bahasa nogori sombilan dipengaruhi oleh bahasa Rao? Pernahkah orang Rao maju dan `berkuasa` dinegeri sembilan? Siapakah dan tahun berapa generasi pertama asal Rao datang ke Negeri Sembilan dan masih adakah keluarga Rao yang menetap di nogori sembilan saat ini?. Mungkinkah kerana Raja nogori sembilan saat ini adalah keturunan Minang Bukit Tinggi, membuat orang Rao menghilangkan identitinya sebagai orang Rao? (sebuah pertanyaan yang pastinya tidak akan mampu dijawab oleh artikel yang singkat ini)
Di nogori sembilan terdapat kuburan Tuanku Tambusai yang berasal dari Riau yang bersempadan dan berjiran dengan Rao. Tuanku Tambusai yang juga sebagai pahlawan nasional Indonesia ini, dulunya pernah belajar agama dan berjuang di Rao. Tuanku Tambusai melarikan diri ketanah Melayu kerana tidak mahu tunduk dengan kehendak penjajah Belanda yang sudah menaklukkan Rao ketika itu (Wan Mohd. Shaghir Abdullah) Kemungkinan Tuanku Tambusai membawa pengikut orang-orang Rao datang ke Tanah Melayu juga adalah sesuatu yang masuk akal. Ini kerana sejarah mengenal perjuangan tiga serangkai iaitu; Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Tambusai dan Tuanku Rao yang sezaman dan memiliki ikatan yang rapat.
Buyuang adalah panggilan sayang kepada anak lelaki. Jang adalah singkatan ujang yang berasal dari kalimat bujang yang bermakna hansem (gagah) adalah panggilan manja dan sanjungan kepada anak lelaki di Rao. Di sini penulis hanya akan menuliskan sebahagian kecil kadungan bahasa Rao yang terdapat dalam nyanyian nogori sembilan Ally Noor & Mastura tersebut, iaitu;
Bahasa Rao/Lagu Bahasa Minang Bahasa Rao/lagu Bahasa Minang
Mano Ma Porang Parang
Poi Pai Baden Badan
Kobou Kabau Tompek Tampek
Gulei Gulai Koreh Kareh
Sobolango Sabalango Kobun Kabun
Monuang Manuang Tobang Tabang
Ompuak Untuak Tolontang Talantang
Sonang Sanang Tontu Tontu
Do Nyo Pojom Pajam
Domom Damam Omak Amak
Copek Capek Tompek Tampek
Morano Marano Poniang Paniang
Baden Badan Jowobnyo Jawabnyo
Ongah Uda Solemo Salemo
Podiah Padiah Tompah Tampah
Jangen Jan Bolakang Balakang
Ondak Nyio Monggigik Manggigik
Togah Tagah Monangih Manangih
Sonang Sanang Monyobuik Manyabuik
Konang Kanang Jowobnyo Jawabnyo
Omak Amak Disobuik Disabuik
Ontahlah Antahlah Apo layi A layi
Mujuar Untuang Bobuih Babuih
Obang Azan Konyang Kanyang
Menurut pak Shawal, orang Rao telah datang ke tanah Melayu bermula dari abad ke enam belas lagi. Namun seperti biasa, belum ada data-data tertulis yang mengatakan demikian. Ini juga kerana budaya tulis baca belum terkenal ketika itu. Tetapi orang yang datang selepasnya akan menjadikan orang yang pertama kali hijrah itu sebagai tepatan tempat singgah.
Penghijrahan orang Rao ke tanah Melayu jauh sebelum adanya negara Indonesia yang hanya berdiri pada 17 Ogos 1945 dan jauh sebelum adanya kerajaan Malaysia yang hanya berdiri semenjak 31 Ogos 1957. Diwaktu itu Nusantara tidak dibatasi oleh sempadan dan batasan, bahkan penghijrahan dari satu tempat ke tempat lain dalam wilayah Nusantara biasanya di alu-alukan dan disambut bagaikan menyambut sang pahlawan. Ini kerana setiap negeri ketika itu memerlukan orang ramai untuk membuka lahan-lahan pertanian yang baru untuk menukar hutan belantara menjadi perkebunan. Morodah segala macam bahaya untuk mencari sumber kehidupan. Ini juga kerana yang hijrah dan yang menerima penghijrahan itu memiliki identiti yang sama. Kesamaan dari segi bentuk tubuh, warna kulit, budaya, bahasa, agama dan berbagai-bagai kesamaan lainnya membuat mereka merasa bersaudara antara satu dengan lainnya. Belum ada mengenal sistem paspor, Visa dan Viskal ketika itu.
Seperti yang diceritakan oleh Pak Shawal, Selayang umpamanya dibuka oleh orang selayang Rao, Pudu Raya pula diambil dari nama orang Rao yang bergelar pudu dan ibunya yang bernama Raya. Pudu adalah bahasa Rao yang bererti idiot. Adalah menjadi kebiasaan orang Rao untuk membuat panggilan yang rendah sebagai gurauan kepada rakan-rakannya. Saya juga pernah mendapat alamat email tungkik = air telinga dari keturunan Rao di sini. Mungkin kebiasaan ini jugalah yang membuat orang Rao menjadi low profile sampai saat ini. Apa yang saya temui, keturunan Rao memiliki otak yang cerdas dan ramai yang berjaya serta hebat-hebat belaka, tetapi tetap sahaja rendah diri (low profile). Bab ini mungkin perlu diskusi pakar lanjut lagi tentunya.
Tulisan ini jauh dari apa yang dikatakan sempurna. Diharapkan selepas ini akan ada anak-anak keturunan Rao dan mereka yang peduli, membuat kajian tentang “Pengaruh Bahasa Rao Dalam Bahasa Nogori Sembilan” melalui latihan ilmiyah, thesis atau disertasi lainnya diberbagai universiti.
Wallahu a`lam, Kuala Lumpur, 21/02/09,
Afriadi Sanusi
PhD cand. Islamic Political Science, University of Malaya
HP. 0122955829/ Email; adirao76@gmail.com
Walaupun sudah beberapa kali datang kerumah Pak Shawal, namun hari rabu itu saya di telepon oleh beliau cukup lama. Berkali-kali beliau mengatakan dalam telepon itu “sekondakhati bukanlah generasi pertama yang datang ke tanah Melayu”. Menurut pengusaha berjaya keturunan Rao Koto Rajo asal Tapah itu, “jauh sebelum sekondakhati, telah ramai orang Rao yang berhijrah ke tanah Melayu”. Pengaruh orang Rao menurutnya telah sampai ke nogori sembilan. Orang mandahiling yang ada di Perak menurutnya semua menggunakan bahasa Rao, pengaruh bahasa Rao juga terdapat dalam bahasa Kelantan dan sebagainya.
Menurut beliau, suku yang mempengaruhi adalah suku yang kuat dan kokoh, sehingga orang lain terpengaruh dan ingin menjadi bagian darinya. Sejarah mencatatkan bagaimana Barat dan Eropah menjadi ke Árab-araban dan mengikut style Arab dizaman keemasan Islam dahulu dan sekarang dunia menjadi ke Barat-baratan yang mengikut gaya Barat kerana saat ini adalah zaman keagungan Barat yang mengalahkan dunia lain. Pak Shawal melanjutkan, “cubo dongar ge lagu nogori sombilen, apo kono eh jang”...
Sebagai seorang akademisi yang terikat dan berpegang teguh pada prinsip dan data-data ilmiyah, saya tidak mahu menerima kenyataan itu begitu sahaja tanpa soal selidik terlebih dahulu. Hari sabtu saya pergi ke Maydin masjid India membeli dan memborong semua koleksi CD Ally Noor & Mastura. Saya langsung “jatuh cinta” mendengar lagu-lagu itu. Di samping kelakar, cerita dalam lagu hampir sama dengan kisah saya. Seolah lagu-lagu itu menceritakan nasib saya yang ditinggal kahwin oleh seorang kekasih setelah empat tahun lebih kami berkawan baik. Seperti cerita itu, saya juga telah jumpa dan mendapatkan persetujuan orang tuanya. Tetapi taqdir menentukan lain yang membuat saya ridha dan tawakkal menerima taqdir dari_Nya dan menjadi “bujang lapuk” hingga ke hari ini.
Mendengar lagu-lagu negeri Sembilan yang dinyanyikan oleh Ally Noor & Mastura memang menyeronokkan. Tetapi tanpa disadari ada sesuatu yang lain dalam lagu yang terkenal dan menggelitik dengan lagu apo kono eh jang itu. Pernah tak kita menyedari bahawa di dalam lagu-lagu itu terdapat banyak sekali unsur-unsur bahasa Rao. Penulis pernah belajar di Tapanuli selama tujuh tahun dan belajar di Minangkabau selama empat tahun. Bahasa yang dilagukan oleh kedua artis nogori sembilan itu bukanlah bahasa minang murni, dan bukan pula bahasa mandahiling, tetapi terdapat unsur-unsure bahasa Rao yang banyak di dalamnya.
Pertanyaan selanjutnya adalah kenapa bahasa nogori sombilan dipengaruhi oleh bahasa Rao? Pernahkah orang Rao maju dan `berkuasa` dinegeri sembilan? Siapakah dan tahun berapa generasi pertama asal Rao datang ke Negeri Sembilan dan masih adakah keluarga Rao yang menetap di nogori sembilan saat ini?. Mungkinkah kerana Raja nogori sembilan saat ini adalah keturunan Minang Bukit Tinggi, membuat orang Rao menghilangkan identitinya sebagai orang Rao? (sebuah pertanyaan yang pastinya tidak akan mampu dijawab oleh artikel yang singkat ini)
Di nogori sembilan terdapat kuburan Tuanku Tambusai yang berasal dari Riau yang bersempadan dan berjiran dengan Rao. Tuanku Tambusai yang juga sebagai pahlawan nasional Indonesia ini, dulunya pernah belajar agama dan berjuang di Rao. Tuanku Tambusai melarikan diri ketanah Melayu kerana tidak mahu tunduk dengan kehendak penjajah Belanda yang sudah menaklukkan Rao ketika itu (Wan Mohd. Shaghir Abdullah) Kemungkinan Tuanku Tambusai membawa pengikut orang-orang Rao datang ke Tanah Melayu juga adalah sesuatu yang masuk akal. Ini kerana sejarah mengenal perjuangan tiga serangkai iaitu; Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Tambusai dan Tuanku Rao yang sezaman dan memiliki ikatan yang rapat.
Buyuang adalah panggilan sayang kepada anak lelaki. Jang adalah singkatan ujang yang berasal dari kalimat bujang yang bermakna hansem (gagah) adalah panggilan manja dan sanjungan kepada anak lelaki di Rao. Di sini penulis hanya akan menuliskan sebahagian kecil kadungan bahasa Rao yang terdapat dalam nyanyian nogori sembilan Ally Noor & Mastura tersebut, iaitu;
Bahasa Rao/Lagu Bahasa Minang Bahasa Rao/lagu Bahasa Minang
Mano Ma Porang Parang
Poi Pai Baden Badan
Kobou Kabau Tompek Tampek
Gulei Gulai Koreh Kareh
Sobolango Sabalango Kobun Kabun
Monuang Manuang Tobang Tabang
Ompuak Untuak Tolontang Talantang
Sonang Sanang Tontu Tontu
Do Nyo Pojom Pajam
Domom Damam Omak Amak
Copek Capek Tompek Tampek
Morano Marano Poniang Paniang
Baden Badan Jowobnyo Jawabnyo
Ongah Uda Solemo Salemo
Podiah Padiah Tompah Tampah
Jangen Jan Bolakang Balakang
Ondak Nyio Monggigik Manggigik
Togah Tagah Monangih Manangih
Sonang Sanang Monyobuik Manyabuik
Konang Kanang Jowobnyo Jawabnyo
Omak Amak Disobuik Disabuik
Ontahlah Antahlah Apo layi A layi
Mujuar Untuang Bobuih Babuih
Obang Azan Konyang Kanyang
Menurut pak Shawal, orang Rao telah datang ke tanah Melayu bermula dari abad ke enam belas lagi. Namun seperti biasa, belum ada data-data tertulis yang mengatakan demikian. Ini juga kerana budaya tulis baca belum terkenal ketika itu. Tetapi orang yang datang selepasnya akan menjadikan orang yang pertama kali hijrah itu sebagai tepatan tempat singgah.
Penghijrahan orang Rao ke tanah Melayu jauh sebelum adanya negara Indonesia yang hanya berdiri pada 17 Ogos 1945 dan jauh sebelum adanya kerajaan Malaysia yang hanya berdiri semenjak 31 Ogos 1957. Diwaktu itu Nusantara tidak dibatasi oleh sempadan dan batasan, bahkan penghijrahan dari satu tempat ke tempat lain dalam wilayah Nusantara biasanya di alu-alukan dan disambut bagaikan menyambut sang pahlawan. Ini kerana setiap negeri ketika itu memerlukan orang ramai untuk membuka lahan-lahan pertanian yang baru untuk menukar hutan belantara menjadi perkebunan. Morodah segala macam bahaya untuk mencari sumber kehidupan. Ini juga kerana yang hijrah dan yang menerima penghijrahan itu memiliki identiti yang sama. Kesamaan dari segi bentuk tubuh, warna kulit, budaya, bahasa, agama dan berbagai-bagai kesamaan lainnya membuat mereka merasa bersaudara antara satu dengan lainnya. Belum ada mengenal sistem paspor, Visa dan Viskal ketika itu.
Seperti yang diceritakan oleh Pak Shawal, Selayang umpamanya dibuka oleh orang selayang Rao, Pudu Raya pula diambil dari nama orang Rao yang bergelar pudu dan ibunya yang bernama Raya. Pudu adalah bahasa Rao yang bererti idiot. Adalah menjadi kebiasaan orang Rao untuk membuat panggilan yang rendah sebagai gurauan kepada rakan-rakannya. Saya juga pernah mendapat alamat email tungkik = air telinga dari keturunan Rao di sini. Mungkin kebiasaan ini jugalah yang membuat orang Rao menjadi low profile sampai saat ini. Apa yang saya temui, keturunan Rao memiliki otak yang cerdas dan ramai yang berjaya serta hebat-hebat belaka, tetapi tetap sahaja rendah diri (low profile). Bab ini mungkin perlu diskusi pakar lanjut lagi tentunya.
Tulisan ini jauh dari apa yang dikatakan sempurna. Diharapkan selepas ini akan ada anak-anak keturunan Rao dan mereka yang peduli, membuat kajian tentang “Pengaruh Bahasa Rao Dalam Bahasa Nogori Sembilan” melalui latihan ilmiyah, thesis atau disertasi lainnya diberbagai universiti.
Wallahu a`lam, Kuala Lumpur, 21/02/09,
Afriadi Sanusi
PhD cand. Islamic Political Science, University of Malaya
HP. 0122955829/ Email; adirao76@gmail.com
Sabtu, 21 Februari 2009
Tunku Besar Seri Menanti baru dilantik esok
Tunku Besar Seri Menanti baru dilantik esok
KUALA PILAH: Tunku Ali Redhauddin ibni Tuanku Muhriz, putera sulung kepada Yang di-Pertuan Besar Negeri Sembilan, Tuanku Muhriz ibni Almarhum Tuanku Munawir dan Tengku Aishah Rohani binti Almarhum Tengku Besar Mahmud, akan dilantik sebagai Tunku Besar Seri Menanti yang kesembilan dalam satu istiadat di Istana Besar Seri Menanti di sini, esok.
Menurut kenyataan Istana Besar Seri Menanti, istiadat pelantikan ini diadakan untuk kali ketiga dalam tempoh 120 tahun di mana dua pemegang gelaran terdahulu iaitu Tuanku Muhriz dan Tunku Burhanuddin masing-masing menyandangnya selama 47 tahun dan 73 tahun.
Tunku Ali, 32, akan memegang gelaran yang disandang oleh ayahandanya sebelum baginda dimasyhurkan sebagai Yang di-Pertuan Besar Negeri Sembilan pada 29 Disember 2008.
Tunku Besar Seri Menanti adalah gelaran yang paling kanan di antara Putera Yang Empat.
Tiga gelaran yang lain ialah Tunku Laxamana, Tunku Muda Serting dan Tunku Panglima Besar yang disandang masing-masingnya oleh Tunku Naquiyuddin ibni Almarhum Tuanku Ja'afar, Tunku Tan Sri Imran ibni Almarhum Tuanku Ja'afar dan Tunku Nadzaruddin ibni Almarhum Tuanku Ja'afar.
Tugas-tugas Putera Yang Empat termasuk menyelia hal ehwal istana dan pegawai-pegawai istana dan sebagai penasihat kepada Yang di-Pertuan Besar.
Di samping itu, Perlembagaan Negeri memperuntukkan bahawa Tunku Besar Seri Menanti adalah ahli Dewan Keadilan dan Undang yang dianggotai oleh Yang di-Pertuan Besar dan Undang Yang Empat serta Tunku Besar Tampin.
Istiadat penuh tradisi diraja ini akan diadakan dalam dua upacara di mana pada upacara yang pertama, Yang di-Pertuan Besar Negeri Sembilan akan membuatpengisytiharan dan berkenan menyerahkan watikah pelantikan dan sebilah keris yang diwarisi zaman berzaman.
Pasangan diraja kemudian akan berangkat meninggalkan dewan untuk istiadat kedua iaitu istiadat menghadap, di mana pegawai istana akan memberi penghormatan kepada Tunku Besar Seri Menanti yang baru atas pelantikan baginda.
Tunku Ali diputerakan pada 1977 di Hospital Universiti Kuala Lumpur.
Baginda mendapat pendidikan awal di Kuala Lumpur sebelum melanjutkan persekolahan menengahnya di Kolej Marlborough di Wiltshire, United Kingdom.
Baginda berkelulusan BA (Hons) dalam jurusan Sejarah, Sains Sosial dan Politik daripada Universiti Cambridge pada 1998.
Baginda memulakan kerjayanya di McKinsey & Company London dan kemudian berpindah ke Kuala Lumpur untuk berkhidmat dengan McKinsey in Asia.
Pada 2004, Tunku Ali menyertai Khazanah Nasional Bhd dan kini menyandang jawatan Pengarah Pelaburan. - Bernama
KUALA PILAH: Tunku Ali Redhauddin ibni Tuanku Muhriz, putera sulung kepada Yang di-Pertuan Besar Negeri Sembilan, Tuanku Muhriz ibni Almarhum Tuanku Munawir dan Tengku Aishah Rohani binti Almarhum Tengku Besar Mahmud, akan dilantik sebagai Tunku Besar Seri Menanti yang kesembilan dalam satu istiadat di Istana Besar Seri Menanti di sini, esok.
Menurut kenyataan Istana Besar Seri Menanti, istiadat pelantikan ini diadakan untuk kali ketiga dalam tempoh 120 tahun di mana dua pemegang gelaran terdahulu iaitu Tuanku Muhriz dan Tunku Burhanuddin masing-masing menyandangnya selama 47 tahun dan 73 tahun.
Tunku Ali, 32, akan memegang gelaran yang disandang oleh ayahandanya sebelum baginda dimasyhurkan sebagai Yang di-Pertuan Besar Negeri Sembilan pada 29 Disember 2008.
Tunku Besar Seri Menanti adalah gelaran yang paling kanan di antara Putera Yang Empat.
Tiga gelaran yang lain ialah Tunku Laxamana, Tunku Muda Serting dan Tunku Panglima Besar yang disandang masing-masingnya oleh Tunku Naquiyuddin ibni Almarhum Tuanku Ja'afar, Tunku Tan Sri Imran ibni Almarhum Tuanku Ja'afar dan Tunku Nadzaruddin ibni Almarhum Tuanku Ja'afar.
Tugas-tugas Putera Yang Empat termasuk menyelia hal ehwal istana dan pegawai-pegawai istana dan sebagai penasihat kepada Yang di-Pertuan Besar.
Di samping itu, Perlembagaan Negeri memperuntukkan bahawa Tunku Besar Seri Menanti adalah ahli Dewan Keadilan dan Undang yang dianggotai oleh Yang di-Pertuan Besar dan Undang Yang Empat serta Tunku Besar Tampin.
Istiadat penuh tradisi diraja ini akan diadakan dalam dua upacara di mana pada upacara yang pertama, Yang di-Pertuan Besar Negeri Sembilan akan membuatpengisytiharan dan berkenan menyerahkan watikah pelantikan dan sebilah keris yang diwarisi zaman berzaman.
Pasangan diraja kemudian akan berangkat meninggalkan dewan untuk istiadat kedua iaitu istiadat menghadap, di mana pegawai istana akan memberi penghormatan kepada Tunku Besar Seri Menanti yang baru atas pelantikan baginda.
Tunku Ali diputerakan pada 1977 di Hospital Universiti Kuala Lumpur.
Baginda mendapat pendidikan awal di Kuala Lumpur sebelum melanjutkan persekolahan menengahnya di Kolej Marlborough di Wiltshire, United Kingdom.
Baginda berkelulusan BA (Hons) dalam jurusan Sejarah, Sains Sosial dan Politik daripada Universiti Cambridge pada 1998.
Baginda memulakan kerjayanya di McKinsey & Company London dan kemudian berpindah ke Kuala Lumpur untuk berkhidmat dengan McKinsey in Asia.
Pada 2004, Tunku Ali menyertai Khazanah Nasional Bhd dan kini menyandang jawatan Pengarah Pelaburan. - Bernama
Khamis, 12 Februari 2009
SENARAI LAMAN WEB
SENARAI LAMAN WEB
RUMPUN KULAWARGA RAO & PERSEMENDAAN
SERTA SEGALA PERKARA YANG BERKAITAN DENGANNYA
http://tuneman.multiply.com/journal/item/178/Orang_Rawa_dari_etnis_Mandailing
http://forum.ekpkm.com/viewtopic.php?f=7&t=1552
http://palantaminang.wordpress.com/
http://xdeusfx.wordpress.com/2007/11/09/adat-diraja/
http://afandiempire.blogspot.com/
http://adi-rawi.blogspot.com/
http://anakrajadagang.multiply.com/
http://naim-firdausi.blogspot.com/
http://bnomian.multiply.com/
http://lipis-zaini.blogspot.com/
http://razakramli.blogspot.com/
http://groups.google.com.my/group/orang-rao?hl=ms&lnk=sg
http://marisma.multiply.com/
http://i-glass.blogspot.com/
http://kampungbudu.blogspot.com/
http://makampurba.blogspot.com/
http://malaysiana1.blogspot.com/
http://malaysiana2.blogspot.com/
http://moersip.multiply.com/
http://serimau.blogspot.com/
http://www.montelkarung.blogspot.com/
http://portal.mpklang.gov.my/lamanjabatan/individu/azian%20ab%20wahab/html/page3.htm
http://ilzaf.multiply.com/
http://seman9752.googlepages.com/freedownload
http://alongdiyana.multiply.com/journal/item/130
http://artmelayu.blogspot.com/2008/09/masjid-mosque-of-ulu-dong-raub-pahang.html
http://dongtalk.blogspot.com/
http://lawyer-kampung.blogspot.com/
http://sriandalas.multiply.com/
RUMPUN KULAWARGA RAO & PERSEMENDAAN
SERTA SEGALA PERKARA YANG BERKAITAN DENGANNYA
http://tuneman.multiply.com/journal/item/178/Orang_Rawa_dari_etnis_Mandailing
http://forum.ekpkm.com/viewtopic.php?f=7&t=1552
http://palantaminang.wordpress.com/
http://xdeusfx.wordpress.com/2007/11/09/adat-diraja/
http://afandiempire.blogspot.com/
http://adi-rawi.blogspot.com/
http://anakrajadagang.multiply.com/
http://naim-firdausi.blogspot.com/
http://bnomian.multiply.com/
http://lipis-zaini.blogspot.com/
http://razakramli.blogspot.com/
http://groups.google.com.my/group/orang-rao?hl=ms&lnk=sg
http://marisma.multiply.com/
http://i-glass.blogspot.com/
http://kampungbudu.blogspot.com/
http://makampurba.blogspot.com/
http://malaysiana1.blogspot.com/
http://malaysiana2.blogspot.com/
http://moersip.multiply.com/
http://serimau.blogspot.com/
http://www.montelkarung.blogspot.com/
http://portal.mpklang.gov.my/lamanjabatan/individu/azian%20ab%20wahab/html/page3.htm
http://ilzaf.multiply.com/
http://seman9752.googlepages.com/freedownload
http://alongdiyana.multiply.com/journal/item/130
http://artmelayu.blogspot.com/2008/09/masjid-mosque-of-ulu-dong-raub-pahang.html
http://dongtalk.blogspot.com/
http://lawyer-kampung.blogspot.com/
http://sriandalas.multiply.com/
Rabu, 11 Februari 2009
PROFIL KELUARGA NASAB RAO
Keopada:
Semua Kaum Kerabat Orang-Orang Rao di Tanah Melayu
Mohon diisi Biodata Profil Keluarga Nasab Rao sebagai contoh dokumentasi di bawah dan apabila siap, hantarkan melalui emel: rodong_siber@yahoo.com atau ariselba@yahoo.com.sg sebelum 30 Jun 2009. Atau boleh hantar melalui pos ke alamat berikut
Ismail @ Subari Ahmad ar-Rawi
RM462 Blok Q, Perkampungan Cenderawasih,
Bukit Setongkol, 25200 Kuantan, Pahang.
BIODATA
PROFIL KELUARGA NASAB RAO
Nama Perantau : Mestilah perantau bukan orang tempatan
Nasab Di Rao : Di sebelah Bapa / Di sebelah Ibu
Asal-Usul : Berasal dari kampung mana di RPT
Dikuburkan :
Hiraki Sosial : Raja / Pembesar / Panglima / Pembesar
Penghijrahan
• Laluan Kembara
Tempat-tempat yang didiami beliau buat sementara sebelum perantau bermastautin selama-selamanya.
• Sebab-Musabab
Sebab-sebab beliau berhijrah ke Tanah Melayu. Scenario semasa kampung halaman ketika ditinggalkan (membolehkan kita menggagak tarikh perpindahan beliau)
Perwatakan
Menceritakan mengenai kelebihan, keperibadian dan sebagainya yang berkaitan dengan diri beliau
Jasa Sumbangan / Peristiwa Penting
Menjelaskan sumbangan beliau atau peranan penting dalam sesuatu peristiwa penting (sama ada secara langsung-tidak langsung)
Senarai Nama Kerabat & Status Perhubungan
• Di Rao Mapat Tunggul
• Di Tanah Melayu
Profil Ringkas Nasab Isteri
Diceritakan serba sedikit mengenai asal-usul keturunan sebelah isteri dan perwatakannya serta peritiwa penting yang membabitkan dirinya
PROFIL NASAB PERANTAU
RAO ABAD KE 21
Ketua Nasab : Individu yang mereka angkat sebagai ketua kepada nasab keluarga
No. HP / R
Perawi Nasab : Individu yang menyusun dan mencantum nasab keluarga
No. HP / R
Penyimpan Teromba : Individu atau agensi yang menyimpan nasab keluarga
No. HP / R
Bil. Ahli Nasab : Anggaran
Bil. Generasi : Generasi Termuda
Alamat Perhubungan
• No. Faks :
• E-mel :
• Blog :
• Web :
• Rumah :
• Pejabat :
Taburan Nasab (Mengikut Kawasan)
Taburan perkembangan nasab mengikut kawasan setempat dan jika boleh dengan bilangan sekali
Senarai Saudara Persemendaan
Suku Melayu yang banyak berkahwin campur dengan nasab ini. Jika boleh diperincikan mengikut kawasan.
Tokoh Berjaya (Lengkap Bersalasilah)
Tokoh-tokoh yang cemerlang hendaklah mempunyai bin/binti yang lengkap sehingga berakhir kepada nama perantau Rao
REKOD KEMASKINI
1. Sumber Rujukan :
Nama / Tel :
Kaedah Terima Maklumat :
Tarikh / Masa :
Saksi :
Semua Kaum Kerabat Orang-Orang Rao di Tanah Melayu
Mohon diisi Biodata Profil Keluarga Nasab Rao sebagai contoh dokumentasi di bawah dan apabila siap, hantarkan melalui emel: rodong_siber@yahoo.com atau ariselba@yahoo.com.sg sebelum 30 Jun 2009. Atau boleh hantar melalui pos ke alamat berikut
Ismail @ Subari Ahmad ar-Rawi
RM462 Blok Q, Perkampungan Cenderawasih,
Bukit Setongkol, 25200 Kuantan, Pahang.
BIODATA
PROFIL KELUARGA NASAB RAO
Nama Perantau : Mestilah perantau bukan orang tempatan
Nasab Di Rao : Di sebelah Bapa / Di sebelah Ibu
Asal-Usul : Berasal dari kampung mana di RPT
Dikuburkan :
Hiraki Sosial : Raja / Pembesar / Panglima / Pembesar
Penghijrahan
• Laluan Kembara
Tempat-tempat yang didiami beliau buat sementara sebelum perantau bermastautin selama-selamanya.
• Sebab-Musabab
Sebab-sebab beliau berhijrah ke Tanah Melayu. Scenario semasa kampung halaman ketika ditinggalkan (membolehkan kita menggagak tarikh perpindahan beliau)
Perwatakan
Menceritakan mengenai kelebihan, keperibadian dan sebagainya yang berkaitan dengan diri beliau
Jasa Sumbangan / Peristiwa Penting
Menjelaskan sumbangan beliau atau peranan penting dalam sesuatu peristiwa penting (sama ada secara langsung-tidak langsung)
Senarai Nama Kerabat & Status Perhubungan
• Di Rao Mapat Tunggul
• Di Tanah Melayu
Profil Ringkas Nasab Isteri
Diceritakan serba sedikit mengenai asal-usul keturunan sebelah isteri dan perwatakannya serta peritiwa penting yang membabitkan dirinya
PROFIL NASAB PERANTAU
RAO ABAD KE 21
Ketua Nasab : Individu yang mereka angkat sebagai ketua kepada nasab keluarga
No. HP / R
Perawi Nasab : Individu yang menyusun dan mencantum nasab keluarga
No. HP / R
Penyimpan Teromba : Individu atau agensi yang menyimpan nasab keluarga
No. HP / R
Bil. Ahli Nasab : Anggaran
Bil. Generasi : Generasi Termuda
Alamat Perhubungan
• No. Faks :
• E-mel :
• Blog :
• Web :
• Rumah :
• Pejabat :
Taburan Nasab (Mengikut Kawasan)
Taburan perkembangan nasab mengikut kawasan setempat dan jika boleh dengan bilangan sekali
Senarai Saudara Persemendaan
Suku Melayu yang banyak berkahwin campur dengan nasab ini. Jika boleh diperincikan mengikut kawasan.
Tokoh Berjaya (Lengkap Bersalasilah)
Tokoh-tokoh yang cemerlang hendaklah mempunyai bin/binti yang lengkap sehingga berakhir kepada nama perantau Rao
REKOD KEMASKINI
1. Sumber Rujukan :
Nama / Tel :
Kaedah Terima Maklumat :
Tarikh / Masa :
Saksi :
Isnin, 2 Februari 2009
TEROMBA BESAR KETURUNAN PANGLIMA TOK PERAK @ TOK PRAK
TEROMBA BESAR KETURUNAN PANGLIMA TOK PERAK @ TOK PRAK
Assalamualaikum pak itam,
saya baru sudah mengemaskini setakat termampu pecahan keturunan Panglima Tok Perak dengan isterinya yang pertama (pertama pada anggapan saja), Tok Mikrah di Semantan Hulu, Raub. Jadi di dalamnya banyaklah cicit-cicit beliau yg bersuamikan orang Rao moyang-moyang kita tu.
Nama-nama Rao yang ada di dalamnya ialah:
1. Tuan Fakeh Rao di Kuala dong,Raub
2. Haji Muhd Salleh Lentor di Ajai, Raub (Rao Tanjung Botung)
3. JoPogang di Ajai, Raub (Rao Tanjung Botung)
4. Haji Shukur di Ajai, Raub5. Tok Rantau di Ajai
6. Tok Bilal Laton di Ajai, Raub (Rao Padang Nunang)
Saya akan masukkan dalam CD dan poskan ke pak itam seberapa segera yg boleh.
Jadi rancangannya bila teromba maya online ni akan boleh diakses oleh masyarakat?
sekian, wassalam.
Daripada:
"MOHD SAFUAN"
Assalamualaikum pak itam,
saya baru sudah mengemaskini setakat termampu pecahan keturunan Panglima Tok Perak dengan isterinya yang pertama (pertama pada anggapan saja), Tok Mikrah di Semantan Hulu, Raub. Jadi di dalamnya banyaklah cicit-cicit beliau yg bersuamikan orang Rao moyang-moyang kita tu.
Nama-nama Rao yang ada di dalamnya ialah:
1. Tuan Fakeh Rao di Kuala dong,Raub
2. Haji Muhd Salleh Lentor di Ajai, Raub (Rao Tanjung Botung)
3. JoPogang di Ajai, Raub (Rao Tanjung Botung)
4. Haji Shukur di Ajai, Raub5. Tok Rantau di Ajai
6. Tok Bilal Laton di Ajai, Raub (Rao Padang Nunang)
Saya akan masukkan dalam CD dan poskan ke pak itam seberapa segera yg boleh.
Jadi rancangannya bila teromba maya online ni akan boleh diakses oleh masyarakat?
sekian, wassalam.
Daripada:
"MOHD SAFUAN"
Ahad, 1 Februari 2009
MENCARI KETURUNAN MANGARAJA SUTAN LAUT 2
MENCARI KETURUNAN MANGARAJA SUTAN LAUT 2
Terima kasih. Saya boleh dihubungi pada 0193276041 dan juga melalui faceboook (handle: Helwa Asyiqin). Tanah Datar yang dimaksudkan adalah Tanah Datar Putih yang terletak di hilir Sungai Rokan.
Yang membuatkan saya berminat untuk mengkaji sejarah keluarga saya apabila saya bertemu dengan family-tree yang ditulis oleh arwah datuk sebelum dia meninggal dunia.
Saya telah membuat kajian peribadi tentang silsilah keturunan rau saya semenjak dari zaman universiti lagi. Cuma approach saya agak berbeza sebab saya mulakan dengan menelaah buku-buku yang ditulis oleh pengembara, kolonis dan ahli-botani dari Eropah yang telah melawat Asia Tenggara khususnya Sumatra sewaktu zaman penjajah dahulu seperti marsden, snitzger, raffles dan lain-lain, untuk mendapatkan 'feel' ataupun gambaran sosio-budaya dan geografi masyarakat pre & post Padri War waktu itu...saya dapati melalui apa yang tercatit di dalam buku2 itu bahawa Rau itu adalah sebahagian daripada wilayah Kerajaan Melayu Aru/Rokan yang terletak dari hulu sehingga ke hilir sungai Rokan di mana ini negerinya adalah Rantau Binuwang ataupun sekarang ini Dalu-Dalu didalam wilayah Riau. (Perlu berhati-hati di sini kerana catitan daripada kolonis terutamanya sangat biased)
Sesiapa yang ingin ke pesisiran pantai Natal untuk berdagang, bila mudik ke hulu Sungai Rokan itu maka akan dikenakan tol oleh orang-orang Rau! Melalui suatu catitan pula, dikatakan bahawa penduduk lelaki Rau pada masa itu memakai 'fesyen' seluar sebelah biru (nila) dan sebelah merah (kesumba)...
Saya tidak dapat mendaftar dengan JARO...Tuanku Ibrahim (moyang saya) memberi amanat kepada kami semua cucu-cicitnya untuk melupakan Rau, malahan tidak dibenarkan kami untuk belajar bahasa Rau ataupun menjejak kaki ke Rau....ini adalah kerana beliau telah dikhianati oleh pengikutnya sendiri yang menjadi tali-barut Belanda....malahan, yang membukakan pintu Benteng Tujuh Lapis di Dalu-Dalu yang menjadi pertahanan terakhir pengikut Padri yang masih bersama Tuanku Tambusai (di mana sebilangannya adalah orang-orang Rau, adalah orang Rau sendiri!) Ini adalah ringkasan cerita lisan keluarga kami. Wallahu'alam...
-Helwa Asyiqin
Terima kasih. Saya boleh dihubungi pada 0193276041 dan juga melalui faceboook (handle: Helwa Asyiqin). Tanah Datar yang dimaksudkan adalah Tanah Datar Putih yang terletak di hilir Sungai Rokan.
Yang membuatkan saya berminat untuk mengkaji sejarah keluarga saya apabila saya bertemu dengan family-tree yang ditulis oleh arwah datuk sebelum dia meninggal dunia.
Saya telah membuat kajian peribadi tentang silsilah keturunan rau saya semenjak dari zaman universiti lagi. Cuma approach saya agak berbeza sebab saya mulakan dengan menelaah buku-buku yang ditulis oleh pengembara, kolonis dan ahli-botani dari Eropah yang telah melawat Asia Tenggara khususnya Sumatra sewaktu zaman penjajah dahulu seperti marsden, snitzger, raffles dan lain-lain, untuk mendapatkan 'feel' ataupun gambaran sosio-budaya dan geografi masyarakat pre & post Padri War waktu itu...saya dapati melalui apa yang tercatit di dalam buku2 itu bahawa Rau itu adalah sebahagian daripada wilayah Kerajaan Melayu Aru/Rokan yang terletak dari hulu sehingga ke hilir sungai Rokan di mana ini negerinya adalah Rantau Binuwang ataupun sekarang ini Dalu-Dalu didalam wilayah Riau. (Perlu berhati-hati di sini kerana catitan daripada kolonis terutamanya sangat biased)
Sesiapa yang ingin ke pesisiran pantai Natal untuk berdagang, bila mudik ke hulu Sungai Rokan itu maka akan dikenakan tol oleh orang-orang Rau! Melalui suatu catitan pula, dikatakan bahawa penduduk lelaki Rau pada masa itu memakai 'fesyen' seluar sebelah biru (nila) dan sebelah merah (kesumba)...
Saya tidak dapat mendaftar dengan JARO...Tuanku Ibrahim (moyang saya) memberi amanat kepada kami semua cucu-cicitnya untuk melupakan Rau, malahan tidak dibenarkan kami untuk belajar bahasa Rau ataupun menjejak kaki ke Rau....ini adalah kerana beliau telah dikhianati oleh pengikutnya sendiri yang menjadi tali-barut Belanda....malahan, yang membukakan pintu Benteng Tujuh Lapis di Dalu-Dalu yang menjadi pertahanan terakhir pengikut Padri yang masih bersama Tuanku Tambusai (di mana sebilangannya adalah orang-orang Rau, adalah orang Rau sendiri!) Ini adalah ringkasan cerita lisan keluarga kami. Wallahu'alam...
-Helwa Asyiqin
MENCARI KETURUNAN MANGARAJA SUTAN LAUT
MENCARI KETURUNAN MANGARAJA SUTAN LAUT
Assalamu'alaikum,
Baru sahaja sebentar tadi saya melawat blog bapak di http://terombarawa.blogspot.com.
Arwah datuk saya ada memberikan catitan 'family-tree' keturunan kami dari Rau di mana dia adalah cicit kepada seseorang yang bergelar Mangaraja Sutan Laut Tapi (tercatat dia dari Kahaiti atau Tanah Datar Putih) yang mempunyai 3 orang anak: Siti Fatimah (dikatakan menetap di Kerling), Tuanku Umar (Panglima Imam Perang Rau), Tuanku Ibrahim (Panglima Imam Perang Harimau Meratak)...Adakah Bapak mengenali nama-nama ini? Saya adalah piut kepada Tuanku Ibrahim. Dia dan adik-beradiknya terlibat bersama-sama Tuanku Tambusai berjuang di dalam Perang Padri. Dia menjadi buruan Belanda dan telah tercedera parah di Air Bangis, tetapi para pengikutnya telah membawanya lari ke Tanah Melayu dan membuat helah agar Belanda menganggapnya sudah mati. Ini adalah kerana Belanda meletakkan harga yang tinggi ke atas kepala mereka ini samada hidup atau mati.
Tuanku Ibrahim dimakamkan di Kampung Gebok, Negeri Sembilan. Anaknya pula Hj. Jalaluddin dibawa ke Perak dan kemudiannya bersama-sama dengan Tuan Syeikh Muhammad Noor dan pengikut-pengikut Naqsyabandiah telah membuka Kampung Sg. Cincin, Gombak.
Apakah Bapak mempunyai sumber-sumber yang mengenali siapakah Mangaraja Sutan Laut Tapi ini? Saya juga berharap agar dapat bertemu dengan keturunan dari galur Siti Fatimah itu.
Terima Kasih.
-Helwa Asyiqin
Helwa Asyiqin Juffri" helwa.asyiqin@gmail.com
Sdr. Helwa Asyiqin Juffri
Terima kasih dengan maklumat yang diberi. Kami baru nak mula mengumpul salasilah keluarga keturunan orang-orang Rao di Tanah Melayu. Minta berikan alamat lengkap untuk kami menghubungi selepas ini.
Maklumat yang sdr beri ini penting, mungkin satu keturunan dengan keluarga saya yang berasal dari Pagar Ruyong, Tanah Datar, Sumatera Barat yang telah datang ke Sungai Ujung, Negeri Sembilan dalam abad ke 16 lagi.
Apapun, diminta layari web JARO Raub, Pahang - http://www.jaro.com.my. dan boleh juga layari blog saya http://orangrawa.blogspot.com atau blog Sdra Zabidin di http://sekondakhati.blogspot.com.
Sekian, respon buat kali ini. Sem,oga kita dapat bertemu nanti.
Ismail @ Subari Ahmad ar-Rawi
Raub, Pahang
Assalamu'alaikum,
Baru sahaja sebentar tadi saya melawat blog bapak di http://terombarawa.blogspot.com.
Arwah datuk saya ada memberikan catitan 'family-tree' keturunan kami dari Rau di mana dia adalah cicit kepada seseorang yang bergelar Mangaraja Sutan Laut Tapi (tercatat dia dari Kahaiti atau Tanah Datar Putih) yang mempunyai 3 orang anak: Siti Fatimah (dikatakan menetap di Kerling), Tuanku Umar (Panglima Imam Perang Rau), Tuanku Ibrahim (Panglima Imam Perang Harimau Meratak)...Adakah Bapak mengenali nama-nama ini? Saya adalah piut kepada Tuanku Ibrahim. Dia dan adik-beradiknya terlibat bersama-sama Tuanku Tambusai berjuang di dalam Perang Padri. Dia menjadi buruan Belanda dan telah tercedera parah di Air Bangis, tetapi para pengikutnya telah membawanya lari ke Tanah Melayu dan membuat helah agar Belanda menganggapnya sudah mati. Ini adalah kerana Belanda meletakkan harga yang tinggi ke atas kepala mereka ini samada hidup atau mati.
Tuanku Ibrahim dimakamkan di Kampung Gebok, Negeri Sembilan. Anaknya pula Hj. Jalaluddin dibawa ke Perak dan kemudiannya bersama-sama dengan Tuan Syeikh Muhammad Noor dan pengikut-pengikut Naqsyabandiah telah membuka Kampung Sg. Cincin, Gombak.
Apakah Bapak mempunyai sumber-sumber yang mengenali siapakah Mangaraja Sutan Laut Tapi ini? Saya juga berharap agar dapat bertemu dengan keturunan dari galur Siti Fatimah itu.
Terima Kasih.
-Helwa Asyiqin
Helwa Asyiqin Juffri" helwa.asyiqin@gmail.com
Sdr. Helwa Asyiqin Juffri
Terima kasih dengan maklumat yang diberi. Kami baru nak mula mengumpul salasilah keluarga keturunan orang-orang Rao di Tanah Melayu. Minta berikan alamat lengkap untuk kami menghubungi selepas ini.
Maklumat yang sdr beri ini penting, mungkin satu keturunan dengan keluarga saya yang berasal dari Pagar Ruyong, Tanah Datar, Sumatera Barat yang telah datang ke Sungai Ujung, Negeri Sembilan dalam abad ke 16 lagi.
Apapun, diminta layari web JARO Raub, Pahang - http://www.jaro.com.my. dan boleh juga layari blog saya http://orangrawa.blogspot.com atau blog Sdra Zabidin di http://sekondakhati.blogspot.com.
Sekian, respon buat kali ini. Sem,oga kita dapat bertemu nanti.
Ismail @ Subari Ahmad ar-Rawi
Raub, Pahang
Khamis, 29 Januari 2009
Berkunjung ke Kampung Rang Talu

Berkunjung ke Kampung Rang Talu
Objek Wisata | Sabtu, 17/01/2009 20:40 WIB
Nama Talu mungkin sudah tak asing lagi bagi warga Sumatra Barat, terutama karena ada nyanyiannya 'Rang Talu', atau legenda 'Kuburan Duo'. Sebenarnya ada hal-hal menarik lain dari nagari yang termasuk Kenagarian Talu, Kecamatan Tala'mau, Kabupaten Pasaman Barat ini. Misalnya view Gunung Tala'mau, arus deras di Batang Talu dan Batang Sinuruik, permandian air panas, air terjun dan sebagainya.
Dr Fadlan Maalip SKm, Tuanku Bosa XIV, intelektual sekaligus Ketua KAN dan Pucuak Adaik Nagari Talu bahkan mengatakan dia sudah mendokumentasikan 9 obyek wisata menarik di Talu dan Sinuruik ke dalam sebuah lempeng compact disc (CD). CD tersebut kelak akan diperbanyak dan disebarluaskan ke relasi Rang Talu yang ternyata banyak juga di Malaysia.
"Jumlah sekitar 800 KK, terutama di Johor dan sekitarnya," kata Tuanku Bosa XIV dalam perbincangan dengan padangmedia.com di gedung KAN Talu, yang sekaligus menjadi kantornya.
Sayang padangmedia.com takbisa mengunjungi satupun , karena jadwal di Talu cuma sehari, itupun lebih untuk tujuan lain, yang tak ada hubungannya dengan rekreasi.
Dengan mobil, Talu bisa dicapai dalam waktu sekitar 4 jam. Berangkat pukul 07.30 WIB, sampai pukul 11.30 WIB. Kondisi jalan cukup bagus, meski di Bawan, Kinali, sampai Simpang Ampek jalan berlubang di sana-sini. Ruas jalan dari Simpang Gudang, Manggopoh, Kabupaten Agam ke Simpang Ampek, Kabupaten Pasaman ini memang sudah agak lama rusak dan belum ada tanda-tanda akan diperbaiki.
Namun semua itu tidak mengurangi rasa kenikmatan perjalanan, apalagi perut sudah terisi nasi panas dan gulai ikan segar dari RM Buyung di Tiku. Rasanya pantat yang lenyai karena terbanting-banting oleh kondisi jalan yang buruk tersebut sudah terlupakan saja.
Pertama masuk Nagari Talu, kesan rapi, damai dan tentramnya sudah terasa. Masyarakatnya juga sangat ramah, kecuali tukang ojek yang menawarkan ojek sambil memelototkan mata, entah belajar manajemen pemasaran di mana dia? Selebihnya hanya keramahan yang terasa, meski masyarakat tampaknya sudah terpecah-pecah ke berbagai bendera, spanduk, papan nama dan baliho partai-partai politik dan caleg yang diusung partai-partai tersebut. Mereka menyimpannya dalam keramahan yang santun dan hangat.
Kesan rapi itu ternyata tak sembarangan. Sejak awal abad ke-20, Talu ternyata sudah sangat maju, melebihi Lubuak Sikapiang, ibukota Kabupaten Pasaman, yang dulu menjadi induk bagi kawasan Talu, Sinuruik, Kajai dan Kabupaten Pasaman Barat sendiri. Seperti diungkapkan Tuanku Bosa XIV. "Sejak tahun 1920 Talu sudah punya jaringan air minum, rumah sakit, lembaga pemasyarakatan sendiri, bahkan Kantor Polres baru pindah ke Lubuak Sikapiang tahun 1980," kata dr Fadlan.
Ny Hj. Nurmal Maalip, mantan anggota DPRD tiga periode (1984-1999) dan tokoh Bundo Kanduang serta aktivis Aisyiah Kabupaten Pasaman, tempat padangmedia.com menginap mengatakan hal senada. "Talu memang sudah lebih dulu maju dari induknya, saya juga tidak tahu kenapa," kata ibu yang ramah yang sekarang berusia 75 tahun tapi masih sangat segar secara fisik dan pemikirannya itu.
Sarat Fenomena Sejarah
Dari perspektif pariwisata, kalau kita hanya nongkrong di Talu saja memang tak ada yang menonjol. Fasilitas tempat hiburan tak tersedia, poenginapan juga seadanya, hanya sebuah wisma dekat kantor camat Tala'mau, yang kata Wali Nagari Sinuruik, Masrivelli SSos, kurang diminati pengunjung.
"Mungkin karena Simpang Ampek dekat, pengunjung Talu dan Sinuruik lebih banyak menginap di Simpang Ampek," kata alumnus jurusan Antropologi Fisip Universitas Andalas ini menjelaskan. Jarak dari Talu ke Simpang Ampek memang hanya sekitar 30 kilometer, tapi ongkos angdes (angkutan pedesaannya) Rp10.000 lho.
Di luar itu, sebenarnya banyak hal menarik di Talu, misalnya fakta sejarah bahwa rumah Hj Nurmal pernah dijadikan markas Pembela Natsir, tokoh Masyumi, mantan Perdana Menteri era rezim Sorkarno, yang baru saja diakui negara sebagi Pahlawan Nasional dari Sumatra Barat. Di rumah yang berlokasi di kawasan Bangkok, Kenagarian Sinuruik ini, ini Presiden PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) Syafruddin Prawiranegara pernah menyelenggarakan rapat-rapat penting bersama tokoh-tokoh politik lainnya.
Ketika Gubernur Azwar Anas berkunjung ke Talu untuk menghadiri suatu acara Muhammadiyah, dia lebih suka tidur di rumah Hj Nurmal, padahal rumah yang lebih bagus sudah disediakan untuk dia dan anggota rombongan Muspida Sumbar lainnya. "Ketua Umum DPP Muhammadiyah juga pernah menginap di rumah kayu kami yang sederhana ini," kata Hj Nurmal merendah.
Keseharian Nan Eksotik
Lebih dari itu, yang lebih menarik dari Talu dan Sinuruik adalah suasana kesehariannya yang sangat kental nuansa tradisionalnya. Masyarakat di kedua nagari yang berdampingan ini hidup dari pertanian. Sawah yang luas terhampar di mana-mana, lengkap dengan iring-iringan itik di pematangnya dan kincir air dari kayu di sekelilingnya. Kincir air yang sama juga dipakai untuk menumbuk padi dan kopi. Sementara di setiap sudut terjemur hamparan buah pinang yang tidak bisa dilepaskan dari tradisi Rang Talu. Mereka suka mengunyahnya begitu saja.
Yusuf, anak Bukittinggi yang besar di Jambi dan kini bekerja sebagai supir pribadi dr Fadlan mengungkapkan bahwa masyarakat setempat biasa makan pinang di setiap kesempatan. "Sudah seperti rokok, masyarakat begitu lekat dengan buah pinang, sampai-sampai saya juga ketularan," katanya.
Kita bisa menemukan hamparan buah pinang ini mulai dari Pasar Talu Sinuruik yang ramai di hari Rabu, sampai ke pedalaman Sinuruik di perbukitan. Ibu-ibu tua menjemur pinang dengan kasih sayang, mengurai-urainya setiap saat, membolak-balik agar rata disinari matahari. Buah pinang ini dijemur di jalan-jalan kampung dan jorong yang rata-rata sudah dibeton semua. Kadang-kadang dijemur dengan gardamungu, komoditas lain yang juga telah banyak menopang kehidupan masyarakat Talu Sinuruik sejak dulu.
Kacang Tanah dan Gula Aren
Dua komoditas lain yang menonjol di Talu dan Sinuruik adalah kacang tanah dan gula aren. "Kacang tanahnya tak kalah dengan Kacang Garuda," kata dr Fadlan berpromosi. Pemilik sebuah sekolah tinggi ilmu keperawatan di Jambi ini menceritakan bagaimana kacang tanah Talu yang dikemas dengan baik bisa laris manis seperti Kacang Garuda di supermarket-supermarket Jambi. "Sayang di Talu sendiri kemasan belum diperhatikan, kacang tanah berkualitas seperti itu masih dibungkus dengan plastik transparan saja," katanya.
Gula arennya juga tak kalah menarik. "Kalau ada waktu longoklah petani aren kami mengolah gula aren, lihat bagaimana mereka memanjat dengan bambu sebatang, lalu memukul-mukul lembut tandan aren sambil bersenandung, menunggu dengan sabar gula aren mengalir ke bumbung," paparnya.
Koto Dalam
Daya tarik alam dan keseharian ini masih dilengkapi dengan daya tarik budaya. Di tanah kelahiran, di Koto Dalam, Kenagarian Talu, dr Fadlan selaku pewaris gelar adat Tuanku Bosa sedang membangun sebuah rumah gadang.
"Saya maksudkan sebagai Rumah Gadang Tuanku Bosa, pengganti rumah gadang lama yang sudah diruntuhkan. Dibanding yang dulu rumah gadang yang ini tak ada apa-apanya, karena tiang-tiang rumah gadang yang dulu saja dibuat dari kayu utuh yang sangat besar, kalau main sembunyi-sembunyian, kita bisa sembunyi dalam rongganya," ungkap dia.
Dr Fadlan berharap rumah gadang itu kelak bisa menjadi pusat dokumentasi sekaligus informasi tentang adat-istiadat Talu Sinuruik bagi siapa saja yang berminat. "Terutama masyarakat Kenagarian Talu dan Sinuruik sendiri, serta para peneliti budaya dan pelancong, yang tertarik dengan budaya Talu Sinuruik," kata pemuka adat yang tengah menanti kedatang rombongan pelancong dari Malaysia ini. "Sekitar 20 rombongan dari Malaysia sudah merencanakan kunjungan ke Talu Agustus nanti, kita harap rumah gadangnya sudah siap menyambut mereka," katanya lagi. (Imran Rusli)
Isnin, 12 Januari 2009
Ahad, 11 Januari 2009
EMEL DARI ISKANDAR SYAH ISMAIL
EMEL DARI ISKANDAR SYAH ISMAIL
Mencari Susur Galur Orang Rao
Salam Pak Arisel Ba,
Saya dimaklumkan oleh mak saya yang kami keturunan Rao,kalau tak silap saya disebelah nenek saya ( Rokiah bt Taha).Arwah Moyang saya ini (Tok Taha) berkahwin dgn Arwah Moyang Manja dan semasa hayatnya (Moyang Manja) ini tinggal di kawasan Gali Lurus.Arwah datuk saya yang berkahwin dengan Rokiah Taha bernama Abdullah b. Mokhti.Dengarnya asal usul suku Minang dan pernah menetap di Kuala Gali-sebelah rumah arwah tuk empat tak jauh dari tanah perkuburan kuala gali.
Saya ingin mencari susur galur keturunan Rao,tetapi itu sahaja maklumat yang saya ada.
Iskandar Syah Ismail
Mencari Susur Galur Orang Rao
Salam Pak Arisel Ba,
Saya dimaklumkan oleh mak saya yang kami keturunan Rao,kalau tak silap saya disebelah nenek saya ( Rokiah bt Taha).Arwah Moyang saya ini (Tok Taha) berkahwin dgn Arwah Moyang Manja dan semasa hayatnya (Moyang Manja) ini tinggal di kawasan Gali Lurus.Arwah datuk saya yang berkahwin dengan Rokiah Taha bernama Abdullah b. Mokhti.Dengarnya asal usul suku Minang dan pernah menetap di Kuala Gali-sebelah rumah arwah tuk empat tak jauh dari tanah perkuburan kuala gali.
Saya ingin mencari susur galur keturunan Rao,tetapi itu sahaja maklumat yang saya ada.
Iskandar Syah Ismail
Imam Ishak Rawa perintis dokumentasi ulama Rawa
Imam Ishak Rawa perintis dokumentasi ulama Rawa
Oleh WAN MOHD. SHAGHIR ABDULLAH
PENULIS (dua dari kiri) bergambar bersama Jaringan Anak Rao dan Persemendaan. Di sebelah kiri penulis ialah Pengerusi Jaro, Datuk Abdul Wahab.
DUA Isnin berturut-turut yang lalu telah diperkenalkan dua tokoh ulama yang berasal dari Rao atau Rawa. Artikel ini pula adalah rangkaian yang tersebut dan merupakan bicara lanjut yang dibincangkan dalam Majlis Muzakarah Ahlus Sunah wal Jamaah di Raub, Pahang pada 18 Mac 2007 M/28 Safar 1428 H lalu.
Tokoh yang diperkenalkan ialah seorang yang gigih menyebarkan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Nama lengkap beliau mengikut salasilah ayahnya ialah Tuan Guru Imam Tengku Haji Ishak bin Tengku Muhammad Arif bin Tengku Tan Joleng Tujuan Saka Mas bin Tengku Merah Laut Silingkar Alam @ Limbang Laut keluarga Yang Dipertuan Muda Tanjung Alai, Mapat Tunggal, Rao, Sumatera Barat.
Sungguhpun masih banyak persoalan yang masih belum jelas, namun berdasarkan surat Zaffuan bin Haji Manap ar-Rawi al-Qadiriah kepada Pengkaji bertarikh 17 Ramadan 1427 H/20 Oktober 2006 M, keluarga tersebut ada pertalian dengan Syeikh Muhammad Murid Rawa.
Kata Zaffuan, “Keluarga Syeikh Murid ini juga mempunyai pertalian dengan keluarga Merah Mas, Yang Dipertuan Muda Tanjung Alai, Rao tetapi sayangnya peraturan sebenar masih belum dapat dihuraikan hingga kini.”
Saya simpulkan saja bahawa Imam Tengku Haji Ishak salah seorang daripada keluarga Rao atau Rawa dan besar baktinya mendokumenkan keluarga itu terutama di Malaysia.
Menurut surat Zaffuan itu lagi, “Punca utama manuskrip keluarga beliau (maksudnya keluarga Syeikh Muhammad Shalih Rawa, bererti juga semua keluarga) di Pahang ini pada asalnya adalah atas usaha orang tua kami yang dihormati lagi dimuliakan iaitu almarhum Tuan Guru Imam Haji Ishak bin Muhammad Arif al-Khalidi an- Naqsyabandi (1908-1992).”
Ibu Imam Haji Ishak bernama Hindun @ Nujmah binti Tengku Mahmud (keturunan Siak). Ibu Hindun @ Nujmah ialah Maryam berasal dari Kampung Teluk Pulai, Klang, Selangor. Imam Haji Ishak dilahirkan di Kampung Chemor, Ipoh, Perak pada tahun 1908 dan meninggal dunia tahun 1992.
Beliau menerima Tarekat Naqsyabandiyah daripada Syeikh Umar bin Haji Muhammad al-Khalidi an-Naqsyabandi (wafat tahun 1936) di Batu Pahat, Johor.
Guru Syeikh Umar pula ialah Syeikh Abdul Wahhab Rokan (lahir 1811, wafat tahun 1926). Menurut surat Zaffuan lagi: “Beliau adalah seorang guru agama dan pemimpin Tarekat Naqsyabandiyah yang terkenal di seluruh mukim Dong, Raub malah muridnya juga ramai yang datang dari luar Pahang.”
Dari perkataan “Beliau adalah seorang guru agama dan pemimpin Tarekat Naqsyabandiyah ..." perlu diberi ulasan bahawa perkara khilafiah (pertikaian pendapat) dalam Islam sangat banyak, termasuklah ada golongan yang menerima tarekat dan ada pula yang menolaknya. Bahkan lebih jauh daripada itu ada pihak-pihak tertentu yang membidaah dan mengkhurafatkannya.
Dalam segala persoalan dari dulu hingga sekarang, ada saja orang yang tidak pasti tentang sesuatu perkara selalu menyalahkan apa yang dia tidak tahu. Oleh itu pada pandangan saya, tidaklah bijaksana dan tidak adil seseorang itu menyalahkan pendapat orang lain sedangkan dia tidak mempelajari pendapat itu secara saksama, teliti dan mendalam kepada ahlinya. Demikian halnya dengan tarekat dalam tasauf telah berada dalam Islam sejak lama dan telah diamalkan oleh ramai ulama.
Selagi ramai ulama yang mengamalkannya dan terdapat hujah-hujah dalam kitab-kitab mereka, walaupun ada golongan yang menyalahkannya kita tidak patut mempertahankan pendapat atau pandangan sendiri. Apabila kita hidup bermasyarakat, tetapi hanya bertahan kepada pendapat atau pandangan sendiri, tidak menerima pendapat atau pandangan orang lain, boleh mengakibatkan keresahan masyarakat, kehidupan selalu tidak harmoni.
Oleh itu seseorang guru agama seperti Imam Haji Ishak yang mengamalkan tarekat seperti yang diriwayatkan ini, tidak perlu kita pertikaikan kerana sepanjang hayatnya mempunyai murid yang ramai dan diterima oleh masyarakat. Bagi saya, siapa saja mempunyai pendapat dan pandangan yang tidak menyalahi Islam marilah berjuang sehingga nyata kebajikan demi kepentingan umat.
Pendidikan
Setelah tamat sekolah Melayu (di Sekolah Melayu Dong, Raub) beliau mendalami ilmu agama secara khusus. Di antara guru-gurunya termasuklah dua orang ulama berikut iaitu Tuan Syeikh Kasyful Anwar (berasal dari Kalimantan). Beliau adalah seorang yang sangat alim dalam ilmu alat (nahu, sharaf, bayan, mantik, balaghah, badi’ dan sebagainya).
Tentang fiqh pula, Tuan Imam Haji Ishak belajar dengan Tuan Syeikh Muhammad Shalih bin Syeikh Haji Umar, ulama yang berasal dari Batu Pahat, Johor.
Di antara kitab-kitab yang dipelajari oleh Tuan Imam Haji Ishak ialah kitab-kitab tentang akidah Matn Jauharah at-Tauhid, Durr ats-Tsamin oleh Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani, Akidah an-Najin oleh Syeikh Zainal Abidin bin Muhammad al-Fathani. Dari tiga buah kitab ilmu akidah atau tauhid yang tersebut, dapat disimpulkan bahawa Tuan Imam Haji Ishak telah mempelajari ilmu yang sangat asas itu, sebuah matan dalam bahasa Arab (Matn Jauharah at-Tauhid) dan dua syarah dalam bahasa Melayu (Durr ats-Tsamin dan Akidah an-Najin).
Menurut tradisi pengajian Islam dunia Melayu zaman silam tidak terhenti setakat itu saja, biasanya untuk membolehkan seseorang itu bergelar alim dalam akidah Ahli Sunah wal Jamaah dan berkelayakan mengajar, mereka meneruskan pengajian kepada kitab-kitab dalam bahasa Arab peringkat syarah dan hasyiyah yang tinggi-tinggi serta banyak melakukan pengtelahan.
Tentang fikah ialah Sabil al-Muhtadin oleh Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari, Furu’ al-Masail oleh Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani, dan al-Iqna’ kitab dalam Mazhab Syafie dalam bahasa Arab. Jika kita perhatikan tiga kitab yang tersenarai juga sebuah kitab dalam bahasa Arab (al-Iqna’) dan dua buah dalam bahasa Melayu (Sabil al-Muhtadin dan Furu’ al-Masail).
Kitab al-Iqna’ bukanlah sebuah kitab yang mendalam tetapi peringkat pertengahan sahaja. Namun ia dianggap memadai kerana termasuk dalam golongan kitab bercorak syarah bukan matan. Kitab Sabil al-Muhtadin kitab Melayu/Jawi yang cukup popular dalam pengajian Islam tradisional di seluruh dunia Melayu.
Dalam pengertian bahagian ibadat kitab Sabil al-Muhtadin termasuk kitab fiqh Syafieyah yang lengkap. Ada pun kitab Furu’ al-Masail juga dalam bahasa Melayu. Kitab ini membicarakan perkara yang furuk-furuk (cabang-cabang atau bahagian yang halus-halus). Hanya dua saja kitab Melayu/Jawi seperti demikian. Sebuah lagi ialah Kasyf al-Litsam karya Syeikh Zainal Abidin bin Muhammad al-Fathani.
Sungguh pun Tuan Imam Haji Ishak bukan dikenali sebagai seorang faqih (pakar fikah) tetapi beliau memahami banyak hal dalam fikah. Tambahan pula, beliau lebih banyak menceburi bidang Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah tidaklah dapat dianggap beliau tidak memahami syariat. Memanglah sangat berbahaya apabila ada seseorang guru tarekat apabila tidak memahami syariat dan ilmu-ilmu yang lainnya.
Daripada sekian ramai penyebar Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di dunia Melayu seumpama Syeikh Ismail bin Abdullah al-Minankabawi, Syeikh Abdul Wahhab Rokan yang turun kepada Tuan Imam Haji Ishak, dan lain-lain yang faham syariat akhir-akhir ini, memang ada orang tertentu yang tidak faham syariat mengaku dirinya sebagai seorang Syeikh Mursyid.
Seseorang yang jahil tentang syariat adalah ditolak atau tidak diakui oleh ulama tasauf sendiri, apatah lagi ulama-ulama golongan lainnya.
Tentang tasauf ialah ar-Riayah li Huquqillah, Kasyf al-Mahjub, ar-Risalah al-Qusyairiyah. Semua kitab yang tersebut adalah dalam bahasa Arab. Hal yang tersebut bukan bererti Tuan Imam Haji Ishak tidak mengenali atau tidak mempelajari kitab-kitab tasauf bahasa Melayu kerana kitab-kitab tasauf pada zamannya masih muda masih banyak diajarkan oleh para ulama kita.
Di antara kitab tasauf bahasa Melayu yang pasti diketahui oleh Tuan Imam Haji Ishak ialah Hidayah as-Salikin dan Siyar as-Salikin. Kedua-duanya karya Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani, Kitab Syarh Hikam yang berasal daripada karya Syeikh ‘Atha’ al-Askandari, Ad-Durr An-Nafis oleh Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari dan lain-lain.
Di antara kitab tasauf Melayu yang sangat erat hubungannya dengan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah (tarekat yang diamal oleh Tuan Imam Haji Ishak) ialah Ar-Rahmah al-Habithah fi Ism az-Zat wa ar-Rabithah karya Syeikh Ismail bin Abdullah Naqsyabandi Khalidi al-Minankabawi.
Tentang hadis ialah Bahr al-Mazi oleh Syeikh Idris al-Marbawi, Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Fath al-Bari. Dalam empat judul kitab hadis yang disenaraikan ini hanya satu judul saja yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu (Bahr al-Mazi). Tiga judul lagi adalah dalam bahasa Arab (Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Fath al-Bari). Daripada senarai tersebut ternyata Tuan Imam Haji Ishak juga belajar hadis.
Kitab-kitab dipelajari oleh Tuan Imam Haji Ishak seperti tersenarai di atas sudah cukup membuktikan bahawa beliau menguasai ilmu-ilmu Islam. Saya yakin bahawa beliau seorang yang rajin membaca. Hal ini kerana saya berkenalan dengan beliau tahun 1990 di mana beliau membawa dan menunjukkan sebuah kitab karya Syeikh Ahmad al-Fathani yang saya usahakan judul Shufi dan Wali Allah diterbitkan oleh Pustaka Aman Press, Kota Bharu, Kelantan.
Setelah beliau tahu saya tinggal di Kuala Lumpur, beliau datang ke rumah saya. Kitab tersebut dijadikan perantara perkenalan. Saya cukup kagum dengan Tuan Imam Haji Ishak kerana pada ketika itu beliau telah mempunyai murid yang ramai dan namanya cukup terkenal dalam lingkungan jemaah Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah yang beliau pimpin. Namun beliau datang ke rumah saya yang jauh lebih muda daripadanya dan tidak masyhur pula.
Saya berkesimpulan Tuan Imam Haji Ishak adalah seorang warak dan zuhud yang tidak membesarkan diri. Sifat-sifat demikian adalah mengikuti jejak langkah para ulama sufi.
Sumbangan
Pada 1932 Tuan Imam Haji Ishak telah diberi tauliah imam oleh Sultan Abu Bakar (Sultan Pahang). Dalam usia 24 tahun, Tuan Imam Haji Ishak telah diberi kepercayaan menjadi imam di Masjid Lechar, Raub, Pahang Darul Makmur. Berbekalkan ilmu-ilmu keislaman yang dipelajarinya dari para ulama yang dipercayai, Tuan Imam Haji Ishak berjaya menyatupadukan penduduk di kampungnya.
Di samping itu, memimpin mereka berpandukan tuntutan Alus Sunah wal Jamaah.
Tuan Imam Haji Ishak juga adalah pengasas Surau Ihyaul Qulub yang pada mulanya dikenali dengan nama Surau Daerah Kampung Bangkin, Mukim Gali, Raub.
Nama Surau Ihyaul Qulub dimasyhurkan sewaktu sambutan Jubli Emas surau tersebut pada Oktober tahun 1990. Selain jasa serta sebahagian daripada sumbangan Tuan Imam Haji Ishak yang dapat dicatatkan, rasanya tidak dapat tidak jasanya sebagai penyusun salasilah keturunan Rao perlulah diakui. Walaupun masih banyak pertikaian pendapat serta beberapa perkara yang masih belum jelas, namun jasa Tuan Imam Haji Ishak sebagai perintis masyarakat keturunan Rao khususnya di Malaysia amat besar.
Mudah-mudahan jejak langkah beliau akan disusuli dengan bersungguh-sungguh oleh beberapa orang keturunan Rao atau Rawa yang datang kemudian.
Oleh WAN MOHD. SHAGHIR ABDULLAH
PENULIS (dua dari kiri) bergambar bersama Jaringan Anak Rao dan Persemendaan. Di sebelah kiri penulis ialah Pengerusi Jaro, Datuk Abdul Wahab.
DUA Isnin berturut-turut yang lalu telah diperkenalkan dua tokoh ulama yang berasal dari Rao atau Rawa. Artikel ini pula adalah rangkaian yang tersebut dan merupakan bicara lanjut yang dibincangkan dalam Majlis Muzakarah Ahlus Sunah wal Jamaah di Raub, Pahang pada 18 Mac 2007 M/28 Safar 1428 H lalu.
Tokoh yang diperkenalkan ialah seorang yang gigih menyebarkan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Nama lengkap beliau mengikut salasilah ayahnya ialah Tuan Guru Imam Tengku Haji Ishak bin Tengku Muhammad Arif bin Tengku Tan Joleng Tujuan Saka Mas bin Tengku Merah Laut Silingkar Alam @ Limbang Laut keluarga Yang Dipertuan Muda Tanjung Alai, Mapat Tunggal, Rao, Sumatera Barat.
Sungguhpun masih banyak persoalan yang masih belum jelas, namun berdasarkan surat Zaffuan bin Haji Manap ar-Rawi al-Qadiriah kepada Pengkaji bertarikh 17 Ramadan 1427 H/20 Oktober 2006 M, keluarga tersebut ada pertalian dengan Syeikh Muhammad Murid Rawa.
Kata Zaffuan, “Keluarga Syeikh Murid ini juga mempunyai pertalian dengan keluarga Merah Mas, Yang Dipertuan Muda Tanjung Alai, Rao tetapi sayangnya peraturan sebenar masih belum dapat dihuraikan hingga kini.”
Saya simpulkan saja bahawa Imam Tengku Haji Ishak salah seorang daripada keluarga Rao atau Rawa dan besar baktinya mendokumenkan keluarga itu terutama di Malaysia.
Menurut surat Zaffuan itu lagi, “Punca utama manuskrip keluarga beliau (maksudnya keluarga Syeikh Muhammad Shalih Rawa, bererti juga semua keluarga) di Pahang ini pada asalnya adalah atas usaha orang tua kami yang dihormati lagi dimuliakan iaitu almarhum Tuan Guru Imam Haji Ishak bin Muhammad Arif al-Khalidi an- Naqsyabandi (1908-1992).”
Ibu Imam Haji Ishak bernama Hindun @ Nujmah binti Tengku Mahmud (keturunan Siak). Ibu Hindun @ Nujmah ialah Maryam berasal dari Kampung Teluk Pulai, Klang, Selangor. Imam Haji Ishak dilahirkan di Kampung Chemor, Ipoh, Perak pada tahun 1908 dan meninggal dunia tahun 1992.
Beliau menerima Tarekat Naqsyabandiyah daripada Syeikh Umar bin Haji Muhammad al-Khalidi an-Naqsyabandi (wafat tahun 1936) di Batu Pahat, Johor.
Guru Syeikh Umar pula ialah Syeikh Abdul Wahhab Rokan (lahir 1811, wafat tahun 1926). Menurut surat Zaffuan lagi: “Beliau adalah seorang guru agama dan pemimpin Tarekat Naqsyabandiyah yang terkenal di seluruh mukim Dong, Raub malah muridnya juga ramai yang datang dari luar Pahang.”
Dari perkataan “Beliau adalah seorang guru agama dan pemimpin Tarekat Naqsyabandiyah ..." perlu diberi ulasan bahawa perkara khilafiah (pertikaian pendapat) dalam Islam sangat banyak, termasuklah ada golongan yang menerima tarekat dan ada pula yang menolaknya. Bahkan lebih jauh daripada itu ada pihak-pihak tertentu yang membidaah dan mengkhurafatkannya.
Dalam segala persoalan dari dulu hingga sekarang, ada saja orang yang tidak pasti tentang sesuatu perkara selalu menyalahkan apa yang dia tidak tahu. Oleh itu pada pandangan saya, tidaklah bijaksana dan tidak adil seseorang itu menyalahkan pendapat orang lain sedangkan dia tidak mempelajari pendapat itu secara saksama, teliti dan mendalam kepada ahlinya. Demikian halnya dengan tarekat dalam tasauf telah berada dalam Islam sejak lama dan telah diamalkan oleh ramai ulama.
Selagi ramai ulama yang mengamalkannya dan terdapat hujah-hujah dalam kitab-kitab mereka, walaupun ada golongan yang menyalahkannya kita tidak patut mempertahankan pendapat atau pandangan sendiri. Apabila kita hidup bermasyarakat, tetapi hanya bertahan kepada pendapat atau pandangan sendiri, tidak menerima pendapat atau pandangan orang lain, boleh mengakibatkan keresahan masyarakat, kehidupan selalu tidak harmoni.
Oleh itu seseorang guru agama seperti Imam Haji Ishak yang mengamalkan tarekat seperti yang diriwayatkan ini, tidak perlu kita pertikaikan kerana sepanjang hayatnya mempunyai murid yang ramai dan diterima oleh masyarakat. Bagi saya, siapa saja mempunyai pendapat dan pandangan yang tidak menyalahi Islam marilah berjuang sehingga nyata kebajikan demi kepentingan umat.
Pendidikan
Setelah tamat sekolah Melayu (di Sekolah Melayu Dong, Raub) beliau mendalami ilmu agama secara khusus. Di antara guru-gurunya termasuklah dua orang ulama berikut iaitu Tuan Syeikh Kasyful Anwar (berasal dari Kalimantan). Beliau adalah seorang yang sangat alim dalam ilmu alat (nahu, sharaf, bayan, mantik, balaghah, badi’ dan sebagainya).
Tentang fiqh pula, Tuan Imam Haji Ishak belajar dengan Tuan Syeikh Muhammad Shalih bin Syeikh Haji Umar, ulama yang berasal dari Batu Pahat, Johor.
Di antara kitab-kitab yang dipelajari oleh Tuan Imam Haji Ishak ialah kitab-kitab tentang akidah Matn Jauharah at-Tauhid, Durr ats-Tsamin oleh Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani, Akidah an-Najin oleh Syeikh Zainal Abidin bin Muhammad al-Fathani. Dari tiga buah kitab ilmu akidah atau tauhid yang tersebut, dapat disimpulkan bahawa Tuan Imam Haji Ishak telah mempelajari ilmu yang sangat asas itu, sebuah matan dalam bahasa Arab (Matn Jauharah at-Tauhid) dan dua syarah dalam bahasa Melayu (Durr ats-Tsamin dan Akidah an-Najin).
Menurut tradisi pengajian Islam dunia Melayu zaman silam tidak terhenti setakat itu saja, biasanya untuk membolehkan seseorang itu bergelar alim dalam akidah Ahli Sunah wal Jamaah dan berkelayakan mengajar, mereka meneruskan pengajian kepada kitab-kitab dalam bahasa Arab peringkat syarah dan hasyiyah yang tinggi-tinggi serta banyak melakukan pengtelahan.
Tentang fikah ialah Sabil al-Muhtadin oleh Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari, Furu’ al-Masail oleh Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani, dan al-Iqna’ kitab dalam Mazhab Syafie dalam bahasa Arab. Jika kita perhatikan tiga kitab yang tersenarai juga sebuah kitab dalam bahasa Arab (al-Iqna’) dan dua buah dalam bahasa Melayu (Sabil al-Muhtadin dan Furu’ al-Masail).
Kitab al-Iqna’ bukanlah sebuah kitab yang mendalam tetapi peringkat pertengahan sahaja. Namun ia dianggap memadai kerana termasuk dalam golongan kitab bercorak syarah bukan matan. Kitab Sabil al-Muhtadin kitab Melayu/Jawi yang cukup popular dalam pengajian Islam tradisional di seluruh dunia Melayu.
Dalam pengertian bahagian ibadat kitab Sabil al-Muhtadin termasuk kitab fiqh Syafieyah yang lengkap. Ada pun kitab Furu’ al-Masail juga dalam bahasa Melayu. Kitab ini membicarakan perkara yang furuk-furuk (cabang-cabang atau bahagian yang halus-halus). Hanya dua saja kitab Melayu/Jawi seperti demikian. Sebuah lagi ialah Kasyf al-Litsam karya Syeikh Zainal Abidin bin Muhammad al-Fathani.
Sungguh pun Tuan Imam Haji Ishak bukan dikenali sebagai seorang faqih (pakar fikah) tetapi beliau memahami banyak hal dalam fikah. Tambahan pula, beliau lebih banyak menceburi bidang Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah tidaklah dapat dianggap beliau tidak memahami syariat. Memanglah sangat berbahaya apabila ada seseorang guru tarekat apabila tidak memahami syariat dan ilmu-ilmu yang lainnya.
Daripada sekian ramai penyebar Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di dunia Melayu seumpama Syeikh Ismail bin Abdullah al-Minankabawi, Syeikh Abdul Wahhab Rokan yang turun kepada Tuan Imam Haji Ishak, dan lain-lain yang faham syariat akhir-akhir ini, memang ada orang tertentu yang tidak faham syariat mengaku dirinya sebagai seorang Syeikh Mursyid.
Seseorang yang jahil tentang syariat adalah ditolak atau tidak diakui oleh ulama tasauf sendiri, apatah lagi ulama-ulama golongan lainnya.
Tentang tasauf ialah ar-Riayah li Huquqillah, Kasyf al-Mahjub, ar-Risalah al-Qusyairiyah. Semua kitab yang tersebut adalah dalam bahasa Arab. Hal yang tersebut bukan bererti Tuan Imam Haji Ishak tidak mengenali atau tidak mempelajari kitab-kitab tasauf bahasa Melayu kerana kitab-kitab tasauf pada zamannya masih muda masih banyak diajarkan oleh para ulama kita.
Di antara kitab tasauf bahasa Melayu yang pasti diketahui oleh Tuan Imam Haji Ishak ialah Hidayah as-Salikin dan Siyar as-Salikin. Kedua-duanya karya Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani, Kitab Syarh Hikam yang berasal daripada karya Syeikh ‘Atha’ al-Askandari, Ad-Durr An-Nafis oleh Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari dan lain-lain.
Di antara kitab tasauf Melayu yang sangat erat hubungannya dengan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah (tarekat yang diamal oleh Tuan Imam Haji Ishak) ialah Ar-Rahmah al-Habithah fi Ism az-Zat wa ar-Rabithah karya Syeikh Ismail bin Abdullah Naqsyabandi Khalidi al-Minankabawi.
Tentang hadis ialah Bahr al-Mazi oleh Syeikh Idris al-Marbawi, Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Fath al-Bari. Dalam empat judul kitab hadis yang disenaraikan ini hanya satu judul saja yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu (Bahr al-Mazi). Tiga judul lagi adalah dalam bahasa Arab (Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Fath al-Bari). Daripada senarai tersebut ternyata Tuan Imam Haji Ishak juga belajar hadis.
Kitab-kitab dipelajari oleh Tuan Imam Haji Ishak seperti tersenarai di atas sudah cukup membuktikan bahawa beliau menguasai ilmu-ilmu Islam. Saya yakin bahawa beliau seorang yang rajin membaca. Hal ini kerana saya berkenalan dengan beliau tahun 1990 di mana beliau membawa dan menunjukkan sebuah kitab karya Syeikh Ahmad al-Fathani yang saya usahakan judul Shufi dan Wali Allah diterbitkan oleh Pustaka Aman Press, Kota Bharu, Kelantan.
Setelah beliau tahu saya tinggal di Kuala Lumpur, beliau datang ke rumah saya. Kitab tersebut dijadikan perantara perkenalan. Saya cukup kagum dengan Tuan Imam Haji Ishak kerana pada ketika itu beliau telah mempunyai murid yang ramai dan namanya cukup terkenal dalam lingkungan jemaah Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah yang beliau pimpin. Namun beliau datang ke rumah saya yang jauh lebih muda daripadanya dan tidak masyhur pula.
Saya berkesimpulan Tuan Imam Haji Ishak adalah seorang warak dan zuhud yang tidak membesarkan diri. Sifat-sifat demikian adalah mengikuti jejak langkah para ulama sufi.
Sumbangan
Pada 1932 Tuan Imam Haji Ishak telah diberi tauliah imam oleh Sultan Abu Bakar (Sultan Pahang). Dalam usia 24 tahun, Tuan Imam Haji Ishak telah diberi kepercayaan menjadi imam di Masjid Lechar, Raub, Pahang Darul Makmur. Berbekalkan ilmu-ilmu keislaman yang dipelajarinya dari para ulama yang dipercayai, Tuan Imam Haji Ishak berjaya menyatupadukan penduduk di kampungnya.
Di samping itu, memimpin mereka berpandukan tuntutan Alus Sunah wal Jamaah.
Tuan Imam Haji Ishak juga adalah pengasas Surau Ihyaul Qulub yang pada mulanya dikenali dengan nama Surau Daerah Kampung Bangkin, Mukim Gali, Raub.
Nama Surau Ihyaul Qulub dimasyhurkan sewaktu sambutan Jubli Emas surau tersebut pada Oktober tahun 1990. Selain jasa serta sebahagian daripada sumbangan Tuan Imam Haji Ishak yang dapat dicatatkan, rasanya tidak dapat tidak jasanya sebagai penyusun salasilah keturunan Rao perlulah diakui. Walaupun masih banyak pertikaian pendapat serta beberapa perkara yang masih belum jelas, namun jasa Tuan Imam Haji Ishak sebagai perintis masyarakat keturunan Rao khususnya di Malaysia amat besar.
Mudah-mudahan jejak langkah beliau akan disusuli dengan bersungguh-sungguh oleh beberapa orang keturunan Rao atau Rawa yang datang kemudian.
Mencari Susur Galur Rao
Mencari Susur Galur Rao
Assalamulaikum Tuan Subari Ahmad,
Saya cukup tertarik dengan usaha Tuan untuk mengumpulkan susur galur darah Rawa @ Rao di pelusuk Nusantara terutamanya di Malaysia.
Nama saya Shamsul Bahareen Bin Hassan berasal dari Cheras dan sekarang ini menetap di Kuching, Sarawak. Kedua belah ibubapa saya iaitu Haji Hassan Bin Haji Mahmud dan Hajah Norma Binti Haji Mukti berasal dari Kedah, ibu dari Sungai Petani manakala bapa pula dari Yan tetapi kini bermastautin di Cheras.
Saya berminat untuk mengumpulkan ahli keluarga dan merapatkan silaturrahim sesama kita terutamanya keturunan Rao di sebelah ibu saya. Gemulah nenek saya berasal dari Gunung Mesah kemudian berpindah Kampung Pulai sebelum bermastautin di Kampung Tersusun Kopisan, Gopeng iaitu Haji Mukti Bin Abdullah dan Gemulah Uci saya iaitu Hajah Ramlah.
Untuk pengetahuan Tuan, saya ada terbaca email yang di hantar pada 8/1/2009 dari Encik Razak Bin Nasir dari Gopeng yang ingin mencari saudara mara Rao yang kebetulannya adalah merupakan sepupu saya kerana ibu nya iaitu Hajah Rohani adalah adik beradik tetapi berlainan ibu dgn ibu saya.
Jika Tuan dapat meluangkan masa untuk berkongsi maklumat tentang kajian susur galur Rao yang telah Tuan usahakan setelah sekian lama,adalah menjadi satu penghargaan kepada saya kerana ianya adalah merupakan sejarah berharga yang tidak ternilai kerana dapat saya turunkan kepada anak-anak saya tentang asal-usul keturunan mereka.
Shamsul Bahareen Bin Haji Hassan
Kuching, Sarawak
012-8911518
"Shamsul Bahareen Hassan"
Assalamulaikum Tuan Subari Ahmad,
Saya cukup tertarik dengan usaha Tuan untuk mengumpulkan susur galur darah Rawa @ Rao di pelusuk Nusantara terutamanya di Malaysia.
Nama saya Shamsul Bahareen Bin Hassan berasal dari Cheras dan sekarang ini menetap di Kuching, Sarawak. Kedua belah ibubapa saya iaitu Haji Hassan Bin Haji Mahmud dan Hajah Norma Binti Haji Mukti berasal dari Kedah, ibu dari Sungai Petani manakala bapa pula dari Yan tetapi kini bermastautin di Cheras.
Saya berminat untuk mengumpulkan ahli keluarga dan merapatkan silaturrahim sesama kita terutamanya keturunan Rao di sebelah ibu saya. Gemulah nenek saya berasal dari Gunung Mesah kemudian berpindah Kampung Pulai sebelum bermastautin di Kampung Tersusun Kopisan, Gopeng iaitu Haji Mukti Bin Abdullah dan Gemulah Uci saya iaitu Hajah Ramlah.
Untuk pengetahuan Tuan, saya ada terbaca email yang di hantar pada 8/1/2009 dari Encik Razak Bin Nasir dari Gopeng yang ingin mencari saudara mara Rao yang kebetulannya adalah merupakan sepupu saya kerana ibu nya iaitu Hajah Rohani adalah adik beradik tetapi berlainan ibu dgn ibu saya.
Jika Tuan dapat meluangkan masa untuk berkongsi maklumat tentang kajian susur galur Rao yang telah Tuan usahakan setelah sekian lama,adalah menjadi satu penghargaan kepada saya kerana ianya adalah merupakan sejarah berharga yang tidak ternilai kerana dapat saya turunkan kepada anak-anak saya tentang asal-usul keturunan mereka.
Shamsul Bahareen Bin Haji Hassan
Kuching, Sarawak
012-8911518
"Shamsul Bahareen Hassan"
Sabtu, 10 Januari 2009
waris rawa mencari susur galur...
waris rawa mencari susur galur...
Saturday, 10 January, 2009 10:16 PM
assalamualaikum...
Saya lily..saya berminat nak mengetahui berkenaan dengan orang Rawa..ini kerana nenek sebelah mama saya adalah keturunan Rawa dari Gunung Mesah...
Saya ingin tahu tentang susur galurnya...
macam mana saya nak dapatkan salah silah tersebut?nama nenek saya Salmah @ Hamidah Yaacob tapi dikenali dengan nama Norain....Kakak nenek saya bernama Sariah bt Yaacob...Nenek Sariah masih lagi tinggal di Kg Gunung Mesah(dekat jln kubur)..saya berharap sangat2 dapat mengetahuinya...
"lillies tahir"
Add sender to Contacts
Saturday, 10 January, 2009 10:16 PM
assalamualaikum...
Saya lily..saya berminat nak mengetahui berkenaan dengan orang Rawa..ini kerana nenek sebelah mama saya adalah keturunan Rawa dari Gunung Mesah...
Saya ingin tahu tentang susur galurnya...
macam mana saya nak dapatkan salah silah tersebut?nama nenek saya Salmah @ Hamidah Yaacob tapi dikenali dengan nama Norain....Kakak nenek saya bernama Sariah bt Yaacob...Nenek Sariah masih lagi tinggal di Kg Gunung Mesah(dekat jln kubur)..saya berharap sangat2 dapat mengetahuinya...
"lillies tahir"
Add sender to Contacts
SEJARAH RAO


SEJARAH RAO
Oleh: ReskiHassan
Cerita berikut ini saya dapatkan dari beberapa sumber (orang-orang yang sudah tua di Penduduk asli yang mendiami Rao pada awalnya adalah orang Leco atau orang Leso. Ciri-ciri orang leso bertubuh lebih kecil daripada orang-orang lain mereka biasa hidup berkelompok di dalam hutan, mengkonsumsi ikan yang mereka tangkapi dari sungai-sungai di sepanjang daerah Rao yang dulunya adalah hutan dan rawa-rawa. Orang leco dulunya menetap di kampung yang sekarang disebut dengan Lubuk gadang atau Ranjau batu ( Kecamatan Mapat Tunggul pecahan dari kecamatan Rao) Kedatangan Suku bangsa Lubu dari Kamboja yang masuk melalui bagan siapi-api (Riau) sampai ke Lubuk gadang Pada Abad Ke 1 sampai dengan abad ke 5 Masehi menggusur keberadaan orang Leco. Karena mereka takut dengan Postur tubuh Orang suku bangsa Lubu yang jauh lebih tinggi daripada postur tubuh mereka. Orang Leso kemudian mencari hutan-hutan yang lebih dalam untuk mereka tinggali. Sementara daerah asal mereka didiami oleh Suku bangsa Pendatang yaitu Suku bangsa Lubu. Konon karena itulah daerah tersebut dinamakan Lubuak Godang yang diambil dari nama Lubu. Sekitar 15 Tahun yang lalu orang Leso sekali-kali sering tampak oleh penduduk Rao di sekitar Hutan mereka biasanya meminta garam ke Penduduk yang mereka temui (saya kurang paham dengan bahasa apa yang mereka pakai utuk berkomunikasi)
Orang Lubu berkembang biak sepanjang Sumatera dan konon juga katanya setiap jejak daerah yang pernah mereka tinggali selalu bernama Lubu/Lubuak/Lubuk didepannya seperti Lubuak Godang, Lubuak Layang, Lubuak sikaping dan lain-lain.
Agama suku bangsa Lubu adalah Agama Hindu dan mempberlakukan Sistem kasta antara lain:
1. Kasta Brahmana yang berubah menjadi Suku Ompu
2. Kasta Kesatria yang berubah menjadi Kandang Kapauak
3. Kasta Waisa yang berubah menjadi Suku Mandialang
4. Kasta Sudra yang berubah menjadi Suku Pungkut
Kasta sudra masih pecah lagi menjadi beberapa suku tetapi saya lupa nama suku-suku tersebut
Sekitar abad Ke 6 masuklah agama Budha dan menghapus sistem kasta yang ada dan berubah menjadi suku-suku diatas. Sekitar Abad Ke 14 Masehi Lahirlah kerajaan-kerajaan di sumatera antara lain: Mandailing, Minang Kabua (bukan minang kabau, mungkin saja cikal bakal minag kabau) dan Darmasraya.
Cerita lain yang saya dengar, di Rao dulu ada sebuah kerajaan yang sangat besar, istana kerajaan inilah kabarnya yang dijadikan benteng Van Amerongen (Benteng Pertahanan Belanda pada saat Perang Paderi). Ada yang menyebutkan nama kerajaannya adalah kerajaan Gajah Morom, arsitektur Rumah adatnya menyerupai Rumah adat minang kabau sekarang ini, hanya saja gonjongnya lebih sedikit, dan dibagian tengah atap ada gambar gajah yang sedang duduk. Saya berjanaji Insya Allah akan saya minta sketsa istana ini kepada salah satu orang tua yang masih memiliki sketsa Istana tersebut.
Bukan tidak mungkin Rao dulunya merupakan kerajaan yang besarkarena letak nya sangat strategis dan merupakan persinggahan pedagang di sumatera. Letak Istana Rao dulu juga sangat strategis berada dia atas ketinggian yang jika memandang ke sekeliling akan terlihat pemandangan lembah dan selingkung bukit barisan. Rao juga dulunya penghasil Emas, anda bisa baca di “Cataten Rao” diatas. Konon bangsa belanda yang dulu singgah di Rao selalu menetap lama di Rao dan membawa dan membawa emas sebagai Oleh-oleh dari rao. Selama menetap mereka biasanya menyimpan emas di dalam tanah agar tidak dicuri orang lain.
Menurut cerita emas-emas mereka masih banyak yang tertimbun karena pada saat terdesak saat perang Paderi mereka lupa membawa emas mereka. Bukan tidak mungkin juga, saya sering menemui orang-orang dari negeri Belanda melancong ke Rao dan berjalan mengelilingi Tanah bekas Benteng van Amerongen, bisa saja mereka mencari emas yang dulunya di timbun nenek moyang mereka. Tapi biasanya mereka tidak pernah bermalam di Rao hanya berputar-putar di sekeliling Tanah bekas Benteng beberapa jam lalu pergi. Mereka juga sangat tertutup jika ditanyai tujuan kedatangannya, ada juga yang berkilah tidak bisa berbahasa Selain bahasa Belanda.
Wallahu alam
Menjejak kasih ke tanah rao
Menjejak kasih ke tanah rao
Oleh: Marisma
Sepi berangkat ketika subuh,
Membuka masa yang kita kuncikan,
Dari sebuah kisah,
Nama di hujung musim,
Yang semakin jauh,
Kini kembali bertaut.
( cetusan rasa Ayahnda T. Puji )
Tarikh 26hb. Feb. 2002 tidak akan luput dari ingatan apabila rombongan keluarga kami dari Raub, Pahang seramai 42 orang telah menuju ke Padang Nunang Rao untuk bertemu dengan waris keluarga yang masih tinggal menetap di sana. Kami keluar memulakan perjalanan seawal jam 4.00 pagi dari Hotel Ambun Suri di Bukit Tinggi, SUMBAR dengan menaiki bas menuju ke destinasi. Sepanjang perjalanan yang berliku-liku dan melalui kampung-kampung yang damai dengan pemandangan sawah padi yang terbentang luas akhirnya kami sampai juga ke Padang Nunang sebuah kampung di daerah Rao jam 9.00 pagi dengan disambut secara meriah oleh penduduk-penduduknya dengan acara keramaian adat minang. Seterusnya kami telah di sambut oleh Duli Yang Dipertuan Padang Nunang bersama-sama Permaisuri yang kemudiannya mempersilakan semua anggota rombongan masuk kerumah beliau. Maka berpeluk-pelukanlah keluarga rombongan dengan keluarga di Padang Nunang ini kerana mereka tidak menyangka boleh berjumpa kembali selepas terpisah selama 200 tahun lebih. Waktu itu dapat dilihat kemesraan masing-masing yang melepaskan kerinduan kepada keluarga yang masih ada pertalian 3 atau 4 pupu. Kami juga telah dihidangkan dengan makanan-makanan tradisional Rao seperti Lemang, Rendang, Kelamai Jagung dan lain-lain kueh yang jarang dapat kami berjumpa.
Selepas keberangkatan tiba Sultan Pagaruyung serta Permaisuri dan Yang DiPertuan Gadih Gadang Pagaruyung serta ahli-ahli rombongan dari Istana Pagaruyung maka tepat jam 11.00 pagi, Majlis Adat Istiadat di mulakan dengan menjemput Duli Yang Mulia Sultan Pagaruyung memberi ucapan dan diteruskan oleh wakil dari Pahang iaitu YM Tengku Puji B. Tengku Abd. Hamid dan juga ucapan dari Yang Di Pertuan Padang Nunang. Selesai majlis pada jam 12.30 tgh kami telah dipersilakan ke majlis jamuan makan tengahari dan sudah pastinya hidangan 'Kosa' (Gulai Rebus) adalah salah satu menu wajib dalam majlis keramaian seperti ini.
Selesai jamuan makan dan setelah berehat sebentar beramah mesra dengan tetamu yang hadir maka tibalah saat kami meminta izin untuk beredar kerana meneruskan perjalanan pulang ke Malaysia. Dimasa inilah kami dapat melihat kedua-dua belah pihak keluarga berpeluk-pelukan dengan airmata yang berlinangan... Jam 2.00 petang rombongan kami menaiki bas dan meneruskan perjalanan ke Bukit Tinggi selanjutnya ke Dumai. Sampai di Dumai jam 1.00 tengah malam, dan kami semua telah bermalam disini. Keesukan harinya kami melanjutkan perjalanan pulang dengan menaiki feri ke Melaka dan terus menuju balik ke Raub...
PENAKIK PISAU SERAUT,
AMBIL GALAH BATANG LINTABUNG,
SEDULANG JADIKAN NYIRU,
SETITIK JADIKAN LAUT,
SEKEPAL JADIKAN GUNUNG,
ALAM TERBENTANG JADIKAN GURU........
Dilahirkan di Ibu Kota Kuala Lumpur,
tatapi mambasa dikampuang halaman Ibu nan tacinto......
Pagaruyung Talatak Di Balai Janggo,
Tampek Bajalan Urang Baso,
Duduak Ket Kampuang Tiado Bandingannyo,
Hai... Sampai Bilo-Bilo Takanang Juo....
Rona roni kehidupan dihadapi dengan tabah dan cekal..
tapi ada juga masanya terpaksa mengalah dan bertahan....
Padang Nunang Rao Tuanku Mudo tinggakan,
Duduak sabanta di Sri Menanti,
Perjalanan hidupku telah ditakdirkan,
Apalah gerangan hikmah yang menanti.
Mencintai Sejarah dan Seni Budaya.....
Selingkar Kisah Datuk Paduka,
Melakar Sejarah Di Bumi Pahlawan,
Tuanku Nan Selapan Hebat-Hebat Belaka,
Bersatu Teguh Menentang Penjajahan.
Tok Gajah Pahlawan Gagah Perkasa,
Melawan Musuh Tiada Terkata,
Indahnya Budi Cantiknya Bahasa,
Sebahagian Seni Budaya Bangsa.......
Khamis, 8 Januari 2009
EMEL DARI WARIS RAO GOPENG, PERAK
Menyingkap asal Rao tanah bertuah
Thursday, 8 January, 2009 9:47 PM
Tahniah atas niat dan usaha murni anda dan usaha ini harus di sokong ,
saya keturunan Rao dari Gopeng Perak , juga berminat dan telah mula menyambung usaha
ayahanda saya menyingkap asal keturunan sehingga di : Kecamatan Rao , Kabupaten Pasaman , Propinsi Sumatera Barat , Indonesia .
Namun ada sedikit halangan bila kebanyakan waris terdahulu telah menukar nama asal mereka bila tiba ke tanah melayu dan yang berkenaan kebanyakannya telah meninggal dunia . Cara yang tinggal adalah melalui persatuan yang baru dibentuk iaitu JARO dan menziarahi sendiri kampung-kampung asal di Rao .
salam perkenalan
"razak mohd nasir"
Thursday, 8 January, 2009 9:47 PM
Tahniah atas niat dan usaha murni anda dan usaha ini harus di sokong ,
saya keturunan Rao dari Gopeng Perak , juga berminat dan telah mula menyambung usaha
ayahanda saya menyingkap asal keturunan sehingga di : Kecamatan Rao , Kabupaten Pasaman , Propinsi Sumatera Barat , Indonesia .
Namun ada sedikit halangan bila kebanyakan waris terdahulu telah menukar nama asal mereka bila tiba ke tanah melayu dan yang berkenaan kebanyakannya telah meninggal dunia . Cara yang tinggal adalah melalui persatuan yang baru dibentuk iaitu JARO dan menziarahi sendiri kampung-kampung asal di Rao .
salam perkenalan
"razak mohd nasir"
Langgan:
Catatan (Atom)
