Isnin, 29 Jun 2009

PERANAN DAN AKTIVITI SURAU DALAM MASYARAKAT MELAYU RAO

PERANAN DAN AKTIVITI SURAU DALAM MASYARAKAT MELAYU RAO
Afriadi Sanusi


Abstrak
Kertas kerja ini membahaskan tentang Peranan dan Aktiviti Surau dalam Masyarakat Melayu Rao. Kajian ini menggunakan metode kepustakaan, (library research) pengamatan, temu bual, dan kajian historis dengan menggunakan kaedah analisis data secara induktif, deduktif dan komparatif. Objek yang dikaji adalah peranan dan aktiviti surau di Rao dan membandingkannya dengan pengamalanya terhadap masyarakat keturunan Rao di Malaysia. Hasil kajian ini diharap dapat memberikan suatu gambaran yang jelas tentang peranan dan sumbangan surau dalam masyarakat Rao.

A. Pendahuluan
Minangkabau adalah bagian dari rumpun Melayu yang berasal dari Sumatera Barat. Suku Minang terkenal dalam bidang perdagangan dan pemerintahan. Kurang lebih dua pertiga dari jumlah keseluruhan anggota suku ini berada di perantauan. Suku Minang pada masa penjajahan Belanda terkenal sebagai suku yang terpelajar. Sampai sekarang majoriti suku Minang menyukai pendidikan dan perdagangan. Dalam pola keturunan dan pewarisan adat, suku Minang menganut matrilineal. Masyarakat suku Minang mendasarkan adat budayanya pada syariah Islam. "Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Syarak mangato adat mamakai." Konsep ini diasaskan oleh Tuanku Imam Bonjol seorang pahlawan, Ulama dan pejuang yang seangkatan dengan Tuanku Tambusai dan Tuanku Rao.
Identiti orang minang adalah beragama Islam dan seorang yang keluar dari Islam dibuang dari adat dan tidak diakui sebagai orang minang lagi. Di zaman keemasannya dahulu, Minangkabau dikenal sebagai lumbung penghasil tokoh dan pemimpin, baik dari kalangan alim ulama maupun cendekiawan pemikir dan pemimpin sosial politik, yang menyumbang di tatanan Nusantara serta dunia Internasional seperti Hamka, Abdul Muis, H. Agus Salim, Mr. Assaat, Mohammad Hatta, Mohammad Natsir, Mohammad Yamin, Sutan Sjahrir, Tuanku Imam Bonjol, Haji Muhammad Nur, Haji Utsman Bin Abdullah, Syeikh Abdul Hamid, Syeikh Abdul Karim Amrullah, Syeikh Abdul Rahman Minangkabau, Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Syeikh Burhanuddin, Syeikh Ismail Al-Minankabawi, Syeikh Muhammad Amrullah, Tuanku Abdullah Saleh, Syeikh Muhammad Saleh Al-Minankabawi, Muhammad Jamil Jambek, Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli, Syeikh Tahir Jalaluddin Al-Azhari, A.A Navis dan ramai lagi.
Ketika itu surau menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam komuniti masyarakat Minangkabau, dan surau telah memberikan sumbangan penting dalam perkembangan kehidupan masyarakat. Pada masa keemasan itu surau dalam konteks kultur budaya telah menjembatani kepentingan sosial dan kepentingan ritual ibadah, sehingga surau berfungsi ganda, pertama sebagai tempat bermalam anak lelaki yang berarti tempat tidur dan tempat beristirahat di malam hari. Kedua, surau sebagai tempat belajar dan menimba ilmu untuk bekal hidup. Proses pendewasaan anak lelaki yang tidur di surau di asuh oleh ninik-mamak kaum dengan konsep pendidikan alam takambang jadi guru .

Proses pebelajaran ini mencerminkan pendidikan semulajadi dengan menitik beratkan pada proses pendewasaan. Di surau ninik-mamak mewariskan ilmu kepada kaumnya. Pewarisan ini merupakan upaya untuk mempersiapkan kaum yang memiliki daya saing. Selain itu, sebagai upaya pemberdayaan kaum lelaki sekaligus mempersiapkannya sebagai pemimpin yang bertangung jawab. Pada periode ini taraf kealiman dapat diperoleh dengan selalu mengikuti pendidikan surau.

Suku Rao terdapat di Sumatera Barat, Indonesia saat ini. Kebanyakan suku Rao telah berhijrah ke luar seperti Jakarta, Medan, Malaysia dan sebagainya yang disebabkan ditaklukkannya Rao oleh Belanda tahun 1833 dan faktor lainya. Di sebelah Utara, Rao bersempadan dengan Sumatera Utara yang majoriti masyarakatnya adalah orang Mandahiling, di sebelah Timur bersempadan dengan Riau Daratan suku melayu, di Selatan, bersempadan Minangkabau (Sumatera Barat) manakala di sebelah Barat, terbuka dengan Selat Mentawai yang secara geografi membentuk permukaan bumi di daratan pulau Sumatera.

Secara geografis dan beberapa adat budayanya, orang Rao digolongkan kepada Minangkabau. Akan tetapi Rao memiliki beberapa identiti khazanah budaya sendiri yang tidak terdapat di Minangkabau. Ringkasnya orang Rao itu seperti orang Betawi di Jakarta atau orang Sunda di Bandung yang secara geografis berada dalam pulau Jawa, tetapi mereka tidak mahu dan tidak merasa sebagai orang Jawa, kerana Jawa menurut mereka identik dengan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Ini kerana mereka memiliki identiti budaya, bahasa dan ciri khas tersendiri yang tidak terdapat di Jawa. Secara kekuasaan pula mereka tidak tunduk di bawah taklukan kekuasaan Raja Jawa.

Prof. Dr Muchtar Naim mengatakan bahawa orang Rao berasal dari Lubu kamboja . Ini bererti bahawa antara orang Minang dengan orang Rao berasal dari suku yang sama. Akan tetapi tidak dikenal pasti siapakah yang lebih tua antara masyarakat Minangkabau atau orang Rao. Orang Rao kah berasal dari Minangkabau atau sebaliknya, masih menjadi bahan kajian hingga saat ini. Secara kekuasaan pula raja Rao tidak tunduk kepada kekuasaan Raja Pagaruyung kerana di Rao terdapat ramai Raja-raja kecil seperti halnya di Aceh juga demikian.

B. Islam masuk ke minangkabau
Islam telah masuk ke Minangkabau pada tahun 1250 M. Pendapat ini dikuatkan oleh sejarah perdagangan orang Arab ke berbagai belahan dunia. Masuknya Islam ke Minangkabau, sebagaimana diceritakan dalam catatan sejarah klasik MuballighulIslam terjadi pada tahun 580 H yang diawali dari sejarah terdamparnya saudagar Arab di perairan Minangkabau, yang kemudian menemukan perkampungan penduduk. Saudagar itu bernama Saidi Abdullah. Dia diterima oleh penduduk dan diakui sebagai anggota masyarakat. Saidi Abdullah memperkenalkan Islam kepada keluarga yang menerimanya dan kemudian kawin dengan putri kepala Dusun yang konon berasal dari keturunan raja Pagaruyung.

Dusun yang dihuni dan sekaligus sebagai tempat penyebaran Islam itu adalah kampung Durian yang terletak di kota Padang Sebelah Timur. Namun, setelah Saidi Abdullah meninggal, terjadi kekosongan penyebaran Islam, bahkan masyarakat kembali kepada agama lamanya. Sementara itu, ada yang menyebutkan bahwa masuknya Islam di Minangkabau terjadi pada abad ke 13 seiring dengan masuknya Islam di Nusantara dengan berdirinya kerajaan Samudara Pasai.

Perkembangan Islam di Minangkabau selanjutnya ditandai dengan diperintahnya kerajaan Pagaruyung oleh Raja Sultan Alif yang beragama Islam pada abad 16. Perkembangan Islam pada masa awal lebih terfokus pada peran Burhanuddin, setelah ia kembali menuntut ilmu dari seorang guru di Aceh bernama Alkalani Amin bin Abd Rauf Singkil Al Jawi bin Alfansyuri. Burhanuddin disebut sebagai peletak dasar Islam di Minangkabau. Akan tetapi, jika melihat pada alur sejarah, sebelumnya Islam sudah hadir di Minangkabau tetapi tidak dapat bertahan lama.

Berbasis pada pendidikan suraunya, Burhanuddin mengembangkan tradisi keislaman, bersama dengan murid-muridnya yang telah selesai belajar. Mereka mendirikan surau di tempat lain atau di kampung halamannya. Penyebaran Islam ketika itu banyak dilakukan oleh murid-murid Burhanuddin, hal ini menyebabkan terjadinya jaringan ajaran seorang ulama yang tersebar di berbagai daerah. Dalam pada itu surau sangat identik dengan ulama. Ulama melangsungkan pendidikan dan membentuk jamaah di surau.

Antara akhir abad ke-13 dan awal abad ke-16 di pulau Sumatera terdapat kerajaan-kerajaan Islam: Pasai, Perlak, Samudra, dan lain-lain yang semuanya terletak bagian utara pulau Sumatera. Mulai tahun 1514 berdiri pula Kerajaan Islam Aceh sampai tahun 1904.• Pada zaman kejayaan Kerajaan Aceh abad ke-15 dan ke-16, pedagang Aceh menguasai hampir seluruh bandar dagang di Pesisir Barat pulau Sumatera. Pedagang Islam inilah yang menyebarkan agama Islam di Pesisir Barat Sumatera Barat. Penyebaran agama Islam dilakukan secara besar-besaran pada abad ke-15 dan abad ke-16 di waktu kerajaan Aceh menguasai hampir seluruh perdagangan di Pesisir Barat pantai Sumatera.

Pendapat lain pula mengatakan bahawa agama Islam sudah mulai masuk ke Sumatera Barat kira-kira pertengahan abad ke-12 yang dibawa oleh Syeikh Burhanuddin yang meninggal di Kuntu Kampar pada tahun 1191. Beliau seorang Ulama Islam yang tinggal tidak menetap pada suatu tempat, tetapi berpindah-pindah. Beliau datang dari tanah Arab melalui Aceh masuk ke Sumatera Barat. Mengajar di Batuhampar Payakumbuh selama 10 tahun, Kumpulan Bonjol selama 5 tahun, Ulakan selama 11 tahun, Kuntu Kampar selama 15 tahun sampai dia meninggal di sana pada tahun 1191.

C. Sejarah Pendidikan Surau
Pendidikan Islam pertama di Sumatera Barat dilakukan oleh pedagang Islam dari Aceh. Sesudah Islam mulai berkembang, maka pendidikan Islam mulai dilaksanakan di surau untuk pertama kalinya di Sumatera Barat dimulai oleh Sheikh Burhanuddin di Ulakan, Pariaman pada tahun 1680. Kerajaan Aceh merupakan salah satu pusat pengembangan agama Islam serta ajarannya di Sumatera pada abad ke-17. Banyak murid yang datang ke Aceh untuk menuntut dan memperdalam ilmu pengetahuan tentang Islam, yang datang dari seluruh pelosok Indonesia, dan dari luar negeri.

Pendidikan surau Syeikh Burhanuddin memiliki ciri-ciri pola surau besar (masjid-pondok), rumah syeikh dan surau kecil (tempat keterampilan dan penginapan). Surau besar biasanya merupakan tempat berlangsungnya pendidikan secara bersama, ulama mengajar dan sekaligus pemilik surau. Sedangkan surau kecil dijadikan tempat tinggal pelajar dan diselenggarakan juga pendidikan, murid yang senior mengajarkan murid junior atas persetujuan ulama (guru). Semenjak tahun 1784 hukum Islam dan tasawuf menjadi bidang kajian yang penting di surau, ini dapat dilihat dari keberadaan Undang-undang Minangkabau yang di pengaruhi oleh tasawuf. Pendidikan surau ini hampir sama dengan sistem pesantren.

Di samping itu, berkembang pula pusat studi Islam yang dipelopori oleh Tuanku Nan Tuo di Koto Tuo tahun 1784. Menurut catatan sejarah, pada awal berdirinya surau Tuanku Nan Tuo memiliki murid lebih dari 1000 0rang, yakni jumlah yang sebanding dengan jumlah murid Burhanuddin, iaitu guru dari Tuanku Nan Tuo. peranan Tuanku Nan Tuo ini merupakan langkah awal di daerah darek membangun sebuah perkampungan pelajar, sekaligus merupakan agen transformasi sosial kultur masyarakat petani menuju keberagamaan. Di Minangkabau, banyak pergerakan-pergerakan lahir dari kaum surau yang terdidik ini. Pada masa pergerakan, muncul kegamangan dari kaum surau dalam melihat perubahan sosial, ekonomi, dan politik. Surau menjadi media Islam yang didirikan oleh para ulama.

Murid murid yang telah selesai menempuh pendidikan mendirikan surau di kampung halamannya, sehingga Islam di Minangkabau cepat diterima oleh masyarakat. Dalam hal ini, surau telah membentuk karakter masyarakat Minangkabau. Dari surau ulama-ulama membangun para pemikir Islam. Surau menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam pendidikan dan pemikiran keislaman orang Minangkabau. Corak dan karakter surau sangat ditentukan oleh otoriti ulama.

D. Metode Pendidikan Surau
Sistem pendidikan di surau pada mulanya berlangsung sangat sederhana, yakni berhalaqah, duduk bersila mendengarkan keterangan guru. Tidak ada mengenal tingkatan kelas apalagi ijazah. Biasanya murid-murid yang lebih yang telah lama dipercayai oleh guru untuk mengajar murid-murid yang baru datang. Ketika murid sudah memiliki kemampuan untuk mengajar dan ilmunya sudah dalam, maka guru mengizinkan murid tersebut untuk mengembangkan ilmunya ke tengah masyarakat. Murid itu pun mendirikan surau baru sebagai tempat untuk mengembangkan ilmunya

Seorang Syeikh dalam mengajar tidak menerima gaji, mereka mengajar ikhlas kerana Allah semata, bukan untuk mencari penghasilan. Seorang Syeikh mendirikan surau atau mengajar biasanya dengan biaya sendiri, kecuali kalau ada sumbangan anak negeri setempat berupa zakat dan fitrah. Syeikh yang sudah terkenal banyak menerima zakat fitrah, terutama dari bekas muridnya, sehingga dengan zakat fitrah itu, ia dapat memberikan biaya bagi beberapa orang muridnya yang tidak mampu.
Muridnya tidak membayar wang mengaji atau wang sekolah. Segala keperluan, mereka siapkan dan cari sendiri. Pada akhir abad ke-19 banyak ulama Islam Sumatera Barat yang belajar ke Mekah dan pada awal abad ke-20 mereka sudah kembali lagi ke Sumatera Barat, dan langsung mengajar di surau yang sudah ada. Sistem pendidikan Islam di Sumatera Barat pada masa ini dinamakan Sistem Pendidikan Surau, kerana pusat pendidikannya adalah surau tersebut. Pada dasarnya pendidikan Islam pada waktu itu terbagi atas dua bahagian, iaitu:

a. Pengajian AI-Quran.

Sistem yang dipergunakan dalam pengajian AI-Quran adalah guru duduk di tengah surau sedangkan murid duduk mengelilinginya dalam satu lingkaran atau guru duduk di sebelah ujung surau, murid duduk mengelilingi dalam bentuk setengah lingkaran. Dalam posisi yang demikian guru menyebutkan pelajaran dan murid mengulangi bersama-sama. Setiap pelajaran diucapkan guru dengan membaca menurut irama lagu pembacaan AI-Quran. Murid secara bersama menirukan apa yang diucapkan gurunya, termasuk irama lagunya. Di samping mengajarkan membaca AI-Quran, juga diajarkan cara mengerjakan sembahyang, keimanan, juga sifat Dua puluh. Pelajaran akhlak juga tidak ketinggalan, yang diberikan melalui kisah dan cerita nabi-nabi.

b. Pengajian Kitab

Pengajian Kitab yang dipelajari adalah ilmu Syaraf, Nahu, Fikih, dan Tafsir; yang diajarkan adalah arti dari kalimat AI-Quran tersebut. Cara mengajarkan ilmu tersebut ialah dengan bergantian, mula-mula diajarkan ilmu Syaraf saja. Apabila ilmu ini sudah dikuasai baru diajarkan ilmu Nahu dan kemudian ilmu Fikih. Murid yang telah tamat Pengajian Kitab, sudah menguasai tentang agama Islam secara mendalam ditambah dengan pengetahuan gramatika bahasa Arab.

Hampir semua pelajaran tersebut hafal dengan lancar di luar kepala, termasuk ayat Quran, dan hadis nabi. Sebagai kriteria buat menentukan berhasilnya seorang murid pengajian Kitab adalah: (1) hafal seluruh materi pelajaran, (2) dapat menyebutkan bahasa Arabnya dengan tepat, (3) dapat mengatakan dan menerangkan artinya, (4) dapat menguraikan maksud dan maknanya bagi kehidupan manusia, (5) lancar berbahasa Arab. Setelah tamat belajar dengan kriteria tersebut mereka diberi gelar Syeikh.

E. Falsafah Pendidikan Surau di Minangkabau
Surau adalah sebuah institusi pendidikan dan sosial tempat pembinaan anak nagari di Minangkabau. Disinilah tempat persemaian insan baru dengan ilmu ke-Islaman, ilmu kemasyarakatan dan adat istiadat serta berlatih beladiri silat. Adapun yang dapat dipelajari atau diajarkan di Surau adalah:
1. Pelajaran dan didikan agama setidak-tidaknya sekedar yang pokok-pokok yang harus dimiliki oleh seorang Islam. Pendidikan ini tidak setakat teori sahaja, tetapi langsung dipraktikkan dalam kehidupan pelajar, seperti bagaimana tata cara beribadah, tata cara bermuamalah, pengamalan akidah, akhlak dan sebagainya.
2. Pelajaran adat, tambo, pidato-pidato adat, hariang gendiang sampai-sampai bagaimana tata tertib di atas rumah orang (cara berumah tangga). Banyak sekali adat pantang larang dalam adat minangkabau yang selari dengan Islam seperti seorang bapak saudara yang ingin berkunjung kerumah kemenakannya harus batuk dulu beberapa kali sebelum mengucab salam. Ini untuk mengelakkan agar kemenakan tidak sedang menutup aurat dan sebagainya
3. Tidur bersama, mengaji bersama, shalat bersama, didikan seperti ini bertujuan untuk mendidik bagaimana cara bermasyarakat, dan bagaimana supaya pandai menyesuaikan diri dengan rakan-rakan yang lain.
4. Anak-anak akan dekat berkomunikasi dengan gurunya, didikan seperti ini untuk menempah agar pelajar tidak penakut dan supaya berjiwa besar, dan diberi pelajaran bela diri (silat) dan ilmu bathin lainnya untuk mempersiapkan diri dalam merantau nantinya
5. Di surau ini juga dapat dipelajari bagaimana cara berdagang, cara bertenun ataupun cara-cara serta pengalaman merantau. Ini bertujuan untuk mempersiapkan diri pelajar dalam mengharungi kehidupan apabila dia dewasa kelak
6. Setelah ada kaum pergerakan sekitar tahun 1915/1926, di surau-surau juga diadakan kursus-kursus politik. Ini dipengaruhi oleh sebab keadaan Nusantara yang terjajah ketika itu. Pelajar dicabar untuk memperjuangkan kemerdekaan dari penjajahan Belanda ketika itu.
Perlu diketahui, bahwa waktu itu, untuk mengetahui tinggi rendahnya pendidikan di suatu negeri dapat dilihat dari banyaknya surau serta murid yang mengaji disurau tersebut. Setelah adanya kaum pergerakan, sering diadakan kursus-kursus politik. Hampir disetiap surau, setelah selesai pengajian diadakan kursus politik. Di halaman-halaman surau biasanya terdapat lapangan untuk anak-anak bermain, bersukan di waktu lapang petang hari.
Pada dasarnya di surau dipelajari menulis dan membaca Al Qur'an dan ilmu ilmu agama terdiri dari ilmu akidah, ilmu syari'ah, dan ilmu akhlak. Kebiasaan dalam adat Minangkabau anak-anak muda menjelang kawin tinggal disurau, dengan sendirinya semua orang Minangkabau masa itu telah pandai membaca al Qur'an berikut menulisnya dan secara dasar mengetahui ilmu agama dalam bentuk alamiyah. Dengan demikian lembaga surau telah membebaskan orang Minangkabau dari buta huruf dan telah berhasil melahirkan ulama .
Disurau-surau diberikan kebebasan beberapa materi ilmu untuk mendidik murid berpikir nasional dan menumbuhkan sikap perlawanan terhadap kekuasaan yang dianggap membatasi gerakannya. Ini berlainan dengan konsep pendidikan Belanda pada abad ke 19 yang hanya bertujuan untuk kepentingan penjajahannya sahaja. Memasuki abad yang ke 20 Minangkabau menghasilkan "ulama" yang memiliki keahlian ilmu agama dan cendikiawan Muslim iaitu orang islam yang mempunyai keahlian ilmu umum dengan kualiti dan kuantiti yang sesuai dengan waktunya. Kedua kelompok ini merupakan cikal bakal bagi intelektual Minangkabau, meskipun pemerintahan Belanda memisahkan intelektual minangkabau menjadi ulama dan intelektual umum .
F. Perkembangan Pendidikan Surau
Surau mendapat perkembangan baru dengan kembalinya tiga orang ulama Minangkabau dari Timur Tengah iaitu: Haji Miskin, Haji Piobang dan Haji Sumanik. Pengajian surau yang sebelumnya lebih banyak kepada tasawuf, mengarah kepada akidah dan syari'ah yang lebih banyak dipengaruhi oleh ajaran Hambali. Pada masa berikutnya surau berkembang pesat dimana pada akhir abad ke 19 terkenal nama beberapa surau di pelosok Minangkabau. Pengasuh yang selama ini disebut tuanku, pada waktu belakangan bernama "Syeikh" :
Awal abad 20 beberapa orang ulama minangkabau kembali dari Mekkah, setelah menamatkan pendidikan seperti Syeikh Ahmad Khatib yang juga putra Minang. Setelah menetap dikampung masing-masing, mereka mendirikan surau dengan paham barunya yang popular di antaranya adalah: Syeikh Muhammad Taib Umar di Sungayang. Syeikh Abdullah Ahmad di Padang. Syeikh Abdul Karim Amrullah di Maninjau kemudian di Padang Panjang. Syeikh Muhammad Jamil Jambek di Bukittinggi. Syeikh Sulaiman Ar Rasuli di Canduang Agam. Syeikh Ibrahim Musa di Parabek Agam. Syeikh Muhammad Jami Jao di Padang Panjang. Syeikh Abbas Abdullah di Padang Japang Payakumbuah. Syeikh Abdul Wahid di tabek Gadang
Kemudian terjadi pembaharuan pendidikan agama di Minangkabau. Ada dua bentuk pembaharuan yang berlaku dalam pendidikan agama, pertama memasuki materi pelajaran yang biasa disebut ilmu umum kedalam pendidikan agama, kedua merobah sistem pendidikan surau jadi madrasah atau sekolah yang mempunyai kelas dan bertingkat. Di antara tokoh pembaharu itu muncul nama Dr H. Abdullah Ahmad dengan "Adabiyah"nya dan El Yunusy bersaudara dengan "Diniyah"nya.
Pembaharuan menjadi madrasah ini disatu pihak mempercepat pencapaian suatu tingkat ilmu pengetahuan dan memperjelas batasan batasannya. Dari segi lain memasukkan pelajaran umum kedalam kurikulum pendidikan agama berarti mengurangi volume pelajaran agama. Meskipun terjadi pengurangan, tetapi kerana masa itu madrasah masih berada dalam wilayah dan lingkungan surau, kekurangan pelajaran agama masih dapat disempurnakan di luar kelas, sehingga secara global materi pelajaran agama tidak berkurang dari masa lalu.
Suatu kemajuan pada masa pembaharuan ini adalah munculnya media publikasi di madrasah-madrasah dalam bentuk majalah yang mempublikasikan karya ilmiah dan pendapat yang dimunculkan oleh ulama yang ada pada waktu itu. Di antara majalah yang popular adalah; Al-Munir di Padang Panjang, Al-Basyir di Sungayang, Al-Bayan di Parabek, Al-Iman di Padang Panjang, Al-Ittiqan di Maninjau, Nurul Yaqin di Batusangkar, dan Al-Mizan diterbitkan Tarbiyah Islamiyah. Majalah-majalah tersebut kelihatannya dijiwai oleh majalah Al-Manar yang popular di Mesir pada ketika itu. Dengan adanya publikasi, tokoh ulama yang ada di madrasah yang menerbitkan majalah dan dimadrasah sekitarnya diketahui oleh orang banyak dan tersebar di Minangkabau, yang menyebabkan berdatangannya murid-murid dari luar daerah untuk belajar di madrasah-madrasah yang ada di wilayah Minangkabau.
Pada waktu bersamaan ketokohan ulama semakin menonjol dengan tampilnya ulama sebagai tokoh politik yang membimbing umat Islam dalam menghadapi penjajahan Belanda. Umat pada masa itu tidak dapat menggantungkan harapannya kepada pemimpin formal, kerana jabatan pemimpin formal diduduki oleh orang Belanda dan Melayu yang berjiwa Belanda. Tumpuan umat terarah kepada ulama sebagai pemimpin non formal yang membimbing kehidupan keagamaannya dan kehidupan dunianya. Suatu keuntungan masuknya pelajaran umum ke madrasah adalah semakin mengecilnya arti perbezaan antara ulama atau cendikiawan agama dengan cendikiawan umum, bahkan dalam diri seorang dapat bertemu dua bidang yang kelihatannya berbeza itu, umpamanya pada diri Haji Agus Salim dan M. Natsir.
Sesudah perang dunia II perubahan nilai dalam kehidupan adat semakin terasa. Diantaranya anak muda tidak terbiasa lagi tidur di surau. Fungsi surau sebagai lembaga agama semakin berkurang. Surau hanya tempat ibadah. Pendidikan agama secara formal hanya ada dimadrasah. Dengan madrasah fungsinya sudah keluar dari lingkungan surau. Kalau dahulu surau dapat disamakan dengan pesantren yang terdapat di Jawa dengan beberapa perbedaannya, maka sesudah perang dunia kedua tidak ada lagi yang menjalankan fungsi pesantren di Minangkabau. Dengan keluarnya madrasah dari lingkungan surau bererti waktu belajar agama semakin sedikit dan waktu kesempatan tatap muka murid dan guru serta pembimbing agamanya semakin berkurangan.
G. Tokoh-Tokoh Pendidikan Surau di Minangkabau
Sebelum tahun 1900 ramai ulama Islam Sumatera Barat terkenal sebagai hasil pendidikan surau, pengetahuan mereka tentang Islam tidak kalah dengan pengetahuan ulama Islam abad ke-20. Di antara Tokoh-tokoh ulama Islam Sumatera Barat, yang terkenal sebagai hasil pendidikan surau dan nama-nama surau yang dibangsakan kepada pemilik dan nama tempatnya adalah :
Syeikh Muhammad Jamil (1842-1928), Syeikh Sa'ad Mungka (1857-1923), Syeikh Muhammad Dalil (1864-1923), Syeikh Thaher Jalaluddin (1869-1956), Syeikh Abdul Wahid (1878-1950), Syeikh Abdul Latif Syakur (1882-1963), Inyiak Adam BB (1889-1953), Prof. Mahmud Yunus (1899-1982), KH. Sirajuddin Abbas (1903-1980), Buya Datuk Palimo Kayo (1905-1985), Qasim Bakri (1907-1964), Prof. Dr. Mukhtar Yahya (1907-1986), Buya Mansur Dt. Nagari Basa (1908-1997), Prof. Ilyas Muhammad Ali (1908), Buya Umar Bakri (1912), Syeikh Muh.
Thaib Umar (1874-1920), Sungayang, Syeikh H. Abdullah Ahmad (1878-1933), Padang, (pendiri Pendidikan Adabiah School di Padang tahun 1909), Syeikh H. Abdul Karim Amarullah (1879-1945), Maninjau, (salah seorang Pimpinan surau Jembatan Besi yang banyak jasanya dalam pembaharuan pendidikan Islam. Surau itu sampai sekarang masih berdiri dengan Ruang Pendidikan Thawalib Padang Panjang). Syeikh M. Jamil Jambek (1860-1947), Bukittinggi, dengan Surau Tengah Sawah Bukit Tinggi yang sampai sekarang masih ada dengan nama Mesjid Tengah Sawah.
Syeikh H. Sulaiman Ar-Rasuli, Bukittinggi dengan Surau Candung Baso Bukittinggi, sekarang bernama Tarbiah Islamiah. Syeikh H. lbrahim Musa, Parabek, Bukittinggi yang terkenal dengan Surau Parabek yang sampai sekarang masih ada. Syeikh H. M. Jamil Jaho, Padang Panjang dengan Surau Jaho di Padang Panjang, yang sekarang bernama Tarbiah Islamiah. Syeikh H. Abbas Abdullah, Padang Japang, Payakumbuh dengan Surau Padang Japang yang sampai sekarang masih ada dengan nama Darul Funun Abbasiah. Syeikh H. Abdul Wahid, Tabek Gadang, Padang Japang, Payakumbuh dengan Surau Tabek Gadang yang sekarang bernama Tarbiah Islamiah.
Syeikh M. Saad, Mungkar, Payakumbuh dengan Surau Mungkar. Syeikh H. Mustafa Abdullah, saudara Syeikh H. Abdullah Padang Japang. Syeikh Daud Rasyidi (1880-1948) Syeikh Abdullah Khatib, Ladang Lawas, Bukittinggi, Syeikh M. Jamil Tungkar, Batusangkar, Syeikh Tuanku Kolok, Sungayang, Batusangkar, Syeikh Abdul Manaf Padang Ganting, Batusangkar, Syeikh M. Saleh, Padang Kandis, Suliki, Payakumbuh, Syeikh Abdullah, Padang Japang, Payakumbuh, Syeikh Ahmad, Alang Lawas, Padang. Syeikh Amarullah, Maninjau, Bukittinggi. Surau Syeikh Abdulah Khatib Ladang laweh, Surau Syeikh Muhammad Jamil Tungkar, Surau Syeikh Tuanku Kolok M.Ali di Sungayang, Surau Syeikh Abdul Manan Padang Gantiang.
Surau Syeikh Muhammad Soleh Padang Kandis, Surau Syeikh Abdulah Padang Japang, Surau Syeikh Ahmad alang Laweh, Surau Syeikh Amarullah Maninjau, Surau Tuanku Mansiangan nan Tuo di Paninjauan, Surau Tuanku Rao. Surau Tuanku Kecil di Koto Gadang, Surau Tuanku di Talang, Surau Tuanku di Sumanik, Surau Tuanku di Koto Baru, Surau Tuanku Nan Tuo di Ampek Angkek, Surau Tuanku di Kamang, Surau Tuanku Pakih Sagir. Tiga orang tokoh ulama yang menyiarkan agama di Sulawesi Selatan dan popular dikalangan umat Islam Sulawesi Selatan sampai waktu ini adalah ulama yang dihasilkan oleh pendidikan surau di Minangkabau. Akhir abad ke 18 surau iaitu: Datuak Ribandang, Datuak Patimang dan Datuak Ritiro
Disamping menghasilkan ulama besar, pendidikan Islam pada masa itu juga menghasilkan pemimpin masyarakat yang dihormati dan dipatuhi. Untuk mendapat predikat ulama Islam terkenal memerlukan waktu lama, kerana harus dipraktekkan dalam masyarakat terlebih dahulu. Penilaian yang diberikan masyarakat itu sukar didapat dengan segera. Sebagai guru mereka tidak saja mendidik orang lain, tetapi juga anak mereka, yang biasanya juga menjadi ulama besar di kemudian hari. Syeikh Ahmad, Alang Lawas, Padang mendidik anaknya Syeikh Abdullah Ahmad yang kemudian terkenal sebagai salah seorang tokoh pembaharu pendidikan Islam Sumatera Barat dengan Sekolah Adabiah (Adabiah School). Syeikh Abdul Karim Amarullah dididik langsung oleh ayahnya Syeikh Amarullah, Maninjau. Hampir seluruh Syeikh mendidik sendiri anak mereka dan semuanya berhasil dengan baik.

ltulah beberapa orang Syeikh yang dihormati dan dipatuhi serta diikuti rakyat Sumatera Barat ajaran-ajarannya. Surau mereka banyak didatangi oleh orang yang ingin memperdalam ilmu tentang Islam yang datang dari seluruh pelosok Sumatera Barat. Beberapa orang Syeikh terkenal sebagai pejuang kemerdekaan Indonesia di Sumatera Barat seperti Syeikh H. Sulaiman Ar-Rasuli, dan Syeikh H. M. Jamil Jambek. Pendidikan Islam pada masa ini selain melahirkan guru-guru besar di bidang agama Islam dan pemimpin masyarakat Sumatera Barat, juga melahirkan tokoh pejuang kemerdekaan yang gigih berjuang . Diantara yang ikut mengaji di Silungkang adalah Dr. Amir, Prof. Mr. M. Yamin dan Jamaludin Adinegoro. Beliau-beliau ini mengaji dan tinggal di surau Jambak dibawah asuhan H.M. Rasad. Paginya beliau-beliau ini sekolah HIS di Solok.

H. Biografi Ringkas Beberapa Tokoh Ulama Minangkabau
1. Syeikh Ahmad Khatib al-Minankabawi (1860-1916M)
Syeikh Ahmad Khatib bin Abdul Latif bin Abdullah al-Minankabawi dilahirkan dari keluarga yang berlatar belakang agama dan adat yang kuat pada 26 Juni 1860 M/6 Dzulhijjah 1276 H di Bukittinggi, Sumatera Barat. Ayahnya adalah seorang hakim dari kaum Paderi yang sangat menentang keberadaan kolonialisme di Minangkabau, Sumatera Barat. Masa kecil Ahmad Khatib dihabiskan untuk belajar dan menuntut ilmu. Pada tahun 1870, ia masuk sekolah pemerintah Belanda di Minangka¬bau, Sumatera Barat. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya ke sekolah guru (kweekschool) di Bukittinggi.

Sebagaimana anak-anak dari kaum Paderi lainnya, selain belajar di sekolah formal, ia juga belajar ilmu agama kepada orang tua dan guru ngajinya di Surau. Pada tahun 1881, Ahmad Khatib pergi ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji dan memperdalam ilmu agama. Di kota ini, ia belajar kepada ulama Mekah, seperti Sayyid Bakri Syatha, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, dan Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki. Atas penguasan dan pengetahuannya tentang madzhab imam Syafi‘i, Syeikh Ahmad Khatib telah diangkat sebagai “Imam Khatib dan Mufti Besar Madzhab Syafi‘i” di Masjid al-Haram, Mekah, sehingga ia berhak mengajarkan madzhab Syafi‘i dan menyandang gelar ‘Syeikh‘. Menurut riwayat, ia adalah satu-satunya ulama Indonesia yang mencapai penghargaan setinggi itu. Karya Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau yang telah ditemui ada17 judul. Ada yang ditulis dengan bahasa Arab dan ada juga dengan bahasa Melayu.
2. Syeikh Tahir Jalaluddin (Ahli Falak) (1869-1956M)
Nama lengkapnya ialah Syeikh Muhammad Tahir bin Muhammad bin Jalaluddin Ahmad bin Abdullah al- Minankabawi al-Azhari. lahir di Cangking, Minangkabau pukul 4.45 pada hari Selasa, 4 Ramadan 1286 Hijrah/8 Disember 1869 Masihi. Meninggal dunia di Kuala Kangsar, Perak, sesudah sembahyang Subuh pada hari Jumaat, 22 Rabiulawal 1376 Hijrah/26 Oktober 1956 Masihi. Pada tahun 1296 Hijrah/1879 Masihi, dalam usia 10 tahun beliau ke Mekah bersama Syeikh Ahmad Khatib bin Abdul Lathif. Sampai di Mekah beliau dipelihara oleh Syeikh Muhammad Saleh al-Kurdi. Beliau mengaji al-Quran kepada Syeikh Abdul Haq di Madrasah Asy-Syaikh Rahmatullah serta belajar kitab kepada Syeikh Umar Syatha, Syeikh Muhammad al-Khaiyath dan Syeikh Ahmad Khatib al-Minankabawi. Syeikh Ahmad al-Fathani juga termasuk salah seorang guru kepada Syeikh Tahir Jalaluddin. Menurut Muhammad Shagir terdapat 9 karya tulis beliau
3. Syeikh Sulaiman ar-Rasul (1871-1970)
Syeikh Sulaiman ar-Rasuli al-Minangkabawi, lahir di Candung, sekitar 10 km. sebelah timur Bukittinggi, Sumatra Barat, 1287 H./1871 M., wafat pada 29 Jumadil Awal 1390 H./1 Agustus 1970 M. Ia adalah seorang tokoh ulama dari golongan Kaum Tua yang gigih mempertahankan madzhab Syafi’i. Tak jarang pula, Beliau dipanggil dengan sebutan “Inyik Candung.” Ayahnya, Angku Mudo Muhammad Rasul, adalah seorang ulama yang disegani di kampung halamannya. Sebelum meneruskan studinya ke Mekah, Sulaiman ar-Rasuli pernah belajar kepada Syeikh Yahya al-Khalidi Magak, Bukittinggi, Sumatera Barat.
Pada masa itu Masyarakat Minang masih menggunakan sistem pengajian surau dalam bentuk halaqah sebagai sarana penyaluran pengetahuan keagamaan. Pendidikan terakhir Syeikh Sulaiman ar-Rasuli al-Minangkabawi adalah di Mekkah. Ulama Malaysia yang seangkatan dan sama-sama belajar di Mekkah dengannya antara lain adalah Syeikh Utsman Sarawak (1281 H/1864 M - 1339 H/1921 M), Tok Kenali (1287 H/1871 M - 1352 H/1933 M) dll. Dalam hal ini, Syeikh Sulaiman ar-Rasuli adalah ulama besar yang jarang tandingannya, kukuh dan kuat mempertahankan agama berorientasikan Sunni Syafi`i. Syeikh Sulaiman pulalah yang hingga kini dipercayai oleh masyarakat Minang sebagai penggagas landasan kemasyarakatan islami di Sumatera Barat dalam falsafah ”adat bersendikan Syara’, Syara’ bersendikan kitabullah ”.
Terdapat 9 tajuk karangan beliau. Syeikh Sulaiman ar-Rasuli juga merupakan ulama yang gigih mempertahankan tatanan kemasyarakatan Minangkabau untuk tetap mempertahankan tradisi kesalehan Nusantara. Setidak-tidaknya hal ini terlihat dari bagaimana Beliau memperjuangkan prinsip ”Bulat air karena pembuluh, bulat kata karena musyawarah ” serta ”Tungku tigo sajarangan ” yang telah diyakini masyarakat Minang sebagai cara kebijakan paling berurat berakar dalam tradisi Nusantara serta sama sekali tidak bertentangan dengan nilai-nilai Syariat Islam.
4. Syeikh Muhammad Jamil Jambek (1860-1947M)
Syeikh Muhammad Jambek, dilahirkan dari keluarga bangsawan. Dia juga merupakan keturunan penghulu. Ayahnya bernama Saleh Datuk Maleka, seorang kepala nagari Kurai, sedangkan ibunya berasal dari Sunda. Masa kecilnya tidak banyak diketahui. Namun, yang jelas Syeikh Muhammad Jambek mendapatkan pendidikan dasarnya di Sekolah Rendah yang khusus mempersiapkan pelajar untuk masuk ke sekolah guru. Kemudian, dia dibawa ke Mekkah oleh ayahnya pada usia 22 tahun, untuk menimba ilmu. Ketika itu dia berguru kepada Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau . Pada tahun 1903, dia kembali ke tanah air. Ia pun memilih mengamalkan ilmunya secara langsung kepada masyarakat; mengajarkan ilmu tentang ketauhidan dan mengaji.
Di antara murid-muridnya terdapat beberapa guru tarekat. Lantaran itulah Syeikh Muhammad Jambek dihormati sebagai Syeikh Tarekat. Setelah beberapa lama, Syeikh Muhammad Jambek berpikir melakukan kegiatan alternatif. Hatinya memang lebih condong untuk memberikan pengetahuannya, walaupun tidak melalui lembaga atau organisasi. Dia begitu tertarik pada usaha meningkatkan keimanan seseorang. Hingga kemudian dia mendirikan dua buah surau, yakni Surau Tengah Sawah dan Surau Kamang. Keduanya dikenal sebagai Surau Inyik Jambek .
5. Syeikh Muhammad Saleh al-Minangkabawi(1845-1933M)
Syeikh Muhammad Saleh dilahirkan di Kampung Tungkar, Luak Tanah Datar, Minangkabau, Sumatera Barat. Muridnya bernama Muhammad Saleh Mandahiling, penulis buku biografinya yang menyebut bahawa Syeikh Muhammad Saleh lahir kira-kira pada tahun 1266 Hijrah. Syeikh Muhammad Saleh berangkat ke Mekah sejak berumur 6 tahun dan mendapat pendidikan daripada orang tuanya, Syeikh Muhammad Thaiyib @ Syeikh Abdullah, seorang Syeikh haji di Mekah. Beliau sempat belajar kepada ulama-ulama besar Mekah yang terkenal, iaitu Saiyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syeikh Abu Bakar Syatha, Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki, Syeikh Abdul Hamid asy-Syarwani, Saiyid Umar Ba Junaid, Saiyid Muhammad Said Babshail dan Saiyid Abdullah Zawawi. Ahmad Shagir menulis terdapat 4 karya tulis beliau

6. Syeikh Muhammad Amrullah (1840-1909M)
Nama lengkap ialah Syeikh Muhammad Amrullah Tuanku Abdullah Saleh. Beliau inilah yang melahirkan dua orang tokoh besar di dunia Melayu. Yang seorang ialah anak beliau sendiri, Dr. Syeikh Haji Abdul Karim Amrullah. Dan yang seorang lagi ialah cucu beliau, Prof Dr Syeikh Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) Mendapat pendidikan awal daripada datuk atau nenek sendiri secara tradisi di Minangkabau, Buya Hamka menulis, ‘’Setelah cucunya itu berusia 14 tahun, setelah khatam mengaji al-Quran dengan ayahnya, Tuanku Syeikh Pariaman memesankan supaya cucunya itu dihantarkan ke Koto Tuo, kerana beliau sendiri yang hendak mengajarnya ilmu-ilmu agama. Bersama saudara sepupunya Tuanku Sutan, Muhammad Amrullah belajar Nahwu, Sharaf, Manthiq, Ma'ani, Tafsir dan Fiqh kepada neneknya.
7. Muhammad Rasul (1879-1945M)
Muhammad Rasul. Namanya nama yang terkenal ialah Dr. Syeikh Abdul Karim bin Amrullah. Beliau lahir pada hari Ahad, 17 Safar 1296 H/10 Februari 1879 M di Kepala Kebun, Betung Panjang, Negeri Sungai Batang, Manjinjau , Dalam Luhak Agam, Minangkabau, Sumatera Barat. Sejak berumur tujuh tahun, ayah dan ibunya telah memerintahkan beliau mendirikan sembahyang dan puasa pada bulan Ramadan. Selanjutnya pada usia 10 tahun, ayah saudaranya, Haji Abdus Samad membawanya ke Sibalantai, Tarusan, Painan belajar al-Quran daripada Tuanku Haji Hud dan Tuanku Pakih Samnun.

Pada usia 13 tahun beliau mulai belajar ilmu nahu dan saraf daripada ayahnya, Syeikh Amrullah. Ayahnya menghantarnya belajar ke Sungai Rotan, Pariaman, menuntut ilmu daripada Tuanku Sutan Muhammad Yusuf. Kemudian Syeikh Amrullah sendiri membawa anaknya Muhammad Rasul itu ke Mekah untuk mendalami pengetahuannya dengan ulama-ulama Mekah pada zaman itu. Ketika belajar di sana, usia Muhammad Rasul sekitar lingkungan 16 ke 17 tahun iaitu pada tahun 1312 H/1894 Masihi. Buya Hamka membahagikan karangan ayahnya kepada beberapa jenis. Yang ditulis pada peringkat awal mulai tahun 1908 M hingga tahun 1923 M, jumlahnya ada 15 judul. Yang dikarang setelah beliau mengikut Kongres Islam di Mesir ditulis mulai tahun 1928 M hingga tahun 1943 M, ada 11 judul.
8. Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah (Hamka) (1908-1981)
Buya Hamka seorang adalah ulama, politisi dan sastrawan besar yang tersohor dan dihormati di kawasan Asia. namanya Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah . Lahir di kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 dan meninggal di Jakarta 24 Juli 1981. Hamka mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Maninjau sehingga Darjah Dua. Ketika usianya mencapai 10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ beliau mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab.
Hamka juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang di ajar oleh ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjoparonto dan Ki Bagus Hadikusumo. Hamka pernah menerima beberapa anugerah pada peringkat nasional dan antarabangsa seperti anugerah kehormatan Doctor Honoris Causa, Universitas al-Azhar, 1958; Doktor Honoris Causa, Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974; dan gelaran Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno daripada pemerintah Indonesia. Selama hidupnya Hamka telah menghasilkan sekitar 300 karya
9. Haji Agus Salim (1884-1954)
Haji Agus Salim lahir dengan nama Mashudul Haq yang bermakna "pembela kebenaran” di Koto Gadang , Bukittinggi, Minangkabau, 8 Oktober 1884, meninggal di Jakarta, 4 November 1954. Beliau adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia. Pendidikan dasar ditempuh di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah khusus anak-anak Eropa, kemudian dilanjutkan ke Hoogere Burgerschool (HBS) di Batavia. Ketika lulus, ia berhasil menjadi lulusan terbaik di HBS seHindia Belanda. Pada tahun 1906, Salim berangkat ke Jeddah, Arab Saudi untuk bekerja di Konsulat Belanda di sana.
Pada periode inilah Salim berguru pada Syeh Ahmad Khatib, yang masih merupakan pamannya. Karier Agus Salim antara lain: Menteri Muda Luar Negeri Kabinet Sjahrir II 1946 dan Kabinet III 1947, pembukaan hubungan diplomatik Indonesia dengan negara-negara Arab, terutama Mesir pada tahun 1947, Menteri Luar Negeri Kabinet Amir Sjarifuddin 1947, Menteri Luar Negeri Kabinet Hatta 1948-1949. Di antara tahun 1946-1950 ia laksana bintang cemerlang dalam pergolakan politik Indonesia, sehingga kerap kali digelari "Orang Tua Besar" (The Grand Old Man). Ia pun pernah menjabat Menteri Luar Negeri RI pada kabinet Presidentil dan di tahun 1950 sampai akhir hayatnya dipercaya sebagai Penasehat Menteri Luar Negeri.
10. Dr Mohammad Natsir (1908-1993M)
Mohammad Natsir lahir di kota Alahan Panjang, Minangkabau, Sumatera Barat, 17 Juli 1908, wafat di Jakarta, 6 Februari 1993) adalah pemimpin Masyumi dan salah seorang tokoh politik dan tokoh Islam di Indonesia. Ayahnya adalah seorang pegawai pemerintahan di sana, dan kakeknya seorang ulama. Ketika kecil, Natsir belajar di HIS Solok serta di sekolah agama Islam yang dipimpin oleh para pengikut Haji Rasul. Tahun 1923-1927 Natsir mendapat beasiswa untuk sekolah di MULO, dan kemudian melanjutkan ke AMS Bandung hingga tamat pada tahun 1930. Dari 5 September 1950 hingga 26 April 1951 Natsir adalah Perdana Menteri Indonesia.
Banyak jabatan yang diamanahkan kepadanya. Diantaranya: 1. Ketua Jong Islamieten Bond, Bandung. 2. Mendirikan dan mengetuai Yayasan Pendidikan Islam di Bandung. 3. Direktur Pendidikan Islam, Bandung. 4. Menerbitkan majalah Pembela Islam, dalam melawan propaganda misionaris Kristen, antek-antek penjajah dan kaki tangan asing. 5. Anggota Dewan Kabupaten Bandung. 6. Kepala Biro Pendidikan Kota Madya (Bandung Shiyakusho). 7. Memimpin Majelis Al Islam A’la Indunisiya (MIAI). 8. Menjadi pimpinan Direktorat Pendidikan, di Jakarta. 9. Sekretaris Sekolah Tinggi Islam (STI) Jakarta. 10. Anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) 11. Anggota MPRS. 12. Pendiri dan pemimpin partai MASYUMI (Majlis Syuro Muslimin Indonesia).
13. Menteri Penerangan Republik Indonesia. 14. Perdana Menteri pertama Republik Indonesia. 15. Anggota Parlemen. 16. Anggota Konstituante. 17. Mendirikan dan memimpin Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII ) 18. Wakil Ketua Muktamar Islam Internasional, di Pakistan. 19. Aktif menemui tokoh, pemimpin dan dai di negara-negara Arab dan Islam untuk membangkitkan semangat membela Palestina. 20. Anggota Dewan Pendiri Rabithah Alam Islami (World Moslem League) 21. Anggota Majelis Ala Al-Alamy lil Masajid (Dewan Masjid Sedunia). 22. Presiden The Oxford Centre for Islamic Studies London. 23. Pendiri UII (Universitas Islam Indonesia) bersama Moh. Hatta, Kahar Mudzakkir, Wahid Hasyim,. Juga enam perguruan tinggi Islam besar lainnya di Indonesia.
24. Ketika presiden Soeharto kesulitan menuntaskan konforontasi Indonesia-Malaysia, Natsir tampil sebagai diplomat 25. Berkat jasa hubungan baik Natsir dengan PM Fukuda juga, pemerintah Jepang bersedia membantu Indonesia setelah perekonomian negara jatuh di masa Orde Lama dan setelah pemberontakan G 30 S/PKI. 28. Karena jasa baik dan pengaruh ketokohan DR. Muuhammad Natsir pula, Presiden Soeharto diterima di negara-negara Timur Tengah dan Dunia Islam, dan sebagainya.
Abdullah Al-’Aqil dalam bukunya, Min A’lami Al-Harakah wa Ad-Da’wah Al-Islamiyah Al-Mu’ashirah, menulis biografi singkat DR. Muhammad Natsir (satu-satunya dari Indonesia), beserta 70 tokoh dunia Islam lainny dari berbagai negara. Diantara tokoh-tokoh itu ada Syaikh Umar Tilmisani, Syaikh Muhammad Al-Ghazali, Abul A’la Al-maududi, Said Hawwa, Asy-Syahid Sayyid Quthb dan Abdullah Azam. Atas segala jasa dan kegiatannya pada tahun 1957 Natsir memperoleh bintang kehormatan dari Republik Tunisia untuk perjuangannya membantu kemerdekaaan Negara-negara Islam di Afrika Utara.Tahun 1967 dia mendapat gelar Doktor HC dari Universitas Islam Libanon dalam bidang politik Islam, menerima Faisal Award dari kerajaan Saudi Arabia pada tahun 1980 untuk pengabdiannya pada Islam dan Dr HC dari Universitas Sains dan Teknologi Malaysia pada tahun 1991 dalam bidang pemikiran Islam.
11. Prof. Dr Mahmud Yunus (1899-1982M)
Mahmud Yunus lahir di desa Sungayang, Batusangkar, Sumatera Barat, hari Sabtu 10 Pebruari 1899. Keluarganya adalah tokoh agama yang cukup terkemuka. Ayahnya bernama Yunus bin Incek menjadi pengajar surau yang dikelolanya sendiri. Ibundanya bernama Hafsah binti Imam Samiun merupakan anak Engku Gadang M Tahir bin Ali, pendiri serta pengasuh surau di wilayah itu. Sejak kecil, Mahmud Yunus dididik dalam lingkungan agama. Dia tidak pernah masuk ke sekolah umum. Ketika menginjak usia tujuh tahun (1906), Mahmud mulai belajar Alquran serta ibadah lainnya.
Gurunya adalah kakeknya sendiri. Mahmud sempat selama tiga tahun menimba ilmu di sekolah desa, tahun 1908. Namun saat duduk di kelas empat, dia merasa tidak betah lantaran seringnya pelajaran kelas sebelumnya diulangi. Dia pun memutuskan pindah ke madrasah yang berada di Surau Tanjung Pauh bernama Madrasah School, asuhan HM Thaib Umar, seorang tokoh pembaru Islam di Minangkabau. Beliau Memperoleh gelar doctor honoris causa di bidang ilmu tarbiyah dari IAIN Jakarta atas karya-karyanya dan jasanya dalam pengembangan pendidikan Islam di Indonesia. Sepanjang hidupnya, Mahmud menulis tak kurang dari 43 buku, termasuk tafsir Mahmud Yunus. Pada tahun 1982, Mahmud Yunus meninggal dunia.

I. Fungsi dan Aktiviti Surau Di Rao
Surau, masjid, munesah dan mushola adalah sama dari segi esensinya di Rao. Namun masjid identik dengan tempat sholat Jumaat. Nama munesah adalah pengaruh dari Aceh sebagai tempat pertama penyebaran Islam di Nusantara. Konsep pendidikan surau saat ini telah diambil alih dengan adanya madrasah ibtida`iyyah atau sekolah agama petang, namun peranan surau di Rao juga tidak kurang pentingnya saat ini, antaranya;
a. Tempat Suluk
Di Rao saat ini terdapat beberapa surau tempat suluk seperti di mudik tampang, Tobek Ateh dan sebagainya. Suluk juga disebut dengan tarekat atau pengajian tasawuf. Akan tetapi ilmuan Islam mendapati perbezaan yang asazi antara ke tiga istilah tersebut. Biasanya suluk dilakukan selama 40 hari dengan melakukan berbagai-bagai zikir dan amalan dalam surau tempat suluk. Peserta suluk biasanya diikuti oleh orang-orang tua yang berumur 40 tahun ke atas dan jarang sekali diikuti oleh anak-anak muda.

b. Tempat Kegiatan Keagamaan
Disurau biasanya dilakukan perayaan hari besar Islam seperti sholat dua hari raya, acara maulid Nabi, Isra` Mikraj dan Musabaqah Tilawatil Qur`an. Semua aktiviti tersebut telah menjadi budaya yang dilakukan secara terus menerus. Nilai murni yang terdapat dalam kegiatan hari besar keagamaan adalah kebersamaan dan pendidikan untuk berani tampil di khlayak ramai. Kaum perempuan akan memasak kue untuk dibawa ke masjid dan dimakan secara bersama-sama. Bayaran untuk ustaz yang dijemput dari jauh dikumpul dari yuran masyarakat, anak-anak akan tampil berlatih mengaji, pidato dan sebagainya. Surau juga biasanya digunakan sebagai tempat mesyuarat orang-orang kampong.

c. Tempat Mengaji anak-anak
Anak-anak Rao diwajibkan mengaji oleh orang tuanya di surau waktu petang hingga isyak. Mereka akan melakukan sholat magrib dan sholat isyak secara berjamaah bersama ustaz sebelum balik kerumah. Pelajaran yang utama diajarkan adalah membaca al-Qur`an dan fardu `ain seperti cara berwudhu`, sholat lima waktu, puasa, zakat dan sebagainya.

Yuran mengaji hanya dengan membawa sebotol susu beras setiap minggu dan membayar dua kaleng padi setiap tahunnya. Semuanya diserahkan kepada ustaz sebagai gaji. Anak-anak yang nakal suka bising waktu mengaji, suka mengganggu anak perempuan, tak dapat hapalan ayat pendek yang ditugaskan, tak tahu bacaan sholat dan sebagainya biasanya kena hukuman. Hukuman bagi anak yang diberikan ustaz terhadap nakal seperti kena tarik telinga, kena rotan, disuruh berdiri sebelah kaki, kena pukul dan sebagainya. Anak nakal tidak akan berani mengadu kepada orang tuanya kalau di surau dihukum oleh ustaznya. Kalau mengadu orang tua akan menambah kembali hukuman di rumah seperti yang dilakukan oleh ustaz terhadapnya di surau.

Pada bulan puasa Ramadhan masa anak-anak akan dihabiskan di surau. Mereka akan tidur, bermain, bercerita dan melakukan aktiviti lainya di surau. Aktiviti ini mengandungi nilai murni seperti persahabatan, kebersamaan dan kesetiakawanan. Dipekarangan surau juga biasa diajarkan silat beladiri. Seperti orang minang, orang Rao juga suka merantau. Lebih 2/3 orang Rao berada di luar saat ini. Silat adalah penting untuk mempertahankan diri disaat diganggu waktu merantau nantinya.

1. Mengaji Bahasa Rao

Identiti masyarakat Rao yang masih dipertahankan hingga saat ini di SM adalah mengaji bahasa Rao. Namun itu tidak semuanya mennggunakan metode ini. Hanya generasi yang tua sahaja masih menggunakan metode mengaji lama ini. Pun demikian di pelbagai daerah Minangkabau, Tapanuli (Mandahiling) dan Batak Indonesia, hingga saat ini masih ada yang mengaji menggunakan bahasa Rao ini. Sewaktu penulis sekolah rendah dahulu juga menggunakan metode ini juga. Baru-baru ini sahaja mengaji dengan menggunakan bahasa Rao sudah mulai dikalahkan dengan metode Iqra` karya As`ad Humam. Yang jelas dalam berbagai sejarah dinyatakan, beberapa daerah Mandailing dan Batak di Islamkan oleh Tuanku Rao cs. Cara orang mandailing menyuruh beruk memanjat dan memilih kelapa tua pun masih menggunakan bahasa Rao hingga saat ini. Berikut adalah tatacara mengaji menggunakan bahasa Rao;

Tulis Arab Bahasa Rao
اُ اِ اَ Alif dateh a, alif bawah i. alif dopen u →a-i-u
بَ بِ بُ Ba dateh ba, ba bawah bi, ba dopen bu →ba-bi-bu
تَ تِ تُ Ta dateh ta, ta bawah ti, ta dopen tu, →ta-ti-tu
ثَ ثِ ثُ Tsa dateh tsa, tsa bawah tsi, tsa dopen tsu →tsa-tsi-tsu
جَ جِ جُ Jim dateh ja- jim bawah ji- jim dopen ju→ ja-ji-ju
حَ حِ حُ Ha dateh ha, ha bawah hi, ha dopen hu →ha-hi-hu
خَ خِ خُ Kho dateh kho, kho bawah khi, kho dopen khu →kho-khi-khu
دَ دِ دُ Dal dateh da, dal bawah di, dal dopen du →da-di-du
ذَ ذِ ذُ Dzal dateh dza, dzal bawah dzi, dzal dopen dzu →dza-dzi-dzu
رَ رِ رُ Ro dateh ro, ro bawah ri, ro dopen ru →ra-ri-ru
زَ زِ زُ Zai dateh za, zai bawah zi, zai dopen zu→ za-zi-zu
سَ سِ سُ Syin dateh sa, sin bawah si, sin dopen su →sa-si-su
شَ شِ شُ Shin dateh sha, shin bawah shi, shin dopen shu→sha-shi-shu
صَ صِ صُ Shad dateh sho, shad bawah shi, shad dopen shu→sha-shi-shu
ضَ ضِ ضُ Dhad dateh dho, dhat bawah dhi, dhat dopen dhu →dho-dhi-dhu
طَ طِ طُ Tho dateh tho, tho bawah thi, tho dopen thu→Tha-thi-thu
ظَ ظِ ظُ Zho dateh zho, zho bawah zhi, zho dopen zhu→zha-zhi-zhu
عَ عِ عُ `ain dateh `a, `ain bawah `i `ain dopen `u →`a-`i-`u
غَ غِ غُ Ghin dateh gho, ghin bawah ghi, ghin dopen ghu→gha-ghi-ghu
فَ فِ فُ Fa dateh fa, fa bawah fi, fa dopen fu→fa-fi-fu
قَ قِ قُ Kho dateh kho, kho bawah khi, kho dopen khu→kho-khi-khu
كَ كِ كُ Kaf dateh ka, kaf bawah ki, kaf dopen ku →ka-ki-ku
لَ لِ لُ Lam dateh la, lam bawah li, lam dopen lu→la-li-lu
مَ مِ مُ Mim dateh ma, mim bawah mi, mim dopen mu→ma-mi-mu
نَ نِ نُ Nun dateh na, nun bawah ni, nun dopen nu→na-ni-nu
وَ وِ وُ Waw dateh wa, wau bawah wi, waw dopen wu →wa-wi-wu
هَ هِ هُ Ha dateh ha, ha bawah hi, ha dopen hu →ha-hi-hu
ءَ ءِ ءُ Hamzah dateh a, hamzah bawah i, hamzah dopen u→ a-i-u
يَ يِ يُ Ya dateh ya, ya bawah yi, ya dopen yu →ya-yi-yu-
Tulis Arab Bahasa Rao
اٌ اٍ اً Alif duo dateh an, alif duo bawah in. alif duo di dopen un →an-in-un
بً بٍ بٌ Ba duo dateh ban, ba duo bawah bin, ba duo dopen bun →ban-bin-bun
تً تٍ تٌ Ta duo dateh tan, ta duo bawah tin, ta duo dopen tun, →tan-tin-tun
ثً ثٍ ثٌ Tsa duo dateh tsan, tsa duo bawah tsin, tsa duo dopen tsun →tsan-tsin-tsun
جً جٍ جٌ Jim duo dateh jan- jim duo bawah jin- jin duo dopen jun→ jan-jin-jun
حً حٍ حٌ Ha duo dateh han, ha duo bawah hin, ha duo dopen hun →han-hin-hun
خً خٍ خٌ Kho duo dateh khan, kho duo bawah khin, kho duo dopen khun →khon-khin-khun
دً دٍ دٌ Dal duo dateh dan, dal duo bawah din, dal duo dopen dun →dan-din-dun
ذً ذٍ ذٌ Dzal duo dateh dzan, dzal duo bawah dzin, dzal duo dopen dzun →dzan-dzin-dzun
رً رٍ رٌ Ro duo dateh ran, ra duo bawah rin, ro duo dopen run →ran-rin-run
زً زٍ زٌ Zai duo dateh zan, zai duo dibawah zin, zai duo dopen zun→ zan-zin-zun
سً سٍ سٌ Syin duo dateh san, sin duo dibawah sin, sin duo dopen sun →san-sin-sun
شً شٍ شٌ Shin duo dateh shan, shin duo bawah shin, shin duo di dopen shun→shan-shin-shun
صً صٍ صٌ Shad duo dateh shan, shad duo bawah shin, shad duo di dopen shun→shan-shin-shun
ضً ضٍ ضٌ Dhod duo dateh dhan, dhat duo bawah dhin, dhat duo dopen dhun →dhan-dhin-dhun
طً طٍ طٌ Tho duo dateh thon, tha duo bawah thin, tho duo dopen thun→Than-thin-thun
ظً ظٍ ظٌ Zha duo dateh zhon, zha duo bawah zhin, zha duo dopen zhu→zhan-zhin-zhun
عً عٍ عٌ `ain duo dateh `an, `ain duo bawah `in `ain duo di dopen `un →`an-`in-`un
غً غٍ غٌ Ghin duo dateh ghan, ghin duo bawah ghin, ghin duo dopen ghun→ghan-ghin-ghun
فً فٍ فٌ Fa duo dateh fan, fa duo bawah fin, fa duo di dopen fun→fan-fin-fun
قً قٍ قٌ Khaf duo dateh khan, khaf duo bawah khin, khaf duo dopen khun→khon=khin-khun
كً كٍ كٌ Kaf duo dateh kan, kaf duo bawah kin, ka duo dopen kun →kan-kin-kun
لً لٍ لٌ Lam duo dateh lan, lam duo bawah lin, lam duo dopen lun→lan-lin-lun
مً مٍ مٌ Mim duo dateh man, mim duo bawah min, mim duo dopen mun→man-min-mun
نً نٍ نٌ Nun duo dateh nan, nun duo bawah nin, nun duo dopen nun→nan-nin-nun
وً وٍ وٌ Waw duo dateh wan, wau duo bawah win, waw duo dopen wun →wan-win-wun
هً هٍ هٌ Ha duo dateh han, ha duo bawah hin, ha duo dopen hun →han-hin-hun
ءً ءٍ ءٌ Hamzah duo dateh an, hamzah duo bawah in, hamzah duo dopen un→ an-in-un
يً يٍ يٌ Ya duo diateh yan, ya duo bawah yin, ya duo dopen yun →yan-yin-yun-


Di zaman modern ini anak-anak lelaki Rao tidak tidur disurau menurut konsep klasik lagi, tetapi dirumah orang tua mereka. Namun demikian ada dua budaya baru di masjid dan surau saat ini yang cukup menunjang perkembangan mental anak-anak iaitu;
1. Kuliah Subuh
Dalam kuliah subuh yang diadakan setiap ahad pagi selepas sholat subuh, para pelajar akan solat subuh berjamaah di surau dan selepas itu akan diadakan kuliah subuh yang secara bergilir dibawakan oleh anak-anak mengaji. Muatan pelajaran dalam kuliah subuh adalah; murid akan mengaji berirama, menyampaikan bacaan sholat wajib dan sholat jenazah. Rukun iman dan rukun Islam, menyanyi nasyid, pidato, berdo`a, asma`ul khusna, nama dan tugas malaikat, nama-nama Nabi dan Rasul dan sebagainya dan diakhiri oleh nasehat ringkas dari ustaz yang membimbingnya . Konsep kuliah subuh ini akan mendidik keberanian pelajar untuk tampil dihadapan khalayak ramai kelak.

2. Kuliah tujuh menit (Kultum)
Kuliah tujuh menit dibawakan oleh pelajar yang dewasa, ustaz atau penduduk kampong secara bergilir sesuai dengan bidang masing-masing akan memberikan kuliah setelah azan dan sebelum iqamat dalam sholat zuhur. Seorang diploma ekonomi umpamanya akan berpidato tidak melebihi tujuh menit menerangkan tentang prinsip pelaksanaan ekonomi yang baik dan seterusnya . Konsep ini akan mendidik masyarakat menjadi orang yang berani dan bertanggung jawab atas ide-ide yang dikemukakannya.
J. Analisa dan Kesimpulan
Dalam sistem pendidikan surau suatu ketika dahulu di Minangkabau, anak-anak yang telah berumur tujuh tahun, disuruh tidur di surau, dan merasa malu kalau masih sahaja tidur di rumah orang tuanya. Di surau anak-anak diperkenalkan dengan pelajaran dan didikan asas-asas agama Islam, pelajaran adat budaya minangkabau, tambo, silat, pidato-pidato adat, tata cara berumah tangga. Di surau anak-anak tidur bersama, mengaji bersama, shalat bersama, agar mereka dididik bagaimana tata cara bermasyarakat, dan bagaimana supaya pandai menyesuaikan diri dengan khalayak ramai.
Di surau anak-anak tinggal sekali dengan guru mereka, masa yang lapang itu digunakan untuk belajar silat, bercerita, berkomunikasi, dan bekerja, dengan tujuan agar anak-anak tidak penakut dan supaya mereka berjiwa besar. Di surau juga dapat dipelajari bagaimana cara berdagang, cara bertenun pakaian dan songket, cara-cara serta pengalaman merantau. Di surau-surau juga diadakan kursus-kursus politik disaat bumi Nusantara berada dalam jajahan Belanda.
Ramai tokoh-tokoh ulama silam yang berasal dari lembaga pendidikan surau. Nama-nama tokoh ulama besar seperti Hamka, Mohammad Natsir, Syaikh Ahmad Khatib, Haji Rasul, Djamil Djambek, Abdullah Ahmad, Inyiak Canduang, Mahmud Yunus, AR. Sutan Mansur, KH. Agus Salim, Tuanku Rao, Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Tambusai dan lainnya adalah keluaran institusi pendidikan surau suatu ketika dahulu. Kebanyakan dari mereka berjaya tidak melalui pendidikan formal, tetapi melalui otodidak (belajar sendiri) semua kejayaan itu tidak terlepas dari pengaruh didikan surau sebelum ini tentunya.
Fungsi masjid dizaman modern ini agak dipersempit kepada tempat mengerjakan ibadah mahdhah sahaja. Masjid dijauhi oleh generasi muda, kerana tiada daya tarik. Mereka disalahkan atas setiap penyimpangan yang berlaku. Generasi muda dihadapkan pada masalah klasik Khilafiyah yang mewarnai hampir setiap aspek kehidupan beribadah ummat. Sering kita terhalang untuk membaca al-Qur`an kerana belum berwudhu`, anak-anak dilarang daripada mendekati kitab suci, membaca tafsir, buku-buku agama, memasuki masjid kerana dikhawatirkan tidak suci dan sebagainya. Padahal semua itu adalah masalah khilafiyah yang dibesar-besarkan.
Peranan dan aktiviti surau dalam masyarakat melayu Rao saat ini masih mempertahankan idea dan konsep lama dengan beberapa perubahan. Hasil pengamatan dan wawancara penulis dengan masyarakat keturunan Rao di Malaysia mengatakan bahawa, amalan pendidikan surau ini juga diamalkan oleh generasi awal keturunan Rao di Malaysia. Akan tetapi disebabkan oleh perkembangan zaman, adat dan kebiasaan itu sudah mulai berubah dan ditinggalkan.

Bibliografi
Afriadi Sanusi (2008) Usaha Membendung Pengaruh Islam Liberal: Kajian Terhadap Strategi KH. Ahmad Dahlan Dalam Memurnikan Ajaran Islam. Bangi: kertas kerja dalam Seminar Peringkat Kebangsaan Persatuan Ulama Malaysia.

_____ (2008) Peranan Surau Dalam Menghasilkan Tokoh-Tokoh Ulama Melayu Silam Di Minangkabau. Kelantan: Kertas kerja dalam Seminar Kebangsaan Pengurusan Masjid, Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaya, Nilam Puri.

A. Kardiyat Wiharyanto (2005) Asia Tenggara Zaman Pranasionalisme. Jogjakarta: Universitas Sanata Dharma.

Adriyetti Amir et. Al (2006) Pemetaan Sastera Lisan Minangkabau. Padang: Andalas University Press

Anwar Harjono dkk. (2001) Pemikiran dan Perjuangan Mohammad Natsir. Jakarta: Pustaka Firdaus

Azyumardi Azra (2004) Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad XVII & XVIII. Jakarta: Kencana, h. 50

Buletin Silungkang, Nomor : 001/SM/JUNI/1998

Deliar Noer (1994) Gerakan Moderen Islam di Indonesia. Jakarta: LP3S. op.cit, h. 38-40

Hamka (1974) Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao: Bantahan Terhadap tulisan Ir Onggan Parlindungan dalam bukunya Tuanku Rao. Jakarta: Bulan Bintang

_____ (2007) Ayahku : riwayat hidup Dr. H. Abdul Karim Amrullah dan perjuangan kaum agama di Sumatera. Shah Alam, Selangor : Pustaka Dini

_____ (2007) Tasauf Modern. Jakarta: Pustaka Panjimas

Hasmah Haji Omar (2005) Sama Serumpun. Tanjung malim: UPSI

Hasyim Awang (1998) Rumpun Melayu Dispora dalam konteks hubungan Ras. Kuala Lumpur: Universiti Malaya

http://jaro.com.my/

http://sekondakhati.com.my/

http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/m/mahmudyunus/index.shtml

Kenangan-kenangan 70 tahun Buya Hamka. Jakarta : Yayasan Islam, (1979)

Khazin Mohd Tamrin dalam DInamika Adat dan Tradisi Merantau di Alam Melayu dalam adat Melayu serumpun. Kuala Lumpur: Universiti Malaya

Komaruddin Hidayat dan Ahmad Gaus(2006) Menjadi Indonesia: 13 Abad Eksistensi Islam di Bumi Nusantara. Jakarta: Mizan

Lukman Sinar Harian Waspada: Medan

M. Rajab (1976) Perang Paderi. Jakarta: Bulan Bintang

M. Solihin (2005) Melacak pemikiran Tasawuf di Nusantara. Jakarta: Rajawali Pers

Mahmud Yunus, (1996) Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Hidakarya Agung

Mohd. Koharuddin Moh. Balwi (2005) Peradaban Melayu. Johor: UTM

Prof. DR H. Amir Syarifuddin. http://www.cimbuak.net/content/view/77/46/.

Sejarah Pendidikan Daerah Sumatera Barat. http://pakguruonline.pendidikan.net/

Shalahuddin Hamid, Iskandar Ahza (2003) 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Indonesia. Jakarta: Intimedia

Silfia Hanani, M.Si. dalam makalah: Difusi Ajaran dan Pemikiran Ulama dalam Sejarah Islam Minangkabau dalam: http://ern.pendis.depag.go.id/DokPdf/ern-II-03.pdf

Tengku Sutan Hermansyah M. Saman (2003) Sejarah Masuknya Agama Islam ke Minangkabau. Padang: Terbit

Tuanku Rao dan Rakyat Rao Melawan Penjajah. Medan: Tiga Saudara

Umar Ahmad Tambusai (1999) Pahlawan Nasional Tuanku Tambusai. Riau: Pemda TK II Kampar

Undri, (2008) Pusat Dokumentasi Informasi Sejarah-Budaya BPSNT Padang. Padang Ekspres
_____ (2004) Konflik Lahan Perkebunan 1930-1960. Padang: Lipi

Wan Moh. Shagir Abdullah (2001) Penyebaran Islam dan Silsilah Ulama Sehagat Dunia Melayu. Kuala Lumpur: Khazanah Fathaniyah

Wan Moh. Shagir Abdullah (2004) Wawasan Pemikiran Islam Ulama Asia Tenggara. Kuala Lumpur: Khazanah Fathaniyah

Wawancara dengan penduduk kampong Koto Tua Bukit Tinggi Sumatera Barat Indonesia bulan mei 2008

Wawancara Dengan Penjaga Museum Buya Hamka di Maninjau Sumatera Barat Indonesia, 24 Mei 2008

Wawancara dengan pimpinan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Pimpinan Universitas Muhammad Natsir di Jakarta dan dengan Pimpinan Universitas Ibn Khaldun di Bogor bulan mei 2008

www.antara-sumbar.com/id

www.id.wikipedia.com

Zaffuan Haji Manaf (2007) Bingkisan Sejarah Raub: Rao Dan Pagaruyung Dengan Raub dan Pahang. Kuala Lumpur: Anjung Media Resources

Zuriati (2007) Undang-undang Minangkabau Dalam Perspektif Ulama Sufi. Padang: Unand

Selasa, 2 Jun 2009

DIASPORA RAO DI SEMENANJUNG MALAYSIA

DIASPORA RAO DI SEMENANJUNG MALAYSIA
Afriadi Sanusi

Abstrak
Kertas kerja ini membahaskan tentang masyarakat keturunan Rao di Semenanjung Malaysia. Kajian ini menggunakan metode kepustakaan, (library research) pengamatan, temu bual, dan kajian historis dengan menggunakan kaedah analisis data secara induktif, deduktif dan komparatif. Objek yang dikaji adalah dari berbagai-bagai-bagai aspek yang berkaitan dengan masyarakat keturunan Rao Malaysia. Seperti agama, budaya, bahasa,
adat resam dan sebagainya. Kajian ini hanyalah catatan awal atas
pengamatan penulis terhadap masyarakat keturunan Rao
di berbagai-bagai tempat Malaysia.Hasil kajian ini
diharap dapat memberikan suatu gambaran
yang jelas tentang identiti dan sumbangan
masyarakat Rao di Malaysia.


I. Pendahuluan

Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui
lagi Maha Mengenal. (QS.49:13)

Berbicara tentang masyarakat Rao Malaysia jangan dibayangkan dengan keadaan Malaysia yang sekarang ini. Menurut Jaringan Anak Rao Malaysia JARO yang bertugas mengumpulkan salasilah masyarakat Rao Malaysia, orang Rao telah datang ke tanah Melayu bermula semenjak abad ke 5 Masehi lagi. Akan tetapi penghijrahan secara besar-besaran dan terorganisir bermula semenjak abad ke 16, 17 dan abad 18. Data itu juga didukung oleh Tengku Lukman Sinar, seorang sejarawan yang berasal dari Rao yang sekarang berada di Medan . Menurutnya Orang Rao dan Kampar dulunya menetap di Sungai Itek Gopeng Perak, Manting Negeri Sembilan dan Raub Pahang pada abad ke 16.

Ini bermakna bahawa keadaan Malaysia sekarang sangat berbeda dengan keadaan Malaysia dizaman dulu. Belum ada KLCC, KLIA, Sepang dan bangunan tinggi lainnya ketika itu. Ini juga bererti bahawa masyarakat Rao memberikan sumbangan yang bererti dalam semua bentuk pembangunan di Malaysia yang ada saat ini. Belum ada Malaysia dan Indonesia ketika itu, sebab Indonesia merdeka pada 17 Ogos 1945 dan Malaysia merdeka pada 31 Ogos 1957. Belum ada negara yang namanya Indonesia dan belum lahir kerajaan yang bernama Malaysia ketika masyarakat Rao datang ke Tanah Melayu ini waktu itu.

Keadaan dizaman itu sangat berbeda dengan keadaan Malaysia saat ini. Orang Rao pula tidak tinggal diperkampungan orang-orang tempatan, tetapi menetap dan membuka penempatan baru yang belum diterokai dan belum berpenghuni lagi. Membuka hutan, merodah donei, menyuluh arah, jalan beliku menurut lagu sekondakhati. Sejarah juga mengatakan bahawa masyarakat Rao menjadi pengasas perkampungan baru dan sebagai peneroka awal di beberapa tempat di tanah Melayu . Ia tidak sama dengan masyarakat Felda yang diberi berbagai-bagai kemudahan untuk meneroka perkampungan dan lahan pertanian. Perjalanan dari Kuala Lumpur ke Kelang sahaja memakan masa sehingga enam hari lamanya.

Di waktu itu Nusantara tidak dibatasi oleh sempadan dan batasan, bahkan penghijrahan dari satu tempat ke tempat lain dalam wilayah Nusantara biasanya di alu-alukan dan disambut bagaikan menyambut sang pahlawan. Ini kerana setiap negeri memerlukan orang ramai untuk membuka tapak-tapak pertanian yang baru untuk menukar hutan belantara menjadi perkebunan, morodah segala macam bahaya untuk mencari sumber kehidupan. Setiap negeri memerlukan ramai penduduk untuk meramaikan negeri dan menjaga keselamatan negeri.

Nenek penulis pernah bercerita, bahawa dizamannya dulu orang biasa sahaja memberikan tanahnya untuk orang yang baru datang ke tempatnya untuk lahan pertanian dan perumahan. Siapa yang rajin dan kuat anak cucunya nanti akan menjadi kaya dan senang lenang. Ini kerana tanah yang diberikan tiada batasan had tertentu, sekuat yang mampu menukar hutan belantara menjadi penempatan dan pertanian seluas-luasnya.

Ini juga kerana yang hijrah dan yang menerima penghijrahan itu memiliki identiti yang sama. Kesamaan dari segi alam, ekonomi, politik, dan sejarah masa lalu. bentuk tubuh, warna kulit, budaya, bahasa, agama dan berbagai-bagai kesamaan lainnya membuat mereka merasa bersaudara antara satu dengan lainnya. Belum ada mengenal sistem pasport, visa dan fiskal ketika itu. Asia Tenggara pula pernah menjadi sebuah kesatuan disaat permukaan air laut turun.

II. Beberapa Pengertian

a. Istilah diaspora
Penyebaran atau penaburan benih" untuk merujuk kepada bangsa atau penduduk etnis manapun yang terpaksa atau terdorong untuk meninggalkan tanah air etnis tradisional mereka; penyebaran mereka di berbagai bagian lain dunia, dan perkembangan yang dihasilkan kerana penyebaran dan budaya mereka. Pada abad ke-20 khususnya telah terjadi krisis pengungsi etnis besar-besaran, kerana peperangan dan bangkitnya nasionalisme, fasisme, komunisme dan rasisme, serta kerana berbagai bencana alam dan kehancuran ekonomi. Pada paruhan pertama dari abad ke-20 ratusan juta orang terpaksa mengungsi di seluruh Eropa, Asia, dan Afrika Utara. Banyak dari para pengungsi ini pergi ke benua Amerika .
Menurut Wan Ashari Wan Teh Diaspora melayu bererti perpindahan atau penghijrahan dari tempat asal Alam Melayu ke kawasan lain diluar alam melayu samada suka rela atau terpaksa. Diaspora juga bererti mereka yang berasal dari alam melayu tetapi telah berhijrah kekawasan baru bukan melayu . Sementara Diaspora Rao yang penulis maksudkan di sini adalah perpindahan Masyarakat Melayu Rao ke alam Melayu lainnya di Semenanjung Malaysia. Kalau sahaja saat ini dunia Melayu belum di pecah-pecah menurut persepsi dan konsep penjajah, maka penghijrahan masyarakat Rao ke semenanjung Malaysia ibaratkan perpindahan orang Kelantan ke Perak atau perpindahan orang Rao ke Medan saja.
b. Pengertian Hijrah

Hijrah bererti Pindah. Hijrah merupakan satu cara yang dilakukan oleh para nabi untuk melepaskan diri dari alam kebatilan dan kerusakan menuju kebaikan dan kehidupan yang lebih baik . Hijrah pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Sebanyak dua kali, pertama ke Tha`if dan kedua ke Madinah. Hijrah tidak berarti lari dari masalah, tetapi menyusun strategi baru untuk menuju ke langkah selanjutnya yang lebih baik.

Hijrah adalah sunnah yang harus ditempuh oleh setiap umat Islam disaat mereka menemukan hambatan spritual, ekonomi, sosial di tempat asalnya dan melihat ada peluang yang lebih baik ditempat lain. Hijrah dilakukan kerana dorongan iman atau percaya bahawa bumi Allah itu sangat luas. Maka dari itu konsekwensi dari berhijrah adalah iman dan berjihad, yakni memperjuangkan apa yang dipercayai itu.

Menurut Datuk Dr Muhammad Rais Abdul Karim, penghijrahan orang dari Sumatera ke tanah Melayu telah berlaku zaman berzaman dan jauh sebelum kedatangan Barat menjajah tanah Melayu. Ini bererti berbeda dengan penghijrahan kaum China dan India ke tanah Melayu yang dilakukan atas keinginan dan keperluan penjajah. Penjajah ketika itu memerlukan kaum China sebagai pedagang dan kaum India sebagai pekerja kebun. Penghijrahan masyarakat Rao pula adalah penghijrahan melalui proses hijrah semula jadi kerana adanya persamaan sejarah, antropologi, linguistic dan budaya antara masyarakat Rao dengan masyarakat tempatan. Masyarakat rumpun Melayu pula memiliki adat kebiasaan merantau untuk mempertingkatkan imeg, status, taraf sosial dan ekonomi individu dan masyarakat.

c. Hijrah Masyarakat Rao ke Tanah Melayu

Menurut Arisal BA, salah seorang keturunan dan pengkaji Rao Pahang mengatakan; Masyarakat rao datang ke tanah Malayu bermula abad ke 5 Masehi lagi terdiri daripada golongan petani dan pemburu emas, kerana Tanah Melayu terkenal dengan Semenanjung emas. Mengikut sejarah, suku kaum Rao yang mula-mula sekali berhijrah ke Tanah Melayu ialah golongan petani. Ini berlaku sekitar abad ke 5 Masehi. Faktor perdagangan bebas semasa zaman Kesultanan Melaka di abad ke 15 Masehi telah menggalakkan Iebih ramai kaum Rao merantau, berdagang dan bermastautin di Tanah Melayu.

Penghijrahan beramai-ramai suku kaum Rao ke Tanah Melayu berlaku semasa Perang Padri (1816-1833) di Indonesia semasa zaman pemerintahan penjajah Belanda. Sebahagian besarnya terdiri daripada golongan istana, para ulama, cendekiawan, pendekar, panglima dan sebagainya. Berikut ialah proses penghijrahan Rao mengikut negeri ;

1. Negeri Sembilan: Penghijrahan ke Seri Menanti di sekitar tahun 1773 dan melalui Sungai Ujong (Seremban) di sekitar tahun 1848)
2. Negeri Pahang: Penghijrahan melalui Sungai Hulu Pahang (Bera, Hulu Pahang, Kuata Lipis, Raub, Bentong) sekitar tahun 1857-1863. Antaranya Tengku Khairul Alam, Pakeh Khalifah Saka, Tujuan Saka dll.
3. Negeri Selangor: Penghijrahan melalui Sungai Klang (Hulu Langat, Hulu Selangor) dan Sungai Selangor (Kalumpang, Ampang, Kuala Lumpur, Gombak) sekitar tahun 1867- 1873. Pelopornya belum lagi dapat dikenal pasti.
4. Negeri Perak: Penghijrahan melalui Sungai Perak, Sungal Bidor dan Sungai Bernam (Teluk Intan, Kuala Kangsar, Larut, Kinta, Gopeng, Tapah, Kampar) sekitar tahun 1875-76. Antaranya Datuk Sakti Putih dll.
5. Negeri Kelantan: Catatan sejarah juga menunjukkan bahawa suku kaum Rao turut berhijrah ke Kelantan melalui Pahang, khususnya di Jajahan Pasir Mas melalui Sutan Amir Kaharuddin Budiman.

d. Pengertian Rao

Rao pernah menjadi pusat kegiatan ekonomi yang menarik penduduk lain seperti mandahiling, Jawa, Minangkabau dan Belanda tertarik datang ke Rao pada zaman dahulu. Di Rao terdapat tambang emas terbesar di daerah Sumatera Barat pada zaman Belanda. Dobbin menceritakan dalam karyanya Kebangkitan Islam dalam Ekonomi Petani Yang Sedang Berubah, Sumatera Tengah 1784-1847. Keuntungan yang menumpuk pada tambang emas dilukiskan pada tahun 1838 dalam hubungan dengan penggalian kecil dalam tanah luapan banjir di dekat Rao di sebelah utara rantau Minangkabau. Ditempat ini keadaan para pekerjanya jauh lebih baik dari pada pekerja tambang . Keahlian menambang emas menjadi faktor penghijrahan masyarakat Rao ke tanah Melayu untuk memburu emas di samping faktor penyebab lain seperti perang Padri, ekonomi, kekeluargaan dan sebagainya.

Di Rao terdapat kebun kopi dan menjadi sentral produksi karet rakyat utama di daerah Sumatera Barat kebun getah yang diusahakan oleh Belanda pada tahun 1891. Tanggal 18 September 1953, sebuah surat kabar harian di Sumatera Barat menurunkan sebuah berita tentang sekitar hebohnya kedatangan penduduk pendatang dari Tapanuli Selatan kedaerah Rao yang datang ke Rao secara menyeludup, diam-diam dan mengambil tanah perkebunan getah yang ditinggalkan Belanda. Undri kawan penulis sejak kecil, menceritakan dalam tiga karya ilmiyah beliau dengan panjang lebarnya tentang konflik ini.

Dalam rapat KAN dibicarakan soal kehadiran masyarakat pendatang ke wilayah Rao-Mapat Tunggul. Pada rapat tersebut kemudian diputuskan bahwa penerimaan penduduk pendatang baru diterima setelah melaksanakan alur tata cara adat yang berlaku di daerah tersebut. Walaupun pada permulaannya, orang Mandailing yang datang ke daerah Rao Mapat Tunggul menimbulkan konflik, tapi kemudian kerana mereka mau menuruti adat istiadat yang berlaku di daerah Rao, oleh Basa nan XV diizinkan menempati daerah Rao yang merasa mungkin untuk bisa membuka lahan pertanian. Maka saat itu dibuat suatu kesepakatan antar orang Mandailing dengan orang Rao Mapat Tunggul yang dilukiskan sebagai berikut :

Sasangkak balam jo kititiran (Sesangkar balam dengan ketitiran)
Bacampua Melayu jo Mandailing (Bercampur Melayu dengan Mandailing)
Angguak di balam danguik di puyuah (Angguk di balam dengut dipuyuh)
Balam maangguak didahan kayu (Balam mengangguk didahan kayu)
Puyuah mandanguik di alang laweh (Puyuh mendengut di padang luas)
Samo mangaluah di atah bumi (Sama mengeluh diatas bumi)
Sando manyando kaduonyo (Sandar menyandar keduanya)
Bak aua jo tabiang (Seperti aur dengan tebing)

Ini merupakan kesepakatan antara orang Mandailing dengan Rao. Ternyata kesepakatan tersebut masih berlaku di Pasaman Timur. Adapun angguak dibalam, danguik dipuyuh adalah bagaimana pun tingginya adat Mandailing yang ada di daerah Minangkabau ini, harus tunduk pada panji-panji adat alam Minangkabau. Sedangkan sasangkak balom jo kititiran maksudnya orang Mandailing dan orang Minangkabau boleh tinggal di daerah yang sama, dengan adat istiadat yang berbeda.

Walaupun demikian halnya, dalam penyelesaian konflik yang terjadi disamping mengikutsertakan lembaga adat tapi juga pihak pemerintah. Ini dapat kita buktikan ketika terjadinya konflik antara orang Minangkabau dengan orang Jawa. Pada tahun 1949 orang Minangkabau merasa kuatir atas keberadaan orang Jawa menjelang penyerahan kedaulatan Republik Indonesia dari tangan Belanda ke Indonesia. Timbul perselisihan pendapat antara penduduk asli dengan sebahagian eks buruh perkebunan Ophir yang berasal dari Jawa tentang tanah perkebunan. Situasi di Ophir sangat tidak stabil. Semula penduduk setempat tidak mempermasalahkan tentang lahan perkebunan Ophir tersebut. Namun kerana makin leluasanya dan luasnya tanah bekas perkebunan Ophir dikerjakan oleh eks buruh perkebunan Belanda tersebut menyebabkan penduduk setempat tidak merasa senang. Hal ini disebabkan kerana penduduk setempat merasa memiliki lahan perkebunan ini

Menurut beberapa sumber dari orang-orang tua yang penulis temu bual, nama Rao memiliki dua defenisi;

1. Rawa-rawa yang bererti boncah, tempat yang selalu digenangi air (rawa-rawa).
Bentuk bumi Rao ialah seperti kawah besar berbentuk kuali yang dikelilingi oleh bebukitan. Pemandangan seperti kuali ini akan terlihat dengan jelas kalau kita naik ke atas bukit Koto Panjang. Melihat panorama perkampungan Rao dari atas bukit, sawah yang terbentang luas menghijau, ratusan kolam ikan bagaikan tasik, kebun kelapa, getah dan suasana yang masih asri menghijau akan membawa ketenangan tersendiri bagi yang pernah mengunjunginya. Panorama dari atas, keindahannya bagaikan puncak di Jawa Barat. Kalau infrastruktur di sini diperbaiki, ia akan menjadi tempat pelancongan yang menarik. Jalan ke puncak Koto Panjang boleh dilalui oleh kereta, lori dan motosikal, sementara di puncak juga tersedia sebuah kedai makan gulai ikan masak lomak yang sedap.

Penduduk Rao dahulu tinggal di pinggiran bukit, dengan membuat rumah dan penempatan dipinggiran bukit. Mereka menjadikan kawasan boncah itu sebagai tempat mencari kehidupan secara traditional seperti menangkap ikan dan berburu haiwan lainnya. Secara proses semula jadi dan alami air boncah itu semakin surut dan masyarakatnya mulai turun ke bawah membuat penempatan di kawasan boncah yang mulai tidak terlalu banyak air lagi. Lama-kelamaan masyarakat sudah tidak tinggal dipinggiran bukit lagi, tetapi mereka turun dan membuat penempatan di kawasan boncah yang sudah kering itu.

2. Rao adalah nama tuhan masyarakat primitif yang menganut kepercayaan animisme ketika itu.
Sampai sekarang masih ada sisa-sisa animisme itu, iaitu apabila anak-anak yang keluar di senja hari akan ditakutkan orang tuanya dengan menyebutkan “awas hantu rayo!.” Kesimpulan yang kedua ini dibuktikan dengan ditemukannya sebuah candi sebagai pusat penyembahan kepercayaan animisme. Ianya didatangi oleh masyarakat berbagai-bagai tempat ketika itu di pinggir bukit Curanting, Tanjung Air, iaitu dekat pertemuan antara sungai asik dengan batang sumpur oleh seorang pengkaji asal Rao iaitu datuk Amran.

Rao yang dimaksudkan dalam tulisan ini bukanlah kecamatan Rao, Kabupaten Pasaman Propinsi Sumatera Barat sekarang ini. Ini kerana Rao versi baru sangat kecil disebabkan telah di pecahnya daerah-daerah Rao dulu menjadi beberapa Kecamatan oleh pemerintah Indonesia sekarang ini. Rao yang penulis maksudkan adalah daerah rawa-rawa yang meliputi berbagai-bagai daerah yang luas seperti Panti, Padang Gelugor, Sungai Ronyah, dan sebagainya itu (Rao Versi Klasik) yang terletak di pulau Sumatera Indonesia saat ini. Di sebelah Utara, Rao bersempadan dengan Sumatera Utara, di sebelah Timur bersempadan dengan Riau Daratan, di Selatan, bersempadan Minangkabau (Sumatera Barat) manakala di sebelah Barat, terbuka dengan Selat Mentawai yang secara geografi membentuk permukaan bumi di daratan pulau Sumatera.

Suasana di Rao sekarang tidak jauh berubah dengan Rao zaman dahulu. Sungainya tidak tercemar oleh sisa buangan hasil industri, kerana di Rao tidak terdapat kilang. Udaranya belum tercemar oleh asap kenderaan, kerana kenderaan tidak begitu banyak. Suasana hutan dan kebun yang menghijau, sawah yang membentang luas, kolam ikan yang berarak menambahkan lagi keindahan dan keasrian bumi Rao. Walaupun demikian jalan-jalan di Rao ber tar dan sudah boleh dilalui oleh lori dan kenderaan lainnya. Saluran paip air bersih sampai kerumah-rumah penduduk. Ada tenaga elektrik yang menerangi rumah-rumah penduduk, sampainya jaringan telepon dan saluran Televisi 24 jam sehari.

Di Malaysia Rao dikenal Juga dengan Rawa. Penggunaan istilah "ar-Rawi" atau rawa adalah mengikut istilah Arab yang bermaksud dibangsakan kepada "Rao" tetapi lama-kelamaan menjadi "ar-Rawa" yang menunjukkan asal seseorang itu, iaitu daripada daerah "Rao", di Sumatera. Menurut wan Shagir Penggunaannya juga diperkirakan pada sekitar awal abad ke-19 khususnya sewaktu aktiviti pengajian Islam sedang berkembang pesat di Mekah. Istilah "Rawa" pada konteks perbicaraan kita ialah merujuk kepada salah satu etnik suku bangsa Melayu daripada perkataan Rao, satu tempat yang terdapat di Sumatera. Perkataan Rawa hanya popular di Mekah dan Malaysia. Kurang dikenal di Rao sendiri. Ini kerana menurut penulis Rao telah “di Minangkabau kan”, yang membuat sejarah, budaya dan adat Rao sendiri dilamun oleh Minangkabau.

Secara geografis dan beberapa adat budayanya, orang Rao digolongkan kepada Minangkabau . Akan tetapi Rao memiliki beberapa identiti khazanah budaya sendiri yang tidak terdapat di Minangkabau. Ringkasnya orang Rao itu seperti orang Betawi di Jakarta atau orang Sunda di Bandung yang secara geografis berada dalam pulau Jawa, tetapi mereka tidak mahu dan tidak merasa sebagai orang Jawa, kerana Jawa menurut mereka identik dengan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Ini kerana mereka memiliki identiti budaya, bahasa dan ciri khas tersendiri yang tidak terdapat di Jawa. Secara kekuasaan pula mereka tidak tunduk di bawah taklukan kekuasaan Raja Jawa.

Dari segi adat, budaya dan bahasa dapat kita lihat bahawa tamadun Rao adalah sebuah tamadun yang tua. Prof. Dr Muchtar Naim mengatakan bahawa orang Rao berasal dari Lubu kamboja . Tidak dikenal pasti siapakah yang tua antara masyarakat Minangkabau atau orang Rao, akan tetapi mereka berasal dari suku yang sama. Secara kekuasaan pula raja Rao tidak tunduk kepada kekuasaan Raja Pagaruyung kerana di Rao terdapat ramai Raja-raja kecil seperti halnya di Aceh juga demikian. Rao tidak dapat dikatakan jajahan Pagaruyung, tapi lebih tepatnya persemakmuran

Nama-nama seperti Rajo kuamang, Rajo Lelo, Rajo Panji Alam, Rajo Kinayen dan sebagainya menggunakan istilah Raja di Rao. Bukan menggunakan istilah penghulu, datuk bendahara dan sebagainya. Ini bererti tidak mungkin raja tunduk kepada raja yang lain dalam kawasan kekuasaannya.

Kerajaan Pagaruyung pula hanya memiliki kekuasaan sekitar istana yang dipagar dengan ruyong sahaja. Di luar kawasan itu kerajaan Pagaruyung tidak memiliki kekuasaan apa pun. Orang Minang pula dikenal dengan identiti “barajo surang” (Raja diri sendiri). Akan tetapi secara nama Minangkabau itu sangat luas, namun tidak berada di bawah satu kekuasaan tertinggi seperti Raja, Sulthan, Amir dan sebagainya.

e. Orang Rao / Rawa
Yang dimaksud dengan orang Rao dalam tulisan ini adalah;
1. Beragama Islam
2. Mereka yang bermastautin di Rao, (Rao versi klasik)
3. Mereka yang berasal dari keluarga Rao melalui hubungan kekerabatan (hubungan darah) atau persemendaan, yang tidak dibatasi oleh sempadan geografis, sosial, politik dan kenegaraan
4. Menggunakan bahasa Rao, dan
5. Masih ada mengamalkan adat resam dan budaya Rao.

Pada tahun 1830-an Lembah Rao sahaja diperkirakan berpenduduk sekitar 25.000 orang. Pasukan yang dipimpin oleh Tuanku Tambusai sahaja seramai 7000 orang . Namun pada tahun 2009 penduduk keseluruhan di Rao hanya sekitar 60.000 sahaja. Majoriti masyarakat Rao tinggal dan berhijrah ke tempat lain dalam Indonesia, Malaysia dan Singapura. Faktor penghijrahan besar-besaran adalah disebabkan ditakluknya Rao oleh Belanda pada tahun 1833. Faktor penghijrahan lainya adalah disebabkan meletusnya perang antara Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dengan tentera pusat di Sumatera Barat tanggal 15 Februari 1958, di mana Rao adalah kubu terakhir PRRI ketika itu.

Usaha menyatukan kembali keluarga masyarakat Rao yang terpisah-pisah diserata dunia ini telah dilakukan dengan mendirikan Ikatan Keluarga Besar Rao (IKBR) di Medan, Jakarta dan berbagai-bagai tempat di Indonesia. Usaha serupa juga dilakukan di Malaysia dengan mendirikan persatuan Jaringan anak Rao Malaysia (JARO) yang dimulai di Pahang dan dilanjutkan di Perak.

III. Identiti Masyarakat Rao Malaysia

Dalam bagian ini penulis akan menjelaskan serba ringkas tentang bagaimana pengamalan agama, adat, budaya, bahasa dan berbagai-bagai identiti masyarakat Rao di Sumatera dan membandingkannya dengan masyarakat keturunan Rao di Semenanjung Malaysia yang penulis temukan. Ia adalah hasil temu bual serta pengamatan langsung penulis selama lebih lima tahun berada di Malaysia sebagai pelajar Pascasiswazah di Universiti Malaya Kuala Lumpur. Ia juga disebabkan ayah penulis lahir di Sungai Itek Gopeng Perak dan sampai saat ini penulis ramai sanak saudara di Perak yang mengharuskan penulis selalu berkunjung kesana.

A. Pengamalan Ajaran Islam

Sepanjang pengamatan penulis, masyarakat Rao 100% mengamalkan ajaran Islam ahl sunah waljamaah yang berpegang kepada pendapat imam yang empat iaitu Hanbali, Maliki, Syafi`i dan Hanafi. Dalam hal ini terdapat persamaan antara masyarakat Rao asal dengan Rao di SM, iaitu sama-sama mengamalkan ajaran Islam.

1. Sekilas tentang aktifiti masyarakat Rao

Aktifiti keagamaan di Rao biasanya setiap kampung terdapat surau atau masjid. Disurau itu setiap malam terdapat anak-anak mengaji yang dipimpin oleh seorang ustaz. Pagi ahad pula biasa diadakan “kuliah subuh” sebagai wadah untuk melatih anak-anak mengaji, berpidato, baca puisi dan sebagainya. Setiap seminggu sekali diadakan wirid pengajian dengan mendatangkan ustaz untuk berceramah selepas magrib hingga isyak, yang dihadiri oleh orang kampung.

Pada hari-hari besar Islam pula seperti Maulid Nabi, Isra` Mikraj diadakan ceramah secara besar-besaran. Dengan mengundang ustaz yang didatangkan dari jauh. Setiap rumah biasanya akan membawa kue mueh ke masjid untuk hidangan selepas ceramah yang biasanya diadakan selepas isyak. Hari besar Islam digunakan untuk melatih anak-anak tampil ke muka masyarakat untuk mengaji, ceramah, dan kesenian Islam lainnya sebelum ceramah disampaikan oleh ustaz. Tidak seperti di Malaysia, Pemerintah Indonesia tidak memberi gaji atau elaun terhadap ustaz, guru mengaji, imam, bilal dan pengurus masjid.

Menjelang puasa dan hari puasa terakhir, biasanya masyarakat akan memotong kerbau untuk jamuan berbuka dan jamuan hari raya. Proses pemotongan ini dilakukan dengan bergotong royong. Pada bulan puasa sanak saudara akan membawa kue kerumah saudaranya yang lain untuk bekalan berbuka dengan membawa mangkuk bertingkat. Biasanya yang menghantar kue akan diberi hadiah berupa kue yang ada di rumah tersebut untuk dibawa ke rumahnya. Malam hari bulan puasa masjid dan surau diadakan solat taraweih berserta tazkirah dari ustaz. Selepas itu anak-anak dan orang kampung akan bertadarus mengaji al-Qur`an menggunakan pengeras suara secara bersama-sama. Terkadang mengaji itu sampai waktu makan zahur baru mereka balik kerumah.

Pada hari raya pula mereka menunaikan solat di surau atau kampung masing-masingnya. Selepas. Berkunjung ke rumah sanak saudara dan handai taulan yang lain untuk bergembira dan bermaaf-maafan. Selama seminggu lebih hari raya biasanya setiap kampung akan mengadakan acara keramaian. Ada yang membuat acara memanjat batang pinang, lari dalam karung, tembak sosar, silat dan banyak lagi. Yang paling bergembira hari raya adalah anak-anak, kerana mereka akan dibelikan baju baru oleh orang tua mereka.

Budaya menabung dikalangan orang tua untuk ikut berkurban biasa dilakukan. Pada hari raya haji, masyarakat akan memotong lembu kurban secara beramai-ramai. Daging kurban akan dibahagi-bagikan kepada peserta kurban 1/3 dan selebihnya dibagikan pada setiap orang yang datang ke tempat itu dan dibagikan secara merata kerumah-rumah. Sebahagian besar orang Rao hanya memakan daging 3 kali setahun, iaitu bulan puasa, dan hari raya 1aidil fitri dan hari raya Haji, namun bukan semuanya mampu membeli. Hanya hari raya haji sahaja dapat dipastikan 100% orang Rao makan daging. Penulis mengharapkan orang-orang Rao Malaysia dapat membayar kurban di Rao, kerana di Malaysia orang sudah sering makan daging dan haiwan kurban pula selalu berlebih dan tidak mampu ditampung oleh surau-surau yang ada.

Acara bersunat bagi anak lelaki biasanya diadakan secara beramai-ramai dalam satu rumah penduduk. Anak-anak yang bersunat akan tinggal bersama-sama dalam satu rumah untuk beberapa hari sampai mereka dibenarkan keluar. Biasanya mereka akan tidur, makan, berbual, dan bermain bersama dalam rumah tersebut sampai diperbolehkan berjalan keluar. Semua budaya kebersamaan ini membentuk jiwa masyarakat. Setelah besar anak-anak itu akan belajar bersilat bersama-sama.

Budaya menjaga tepi kain orang adalah biasa dikalangan masyarakat Rao. Orang tua yang melihat kesalahan dan kejahatan dilakukan oleh anak muda akan ditegur dan dimarahi dengan serta-merta tanpa peduli anak siapa pun dia. Kenakalan remaja akan menjadi aib bagi keluarganya, kerana di Rao orang saling mengenal antara satu dengan lainya. Jika ada tempat-tempat Perjudian, minuman memabukkan, perzinaan dan kejahatan lainya akan segera dihapuskan dan dibakar oleh penduduk secara beramai-ramai.

Dari segi pengamalan dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang membedakan antara masyarakat Rao asal dengan Rao di SM. Di Rao 100% masyarakatnya adalah Melayu dan beragama Islam. Sementara di SM masyarakat Rao berbaur dengan masyarakat non muslim yang jumlahnya lebih 40% yang terdiri dari masyarakat China, India dan sebagainya. Sensitifiti ke Islaman dan kemelayuan yang ada di SM tidak terdapat di Rao. Saat ini orang Rao masih suka memelihara anjing untuk menjaga rumah, kebun, dan untuk berburu khinzir supaya tidak merosak kebun dan sawah di Rao. Sementara di SM memelihara anjing adalah sesuatu yang sensitif bagi orang Islam melayu.

Orang Rao asal hingga saat ini suka membangun masjid. Setiap memperoleh hasil pertanian, perniagaan dan sebagainya orang Rao asal suka membangun masjid, memperbesar dan mencantikkan lagi tempat ibadah mereka. Disetiap kampung, jorong dan lurah terdapat surau atau masjid. Pembangunan itu biasanya dilakukan secara bertahap dan proses yang lama. Duit yang telah terkumpul dibelikan bahan seperti batu, kayu, atap, besi dulu sebelum wang mencukupi untuk dibangunkan seutuhnya. Pembangunan dilakukan secara gotong-royong oleh masyarakat kampung dengan menggaji beberapa orang tukang mahir sahaja. Sementara orang Rao di Perak agak “manja” mengharapkan kerajaan yang membangunkan tempat ibadah untuk mereka.

Kepedulian orang tua terhadap pendidikan agama anak-anak mereka dalam masyarakat Rao asal sangat tinggi. Pendidikan surau adalah pendidikan yang wajib bagi setiap anak sebelum mereka dewasa dan keluar dari daerahnya. Pendidikan surau adalah pendidikan awal untuk anak mengenal Tuhannya sebelum mereka terdedah dengan budaya luar disaat merantau nantinya. Selain itu juga ada sekolah petang yang khusus mengajar agama sahaja seperti mengaji, kelas fardu `ain. Pendidikan agama di Rao masih terkesan murah dan lebih kepada keikhlasan seorang guru dan ustaz. Yuran belajar agama pula hanya dibayar dengan beras dan padi diwaktu panen. Sebahagian besar budaya di atas berlaku dan terdapat pada masyarakat awal Rao di Semenanjung Malaysia dahulu. Namun sudah mulai dilupakan oleh generasi kemudian yang muda-muda

2. Sumbangan Tokoh Rao Di Malaysia

Dalam sejarah pula kita mengenal beberapa ulama yang menyebarkan ajaran Islam di Semenanjung Malaysia yang berasal dari keluarga Rao. Sebagai tokoh, mereka ini tentu sahaja memiliki pengaruh yang tiada terhingga di SM hingga saat ini. Wan Muhammad Shagir menuliskan beberapa orang yang berasal dari keturunan Rao atau Rawa yang ikut aktif dalam penyebaran Islam di dunia Melayu, sebagian di antara mereka ialah:


a. Syeikh Muhammad Murid Rawa

Syeikh Muhammad Murid Rawa ialah datuk nenek beberapa orang tokoh terkemuka di Malaysia, antaranya Tun Dr. Hamdan Syeikh Tahir, bekas Yang Dipertua Pulau Pinang.

b. Haji Yusuf Rawa

Haji Yusuf Rawa (lahir 10 Ramadan 1340 H/6 Mei 1922 M, wafat 24 Muharam 1421 H/28 April 2000 M). Beliau pernah menjadi wakil Malaysia ke Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB), menjadi duta Iran, Iraq, Afghanistan dan Turki. Saat ini beliau memiliki seorang anak yang sama belajar dengan penulis di Universiti Malaya iaitu Dr Mujahid Bin Yusuf Rawa.

c. Abdullah Nordin Ar-Rawa.

Percetakan yang didirikan oleh Haji Abdullah bin Nordin ar-Rawa juga dikenali sebagai Mathba'ah Persama. Syarikat percetakan yang telah banyak berjasa itu kemudiannya diuruskan oleh anaknya iaitu Haji Yusuf Rawa. Hingga kini syarikat tersebut masih beroperasi di Jalan Kampung Jawa, Bayan Baru dikenali sebagai Safir Ilmu Enterprise diurus oleh cucu Haji Abdullah Nordin sendiri iaitu Mujahid bin Yusuf ar-Rawa.

Daripada percetakan tersebutlah bermula penggunaan istilah Rawa khususnya terhadap aktiviti-aktiviti yang berkaitan dengan percetakan serta penerbitan kitab. Dari mathba'ah tersebut melibatkan sumbangan masyarakat berketurunan Rao atau Rawa yang menetap di Semenanjung Tanah Melayu didokumen dalam bentuk cetakan nama pada kitab-kitab.

d. Syeikh Muhammad Murid Rawa Pengulas Hadis Fikah

Nama lengkapnya ialah Syeikh Muhammad Shalih bin Muhammad Murid al-Khalwati as-Sammani asy-Syazili ar-Rawi (ar-Rawa). Syeikh Abdullah Mirdad Abul Khair menyebut bahawa Syeikh Muhammad Shalih Rawa memperoleh dua anak iaitu Ahmad dan Muhammad. Ada pun Ahmad itu anaknya ramai, mereka melibatkan diri dalam pengurusan jemaah haji dari tanah Jawi (Syeikh Haji). Ahmad yang tersebut masih mengekalkan amalan Tarekat Sammaniyah yang beliau terima daripada ayahnya Syeikh Muhammad Shalih Rawa yang tersebut. Oleh itu, nama beliau juga dikenali dengan Ahmad Saman Rawa. Salah seorang anaknya, Syeikh Hasan Rawa yang memberi kebenaran menerbitkan kitab datuk/neneknya Syeikh Muhammad Shalih Rawa yang tersebut di atas. Ada pun anak Syeikh Muhammad Shalih Rawa yang bernama Muhammad tidak memperoleh anak.

Salah seorang Syeikh Haji pada beberapa waktu yang lalu bernama Syeikh Jamal Rawa dipercayai adalah keturunan Syeikh Muhammad Shalih Rawa yang diriwayatkan ini. Ada pun tahun wafat Syeikh Muhammad Shalih Rawa dipercayai adalah beberapa bulan selepas beliau menyelesaikan kitab-kitab yang tersebut, iaitu masih dalam lingkungan tahun 1272 H/1856 M. Beliau meninggal dunia di Mekah dan dikebumikan di perkuburan Ma’la, Mekah

e. Tuanku Tambusai

Walaupun Tuanku Tambusai berasal dari Melayu Riau, namun penulis memasukkan namanya di sini kerana beliau adalah murid dan teman seperjuangan Tuanku Rao melawan Belanda ketika itu. Banyak pengikut Tuanku Tambusai adalah orang Rao. Ulama dan pahlawan ini telah menyemaikan benih anti penjajah. Beliau ikut dalam peperangan Imam Bonjol di Sumatera Barat. Akhirnya terpaksa hijrah ke Negeri Sembilan dan meninggal dunia di situ . Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Tambusai, dan Tuanku Rao dikenal dengan pejuang tiga serangkai yang berjuang menantang penjajahan Belanda pada masa dan kawasan yang sama. Oleh kerana Tuanku Tambusai meninggal dunia di Negeri Sembilan sedikit sebanyak tentu beliau telah menyemaikan benih berjuang kepada bangsa Melayu di Negeri Sembilan khususnya dan Semenanjung umumnya yang dijajah oleh Inggeris pada zaman itu.

Ketika Muhammad Shalih meningkat dewasa beliau dihantar ke Rao yang lokasinya berdekatan dengan Tambusai. Setelah mendapat pendidikan Islam di Rao dan Bonjol beliau lebih dikenali dengan nama “Faqih Shalih”. Dalam perang melawan penjajah Belanda itu di antara jasa besar Tuanku Tambusai, beliau dapat menyatupadukan tiga etnik iaitu Minangkabau/Rao, Melayu dan Mandailing. Bahawa mereka bersatu tekad dan semangat bumi pusaka bukan milik bangsa penjajah. Bumi ini adalah kepunyaan bangsa kita yang beragama Islam (Wan Shagir Wan Muhammad).

Sumatera Barat majoriti penduduknya ialah Minangkabau, daerah Riau Daratan majoriti penduduknya ialah Melayu dan daerah Sumatera Utara majoriti penduduknya ialah Batak dan yang beragama Islam mempunyai nama tersendiri iaitu Mandailing. Daripada rakaman ini kita dapat membayangkan bahawa Tuanku Tambusai mempunyai kehebatan atau kekuatan yang tersendiri sehingga beliau dapat menyatupadukan etnik dalam bumi yang demikian luas itu. Setelah banyak mengapai kemenangan dan keberhasilan perjuangan, Tuanku Tambusai menjadikan pusat perjuangan, pentadbiran dan pertahanan di Dalu-Dalu sekarang dalam daerah Riau Daratan. (Wan Muhammad Shagir)

f. Mat kilau

Mat Kilau adalah pahlawan terkenal Malaysia. Nama sebenarnya adalah Mat Kilau Bin Imam Perang Rasu Indera Gajah Pahang. Menurut Zaffuan Haji Manaf Mat Kilau adalah cucu kepada Tengku Ali atau Tok Shaharom yang dikatakan berasal dari daerah Rao Tanjung Durian Sumatera Barat.

g. Imam Ishak Rawa

Nama lengkap beliau mengikut salasilah ayahnya ialah Tuan Guru Imam Tengku Haji Ishak bin Tengku Muhammad Arif bin Tengku Tan Joleng Tujuan Saka Mas bin Tengku Merah Laut Silingkar Alam @ Limbang Laut keluarga Yang Dipertuan Muda Tanjung Alai, Mapat Tunggul, Rao, Sumatera Barat. keluarga tersebut ada pertalian dengan Syeikh Muhammad Murid Rawa. Kata Zaffuan, “Keluarga Syeikh Murid ini juga mempunyai pertalian dengan keluarga Merah Mas, Yang Dipertuan Muda Tanjung Alai, Rao tetapi sayangnya peraturan sebenar masih belum dapat dihuraikan hingga kini.”

Pada 1932 Tuan Imam Haji Ishak telah diberi tauliah imam oleh Sultan Abu Bakar (Sultan Pahang). Dalam usia 24 tahun, Tuan Imam Haji Ishak telah diberi kepercayaan menjadi imam di Masjid Lechar, Raub, Pahang Darul Makmur. Berbekalkan ilmu-ilmu keislaman yang dipelajarinya dari para ulama yang dipercayai, Tuan Imam Haji Ishak berjaya menyatupadukan penduduk di kampungnya. Seorang pengasas dan cikgu sekolah di Pahang yang berasal dari Rao pula namanya di abadikan menjadi nama sekolah hingga ke hari ini bernama Sekolah Kebangsaan Muhamad Jabar Dong Raub.

3. Mengaji Bahasa Rao

Identiti masyarakat Rao yang masih dipertahankan hingga saat ini di SM adalah mengaji bahasa Rao. Namun itu tidak semuanya mennggunakan metode ini. Hanya generasi yang tua sahaja masih menggunakan metode mengaji lama ini. Pun demikian di pelbagai daerah Minangkabau, Tapanuli (Mandahiling) dan Batak Indonesia, hingga saat ini masih ada yang mengaji menggunakan bahasa Rao ini. Sewaktu penulis sekolah rendah dahulu juga menggunakan metode ini juga. Baru-baru ini sahaja mengaji dengan menggunakan bahasa Rao sudah mulai dikalahkan dengan metode Iqra` karya As`ad Humam. Yang jelas dalam berbagai sejarah dinyatakan, beberapa daerah Mandailing dan Batak di Islamkan oleh Tuanku Rao cs. Cara orang mandailing menyuruh beruk memanjat dan memilih kelapa tua pun masih menggunakan bahasa Rao hingga saat ini. Berikut adalah tatacara mengaji menggunakan bahasa Rao;

Tulis Arab Bahasa Rao
اُ اِ اَ Alif dateh a, alif bawah i. alif dopen u →a-i-u
بَ بِ بُ Ba dateh ba, ba bawah bi, ba dopen bu →ba-bi-bu
تَ تِ تُ Ta dateh ta, ta bawah ti, ta dopen tu, →ta-ti-tu
ثَ ثِ ثُ Tsa dateh tsa, tsa bawah tsi, tsa dopen tsu →tsa-tsi-tsu
جَ جِ جُ Jim dateh ja- jim bawah ji- jim dopen ju→ ja-ji-ju
حَ حِ حُ Ha dateh ha, ha bawah hi, ha dopen hu →ha-hi-hu
خَ خِ خُ Kho dateh kho, kho bawah khi, kho dopen khu →kho-khi-khu
دَ دِ دُ Dal dateh da, dal bawah di, dal dopen du →da-di-du
ذَ ذِ ذُ Dzal dateh dza, dzal bawah dzi, dzal dopen dzu →dza-dzi-dzu
رَ رِ رُ Ro dateh ro, ro bawah ri, ro dopen ru →ra-ri-ru
زَ زِ زُ Zai dateh za, zai bawah zi, zai dopen zu→ za-zi-zu
سَ سِ سُ Syin dateh sa, sin bawah si, sin dopen su →sa-si-su
شَ شِ شُ Shin dateh sha, shin bawah shi, shin dopen shu→sha-shi-shu
صَ صِ صُ Shad dateh sho, shad bawah shi, shad dopen shu→sha-shi-shu
ضَ ضِ ضُ Dhad dateh dho, dhat bawah dhi, dhat dopen dhu →dho-dhi-dhu
طَ طِ طُ Tho dateh tho, tho bawah thi, tho dopen thu→Tha-thi-thu
ظَ ظِ ظُ Zho dateh zho, zho bawah zhi, zho dopen zhu→zha-zhi-zhu
عَ عِ عُ `ain dateh `a, `ain bawah `i `ain dopen `u →`a-`i-`u
غَ غِ غُ Ghin dateh gho, ghin bawah ghi, ghin dopen ghu→gha-ghi-ghu
فَ فِ فُ Fa dateh fa, fa bawah fi, fa dopen fu→fa-fi-fu
قَ قِ قُ Kho dateh kho, kho bawah khi, kho dopen khu→kho-khi-khu
كَ كِ كُ Kaf dateh ka, kaf bawah ki, kaf dopen ku →ka-ki-ku
لَ لِ لُ Lam dateh la, lam bawah li, lam dopen lu→la-li-lu
مَ مِ مُ Mim dateh ma, mim bawah mi, mim dopen mu→ma-mi-mu
نَ نِ نُ Nun dateh na, nun bawah ni, nun dopen nu→na-ni-nu
وَ وِ وُ Waw dateh wa, wau bawah wi, waw dopen wu →wa-wi-wu
هَ هِ هُ Ha dateh ha, ha bawah hi, ha dopen hu →ha-hi-hu
ءَ ءِ ءُ Hamzah dateh a, hamzah bawah i, hamzah dopen u→ a-i-u
يَ يِ يُ Ya dateh ya, ya bawah yi, ya dopen yu →ya-yi-yu-
Tulis Arab Bahasa Rao
اٌ اٍ اً Alif duo dateh an, alif duo bawah in. alif duo di dopen un →an-in-un
بً بٍ بٌ Ba duo dateh ban, ba duo bawah bin, ba duo dopen bun →ban-bin-bun
تً تٍ تٌ Ta duo dateh tan, ta duo bawah tin, ta duo dopen tun, →tan-tin-tun
ثً ثٍ ثٌ Tsa duo dateh tsan, tsa duo bawah tsin, tsa duo dopen tsun →tsan-tsin-tsun
جً جٍ جٌ Jim duo dateh jan- jim duo bawah jin- jin duo dopen jun→ jan-jin-jun
حً حٍ حٌ Ha duo dateh han, ha duo bawah hin, ha duo dopen hun →han-hin-hun
خً خٍ خٌ Kho duo dateh khan, kho duo bawah khin, kho duo dopen khun →khon-khin-khun
دً دٍ دٌ Dal duo dateh dan, dal duo bawah din, dal duo dopen dun →dan-din-dun
ذً ذٍ ذٌ Dzal duo dateh dzan, dzal duo bawah dzin, dzal duo dopen dzun →dzan-dzin-dzun
رً رٍ رٌ Ro duo dateh ran, ra duo bawah rin, ro duo dopen run →ran-rin-run
زً زٍ زٌ Zai duo dateh zan, zai duo dibawah zin, zai duo dopen zun→ zan-zin-zun
سً سٍ سٌ Syin duo dateh san, sin duo dibawah sin, sin duo dopen sun →san-sin-sun
شً شٍ شٌ Shin duo dateh shan, shin duo bawah shin, shin duo di dopen shun→shan-shin-shun
صً صٍ صٌ Shad duo dateh shan, shad duo bawah shin, shad duo di dopen shun→shan-shin-shun
ضً ضٍ ضٌ Dhod duo dateh dhan, dhat duo bawah dhin, dhat duo dopen dhun →dhan-dhin-dhun
طً طٍ طٌ Tho duo dateh thon, tha duo bawah thin, tho duo dopen thun→Than-thin-thun
ظً ظٍ ظٌ Zha duo dateh zhon, zha duo bawah zhin, zha duo dopen zhu→zhan-zhin-zhun
عً عٍ عٌ `ain duo dateh `an, `ain duo bawah `in `ain duo di dopen `un →`an-`in-`un
غً غٍ غٌ Ghin duo dateh ghan, ghin duo bawah ghin, ghin duo dopen ghun→ghan-ghin-ghun
فً فٍ فٌ Fa duo dateh fan, fa duo bawah fin, fa duo di dopen fun→fan-fin-fun
قً قٍ قٌ Khaf duo dateh khan, khaf duo bawah khin, khaf duo dopen khun→khon=khin-khun
كً كٍ كٌ Kaf duo dateh kan, kaf duo bawah kin, ka duo dopen kun →kan-kin-kun
لً لٍ لٌ Lam duo dateh lan, lam duo bawah lin, lam duo dopen lun→lan-lin-lun
مً مٍ مٌ Mim duo dateh man, mim duo bawah min, mim duo dopen mun→man-min-mun
نً نٍ نٌ Nun duo dateh nan, nun duo bawah nin, nun duo dopen nun→nan-nin-nun
وً وٍ وٌ Waw duo dateh wan, wau duo bawah win, waw duo dopen wun →wan-win-wun
هً هٍ هٌ Ha duo dateh han, ha duo bawah hin, ha duo dopen hun →han-hin-hun
ءً ءٍ ءٌ Hamzah duo dateh an, hamzah duo bawah in, hamzah duo dopen un→ an-in-un
يً يٍ يٌ Ya duo diateh yan, ya duo bawah yin, ya duo dopen yun →yan-yin-yun-


B. Pengaruh Bahasa Rao

Bahasa Rao tidak sama dengan bahasa Minangkabau, Mandahiling atau Bahasa Melayu Riau. Rao memiliki identiti bahasa sendiri. Keunikan bahasa Rao adalah kebanyakannya bahasa singkatan-singkatan dari bahasa Melayu. Menurut dr zul Bahasa Rao adalah ibu kepada bahasa Melayu dengan mengambil contoh bahasa cina, bahawa identiti bahasa yang tua itu ialah bahasa yang disingkat-singkatkan. Sedangkan bahasa Rao pula, banyak yang berasal dari singkatan sebagai contoh dari bahasa Rao, menjadi bahasa melayu yang belum sempurna dan akhirnya disempurnakan;

Bahasa Rao Menjadi (BM) Maksud
Kuak Ku agak Mungkin
Indokundak Tak ku hendak Taknaklah
Indokupodah Tak ku faedah Tak ada faedahnya
Caroolah Ikut cara dialah Suka hati dialah
Klien Kalian You all
Topapo Ntah apa-apa Ntah apo lah
Poi Pergi
Kunyonyonyak ge Ku henyak-henyakan Ku belasah
Tetapi memang, sejarah telah mencatatkan bahawa bahasa melayu tertua berasal dari Riau yang terdapat dalam archive gurindam dua belas karya Raja Ali Haji (http://www.rajaalihaji.com/id/). Beliau adalah seorang raja, pahlawan, sasterawan dan seorang ulama. (http://id.wikipedia.org/) Beliau berasal dari Riau yang bersempadan dengan Rao yang tidak dipisahkan oleh lautan ataupun sungai dan juga kosa kata antara Riau dengan Rao pula memiliki persamaan.
Masalah seterusnya adalah; apakah bahasa Rao berasal dari bahasa Riau atau bahasa Riau berasal dari bahasa Rao?. Dibeberapa daerah seperti rokan dan sebagainya memang terdapat persamaan yang ketara antara bahasa Rao dan bahasa Riau. Seperti yang kita ketahui bahawa kerajaan Riau Lingga pernah sampai ke Johor suatu ketika dahulu (http://melayuonline.com/).

Salah satu identiti masyarakat Rao Malaysia yang belum pupus adalah bahasa. Pengamatan penulis sewaktu berkunjung ke kampung-kampung Rao di Perak menemui bahawa mereka masih menggunakan bahasa Rao, namun nampaknya bahasa itu tidak diwariskan kepada anak cucu mereka. Ini sangat mengkhawatirkan akan pupusnya bahasa ini. Sebuah pengalaman penulis ketika bersama Setiausaha JARO pak Taheruddin berkunjung ke rumah seorang Datin bertanya didepan pintu pagar rumahnya. Sepanjang pembicaraan dia menggunakan bahasa orang putih bercampur melayu, tetapi waktu dia terperanjat dan menjerit dengan menggunakan bahasa Rao “apo tang nyo…”
Walaupun mengalami beberapa aspek perubahan, namun masyarakat Perak masih menggunakan bahasa Rao hingga saat ini. Perubahan itu adalah sesuatu yang wajar mengingat menurut ilmu semantik bahasa akan mengalami perubahan setiap 99 tahun sekali. Perubahan yang ketara hanya kerana di Rao bahasa itu diucapkan dengan laju, sementara oleh keturunan Rao Perak diucapkan dengan perlahan dan sedikit dipengaruhi oleh bahasa persekitaran. Bahasa Rao totok biasanya akan keluar disaat berlaku sesuatu yang mengejutkan.

Kecintaan dan kerinduan orang Rao SM kepada Rao tanah leluhur mereka sangat tinggi. Ini dibuktikan dengan kunjungan rombongan JARO seramai 45 orang ke Rao baru-baru ini, dan banyak lagi kunjungan-kunjungan secara individu ke Rao. Dalam satu seminar di Hotel PJ Hilton Kuala Lumpur, penulis pernah berkenalan dengan seorang peguam cara perempuan yang bernama Rao Suryana yang berasal dari Kedah. Menurut beliau nama itu diberikan ayahnya kerana kecintaan dan kerinduan ayahnya kepada tanah Rao yang sudah lama ditinggalkanya.

Secara amnya masyarakat Rao Perak masih menggunakan bahasa Rao dalam kehidupan rumah tangga mereka. Namun hanya dikhawatirkan bahasa Rao akan hilang begitu saja kerana tidak diwariskan kepada anak cucu mereka. Pembudayaan bahasa Rao dikalangan anak-anak muda sangat kurang. Namun ada beberapa individu Rao yang masih mencintai bahasa Rao. Salah seorang daripadanya ialah Pak Tahiruddin yang memberi hadiah kepada anak-anak dirumahnya kalau dapat mengemukakan bahasa Rao.

Rasa rendah diri terhadap bahasa leluhur nampaknya yang paling mempengaruhi dan mengancam kewujudan bahasa Rao di Malaysia. Padahal bahasa Rao pernah dikatakan sebagai ibu dari bahasa Melayu. Perasaan rendah diri menggunakan bahasa rao sebenarnya tidak menjadi alasan kalau sahaja kita ingin melihat bangsa lain seperti China dan India yang dengan bangganya menggunakan bahasa ibunda mereka di Malaysia. Padahal jarak India dan China dengan Malaysia sangat jauh.

Biasanya masyarakat yang mempengaruhi adalah masyarakat yang kuat tamadunnya dari segi kuantiti dan kualiti. Pengaruh bahasa Rao dapat dilihat telah sampai ke nogori sembilan. Orang Mandahiling yang ada di Perak menurut pak Shawal semua menggunakan bahasa Rao, pengaruh bahasa Rao juga terdapat dalam bahasa Kelantan dan sebagainya. Di dalam koleksi CD Ally Noor & Mastura, terdapat banyak sekali unsur-unsur bahasa Rao. Penulis pernah belajar di Tapanuli selama tujuh tahun dan belajar di Minangkabau selama empat tahun. Bahasa yang dilagukan oleh kedua artis nogori sembilan itu bukanlah bahasa Minang murni, dan bukan pula bahasa Mandahiling, tetapi terdapat unsur-unsur bahasa Rao yang banyak di dalamnya.

Di Nogori Sembilan terdapat kuburan Tuanku Tambusai yang berasal dari Riau yang bersempadan dan berjiran dengan Rao. Tuanku Tambusai yang juga sebagai pahlawan nasional Indonesia ini, dulunya pernah belajar agama dan berjuang di Rao. Tuanku Tembusai melarikan diri ketanah Melayu kerana tidak mahu tunduk dengan kehendak penjajah Belanda yang sudah menaklukkan Rao ketika itu. (Wan Mohd. Shaghir Abdullah) Kemungkinan Tuanku Tembusai membawa pengikut orang-orang Rao datang ke Tanah Melayu juga adalah sesuatu yang masuk akal. Ini kerana sejarah mengenal perjuangan tiga serangkai iaitu; Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Tembusai dan Tuanku Rao yang sezaman dan memiliki ikatan yang rapat.

Buyuang adalah panggilan sayang kepada anak lelaki. Jang adalah singkatan ujang yang berasal dari kalimat bujang yang bermakna hansem (gagah) adalah panggilan manja dan sanjungan kepada anak lelaki di Rao. Di sini penulis hanya akan menuliskan sebahagian kecil kadungan bahasa Rao yang terdapat dalam nyanyian Nogori Sembilan Ally Noor & Mastura tersebut, iaitu;

Bahasa Rao/Lagu Bahasa Minang Bahasa Rao/lagu Bahasa Minang
Mano Ma Porang Parang
Poi Pai Baden Badan
Kobou Kabau Tompek Tampek
Gulei Gulai Koreh Kareh
Sobolango Sabalango Kobun Kabun
Monuang Manuang Tobang Tabang
Ompuak Untuak Tolontang Talantang
Sonang Sanang Tontu Tontu
Do Nyo Pojom Pajam
Domom Damam Omak Amak
Copek Capek Tompek Tampek
Morano Marano Poniang Paniang
Baden Badan Jowobnyo Jawabnyo
Ongah Uda Solemo Salemo
Podiah Padiah Tompah Tampah
Jangen Jan Bolakang Balakang
Ondak Nyio Monggigik Manggigik
Togah Tagah Monangih Manangih
Sonang Sanang Monyobuik Manyabuik
Konang Kanang Jowobnyo Jawabnyo
Omak Amak Disobuik Disabuik
Ontahlah Antahlah Apo layi A layi
Mujuar Untuang Bobuih Babuih
Obang Azan Konyang Kanyang

Menurut Pak Shawal, salah seorang pengusaha berjaya di Kuala Lumpur, orang yang datang selepasnya akan menjadikan orang yang pertama kali hijrah itu sebagai tepatan tempat singgah. Menurut beliau Selayang umpamanya dibuka oleh orang Selayang Rao, kawasan Masjid India saat ini adalah penempatan orang Rao dahulu. Pudu Raya pula diambil dari nama orang Rao yang bergelar pudu dan ibunya yang bernama Raya. Pudu adalah bahasa Rao yang bererti idiot. Adalah menjadi kebiasaan orang Rao untuk membuat panggilan yang rendah sebagai gurauan kepada rakan-rakannya. Mungkin kebiasaan ini jugalah yang membuat orang Rao menjadi low profile sampai saat ini. Apa yang saya temui, keturunan Rao memiliki otak yang cerdas dan ramai yang berjaya serta hebat-hebat belaka, tetapi tetap sahaja rendah diri (low profile).
C. Adat dan Budaya Rao di Rao dan Malaysia
Identiti perkampungan Melayu Rao klasik adalah 1. Berada di tepi sungai; Ini kerana sungai adalah alat pengangkutan yang menghubungkan antara satu kampung dengan kampung lainnya. Sungai juga digunakan sebagai tempat mencari rezki seperti mencari ikan, udang, lingkitang, loken dan sebagainya 2. Ada masjid / surau tempat beribadah dan sebagai tempat institusi pendidikan ke Islaman di tepi sungai dan 3. Ada pasar tempat mereka berbelanja. Identiti masyarakat melayu pula adalah tatasusila seperti kelembutan, kesopanan, mendahulukan kepentingan orang lain dari diri sendiri. Ada beberapa adat budaya Rao yang masih bertahan dikalangan masyarakat Rao SM hingga saat ini;
i. Bojojak (pantang tanah)

Adat pantang tanah ini masih diamalkan hingga ke hari ini oleh masyarakat Rao di SM. Adalah sudah menjadi adat kebiasaan bagi keturunan rao hingga saat ini bahawa mereka tidak boleh menyentuh tanah sebelum di jalani beberapa istiadat tertentu. Walaupun dalam adat Melayu Rao tidak mengenal sistem kasta seperti India atau sistem peringkat darah biru dan darah biasa seperti di Jawa, namun masyarakat Rao secara tidak langsung juga mengenal sistem taraf kedudukan sosial. Kerabat diraja dan orang-orang yang bekerja di istana dianggap lebih mulia begitu juga dengan saudagar dan tingkatan terendah adalah petani yang memiliki status sosial yang dipandang rendah dalam masyarakat Melayu. Para pembesar dan orang-orang kaya Rao dahulu tidak berjalan diatas tanah, tetapi dijulang di atas bahu seorang kuli atau hamba .

Ini kerana dikatakan bahawa tanah memiliki derajat yang rendah dalam budaya masyarakat melayu yang menganggap petani adalah derajat yang rendah dalam lingkungan masyarakat kuno. Kerendahan tanah juga pernah diperkatakan oleh Iblis yang menganggap dirinya lebih mulia kerana dijadikan dari api dari adam yang dijadikan dari tanah. Dalam falsafah Melayu kuno juga mengenal empat unsur tubuh manusia iaitu api, air, udara dan tanah. Empat unsur yang terdapat dalam tubuh manusia ini sangat terkenal dalam dunia magic Rao . Sebagai keturunan diraja, masyarakat Rao tidak dibenarkan menjejakan kaki di tanah sebelum di upacarakan. Biasanya adat ini akan dijalankan oleh seorang yang ahli dan telah mewarisi ilmu untuk menjojakkan orang. Dengan berbekalkan bunga dan berbagai-bagai peralatan lainnya si anak akan dijalankan di atas bunga, dimandikan dan setelah itu di sapukan tanah di tangan, kaki dan keningnya.

ii. Budaya gotong-royong

Dalam masyarakat Rao sangat ditekankan budaya gotong royong. Susah dan senang harus dirasakan bersama. Budaya gotong-royong ini umpamanya diwaktu kenduri kahwin dan diwaktu kematian, membangun dan membersihkan masjid, membuat dan membersihkan tali air dan sebagainya.

Diwaktu kenduri kahwin ahli keluarga akan bekerjasama dalam menyediakan berbagai-bagai peralatan yang diperlukan. Langkah awal adalah dengan mendudukan orang, iaitu semacam mesyuarat ahli keluarga untuk membagi tugasan masing-masing waktu kenduri nanti. Ada yang ditugaskan memberi tahu dan menjemput orang di waktu kenduri nanti. Ada yang menyumbangkan haiwan ternakan, ada yang memberikan kelapa, beras, wang dan sebagainya. Masyarakat pula biasanya rela untuk tidak bekerja pada hari itu. Yang lelaki mencari kayu api ke hutan secara beramai-ramai, membuka kelapa, memotong kambing, sementara yang wanita memasak di rumah kenduri kahwin. Tamu yang datang kenduri biasanya akan membawa beras dan gula yang diisi dalam kain sapu tangan. Semua dilakukan secara sukarela tanpa berbayar. Hal yang sama juga berlaku pada kematian semua dilakukan secara bersama tanpa meminta bayaran, seperti memandikan mayat, mengkafani, menyolatkan, menguburkan dan sebagainya.

Dalam masyarakat Rao SM budaya gotong-royong sudah mula pupus kerana kemajuan zaman. Hampir semuanya berbayar dan proses gotong-royong sudah mulai berkurangan yang disebabkan kerana kesibukan bekerja. Budaya berziarah kerumah sanak saudara, budaya kerjasama dan sebagainya sudah mula hilang. Padahal semua itu adalah identiti masyarakat Melayu yang harus dipertahankan.

iii. Budaya Tobek di Rao

Tobek adalah mata pencaharian utama di Rao selain sawah, ladang, berdagang, bekerja dengan kerajaan dan sebagainya. Ini kerana tobek memerlukan ramai orang untuk menguruskanya. Diperlukan pekerja yang ramai, diperlukan pengangkut ikan, pembeli ikan dan semua proses ini tentunya memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat Rao. Tobek adalah identik dengan Rao dan ia memiliki sejarah yang berkurun-kurun lamanya. Di Rao juga terdapat nama-nama kampung dari tobek seperti; Tobek Sawah, Tobek Porupuk, Tobek Ulak, Tobek Ateh.

Salah satu kelebihan Rao adalah sesuai untuk peternakan ikan air tawar. Nama Rao menjadi popular dikalangan masyarakat sumatera hingga ke pulau Jawa yang dikaitkan dengan penghasil dan pengeluar ikan terbaik dan terbanyak. Keahlian dan kepakaran orang Rao dalam membuat dan menguruskan tobek tidak dapat ditandingi, walaupun beberapa daerah telah mencobanya. Tobek sesuai dengan nama Rao itu sendiri yang terdiri dari rawa-rawa dan boncah. Kawasan yang berlobang dan berair banyak dibuatkan tobek tempat memelihara ikan. Sementara kawasan datar yang masih berair dan boncah-boncah yang ditumbuhi mensiang akan dijadikan sebagai lahan sawah padi. Kawasan tanah tinggi pula akan dijadikan tempat perladangan getah, kelapa, kopi, coco, dan perkebunan lainnya.

Bentuk rumah lama di Rao punya tiang yang tinggi, kawasan ini dahulu selalu digenangi air dan sering berlaku banjir. Saat ini tidak pernah lagi berlaku banjir kerana keadaan paras air yang turun. Kekurangan air juga sesuatu yang mengancam sumber pendapatan orang Rao saat ini untuk mengairi sawah dan tobek mereka. Saat ini sedang dibangunkan bendungan besar untuk membantu sumber air petani. Untuk lebih memahami tobek ini, penulis akan membagi tobek kepada dua iaitu;

1. Tobek Tradisional

Tobek secara traditional terbagi dua; pertama; Tobek yang terbentuk secara semula jadi dan masyarakat hanya mengusahakan sedikit sahaja lagi untuk menjadi tobek. Tobek jenis ini biasanya sangat luas menyamai sebuah tasik yang mencapai keluasan 6 hektar lebih. Masa panen sangat lama iaitu enam bulan hingga bertahun. Tobek ini tidak dimasukkan benih ikan, ikan hanya datang dengan sendirinya secara alami melalui aliran air sungai yang ada didekatnya, melalui perpindahan ikan disaat berlakunya banjir.

Setelah beberapa lama dan dilihat ikan yang terdapat di dalam tobek itu sudah besar-besar, maka proses panen akan berlaku. Tobek yang biasanya dimiliki oleh keluarga besar itu dikeringkan. Setiap ahli keluarga akan mengutus anggota keluarganya untuk tinggal secara bergilir ditobek, kerana proses pengeringan memakan waktu lama. Ketika air tinggal sedikit, ikan akan diarahkan memasuki kulah besar untuk kemudian akan dipindahkan ke kulah-kulah lain menurut jenis dan ukuran ikan. Ada kulah rutiang, kulah bujahir, kulah tonsen, kulah kaluih, kulah iken dan sebagainya.

Prioriti utama, biasanya ikan akan dimasak `asam lauk` dan `gulei lauak` masak lomak bagi ikan besar. Semantara anak ikan rutiang akan `dipongek` atau masak pedas. Orang-orang yang bekerja, ahli keluarga dan pengunjung yang bermaksud untuk membeli ikan akan ikut serta sekali memakan ikan itu. Asam lauk dan asam kerbau adalah masakan traditional Rao yang tidak penulis jumpai di mana pun penulis berkunjung. Para perantau yang baru sampai kekampung Rao, biasanya akan sambut dengan masakan asom lauak oleh ahli keluarganya. Masakan itu juga biasa dimasak dirantau untuk mengobati rasa rindu kepada kampung halaman mereka. Akan tetapi tidak semua orang boleh memasaknya, kerana ada rempah ratus dan cara memasak tersendiri.

Proses penjualan ikan pula memakan waktu berminggu hingga berbulan. Ikan hanya dijual secara traditional ke kampung-kampung oleh peniaga dan ada juga masyarakat yang datang sendiri ke tobek untuk membeli ikan. Pembeli yang datang ke tobek akan mendapatkan ikan yang lebih murah, banyak dan juga dapat ikut makan ikan sekali dengan ahli keluarga dan pekerja lainnya. Sudah menjadi kepercayaan, bahawa yang punya tobek tidak boleh kedekut. Sebab tiada siapa pun yang tahu jumlah kuantiti ikan sebenar yang masih berada di dalam kulah. Kalau kedekut biasanya ikannya akan sedikit dan cepat habis, sementara kalau tidak kedekut ikan dalam kulah akan bertambah-tambah dan berminggu-minggu baru habis semua terjual. Walaupun itu adalah mitos yang tidak dapat dibuktikan secara saintifik, namun ia juga memiliki nilai-nilai murni tentang kebersamaan dan kesaksamaan.

Dinding-dinding tobek yang berlobang dan rosak akan dibaiki semasa tobek dikeringkan. Lumpur-lumpur pula akan dihanyutkan semasa proses pengeringan ikan dan terakhir lumpur itu akan dinaikkan ke ompang tobek untuk meninggikan dan menguatkan lagi struktur ompang tobek. Induk ikan dan ikan-ikan kecil yang tidak habis dijual akan dimasukkan kembali ke dalam tobek yang mula digenangi air setelah ikan yang ada dalam kulah habis terjual. Proses penggenangan air pula memakan waktu yang lama dan setelah itu tobek akan ditinggalkan oleh pemiliknya untuk beberapa waktu.

Sistem tobek tradisional kedua adalah; tobek di tepi sungai. Terdapat tiga sungai besar di Rao iaitu Sungai Tingkarang dan Sungai Asik yang keduanya mengalir ke sungai ketiga iaitu batang sumpur. Semua sungai itu muaranya ke sungai Rokan, faktor ini pulalah yang mendekatkan hubungan masyarakat Rao dengan Riau suatu ketika dahulu. Masyarakat yang tinggal di tepi sungai itu dan memiliki `lekuk`kan tanah di tepi sungai akan mengusahakan sedikit jalan agar ikan memasuki kawasan kolam tersebut. Sebelum adanya “global warming” Musim hujan bulan September, Oktober, November dan Disember, biasanya akan menyebabkan air sungai melimpah, bah dan banjir.

Musim ini adalah musim ikan mencari tempat air tenang untuk berkembang biak. Ikan yang memasuki tobek di tepi sungai itu tidak boleh kembali lagi ke sungai disaat air sungai mulai surut. Ikan terkepung dalam tobek mula dikeringkan itu dan ditangkap serta dijual. Ikan yang besar akan dijadikan makanan dan dijual, sementara anak-anak ikan akan dijual dan dipindahkan ke kolam-kolam lain yang lebih selamat dan tidak terkena banjir.

2. Tobek Profesional

Saat ni semua tobek di Rao sudah diurus secara profesional, produktif dan menguntungkan. Tobek profesional ini memiliki modal yang banyak untuk membeli benih, makanan ikan dan pengurusan tobek. Keuntungan yang diperoleh terkadang lebih 100% dari modal yang dikeluarkan. Masa panen pula adalah singkat iaitu hanya 40-60 hari sahaja. Tobek profesional ini terdiri dari tobek-tobek lama dan tobek baru. Bisnes tobek jauh lebih menguntungkan dari sawah. Masyarakat akan membuat sawah-sawah mereka menjadi tobek baru dengan mengupah orang lain menggali tanah dan membuat ompang. Tobek-tobek baru ini pula multi fungsi yang dapat menjadi tobek disaat air mencukupi dan kembali menjadi sawah disaat air tidak mencukupi untuk memelihara ikan.

Proses tobek profesional berbeda dengan sistem traditional. Pertama tobek akan dikeringkan dan ditaburkan racun agar semua ikan dan makhluk pemangsa yang ada di dalamnya mati untuk seterusnya dihanyutkan. Kedua tobek akan ditaburi baja agar tanah tobek menjadi subur dan seterusnya digenangi air. Setelah beberapa hari pemilik tobek akan memasukkan benih ikan yang dibeli dari petani lainnya. Setiap hari ikan yang ada dalam tobek itu diberi makan dengan makanan pelet yang didatangkan dari sebuah kilang makanan ikan di Medan.

Setiap minggu ikan akan ditangguak jarang untuk memilih ikan yang mulai besar untuk dijual atau dipindahkan ke kolam lain. proses seterusnya adalah ikan akan ditangguak menggunakan keramba dan dijual atau dipindahkan ke kolam lain. Terakhir tobek akan dikeringkan dan ikan yang besar dijual dan tobek akan diracun untuk membunuh ikan-ikan pemangsa seperti rutiang dan mujahir. Perlu diingat bahawa hanya ikan tonsen yang dipelihara dalam sistem tobek profesional. Walaupun demikian setiap pengeringan ikan akan terdapat ikan-ikan jenis lain yang terdapat dalam tobek, walaupun sebelumnya telah diracun. Anehnya, terkadang jumlah ikan yang telah diracun, dibunuh, dihanyutkan dan dihilangkan selama ini lebih banyak dari jumlah ikan tonsen yang memang sengaja dipelihara.

Pendapatan sektor perikanan darat di Rao, mencapai hampir Rp14 miliar per tahun. Sektor perikanan darat ini cukup berkembang dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan produksi mencapai 12.251,3 ton, rinciannya 2.084,76 ton benih ikan dan sisanya ikan konsumsi. Luas areal perikanan darat saat ini mencapai 2.365 hektar, dan 70 persen di antaranya berada Rao.(antara) Pakan ikan hanya diperoleh dari Kota Medan dan tentu saja harganya mahal kerana kos pengiriman yang tinggi mencapai Rp210 ribu/karung. Untuk itu pihak pemerintah daerah berharap investor untuk membangun kilang ikan dan berjanji akan memberikan kemudahan perizinan. Berdasarkan data dari 55.200 kepala keluarga (KK), di Pasaman, sebanyak 5.527 KK menggantungkan hidupnya dari sektor pengelolaan perikanan darat, dengan perincian 4.875 KK sebagai petani pembesar ikan konsumsi, 620 KK sebagai petani pembenih dan 33 KK pengelola keramba ikan deras. (http://www.antara-sumbar.com/id

Beberapa cabaran yang dihadapi para peternak ikan dalam bisnes tobek profesional di Rao saat ini adalah;
1. Ketiadaan kilang makanan ikan di Rao dan masih harus didatangkan dari Medan yang jaraknya jauh dari Rao dan harganya mahal kerana biaya transportasi yang mahal.
2. Ketidak pastian harga yang disebabkan oleh monopoli harga oleh sesetengah pemborong
3. Ketiadaan import dari luar negara yang membuat harga ikan masih murah. Satu-satunya ikan yang di eksport adalah rutiang binguang yang di eksport ke Singapura, Korea dan Jepun. Harga ikan rutiang binguang ini mahal dan susah didapati serta tidak boleh diternak.
4. Ketiadaan pengolahan ikan secara profesional seperti pengalengan ikan, kerupuk ikan dan sebagainya.

Tobek adalah bahasa Rao yang bererti kolam ikan air tawar. Tobek pula memiliki sejarah yang lama di daerah ini. Sebahagian tobek itu terbentuk secara semula jadi. Tobek-tobek yang lama biasanya memiliki keluasan dan kedalaman yang amat besar. Kalau di Malaysia orang akan memanggilnya tasik, tetapi sebenarnya adalah tobek. Tobek adalah sumber ekonomi utama di Rao. Beberapa keturunan Rao Malaysia yang penulis temui juga mendapati di rumah mereka terdapat tobek. Di belakang rumah pak Shawal Tapah terdapat sebuah tobek peninggalan orang datuk beliau. Di rumah beliau Kuala Lumpur juga terdapat dua buah tobek ikan keli dan tobek ikan puyu. Budaya suka ber tobek ini juga penulis jumpai di rumah Dr. Dzulkhaini Husain.

3. Kepakaran Menangkap Ikan

Kebanyakan masyarakat Rao memiliki sawah, sawah setelah di bersihkan akan dibiarkan beberapa lama sebelum ditanam. Setelah ditanam akan dibiarkan hingga 2 bulan baru dibersihkan. Setelah itu ditinggalkan lagi menunggu padi berbuah. Waktu buah padi telah berisi, barulah sawah ditunggu untuk menghalau burung daripada memakan padi. Waktu tenggang lapang itu biasanya digunakan masyarakat untuk membersihkan kebun, yang lelaki pula mengisi waktu lapang dengan menangkap ikan disungai. Ada yang pergi menjalo, menjaring, memancing, menyelam dan menjamah ikan. Kalau dahulu ikan yang dapat itu mencapai sebesar anak kecil, sekarang sudah jarang ditemui. Ikan yang paling mahal dan sedap adalah ikan kaluih (kelah). Ikan ini sudah langka dan jarang ditemui saat ini.

a. Rezeki Banjir

Satu fenomena biasa yang menyeronokkan bagi orang kampung adalah selepas berlakunya banjir. Kawasan tanah yang lekuk biasanya akan lambat kering dan beberapa hari setelah banjir, kawasan itu masih digenangi sedikit air lagi. Dalam kawasan lekuk tanah itu akan dijumpai berbagai-bagai macam jenis dan ukuran ikan yang banyaknya bergoni-goni jumlahnya. Ikan juga terkadang dijumpai dekat rumah, di tengah sawah, di kebun dan sebagainya. Fenomena ini sudah hilang kerana tidak pernah berlaku banjir lagi.

b. Ikan Di Tengah Sawah

Di tengah sawah biasanya terdapat banyak ikan. Orang kampung akan menyuluh ikan dengan menggunakan lampu minyak dimalam hari. Diwaktu umur padi yang baru ditanam sudah mencapai seminggu, anak-anak muda akan keluar dua orang dalam satu rombongan, waktu malam ke tengah sawah dengan menyalakan lampu minyak dan membawa parang untuk memukul ikan. Kepala ikan akan dipukul dengan bagian belakang parang yang tidak tajam. Ikan-ikan yang dapat dimasukkan ke dalam kampia yang dibawa oleh seorang lagi temannya. Ikan yang didapat pula bermacam-macam-macam ada yang besar dan ada yang kecil. Ikan yang dicari sebenarnya adalah belut yang dikatakan mengandungi banyak gizi.

Salah satu sumber ikan lainnya adalah, di tengah sawah biasanya terdapat kawasan tanah lekuk. Disaat padi sudah mulai berbuah, air sawah akan dikeringkan supaya hama penyakit seperti tikus, belalang, keong mas tidak menyerang buah padi. Sesuatu yang mengejutkan adalah, di kawasan tanah lekuk tengah sawah itu akan kita jumpai ikan yang banyak di dalamnya. Sambil menjaga sawah padi agar tidak dimakan oleh burung, petani biasanya akan menyalakan api di rumah sawah dan menangkap ikan yang ada di danau sawah untuk dipongek, dibakar dan sebagainya.

Fenomena ikan banyak itu bukanlah sesuatu yang aneh di Rao. Talian air yang mengalirkan air kesawah dan tobek biasanya terdapat banyak ikan. Diwaktu kecil penulis biasa memancing dan menangkap ikan di tali air. Lobang yang terdapat dalam air adalah tempat ikan rutiang dan ikan tingkalang bersembunyi. Disaat dimasukkan tangan ke dalam lobang akan terasa badan-badan ikan yang siap untuk ditangkap dengan mudah. Caranya pula ialah dengan mencari dan memegang kepala ikan untuk ditarik keluar, sebab ikan Tingkalang (keli) biasanya berbisa kalau terkena sengatnya.

Mencari ikan memang sudah menjadi kepakaran orang-orang Rao. Seorang yang pakar, akan tahu jenis ikan dan dapat menangkap ikan dalam air yang keruh hanya dengan tersentuh tangannya dengan badan ikan. Orang Rao dapat dipastikan akan mendapat belut dalam lumpur kalau tangannya tersentuh badan belut dengan cara tersendiri.

Orang Rao juga punya kepakaran lain seperti memasang taut yang berisi umpan dan diletakan di atas unggok. Unggok adalah urat rumpun kayu yang berada di dalam sungai. Taut itu yang di pasang banyak tempat itu akan ditahan dan diperiksa kemudian. Ikan yang dapat terkadang rutiang, tingkalang atau bahkan biawak yang termakan umpan. Diwaktu musim kering, disaat air sungai sedikit orang Rao juga biasa menimbo sungai. Kawasan lubuk akan di ompang hulu dan hilirnya serta airnya ditimba keluar secara bersama-sama. Ikan yang terkepung dalam lubuk itu akan ditangkap dan dibagi-bahagikan serta dibawa pulang. Menimbo juga berlaku pada air danau sawah dan tali air yang banyak ikannya.

Urang Rao juga suka menubo ikan di sungai dan tali air. Tubo diperolehi dari air sejenis akar kayu yang kalau di tokok akan mengeluarkan santan berwarna putih. Air tubo ini kalau dilepaskan dalam air, akan membuat ikan menjadi pening dan selanjutnya ditangkap dengan tangan dan tangguak. Sebahagian besar kepakaran dan kebiasaan budaya di atas berlaku dan terdapat pada masyarakat awal Rao di Semenanjung Malaysia dahulu. Namun ia sudah mulai dilupakan oleh generasi kemudian yang muda-muda

iv. Masakan Rao

Masakan gulai lomak dan kelamai masih terdapat dalam kalangan masyarakat Rao Perak dan Pahang. Kalau di SM kita dapat temukan berbagai-bagai masakan dan makan baik China, India, Melayu, Thailand, Arab dan sebagainya, di Rao masakan itu masih dalam kategori asli dan tidak mengalami perubahan hingga saat ini. Di Rao orang tidak mengenal makanan seperti roti canai, nasi lemak, tomyam, kfc, McDonald dan sebagainya. Beberapa masakan traditional Rao lainnya tidak terdapat dalam komunitas masyarakat Rao SM. Masakan seperti asom kebau, asom lauak dan sebagainya sudah hilang di sini. Barangkali hilangnya masakan itu kerana tidak dijumpainya rempah yang sesuai di Malaysia.

IV. Analisa dan Kesimpulan
Rao berada di tempat strategis dan berjiran dengan Mandahiling, Melayu Riau, Minangkabau dan pesisir pantai Air Bangis. Rao memiliki identiti adat, budaya dan bahasa tersendiri yang berbeda dengan keempat budaya tetangganya di atas. Kerana Rao berada dalam geografis Sumatera Barat yang identik dengan Minagkabau, maka selama ini Rao dibangsakan kepada Minangkabau, sehingga Khazanah budaya yang berharga di Rao dilupakan begitu sahaja. Padahal Tamadun Rao adalah sebuah tamadun tua berikutan dengan ditemukannya berbagai-bagai macam peninggalan kuno seperti kuil-kuil lama, keris, senjata, batu bertulis dan dari adat budaya dan bahasa Rao itu sendiri. Masih banyak lagi keunikan khazahah budaya masyarakat Rao yang perlu dikaji dan diselidiki.

Masyarakat Rao telah menyebar diberbagai tempat dalam kawasan Indonesia, Malaysia, Singapura, USA, Newzeland dan sebagainya. Masyarakat keturunan Rao sebahagianya masih mengamalkan adat resam dan bahasa Rao. Beberapa keluarga Rao telah membangun persatuan keluarga Rao dengan tujuan menjalin kembali hubungan kekeluargaan dan silaturahim yang selama ini terpisah-pisah. Seperti Ikatan Keluarga Besar Rao (IKBR) di Medan dan Jakarta dan Palembang. Di Malaysia pula dikenal Jaringan Anak Rao (JARO) yang dibangun di Pahang yang terfokus pada satu-satu jalur keturunan sahaja. Sementara di Perak pula JARO adalah mewakili persatuan masyarakat Rao secara keseluruhannya di Malaysia. Cara yang paling mudah mengenal sesama keturunan Rao adalah dari loghat bahasa mereka dan dari adat pantang tanah (berjojak) yang masih diamalkan hingga ke hari ini.

Dari hasil wawancara penulis bersama Pak Shawal dan beberapa orang tua lainnya di Malaysia, penulis berkesimpulan bahawa; Semua adat budaya, bahasa dan kebiasaan masyarakat Rao asal yang penulis ceritakan di atas terdapat dan diamalkan oleh generasi awal masyarakat Rao Malaysia. Akan tetapi lama-kelamaan adat budaya, bahasa dan kebiasaan orang Rao lainnya sudah mulai menghilang dan dilupakan

Sebahagian budaya masyarakat Rao di Semenanjung Malaysia sebahagiannya masih bertahan dan diamalkan oleh masyarakat keturunan Rao Malaysia hingga ke hari ini. Ini terlihat dari pengamalan beragama, bahasa, masakan, adat istiadat dan budaya. Budaya yang paling popular yang masih diamalkan di SM adalah bojojak (adat pantang tanah). Diharapkan adat, budaya dan identiti Rao lainnya yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam, sebaiknya dipertahankan dan di budayakan, kerana itu adalah identiti yang akan mendekatkan silaturahim antara sesama keturunan Rao di mana pun berada dan berjumpa. Ini juga sesuai dengan Pepatah Melayu mengatakan “biar mati anak asal jangan mati adat”.

Identiti ibaratkan jenis kelamin, sebab ia semacam jati diri yang dapat menjadi pemersatu masyarakat Rao dimanapun mereka berada dan berjumpa dengan sesama masyarakat Rao lainnya diseluruh dunia. Tanpa identiti boleh dibaratkan seperti pondan yang punya jenis kelamin kacau dan tidak menentu. Sebagai masyarakat yang bertamadun, sebaiknya masyarakat Rao diseluruh dunia dapat mempertahankan identiti mereka walaupun hanya sebahgian sahaja. Bahasa dan berjojak menurut penulis adalah dua adat budaya yang mudah diamalkan dan dipertahankan.

Bibliografi
Afriadi Sanusi (2008) Usaha Membendung Pengaruh Islam Liberal: Kajian Terhadap Strategi KH. Ahmad Dahlan Dalam Memurnikan Ajaran Islam. Bangi: kertas kerja dalam Seminar Peringkat Kebangsaan Persatuan Ulama Malaysia.

_____ (2008) Peranan Surau Dalam Menghasilkan Tokoh-Tokoh Ulama Melayu Silam Di Minangkabau. Kelantan: Kertas kerja dalam Seminar Kebangsaan Pengurusan Masjid, Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaya, Nilam Puri.

A. Kardiyat Wiharyanto (2005) Asia Tenggara Zaman Pranasionalisme. Jogjakarta: Universitas Sanata Dharma.

Adriyetti Amir et. Al (2006) Pemetaan Sastera Lisan Minangkabau. Padang: Andalas University Press

Azyumardi Azra (2004) Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad XVII & XVIII. Jakarta: Kencana, h. 50

Buletin Silungkang, Nomor : 001/SM/JUNI/1998

Deliar Noer (1994) Gerakan Moderen Islam di Indonesia. Jakarta: LP3S. op.cit, h. 38-40

Hamka (1974) Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao: Bantahan Terhadap tulisan Ir Onggan Parlindungan dalam bukunya Tuanku Rao. Jakarta: Bulan Bintang

_____ (2007) Ayahku : riwayat hidup Dr. H. Abdul Karim Amrullah dan perjuangan kaum agama di Sumatera. Shah Alam, Selangor : Pustaka Dini

_____ (2007) Tasauf Modern. Jakarta: Pustaka Panjimas

Hasmah Haji Omar (2005) Sama Serumpun. Tanjung malim: UPSI

Hasyim Awang (1998) Rumpun Melayu Dispora dalam konteks hubungan Ras. Kuala Lumpur: Universiti Malaya

http://jaro.com.my/

http://sekondakhati.com.my/

http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/m/mahmudyunus/index.shtml

Kenangan-kenangan 70 tahun Buya Hamka. Jakarta : Yayasan Islam, (1979)

Khazin Mohd Tamrin dalam DInamika Adat dan Tradisi Merantau di Alam Melayu dalam adat Melayu serumpun. Kuala Lumpur: Universiti Malaya

Komaruddin Hidayat dan Ahmad Gaus(2006) Menjadi Indonesia: 13 Abad Eksistensi Islam di Bumi Nusantara. Jakarta: Mizan

Lukman Sinar Harian Waspada: Medan

M. Rajab (1976) Perang Paderi. Jakarta: Bulan Bintang

M. Solihin (2005) Melacak pemikiran Tasawuf di Nusantara. Jakarta: Rajawali Pers

Mahmud Yunus, (1996) Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Hidakarya Agung

Mohd. Koharuddin Moh. Balwi (2005) Peradaban Melayu. Johor: UTM

Prof. DR H. Amir Syarifuddin. http://www.cimbuak.net/content/view/77/46/.

Sejarah Pendidikan Daerah Sumatera Barat. http://pakguruonline.pendidikan.net/

Shalahuddin Hamid, Iskandar Ahza (2003) 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Indonesia. Jakarta: Intimedia

Silfia Hanani, M.Si. dalam makalah: Difusi Ajaran dan Pemikiran Ulama dalam Sejarah Islam Minangkabau dalam: http://ern.pendis.depag.go.id/DokPdf/ern-II-03.pdf

Tengku Sutan Hermansyah M. Saman (2003) Sejarah Masuknya Agama Islam ke Minangkabau. Padang: Terbit

Tuanku Rao dan Rakyat Rao Melawan Penjajah. Medan: Tiga Saudara

Umar Ahmad Tambusai (1999) Pahlawan Nasional Tuanku Tambusai. Riau: Pemda TK II Kampar

Undri, (2008) Pusat Dokumentasi Informasi Sejarah-Budaya BPSNT Padang. Padang Ekspres
_____ (2004) Konflik Lahan Perkebunan 1930-1960. Padang: Lipi

Wan Moh. Shagir Abdullah (2001) Penyebaran Islam dan Silsilah Ulama Sehagat Dunia Melayu. Kuala Lumpur: Khazanah Fathaniyah

Wan Moh. Shagir Abdullah (2004) Wawasan Pemikiran Islam Ulama Asia Tenggara. Kuala Lumpur: Khazanah Fathaniyah

www.antara-sumbar.com/id

www.id.wikipedia.com

Zaffuan Haji Manaf (2007) Bingkisan Sejarah Raub: Rao Dan Pagaruyung Dengan Raub dan Pahang. Kuala Lumpur: Anjung Media Resources

Zuriati (2007) Undang-undang Minangkabau Dalam Perspektif Ulama Sufi. Padang: Unand