Ahad, 2 Ogos 2009

Sekelumit catatan Buya Hamka


Sekelumit catatan Buya Hamka

(Beberapa Catatan mengenai Tuanku Rao dan Perang Paderi )
Catatan Reski Hassan

Pendahuluan
Sejak terbit pertama kali tahun 1964, buku karya Mangaraja Onggang Parlindungan (MOP), ‘Tuanku Rao. Teror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak. 1816 – 1833.’ telah menuai banyak kritik dan sanggahan. Sanggahan tertulis pertama datang dari HAMKA dengan bukunya yang berjudul: Antara Fakta Dan Khayal. “TUANKU RAO.” Secara garis besar HAMKA menyebutkan, bahwa isi buku MOP 80 % bohong dan 20 % meragukan.
Cetakan kedua buku MOP terbit pada bulan Juni 2007, dan buku yang langsung memberikan sanggahan terhadap buku tersebut ditulis oleh Basyral Hamidy Harahap, dengan judul ‘Greget Tuanku Rao.’
Selain kedua buku tersebut, berbagai silang pendapat dan kontroversi mengenai Tuanku Rao dan Perang Paderi muncul dalam berbagai tulisan, baik di media massa maupun di internet.
Mengenai sosok dan asal-usul Tuanku Rao sendiri terdapat beragam versi. Namun kelihatannya tak satupun yang dapat mengklaim, bahwa pendapatnyalah yang paling benar, karena semua versi hanya bedasarkan cerita rakyat atau cerita keluarga yang tidak dapat melampirkan dokumen yang otentik, termasuk yang dikemukakan oleh HAMKA. Dalam bukunya, HAMKA menyebut suatu sumber Belanda, J.B. Neumann, Kontelir BB, yang menyebut bahwa Tuanku Rao berasal dari Padang Matinggi, bukan orang Bakkara. Sumber Neumann juga orang Belanda, Residen T.J. Willer. (Hlm. 239)
Sumber lain yang disebut oleh HAMKA adalah Asrul Sani, yang juga menyebut bahwa Tuanku Rao adalah orang Padang Matinggi. Namun tidak disebutkan, dari mana sumber informasinya. (Hlm. 240)
Bahkan Sanusi Pane menganggap, bahwa Tuanku Rao dan Tuanku Tambusai adalah orang yang satu itu juga. (Hlm. 242)
Selain mengenai sosok Tuanku Rao, HAMKA juga membantah keterangan mengenai sejumlah tokoh yang ditulis oleh MOP dalam bukunya. Juga HAMKA membantah segala bentuk kekerasan dan perkosaan terhadap perempuan Batak.
Buku BHH ‘Greget Tuanku Rao’ membantah beberapa hal yang ditulis oleh MOP, namun dia membenarkan terjadinya tindak kekerasan seperti perkosaan yang dilakukan oleh tentara Paderi.
Bantah membantah mengenai suatu tulisan atau peristiwa adalah hal yang biasa, juga dalam penulisan sejarah. Banyak kalangan dari etnis Jawa membantah adanya Perang Bubat yang terjadi pada tahun 1357. Namun kenyataannya, di kota-kota di Jawa Barat tidak ada nama jalan Gajah Mada, Hayam Wuruk atau Majapahit, karena di masyarakat Sunda, berkembang cerita sebagimana tertulis dalam Kidung Sunda.

Tuanku Rao Dalam Turi-Turian Batak

Di masyarakat Batak, baik Mandailing, Angkola, Sipirok, Padang Lawas maupun Toba, cerita rakyat dikenal sebagai turi-turian atau cerita yang dituturkan oleh seorang Bayo Parturi. Turi-turian yang juga diceritakan turun temurun oleh para orang tua kepada anak-cucunya dapat bersumber dari peristiwa yang benar-benar terjadi, tetapi bisa juga legenda atau hikayat, yang hanya merupakan produk fantasi dari nenek moyang.
Walaupun etnis Batak memiliki aksara sendiri yang dinamakan ‘Surat Batak’, namun sangat sedikit sastra Batak yang dituliskan dengan Surat Batak. Pada umumnya, Surat Batak digunakan untuk menuliskan ilmu kedukunan dan surat-menyurat, dan di beberapa daerah, antara lain di Karo, Angkola dan Simalungun, Surat Batak digunakan untuk menuliskan syair. Hal ini yang menyebabkan, banyak turi-turian tidak ditulis dalam Surat Batak, melainkan hanya melalui penuturan secara lisan turun-temurun dari nenek moyang ke anak cucu, atau dituturkan oleh Bayo Partuturi.
Mengenai asal-usul Tuanku Rao, terdapat beberapa versi. Versi yang paling banyak berkembang adalah versi yang ditulis oleh Mangaraja Onggang Palindungan (MOP) dalam bukunya ‘Tuanku Rao. Teror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak. 1816 – 1833.’
Dalam buku ini disebutkan, bahwa Tuanku Rao adalah anak hasil hubungan gelap dari Gana boru Sinambela, putri Singamangaraja IX dengan paman kandungnya sendiri, Gindoporang Sinambela, adik dari Singamangaraja X.
Ketika Gana Sinambela hamil akibat hubungan dengan pamannya, kehamilan ini diketahui oleh ayahnya. Untuk menutup aib ini, Gindoporang dan Gana diasingkan ke Singkil, Aceh, karena untuk hamil di luar nikah, apalagi hasil hubungan dengan keluarga sendiri (incest), sanksinya adalah hukuman mati.
Di Singkil, Gindoporang masuk agama Islam dan mengambil nama Muhammad Zainal Amirudin Sinambela. Gana sendiri tidak bersedia masuk Islam, dan tetap menganut agama Batak, Parmalim. Ketika putra mereka lahir, Gindoporang memberikan nama Muhammad Fakih Amirudin Sinambela. Oleh ibunya, dia diberi nama Pongki Na Ngolngolan yang artinya adalah Fakih yang menunggu-nunggu, karena Gana masih berharap, suatu hari akan dapat kembali ke Tanah Batak.
Setelah Singamangaraja IX meninggal, dia diganti oleh putranya, yang menjadi Singamangaraja X. Singamangaraja X memanggil kembali adiknya, Gana Sinambela bersama putranya, Pongkinangolngolan.
Beberapa Datu (dukun) di Bakkara yang mengetahui mengenai asal-usul Pongkinangolngolan meramalkan, bahwa suatu hari dia akan membunuh Singamangaraja X. Oleh karena itu mereka mendesak, agar Pongkinagolngolan dihukum mati.
Pongkinangolngolan dapat menyelamatkan diri dan mengembara sampai ke Mandailing, di mana dia kemudian menjadi anak didik Tuanku Nan Renceh. Setelah masuk Islam, namanya diganti menjadi Umar Katab. Nama Katab apabila dibaca dari belakang menjadi Batak. Umar Katab ini kemudian bergelar Tuanku Rao. Demikian asal-usul Tuanku Rao menurut versi MOP.
Versi lain menyebutkan, bahwa Tuanku Rao adalah putra dari Nai Napatihan, putri Singamangaraja X, yang menikah dengan putra Ompu Palti Raja dari marga keturunan Si Raja Lontung. Nai Napatihan dan Suaminya yang putra pejabat lembaga Ompu Palti Raja tersebut, diungsikan secara santun oleh Sisingamangaraja X ke Singkil, Aceh, agar tidak menjadi saingannya di kemudian hari. Dalam pengungsian lahirlah seorang anak yang bernama Pongkinangolngolan yang kemudian dikenal bernama Fakih Amiruddin.
Juga ada versi yang menyebutkan bahwa Ibunya adalah Nai Napatihan Sinambela yang menikah dengan seorang putra Aceh dan kemudian diusir dari tanah Batak.
Ada versi lain yang ditulis oleh seorang sarjana Batak dalam disertasinya di UGM, yang menyatakan bahwa Pongkinangolngolan bukanlah Tuanku Rao, tapi orang yang berbeda. Pongkinangolngolan bersama Tuanku Rao berseteru dengan Sisingamangaraja X dalam sebuah konstalasi politik saat itu.
(lihat weblog: http://islamkaro.blogspot.com/2006/11/perkawinan-inses.html)
Dalam bukunya Antara Fakta Dan Khayal “TUANKU RAO”, HAMKA menulis, bahwa Tuanku Rao berasal dari Padang Matinggi, Rao Padang Nunang. (Hlm. 240).
Imam Bonjol sendiri menulis dalam catatan hariannya, bahwa Tuanku Rao berasal dari suatu desa di Mandailing (sebagaimana disampaikan oleh Dr. Phil. Ichwan Azhary dalam diskusi ‘Hikayat Tuanku Rao dan Kilas Balik Perang Paderi’ di Medan, 24 November 2007 dan di Pematang Siantar, 26 November 2007). Namun tidak diterangkan lebih lanjut mengenai asal-usul Tuanku Rao. Mungkin Imam Bonjol hanya mengetahui, bahwa Tuanku Rao datang dari suatu desa di Mandailing dan tidak mengetahui lebih lanjut mengenai asal-usulnya apakah memang asli dari daerah tersebut.

Agresi kaum Paderi ke Sumatra Utara
Mengenai agresi kaum Padri ke Tanah Batak yang dikenal di kalangan Batak sebagai “Tingki Ni Pidari” atau “Zaman Padri”, dua sesepuh Batak, Drs Muara Sitorus dan Edith Dumasi Nababan, SH, yang hadir dalam diskusi ‘Hikayat Tuanku Rao dan Kilas Balik Perang Paderi’ yang diselenggarakan di Sekretariat Plot (Pusat Latihan Opera Batak) Siantar, pada Senin 26 November 2007, memberikan kesaksiannya: (Dikutip dari harian METRO SIANTAR edisi 27, 28 dan 29 November 2007).
“... Drs Muara Sitorus, seorang mantan guru, misalnya, menyatakan sangat senang saat harian METRO SIANTAR menulis kisah Perang Paderi dan 'cerita kelam' dalam keluarga Dinasti Singamangaraja, sebanyak empat seri. "Saya tak menyangka, di zaman sekarang masih ada orang yang peduli dengan kisah sejarah di masa lalu. Terima kasih METRO," kata tokoh masyarakat asal Porsea yang merantau ke Siantar, mengawali ( terima kasih kembali, Pak, red).
Selanjutnya ia mengatakan, fakta sejarah yang ditulis Parlindungan dalam buku Tuanku Rao, sudah lama didengarnya, jauh sebelum buku Tuanku Rao terbit. "Saya sudah lama mendengar kisah mengenai Tingki ni Pidari. Itu adalah kisah mengenai Pasukan Paderi menyerang Tanah Batak. Dari peristiwa Tingki ni Pidari inilah, muncul istilah Monjo (mirip dengan bunyi Bonjol). Monjo ini adalah sebutan orang Batak menyebut Pasukan Paderi," katanya.
Kalau pasukan Paderi datang, orang-orang akan berteriak "Monjo datang...Monjo datang!" "Kalau ada teriakan Monjo, itu menjadi pertanda bagi orang-orang Batak yang mendengarnya, untuk lari ke hutan menyelamatkan diri," katanya. Kisah ini didengarnya dari orang-orangtua, yang diceritakan secara lisan. Karena itu, Drs Muara Sitorus senang dengan penerbitan buku Tuanku Rao, dan menegaskan, kalau kisah di dalamnya adalah fakta sejarah.
Mendukung pernyataan Drs Muara Sitorus, Ibu Edith Dumasi Br Nababan, mantan Hakim Agung yang hadir dalam diskusi di Sekretariat PLOt itu mengatakan, Tingki Ni Pidari itu sungguh benar terjadi. "Saya sudah lama mendengar kisah mengenai kisah Tingki Ni Pidari. Dan seperti dikatakan Pak Sitorus, pasukan Imam Bonjol itu disebut Monjo. Kalau Monjo datang, seluruh orang Batak haruslah berlari menyelamatkan diri ke hutan," katanya.
Sayangnya, hanya anak-anak,wanita, dan pria yang tengah bekerja di sawah yang sempat melarikan diri ke hutan. Sementara yang tinggal di rumah, umumnya perempuan-perempuan cantik yang bekerja menenun ulos/kain, tak sempat kabur.
Untuk memaksa orang-orang yang sembunyi di rumah agar keluar, Pasukan Paderi pun membakar rumah-rumah. Semua perempuan yang bersembunyi dalam rumah terpaksa keluar, daripada terpanggang hidup-hidup. "Itulah makanya, rumah-rumah Batak habis di daerah Silindung. Hanya di Toba saja yang masih tersisa sedikit," katanya ...

... Yang melarikan diri ke hutan, sebagian besar mati kelaparan. Hanya yang kuat-kuat dan umumnya tak cantik, yang bertahan selamat. "Itulah sebabnya, perempuan-perempuan Batak yang cantik baru ada sekarang ini. Itu karena yang cantik-cantik sudah mati dipancung atau diperkosa oleh Monjo, atau kelaparan di hutan. Hanya perempuan-perempuan kuat dan berbadan tegap, yang umumnya tak begitu cantik yang berhasil bertahan hidup di hutan. Makanya perempuan-perempuan Batak sampai waktu yang cukup lama, umumnya tak cantik. Sekarang saja, baru ada perempuan Batak yang cantik," kata Ibu Edith Dumasi Br Nababan, yang masih saudara kandung dengan Dr SAE Nababan, mantan Ephorus HKBP.
Selain membenarkan adanya kisah mengenai Tingki ni Pidari yang disebutnya sebagai masa kelam di Tanah Batak --seperti diceritakan oleh Parlindungan dalam buku Tuanku Rao-- Ibu Edith Nababan yang juga istri Ir Sahat Lumban Tobing (alm) ini mengatakan, kisah mengenai Pongkinangolngolan Sinambela alias Tuanku Rao, adalah benar merupakan bere (keponakan) Singamangaraja X. Tapi karena Pongkinangolngolan memiliki kekuatan batin/spiritual, sejumlah datu di Bakkara mengatakan dia harus diusir/dibunuh. Itulah kisahnya maka dia terusir hingga ke Minang.
"Mertua dari mertua saya masih keturunan Dinasti Singamangaraja. Dan saya ada mendengar keberadaan Pongkinangolngolan sebagai bere Singamangaraja X, yang membunuh tulangnya (paman – red) itu," kata mantan Ketua Pengadilan Tinggi di Lampung yang juga pernah menjabat sebagai wakil Ketua Pengadilan Tinggi di Jawa Baratdan di Kalbar ini.
Caranya, Pongkinangolngolan yang sudah begelar Tuanku Rao, mengirim pesan ke Tulang-nya, untuk menerima pisau sebagai hadiah. Namun saat Tulangnya datang dari Bakkara, Pongkinangolngolan memeluk Tulang-nya itu dan menikamnya hingga tewas (versi MO Parlindungan, Singamangajara X dibunuh Jatengger Siregar).
Dari sana, Pasukan Paderi menyerang kampung Tulang-nya di Bakkara, dan menjarah harta benda, seperti perhiasan, baju, ternak, untuk logistik tentara. "Itulah cerita yang saya dengar dari ayah saya. Bahkan bibi dari ayah saya adalah salahsatu yang sempat ditawan Pasukan Paderi, yang berhasil melarikan diri dengan mengikuti aliran Aek Sigeaon," kata ibu Edith Nababan (yang selanjutnya diwawancarai METRO).
Saat epidemi penyakit merajalela, Pasukan Paderi mundur dari Tanah Batak. Namun sebagian memilih tinggal di Silindung, di daerah Sosorpadang, dan sampai sekarang masih ditempati oleh orang Padang yang Islam. "Sampai saat ini mereka tidak pernah diganggu," kata ibu yang saat ini menjabat sebagai Ketua Paguyuban Darma Wulan (Warga Usia Lanjut) cabang Medan.
Ibu Edith juga mengaku, sempat kenal dengan Sutan Martua Raja, ayah MO Parlindungan, si penulis buku Tuanku Rao. Saat itu, mereka tinggal bertetangga di Siantar. Ibu Edith sendiri kala itu masih murid SD, sementara Sutan Martua Raja sudah tua.
Menurut ibu yang sudah berambut putih ini, orang Batak tidak tersinggung dan tidak perlu dendam membaca buku Tuanku Rao. "Sejarah kelam di Tanah Tapanuli jangan sampai menumbuhkan dendam. Kekerasan horizontal antarsuku ataupun atas nama agama/kepercayaan harus diakhiri. Mari kita membuka diri menerima fakta, bahwa orang orang Batak pernah kalah dalam Perang Paderi. Dan mari kita belajar dari sejarah, dengan tidak mengulangi perbuatan kekerasan. Karena sejarah memang sangat mungkin berulang," kata ibu yang saat masih gadis ini sudah menjabat sebagai Ketua PN Taput dan Dairi...’

Demikian juga buku yang ditulis oleh Basyral Hamidy Harahap (BHH), memaparkan penyerbuan tentara Paderi ke Simanabun yang dipimpin oleh Tuanku Tambusai. BHH menuliskan a.l.: (lihat Weblognya: http://www.basyral-hamidy-harahap.com/blog)
‘… Sebagai penulis, ada debar-debum jantung saya ketika menulis bab Datu Bange di dalam buku ini. Bukan hanya karena bab ini bercerita tentang ketidak-berperikemanusiaanan, genocide, dan dendam yang membara. Tetapi karena ia juga bercerita tentang leluhur saya yang terus menerus melakukan perlawanan, sekalipun mereka sudah dalam posisi yang tidak menguntungkan. Sementara itu pasukan berbaju Putih yang mendengung-dengungkan agama, sambil menebas kepala manusia, membakari kampung, memperkosa, dan melakukan segala macam kebiadaban, terus mengejar musuhnya. Inilah yang membuat pihak Belanda jadi meleleh, dan terusik rasa kemanusiannya. Datu Bange dan rombongannya terus melakukan perlawanan. Secara spontan pasukan Belanda kemudian melindungi rombongan Datu Bange. Karena jika tidak demikian, sebuah tragedi kemanusiaan yang jauh lebih kejam pasti terjadi, yang bagaimanapun tidak akan bisa diterima manusia beradab !!!

Datu Bange dan pengikutnya yang tidak lain adalah leluhur saya, pada akhirnya berhasil memasuki daerah baru setelah menempuh medan yang berat, berliku-liku naik gunung dan turun lembah serta hutan belantara dengan jarak lebih dari 65 kilometer, dan kemudian mereka menetap di daerah Angkola dan Mandailing Godang. Walaupun untuk itu Datu Bange harus menebusnya dengan nyawanya sendiri…

Bahkan BHH menganggap dasar yang digunakan oleh panitia yang mengusulkan gelar Pahlawan Nasional untuk Tuanku Tambusai tersebut naif dan menjatuhkan harkat dan martabat Datu Bange. BHH menulis (Hlm. 67):
“… Pada masa itu daerah-daerah dataran tinggi yang penduduknya masih parbegu dan sering membuat kekacauan seperti merampok dan mengambil Budak yang meresahkan penduduk. Tuanku Tambusai ingin mengakhiri keadaan itu dengan melakukan gerakan terhadap kelompok parbegu tadi dipimpin oleh Datu Bange, Raja Siminabun yang bentengnya terletak di atas puncak bukit terjal di tepian sungai Batang Pane…”

BHH menulis bahwa Datuk Bange telah beragama Islam, namun tidak mau menerima aliran Islam yang dibawa oleh Tuanku Tambusai. Lama sebelum gerakan Paderi mereka sudah memeluk Islam. BHH menyatakan bahwa Datu Bange bukan perampok, melainkan Kepala Luat Dolok, raja paling kharismatik di Padang Lawas raya yang dicintai rakyatnya. BHH juga menonjolkan peranan ulama-ulama Sufi Mandailing yang menyebarkan agama Islam di daerah itu berabad sebelum Paderi datang. (Hlm. 68)
Memang Islam telah masuk ke Sumatera Utara sejak abad 8, dan kebanyakan beraliran Syiah. Selama ratusan tahun Islam dan agama asli Batak, Parmalim, serta penganut Hindu-Buddha dapat hidup berdampingan dengan damai.
Banyak kalangan –termasuk HAMKA- menolak isu tentang adanya pemerkosaan massal dan orgy tawanan perempuan oleh sebagian pasukan Paderi. Cerita tentang bagaimana anggota Paderi melampiaskan nafsu syahwatnya secara terbuka terhadap tawanan-tawanan cantik dituding Hamka sebagai khayalan Parlindungan belaka. Hamka juga menuduh cerita-cerita seks itu sengaja dipasang Parlindungan untuk menarik hati para pemuda ketimbang mencari data ilmiah. Di mata Hamka, Tuanku Lelo yang menurut Parlindungan bernama asli Idris Nasution itu tokoh karangan Parlindungan belaka. Sedangkan dalam bukunya, MOP menyatakan, bahwa Tuanku Lelo/Idris Nasution adalah kakek buyutnya.
Mengenai penculikan kaum perempuan di daerah yang telah ditaklukkan dan kemudian dijual sebagai budak, juga pernah ditulis oleh Rosihan Anwar di harian Kompas edisi Senin, 06 Februari 2006 dengan judul ’Perang Padri yang Tak Anda Ketahui’ , di mana tertulis:
“… Yang menarik ialah kebiasaan menculik kaum perempuan dalam serangan, kemudian mengangkut mereka untuk dijual sebagai budak (slaves). Kaum Padri melakukan ini di daerah Mandailing. Perdagangan budak masa itu sebuah gejala lazim…”

Di zaman penjajahan Belanda, perbudakan adalah hal yang resmi dipraktekkan. Bahkan ada undang-undang perbudakan, yang berlaku sejak tahun 1640 dan secara resmi baru dihapus tahun 1863. Namun pada kenyataannya, praktek perbudakan di wilayah jajahan Belanda masih berlangsung hingga akhir abad 19. Demikian juga dengan perkosaaan terhadap perempuan di daerah diserang dan telah dikalahkan atau diduduki. Hal ini masih terus terjadi hingga sekarang.
Dalam bukunya ‘Antara Fakta dan Khayalan’ -entah disadari atau tidak- HAMKA banyak membeberkan tindak kekerasan dalam penyebaran beberapa aliran Islam di Timur-Tengah, terutama yang dilakukan untuk menyebarluaskan sesuatu aliran atau mazhab. HAMKA juga menuliskan kekejaman Tuanku Nan Renceh yang sangat fanatik kewahabiannya, yang memerintahkan untuk membunuh adik ibunya, karena tidak mau mengikuti sembahyang. (Hlm. 238)

Mengenai pakaian putih yang dikenakan oleh para ulama di Minangkabau, HAMKA menulis, bahwa warna putih yang dikenakan oleh para ulama merupakan warisan dari agama Buddha. HAMKA menulis (Hlm. 303):
“… Bahkan warna putih itu mungkin sudah ada sejak orang Minangkabau masih memeluk Agama Budha. Biksu-biksu Budha berjalan dengan pakaian selendang putih meminta bakal (mungkin yang dimaksud adalah bekal – pen.) makanan kepada penduduk. Setelah datang Agama Islam pusaka secara Budha itu diteruskan oleh santri-santri di Minangkabau yang dinamai ‘Orang Siak’.: Mereka bersarung putih, berbaju dan celana putih meminta sedekah bekal mengaji tiap-tiap hari Kamis ke runah-rumah penduduk…”

Memang sulit untuk memberikan penilaian terhadap peristiwa atau hal-hal yang terjadi di masa lalu, dengan ukuran kemanusiaan sekarang. Juga apabila tidak ada atau kurangnya data, fakta dan dokumen yang dapat memperkuat cerita rakyat atau penuturan mengenai suatu peristiwa sejarah.

Majalah Tempo
Majalah Tempo 21 Oktober 2007 memuat "…petisi ini mendesak Pemerintah Indonesia untuk membatalkan pengangkatan Tuanku Imam Bonjol sebagai pahlawan perjuangan kemerdekaan Imam Bonjol adalah Pimpinan Gerakan Wahabi Paderi. Gerakan ini memiliki aliran yang sama dengan Taliban dan Al-Qaida. Invasi Paderi ke tanah Batak menewaskan ribuan orang". Dibagian lain pada halaman 56 dikatakan "pakaian mereka serba putih". Persenjataannya cukup kuat. Mereka menurut Parlindungan, memiliki meriam 88 militer bekas milik tentara Napoleon yang dibeli second hand di Penang. Dua perwira Paderi dikirim belajar di Turki. Tuanku Rao, yang aslinya seorang Batak bernama Pongki Nangol-ngolan Sinambela, dikirim untuk belajar taktik Kavaleri. Tuanku Tambusai, aslinya bernama Hamonangan Harahap, belajar soalperbentengan. Pasukan Paderi juga memiliki pendidikan militer di Batusangkar.

Referensi yang digunakan, misalnya yang diperolehnya dari Schnitger, seorang Antropholog Belanda, maupun JB Neuman dalam bukunya Het Panai en Bila Stroomgebied yang dimuat dalam majalah geografi kerajaan Belanda tahun 1885, 1886, 1887 menyebutkan bahwa yang disebut Tongku (maksudnya Datuk Engku atau Tuk Ongku) sebagaimana yang ditulis Tempo (21/10/07) halaman 61, sebagai tukang bantai. Jika “jika penduduk tidak serta merta mau masuk Islam akan segera dibunuh”. Tuanku Tambusai dikenal sebagai sosok perang yang paling ditakuti Belanda, karena dari berbagai medan pertempuran yang dilalui Tuanku Tambusai, sungguh cukup meyibukkan kaum penjajah, sebagaimana diucapkan D Brakel dalam bukunya De oolog in Ned. Indie, Arnheim (1985) yang menyatakan, “selama perang Paderi, dua tokoh yang menyebabkan Belanda harus berjuang keras untuk begitu lama: Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Tambusai. Tanpa kedua orang ini, peperangan bisa dihabisi dalam waktu yang lebih singkat dengan kemenangan pihak Belanda”.

KOMPAS, Minggu 27 Juli 2008

Artikel Rosihan Anwar, ”Perang Padri yang Tak Anda Ketahui”, yang dimuat oleh ”Kompas”, 6 Februari 2006, menyoroti sisi gelap Perang Paderi. Tulisan Rosihan itu bersumber pada buku yang disusun oleh sejarawan militer Belanda, G Teitler, berjudul ”Het Einde van de Paderieoorlog: Het beleg en de vermeestering van Bonjol, 1834-1837: Een bronnenpublicatie.”
Rosihan, dalam artikelnya itu, bercerita tentang kebiasaan kaum Paderi menculik kaum perempuan dalam serangan, kemudian mengangkut mereka untuk dijual sebagai budak (slaves).
Ada satu buku lagi yang mengupas dinamika perubahan yang luar biasa dalam kehidupan ekonomi dan gerakan purifikasi ajaran Islam di Minangkabau. Dalam proses perubahan itu timbul banyak konflik yang mengakibatkan terjadi tragedi kemanusiaan. Buku itu ditulis sejarawan Christine Dobbin, berjudul asli Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy, Central Sumatra 1784-1847 (Curzon Press, 1983).
Dobbin mengawali paparannya secara detail tentang ekologi sosial dan topografi Minangkabau, tentang tantangan dan anugerah alam dalam gerakan perdagangan masyarakat Minangkabau. Kita terkesima membaca buku ini. Ternyata masih banyak yang tidak kita ketahui tentang perubahan sosial yang spektakuler dan tentang gerakan Paderi di Minangkabau dan Tapanuli.
Kurang lebih 75 persen dari buku bercerita tentang dinamika perubahan orang Minangkabau dalam liku-liku perdagangan di pedalaman dan pantai barat dengan segala masalah yang ditimbulkannya, pertambangan emas dan besi, industri rumah, perbengkelan alat pertanian, senjata tajam dan bedil, pertukangan, pertenunan, perkebunan komoditi ekspor, persaingan dan perang dagang dengan Belanda. Hal itu terjadi sejak berabad sebelum timbul gerakan Paderi.
Menarik untuk disimak bahwa berabad sebelum lahirnya gerakan Paderi, agama Islam sudah lama berkembang di Natal, pantai barat Mandailing, Tapanuli Bagian Selatan. Hal ini terbukti dengan kehadiran Tuanku Lintau, seorang kaya, penduduk asli Lintau di Lembah Sinamar, yang datang ke Natal untuk belajar agama Islam. Kemudian Tuanku Lintau meneruskan pendidikannya ke Pasaman yang juga didiami orang Mandailing yang menganut sistem kekeluargaan patrilineal.

Usai menuntut ilmu agama Islam itu, kira-kira 1813, Tuanku Lintau kembali ke desanya membawa keyakinan bahwa sebagai penduduk Tanah Datar, ia mempunyai misi untuk memperbaiki tingkah laku dan moral penduduk lembah itu. Tuanku Lintau terkesan pada gerakan Paderi yang dipimpin oleh Tuanku Nan Renceh di Agam. Ia pun bergabung dengan kaum Paderi.
Secara khusus Tuanku Lintau merasa wajib menyadarkan keluarga raja yang bergaya hidup tidak sesuai dengan ajaran Islam agar kembali ke jalan yang benar. Semula, Tuanku Lintau mendapat perlindungan dari Raja Muning, ialah Raja Alam Minangkabau yang bertakhta di Pagaruyung. Tetapi dalam perkembangan berikutnya, Tuanku Lintau justru melancarkan revolusi sosial karena ia yakin bahwa sistem kerajaan yang korup adalah hambatan bagi keberhasilan cita-citanya.
Tuanku Lintau dan pengikutnya menyerang Raja Alam. Banyak yang terbunuh, termasuk dua putra Raja Alam. Raja Alam dan cucunya berhasil menyelamatkan diri ke Lubuk Jambi di Inderagiri. Cucu Raja Alam ini kelak terkenal sebagai Sultan Alam Bagagar Syah, Raja Minangkabau terakhir.
Bahwa Natal di pantai barat Mandailing sebagai tempat pertama Tuanku Lintau menimba ilmu agama Islam membuktikan, ternyata Perang Paderi bukanlah gerakan Islamisasi di Mandailing. Karena berabad sebelum timbulnya gerakan Paderi, ulama-ulama sufi telah mengajarkan agama Islam kepada orang Mandailing Natal. Tokoh utama penyebar agama Islam di kawasan pantai barat sampai ke pedalaman Mandailing adalah ulama besar sufi Syekh Abdul Fattah (1765-1855). Ulama besar ini wafat dan dimakamkan di Pagaran Sigatal, Panyabungan. Murid-murid para sufi itulah yang secara damai membawa Islam ke pedalaman Mandailing.
Baik Paderi maupun Belanda saling khawatir terhadap ancaman penghancuran hegemoni dagang masing-masing di kawasan Minangkabau dan pantai barat itu. Itu sebabnya Belanda mengunci wilayah Padang sampai ke selatan agar tidak dijamah oleh kaum Paderi. Inilah yang mendorong pendudukan wilayah utara, dalam hal ini Rao dan Mandailing yang kaya emas berkualitas tinggi dan komoditi ekspor lainnya. Kita jadi mengerti mengapa gerakan perdagangan ini menjadi mengeras dalam era gerakan Paderi.
Gerakan Paderi di Mandailing mendapat perlawanan dari Sutan Kumala yang Dipertuan Hutasiantar, raja ulama sekaligus primus inter pares raja-raja Mandailing. Ia dijuluki oleh Belanda sebagai Primaat Mandailing.
Dobbin memaparkan bahwa perdagangan budak sangat penting bagi sistem Paderi. Pasalnya, budak-budak bukan saja sebagai dagangan, tetapi juga sebagai pengangkut barang dan tentara cadangan. Itu yang menyebabkan kaum Paderi dapat bertahan begitu lama dalam melancarkan peperangan.
Mungkin tidak enak untuk mengatakan bahwa Perang Paderi yang begitu lama (1803-1838), yang selama ini begitu disakralkan, disebut oleh Dobbin sebagai perang dagang. Fakta menunjukkan cara-cara kaum Paderi menggerakkan perang yang penuh kekerasan dan kebrutalan, jauh dari nilai-nilai Islam. Inilah yang mendorong kita sadar atau tidak sadar, lebih percaya kepada Dobbin.
Selain itu, Paderi mampu menggeser para pedagang yang beroperasi di permukiman orang Eropa yang berdekatan. Salah satu ciri gerakan Paderi yang menonjol adalah usaha membina perdagangan Minangkabau sekaligus melawan upaya-upaya dari luar yang hendak memonopoli perdagangan di kawasan ini.
Dobbin memaparkan bahwa gerakan Paderi, khususnya di utara Minangkabau, lebih pada gerakan perdagangan daripada gerakan penyebaran agama Islam. Pantaslah, tak satu pun bekas jejak kaum Paderi dalam bidang agama di kawasan itu.
Jadi, sesuai dengan sinyalemen saya di dalam buku Greget Tuanku Rao bahwa Islam dibawa oleh orang Mandailing sendiri dari Pasaman dan pantai barat Mandailing. Proses Islamisasi itu berlangsung secara damai dalam suasana kekeluargaan. Mereka telah mengenal Islam berabad sebelum keberadaan kaum Paderi. Reputasi Natal sebagai pusat perguruan Islam di pantai barat Mandailing telah dibuktikan oleh Tuanku Lintau, tokoh legendaris Paderi yang belajar agama Islam di Natal, sebelum ia menceburkan diri dalam gerakan Paderi.
Gerakan reformasi ajaran Islam dan perdagangan pra-Paderi, pada saat Paderi, dan pasca-Paderi pada hakikatnya adalah revolusi sosial yang dahsyat di Sumatera Barat.

dari wiki
Secara garis besar Perang Paderi meletus di Minangkabau antara sejak tahun 1821 hingga 1837. Kaum Paderi dipimpin Tuanku Imam Bonjol melawan penjajah Hindia Belanda.
Gerakan Paderi menentang perbuatan-perbuatan yang marak waktu itu di masyarakat Minang, seperti perjudian, penyabungan ayam, penggunaan madat (opium), minuman keras, tembakau, sirih, juga aspek hukum adat matriarkat mengenai warisan dan umumnya pelaksanaan longgar kewajiban ritual formal agama Islam.
Perang ini dipicu oleh perpecahan antara kaum Paderi pimpinan Datuk Bandaro dan Kaum Adat pimpinan Datuk Sati. Pihak Belanda kemudian membantu kaum adat menindas kaum Padri. Datuk Bandaro kemudian diganti Tuanku Imam Bonjol.
Perang melawan Belanda baru berhenti tahun 1838 setelah seluruh bumi Minang ditawan oleh Belanda dan setahun sebelumnya, 1837, Imam Bonjol ditangkap.
Meskipun secara resmi Perang Paderi berakhir pada tahun kejatuhan benteng Bonjol, tetapi benteng terakhir Paderi, Dalu-Dalu, di bawah pimpinan Tuanku Tambusai, barulah jatuh pada tahun 1838. Alam Minangkabau menjadi bagian dari pax neerlandica. Tetapi pada tahun 1842, pemberontakan Regent Batipuh meletus. Akhir perang Paderi
Belanda menyerang benteng kaum Paderi di Bonjol dengan tentara yang dipimpin oleh jenderal dan para perwira Belanda, tetapi yang sebagian besar terdiri dari berbagai suku, seperti Jawa, Madura, Bugis, dan Ambon. Dalam daftar nama para perwira pasukan Belanda adalah Letnan Kolonel Bauer, Kapten MacLean, Letnan Satu Van der Tak, dan seterusnya, tetapi juga nama Inlandsche (pribumi) seperti Kapitein Noto Prawiro, Indlandsche Luitenant Prawiro di Logo, Karto Wongso Wiro Redjo, Prawiro Sentiko, Prawiro Brotto, dan Merto Poero. Terdapat 148 perwira Eropa, 36 perwira pribumi, 1.103 tentara Eropa, 4.130 tentara pribumi, Sumenapsche hulptroepen hieronder begrepen (pasukan pembantu Sumenap alias Madura). Ketika dimulai serangan terhadap benteng Bonjol, orang-orang Bugis berada di bagian depan menyerang pertahanan Paderi.
Dari Batavia didatangkan terus tambahan kekuatan tentara Belanda. Tanggal 20 Juli 1837 tiba dengan Kapal Perle di Padang, Kapitein Sinninghe, sejumlah orang Eropa dan Afrika, 1 sergeant, 4 korporaals dan 112 flankeurs. Yang belakangan ini menunjuk kepada serdadu Afrika yang direkrut oleh Belanda di benua itu, kini negara Ghana dan Mali. Mereka disebut Sepoys dan berdinas dalam tentara Belanda.
Belanda menggunakan 2 benteng sebagai pertahanan selama perang Padri,Fort de Kock dan Fort van der Capellen di Batusangkar.
Kepala Perang Bonjol ialah Baginda Telabie. Kepala-kepala lain adalah Tuanku Mudi Padang, Tuanku Danau, Tuanku Kali Besar, Haji Mahamed, dan Tuanku Haji Berdada yang tiap hari dijaga oleh 100 orang. Yang memberi perintah ialah Tuanku Imam Bonjol dengan pertahanan enam meriam di daerah gunung. Halaman-halaman dikitari oleh pagar pertahanan dan parit-parit.
Perang 1833
Pada tahun 1832, benteng Bonjol jatuh ke tangan serdadu Kompeni. Hal ini memicu kembali peperangan. Pos Goegoer Sigandang yang dijaga oleh seorang sersan Belanda dan 18 serdadu dipersenjatai dengan sebuah meriam pada tahun 1833 diserbu oleh orang-orang Minang. Mereka membunuh sersan dan seluruh isi benteng. Kolonel Elout membalas dendam dengan cara memanggil beberapa pemimpin dari daerah Agam untuk menghadapnya di Goegoer Sigandang dan 13 orang menghadap. Atas perintah Kolonel, ke-13 orang itu digantung semua. Setelah kejadian ini Sultan Bagagarsyah Alam dari Pagaruyung dibuang ke Batavia.
Selain penduduk Bonjol, terdapat pula di benteng 20 orang serdadu Jawa yang telah menyeberang ke pihak Paderi. Di antara serdadu-serdadu yang telah meninggalkan tentara Belanda itu terdapat seorang yang bernama Ali Rachman yang berupaya keras untuk merugikan Kompeni. Juga ada seorang pemukul tambur bernama Saleya dan seorang awak meriam (kanonnier) bernama Mantoto. Ada juga Bagindo Alam, Doebelang Alam, dan Doebelang Arab. Doebelang Arab secara khusus berkonsentrasi untuk mencuri dalam benteng-benteng Belanda.
Pemerintah Hindia Belanda kini telah menyadari bahwa mereka tidak lagi hanya menghadapi kaum paderi, tetapi masyarakat Minangkabau. Maka pemerintah pun mengeluarkan pengumuman yang disebut Plakat Panjang (1833) berisi sebuah pernyataan bahwa kedatangan Kompeni ke Minangkabau tidaklah bermaksud untuk menguasai negeri ini, mereka hanya datang untuk berdagang dan menjaga keamanan, penduduk Minangkabau akan tetap diperintah oleh para penghulu adat mereka dan tidak pula diharuskan membayar pajak.
Karena usaha Kompeni untuk menjaga keamanan, mencegah terjadinya "perang antar-nagari", membuat jalan-jalan, membuka sekolah, dan sebagainya memerlukan biaya, maka penduduk diwajibkan menanam kopi. Akhirnya benteng Bonjol jatuh juga untuk kedua kalinya pada tahun 1837.

Perundingan

Residen Belanda mengirim utusan-utusannya untuk berunding dengan Tuanku Imam Bonjol. Tuanku menyatakan bersedia melakukan perundingan dengan Residen atau dengan komandan militer. Perundingan itu tidak boleh lebih dari 14 hari lamanya. Selama 14 hari berkibar bendera putih dan gencatan senjata berlaku. Tuanku datang ke tempat berunding tanpa membawa senjata. Tapi perundingan tidak terlaksana. Tuanku Imam Bonjol yang datang menemui panglima Belanda untuk berunding, malah ditangkap dan langsung dibawa ke Padang, untuk selanjutnya diasingkan ke berbagai daerah hingga meninggal dunia tahun 1864.
Kolonel Elout mempunyai dokumen-dokumen resmi yang membuktikan kesalahan Sentot Ali Basya dengan kehadirannya di Sumatera. Sentot, setelah usai Perang Jawa, masuk dinas Pemerintah Belanda. Kehadirannya di Jawa bisa menimbulkan masalah. Ketika Kolonel Elout melakukan serangan terhadap Paderi tahun 1831-1832, dia memperoleh tambahan kekuatan dari pasukan Sentot yang telah membelot itu.
Setelah pemberontakan tahun 1833, timbul kecurigaan serius bahwa Sentot melakukan persekongkolan dengan kaum Paderi. Karena itu, Elout mengirim Sentot dan legiunnya ke Jawa. Sentot tidak berhasil menghilangkan kecurigaan terhadap dirinya. Belanda tidak ingin dia berada di Jawa dan mengirimnya kembali ke Padang. Pada perjalanan ke sana Sentot diturunkan dan ditahan di Bengkulu di mana dia tinggal sampai mati sebagai orang buangan. Pasukannya dibubarkan dan anggota-anggotanya berdinas dalam tentara Hindia.

Masa Perang Paderi dapat dikelompokkan menjadi:
A. 1803 - 1833: Masa Pemberontakan Wahabi Paderi
B. 1833 - 1838: Masa Pemberantasan sisa-sisa Paderi

Penjelasan
A. 1803 - 1833: Masa Pemberontakan Wahabi Paderi

Pemberontakan dimulai 1803 oleh serangan gerombolan Paderi yang
digerakkan oleh Harimau Salapan, dipimpin Tuanku Nan Renceh.
Pemberontakan diakhiri dengan pembuangan Sultan Baggagarsyah, Raja
terakhir Kesultanan Minangkabau Pagarruyung, oleh Kerajaan Belanda, dan
Kerajaan Pagarruyung dianeksasi dalam NEI (Netherland East Indies).

Masa ini dapat dikelompokkan lagi menjadi:
1. 1803 - 1815: Masa penghancuran Kerajaan Islam Minangkabau
Pagarruyung.

Pada masa ini gerombolan Wahabi Paderi menaklukkan satu-persatu wilayah
Pagarruyung. Puncaknya adalah pembantaian Penghulu dan Keluarga
Kerajaan dalam perundingan damai di Koto Tangah. Tuanku Raja Alam
Muningsyah III, Raja Alam ke-31 gugur, digantikan sementara waktu oleh
Pemangku Raja Alam, Raja Garang Tuanku Sembahyang III (Sumpur Kudus).
Dengan selesainya penaklukan wilayah Pagarruyung, gerombolan Wahabi
Paderi memulai invasi ke Utara.

2. 1815 - 1821: Masa invasi ke Tanah Batak (Tingki ni Pidari I).

Pada masa ini gerombolan Wahabi Paderi meng-invasi Batak Selatan,
mendirikan benteng pendudukan di Rao dan Dalu-dalu sebagai basis
serangan. Segera setelah pendudukan Batak Selatan, dilakukan serangan
ke Batak Utara.
Masa invasi ke Tanah Batak berakhir dengan ditandai wabah kolera dan
dimulainya kampanye militer koalisi Hindia Belanda-Pagarruyung untuk
merebut wilayah Minangkabau.

3. 1821 - 1833: Masa penumpasan gerombolan Paderi

Pada masa ini koalisi Hindia Belanda-Minangkabau merebut kembali
seluruh wilayah Minangkabau kecuali dua benteng daerah terpencil di
utara (Bonjol & Dalu-dalu).
Masa ini diakhiri oleh aneksasi Kerajaan Belanda atas Kerajaan
Minangkabau dengan cara menangkap dan membuang Tuanku Raja Hitam -
Tuanku Raja Alam Bagagarsyah, Raja Alam ke-33, dengan demikian
mengakhiri sejarah Kerajaan Minangkabau. Ditandai pula dengan jatuhnya
benteng Rao oleh pasukan gabungan Belanda-Mandailing, sehingga benteng praktis Bonjol terisolasi.
Masa ini diakhiri oleh penandatanganan Plakat Panjang oleh Paderi
sebagai pengakuan kedaulatan Belanda di Minangkabau.


B. 1833 - 1838: Masa Pemberantasan sisa-sisa gerombolan Paderi

Pada masa ini sisa-sisa gerombolan Paderi yang bertahan di Benteng
Bonjol (jatuh Agustus 1837) dan Dalu-dalu (jatuh Desember 1938)
ditumpas oleh Belanda. Tuanku Imam Bonjol menyerah pada Belanda (sesuai
pengakuannya dalam catatan pribadi Tuanku Imam Bonjol), sedang Tuanku
Tambusai tewas (berita bahwa Tuanku Tambusai sempat tinggal di Malaysia
belum dapat dibuktikan). Sisa geromboloan Paderi berusaha membangun
basis baru di Malaysia, namun gagal dan berakhir sebagai tentara
bayaran.

Jumaat, 31 Julai 2009

Respon Dari Seminar Melayu Rao di UPSI..



Seminar Melayu Rao di UPSI..
Assalamu'alaikum Pak Subari,

Saya Wan Maria anakanda Tengku Mariam cucu Tengku Seti ( anak saudara kepada Dato Tengku Mustapha mantan Speaker DUN Pahang suatu ketika dulu ) Kita belum lagi bertemu atau bersua tapi saya pernah menalipon Pak Subari melalui anak saudara saya Ridzwan yang duduk di Kuantan beberapa bulan dulu.

Saya telah mengikuti seminar melayu Rao diUPSI pada 25hb Julai tersebut, membaca blog Pak Tam Subari di Terombarawa dan membaca komen2 Razak Nasir @ Razakrao dlm blognya di Multiply......

Saya anak kampung Durian Sebatang dari titisan Tengku Khairul Alam ( Tengku Muda Padang Nunang yang berhijrah ke Raub dari Sri Menanti dan beliau datang dari Padang Nunang, Mapattunggul RAO....) sejarah ini tak boleh dipertikaikan oleh siapa2 dari orang rawa diluar sana sebab silsilah ninik moyang kome dipelihara dgn rapi dan nama mereka pun tak pernah diubah2 macam separuh2 orang yg berhijrah dulu...

Saya berdiri sebagai seorang yang terbuka untuk menerima pendapat2 dari sesiapa tetapi biarlah ianya ada fakta dan bukti2 yang jelas. Sejarah di Rao ada berbagai macam versi yang saya tak pertikaikan pun sebab kedatangan apa jua suku bangsa dari daerah lain atau dari benua mana sekalipun adalah perkara biasa dalam mana sejarah tamadun manusia... Kalu rao dari suku Champa, atau Lubu atau Leco kemudiannya dari Hindia atau dari Minang dan berlaku pertembungan budaya dan adat serta perkahwinan berlaku dimana2 dibumi ini hatta di Tanah Melayu pun sama keadaannya... tetapi saya sangat sedih dengan tanggapan segelintir orang rawa spt Razak yang tidak mahu langsung menerima apa2 cerita yang berkaitan dengan Pagaruyung....

Perlu ditegaskan sejarah asal sebenar yang ada dalam teromba besar yang di simpan di Istana Pagaruyung, anak2 Raja di Rao memang dijemput dari Pagaruyung...sejak dari Anangga Warman putra Adityawarman menjadi Raja Rao yg pertama...kemudian tiada yang berhak, kemudian dijemput lagi kali ke2 dari Pagaruyung menjadi YDP Padang Nunang bergelar Yang Dipertuan Bagindo Soripado. Kemudian dari keturunan ini tiada pula yang layak menjadi raja dan dijemput pulak kali ke3 ke Pagaruyung pada masa itu serentak dengan penghantaran Raja Melewar ke Sri Menanti, dijemput seorang Raja yang bergelar Yamtuan Nan Sati dan dari keturunan inilah sehingga sekarang menjadi YDP di Padang Nunang Rao......

Saya betul2 tak faham dengan fakta yang hendak disampaikan oleh Dt Amran Datuk Jorajo dlm kertas kerjanya "Asal Usul Orang Rao: DiTinjau Dari Peninggalan Kebudayaannya"... Pada pendahuluan kertas kerjanya ada menyebut bahawa Tuan Barido dan Tuan Kayo adalah dua orang yang asal membuka dan meneroka daerah Pasaman ini dan mereka berasal dari BALAI JANGGO di Pagaruyung....maka disebutlah mengenai nagari Lubuk Sikaping, kemudian mengenai sistem adat yang diambil dari laras Koto Piliang dan laras dari Bodi Caniago..... disebut juga asal usul daerah Rao dari Warih Nan Dijawek dari sumber Limo Puluh Koto, dari Limo Puloh Kaum yang berangkat dari Pariangan Padang Panjang dan sebagainya.......ini semuanya datang dari daerah minangkabau Pak Subari !!

Kami pulak nampak ada usaha2 tertentu samada dari orang perseorangan atau kelompok di Rao yang cuba menongkah arus perjalanan sejarah di rao ini dan cuba untuk menolak sistem adat atau mungkin Tambo Adat dan Tambo Alam Minangkabau.... Tambo2 ini sememanglah menjadi rujukan penting kalau nak mengkaji sejarah awal di ranah minang. Rao adalah sebahagian dari daerah di Minangkabau atau istilah pentadbirannya terletak dibawah Negeri Sumatera Barat. Perlu lihat semua yang bersangkutan dan kita tak boleh nak berdebat perkara2 yang dah jelas dan terang2an.....

Segala kemusykilan dan pertentangan pendapat dari seminar ini telah dibincang oleh saya dan keluarga kami (keturunan Tengku Samad) dengan panjang lebar dengan Prof. Dr. Puti Reno Raudha dan suaminya Pak Wisran Hadi. Mereka selepas seminar itu dijemput pulang kekampung kita di Durian Sebatang, Dong....Kak Raudah bukan asing kepada kami Pak Subari! dan harap begitu juga kepada semua yang ada kaitan darah dgn anak2 Raja Pagaruyung......

Walaupun terguris dengan sindiran tajam Dt Amran Datuk Jorajo, Apriadi Sanusi atau Razak sekalipun dalam seminar itu, Kak Raudah mengambil jalan "open minded"....walaupun orang mencemuh mengenai adat dan institusi Pagaruyung dia masih mampu tersenyum sinis! kerana beliau "letih" berbicara dengan orang yang tak faham asal muasal sesuatu kisah dan sejarah yang panjang........

Makanya keputusan kami yang juga keputusan dari TUAN GADIH PAGARUYUNG, Kak Raudah akan membawa perkara perselisihan pendapat ini ke tengah. Maka biarlah Datuk2 Adat di ranah Minang yang akan memanggil semua datuk2 adat di Rao untuk bersemuka dan berbincang mencari penyelesaiannya.

Begitulah Pak Subari pendapat saya mengenai perkara2 yg timbul hasil dari seminar tersebut...Banyak kajian yg perlu diteliti, apatah lagi menjemput Apriadi Sanusi seolah2 seperti melepaskan batuk ditangga! anak muda yang baru dalam tahun pertama Phd nya dalam bidang agama Syariah diminta menjelaskan perkara mengenai sejarah dan diaspora masyarakat Rao.... dia buat perbandingan bahasa rao dgn bahasa minang pun tak betul.....ada ker bahasa pasar dan bahasa harian minang dijadikan perbandingan bahawa itulah bahasa resmi minang !... Pak Subari,... saya malu betul pada Pak Wisran Hadi,seorang Sastrawan Negara Indonesia yang pakar didalam soal sosial budaya dan kesenian di Sumatera Barat datang mendengar penerangan dari Apriadi ini....beliau hanya mampu menggelengkan kepala....geram betul dia nak bangun ke microfon memberi pendapat...tapi biasalah....MC kata times up! ^_^

Sehingga dapat kita bersua kembali....
Salam takzim dari saya.

Wan Maria.
Sekadar Menjawab:
Sdri Wan Maria

Prinsip saya mudah saja - Semasa empayar Sriwijaya, Pagar Ruyung adalah sebuah Kerajaan di bawah naungannya. Selepas Sriwijaya runtuh, Kerajaan Pagar Ruyung bangkit menjadi Kerajaan Pagar Ruyung yang besar dan luar pengaruh dan jajahan takluknya. Apabila Belanda menjajah Sumatera, Kerajaan Pagar Ruyung telah hilang daulat, pengaruh dan kuasanya dan hanya tinggal sejarahnya saja. Saya berpendapat: Selepas penjajahan Belanda, Orang Pagar Ruyung telah membawa haluan mereka sendiri, dan Orang Rao juga telah membawa haluannya sendiri. Untuk mengubati luka dan maruah keturunan, banyak mitos dalam penafsiran yang pelbagai telah kita dengar, tapi apa yang penting, seseorang itu baik berdarah raja atau berdarah hamba, jika punca keturunannya berpunca dari daerah Rao-Mapattunggul, dia adalah aslinya Orang Rao, jika seseorang itu percik keturunannya berpunca dari daerah Pagar Ruyung, Tanah Data, Orang itu tetap aslinya Pagar Ruyung. Apabila mereka merantau ke Tanah Melayu, darah keturunan Rao telah bercampur dengan keturunan lain yang sedia ada di Tanah Melayu waktu itu termasuk khabarnya ada yang berkahwin dengan Orang Asli dan Orang Bunian. Fakta sejarah mengikut versi siapa penulisnya, itu sebab penulisan sejarah yang ditulis oleh Orientalis Barat lebih diperakui. Walaubagaimanapun, semua kisah silam itu tetap menjadi misteri dan tugas kita mencari dan membongkarnya dengan akal yang waras, ilmu yang ikhlas disamping mendapat hidayah dari Allah. Allah Wualam.

Dari Subari @ Ismail bin Lebai Ahmad bin Jaafar bin Ibrahim bin Idris.
Saya diberitahu bahawa Idris ini telah membuka Surau untuk Bersuluk di Sungai Ruyung, Gali, disambung oleh anaknya Ibrahim dan berakhir dengan Jaafar sebelum Surau untuk bersuluk itu berpindah ke Surau Jeram Pangkin, Dong seperti yang ada pada hari ini.

Ahad, 12 Julai 2009

Buku RAO DI SANA SINI muncul pada 25 Julai 2009 di UPSI


Buku RAO DI SANA SINI muncul pada 25 Julai 2009 di UPSI

Pengerusi Jawatankuasa Kecil Kertas Kerja dan Penerbitan Buku sempena Seminar Melayu Rao Malaysia, Hj Zabidin Ismail yang juga Presiden Persatuan Karyawan Perak (Karyawan Pk) memaklumkan bahawa semua kertas kerja yang dibentang dan kertas kerja sisipan akan dibukukan supaya dapat dijadikan rujukan baik untuk pusat sumber di Malaysia mahupun di Indonesia, khususnya di Sumatera Barat serta dijual kepada awam khususnya orang Rao dalam usaha menambah dana JARO. Justeru setiap pembelian buku ini bermakna anda telah menyumbang sedikit wang untuk tabung JARO.

Buku terbitan JARO ini disunting oleh Prof Dr HM Bukhari Lubis (Timbalan Presiden Karyawan Pk), Prof Madya Dato’ Paduka Dr Mohd Rosli Saludin (UPSI) dan Dr Talib Samat (Ahli Jawatankuasa Karyawan Pk) dan direka-bentuk oleh Redzuan Shah b. Datu Sahadun (UPSI). Tajuk buku ini ialah RAO DI SANA-SINI yang mengandungi 12 kertas kerja berikut:

• Asal Usul Orang Rao: ditinjau dari Peninggalan Kebudayaannya
Dt Amran Dpt Jorajo S.Pd (Rao, Pasaman, Sumatera Barat)

• Sejarah Penghijrahan dan Diaspora Masyarakat Rao di Malaysia
Prof Dr HM Bukhari Lubis (UPSI/Karyawan Pk) dan Afriadi Sanusi (Universiti Malaya)

• Sumbangan Tokoh-tokoh Rao Terpilih dalam Tamadun Bangsa Melayu di Malaysia
Dr Hj Talib Samat (UPSI/Karyawan Pk)

• Tuanku Rao: Riwayat Hidup Tokoh Paderi di Kawasan Utara Minangkabau
Prof Dr Mestika Zek (Universiti Padang, Sumatera Barat)

• Hubungkait Adat dan Budaya Minangkabau Pagar Ruyung dengan Masyarakat Rao Malaysia
Prof Dr Puti Reno Raudha Thaib (Universiti Andalas, Padang, Sumatera Barat)

• Komunikasi Puisi Tradisional Rao
Prof Madya Dato’ Paduka Dr Mohd Rosli Saludin (UPSI)

• Sejarah Asal Usul Rao
Syamsuruddin (Rao, Pasaman)

• Peranan dan Aktiviti Surau dalam Masyarakat Melayu Rao
Afriadi Sanusi (Universiti Malaya, Kuala Lumpur)

• Adat dan Seni Budaya Rao
Edi Erman S.Ag. M.A (Rao, Pasaman)

• Bosar Limo Boleh Rao
Edi Erman S.Ag. M.A (Rao, Pasaman)

• Hubungan Rao dan Perak Melalui Penerokaan Penempatan Baru
Zabidin Hj Ismail (Karyawan Pk)

• Kedatangan Rao ke Negeri Sembilan dan Hubungan dengan Adat Perpatih
Prof Madya Dato’ Paduka Dr Mohd Rosli Saludin (UPSI)

Buku Rao di Sana Sini setebal melebihi 300 halaman dengan cetakan kulit tebal dan tipis serta memuatkan intisari kata pengantar oleh Dato’ Seri Mohd Khalil Hj Hussein, Yang Dipertua JARO, Profesor Dato’ Dr Aminah bt Ayob, Naib Canselor UPSI dan Tun Ahmad Sarji Abdul Hamid, Pengerusi Permodalan Nasional Berhad. Tidak ketinggalan juga disisipkan rumusan kertas kerja oleh Dato’ Mohammad Hamzah, Pengerusi Jawatankuasa Pelaksanaan Seminar Melayu Rao Malaysia.

Buku ini boleh didapati semasa seminar berlangsung di UPSI dan sekarangpun boleh ditempah bagi mengelakkan kehabisan kerana JARO menerbitkannya dalam jumlah naskhah yang terhad. Tempahan boleh dibuat melalui Setiausaha JARO, Encik Tahirruddin Ahmad, No 6C Ruang Niaga, Dewan Bandaraya Ipoh (DBI), Jalan Ghazali Jawi, 31400 Ipoh, Perak Darul Ridzuan. Telefon: 05-5480462 / 016-5200550.

Isnin, 29 Jun 2009

PERANAN DAN AKTIVITI SURAU DALAM MASYARAKAT MELAYU RAO

PERANAN DAN AKTIVITI SURAU DALAM MASYARAKAT MELAYU RAO
Afriadi Sanusi


Abstrak
Kertas kerja ini membahaskan tentang Peranan dan Aktiviti Surau dalam Masyarakat Melayu Rao. Kajian ini menggunakan metode kepustakaan, (library research) pengamatan, temu bual, dan kajian historis dengan menggunakan kaedah analisis data secara induktif, deduktif dan komparatif. Objek yang dikaji adalah peranan dan aktiviti surau di Rao dan membandingkannya dengan pengamalanya terhadap masyarakat keturunan Rao di Malaysia. Hasil kajian ini diharap dapat memberikan suatu gambaran yang jelas tentang peranan dan sumbangan surau dalam masyarakat Rao.

A. Pendahuluan
Minangkabau adalah bagian dari rumpun Melayu yang berasal dari Sumatera Barat. Suku Minang terkenal dalam bidang perdagangan dan pemerintahan. Kurang lebih dua pertiga dari jumlah keseluruhan anggota suku ini berada di perantauan. Suku Minang pada masa penjajahan Belanda terkenal sebagai suku yang terpelajar. Sampai sekarang majoriti suku Minang menyukai pendidikan dan perdagangan. Dalam pola keturunan dan pewarisan adat, suku Minang menganut matrilineal. Masyarakat suku Minang mendasarkan adat budayanya pada syariah Islam. "Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Syarak mangato adat mamakai." Konsep ini diasaskan oleh Tuanku Imam Bonjol seorang pahlawan, Ulama dan pejuang yang seangkatan dengan Tuanku Tambusai dan Tuanku Rao.
Identiti orang minang adalah beragama Islam dan seorang yang keluar dari Islam dibuang dari adat dan tidak diakui sebagai orang minang lagi. Di zaman keemasannya dahulu, Minangkabau dikenal sebagai lumbung penghasil tokoh dan pemimpin, baik dari kalangan alim ulama maupun cendekiawan pemikir dan pemimpin sosial politik, yang menyumbang di tatanan Nusantara serta dunia Internasional seperti Hamka, Abdul Muis, H. Agus Salim, Mr. Assaat, Mohammad Hatta, Mohammad Natsir, Mohammad Yamin, Sutan Sjahrir, Tuanku Imam Bonjol, Haji Muhammad Nur, Haji Utsman Bin Abdullah, Syeikh Abdul Hamid, Syeikh Abdul Karim Amrullah, Syeikh Abdul Rahman Minangkabau, Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Syeikh Burhanuddin, Syeikh Ismail Al-Minankabawi, Syeikh Muhammad Amrullah, Tuanku Abdullah Saleh, Syeikh Muhammad Saleh Al-Minankabawi, Muhammad Jamil Jambek, Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli, Syeikh Tahir Jalaluddin Al-Azhari, A.A Navis dan ramai lagi.
Ketika itu surau menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam komuniti masyarakat Minangkabau, dan surau telah memberikan sumbangan penting dalam perkembangan kehidupan masyarakat. Pada masa keemasan itu surau dalam konteks kultur budaya telah menjembatani kepentingan sosial dan kepentingan ritual ibadah, sehingga surau berfungsi ganda, pertama sebagai tempat bermalam anak lelaki yang berarti tempat tidur dan tempat beristirahat di malam hari. Kedua, surau sebagai tempat belajar dan menimba ilmu untuk bekal hidup. Proses pendewasaan anak lelaki yang tidur di surau di asuh oleh ninik-mamak kaum dengan konsep pendidikan alam takambang jadi guru .

Proses pebelajaran ini mencerminkan pendidikan semulajadi dengan menitik beratkan pada proses pendewasaan. Di surau ninik-mamak mewariskan ilmu kepada kaumnya. Pewarisan ini merupakan upaya untuk mempersiapkan kaum yang memiliki daya saing. Selain itu, sebagai upaya pemberdayaan kaum lelaki sekaligus mempersiapkannya sebagai pemimpin yang bertangung jawab. Pada periode ini taraf kealiman dapat diperoleh dengan selalu mengikuti pendidikan surau.

Suku Rao terdapat di Sumatera Barat, Indonesia saat ini. Kebanyakan suku Rao telah berhijrah ke luar seperti Jakarta, Medan, Malaysia dan sebagainya yang disebabkan ditaklukkannya Rao oleh Belanda tahun 1833 dan faktor lainya. Di sebelah Utara, Rao bersempadan dengan Sumatera Utara yang majoriti masyarakatnya adalah orang Mandahiling, di sebelah Timur bersempadan dengan Riau Daratan suku melayu, di Selatan, bersempadan Minangkabau (Sumatera Barat) manakala di sebelah Barat, terbuka dengan Selat Mentawai yang secara geografi membentuk permukaan bumi di daratan pulau Sumatera.

Secara geografis dan beberapa adat budayanya, orang Rao digolongkan kepada Minangkabau. Akan tetapi Rao memiliki beberapa identiti khazanah budaya sendiri yang tidak terdapat di Minangkabau. Ringkasnya orang Rao itu seperti orang Betawi di Jakarta atau orang Sunda di Bandung yang secara geografis berada dalam pulau Jawa, tetapi mereka tidak mahu dan tidak merasa sebagai orang Jawa, kerana Jawa menurut mereka identik dengan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Ini kerana mereka memiliki identiti budaya, bahasa dan ciri khas tersendiri yang tidak terdapat di Jawa. Secara kekuasaan pula mereka tidak tunduk di bawah taklukan kekuasaan Raja Jawa.

Prof. Dr Muchtar Naim mengatakan bahawa orang Rao berasal dari Lubu kamboja . Ini bererti bahawa antara orang Minang dengan orang Rao berasal dari suku yang sama. Akan tetapi tidak dikenal pasti siapakah yang lebih tua antara masyarakat Minangkabau atau orang Rao. Orang Rao kah berasal dari Minangkabau atau sebaliknya, masih menjadi bahan kajian hingga saat ini. Secara kekuasaan pula raja Rao tidak tunduk kepada kekuasaan Raja Pagaruyung kerana di Rao terdapat ramai Raja-raja kecil seperti halnya di Aceh juga demikian.

B. Islam masuk ke minangkabau
Islam telah masuk ke Minangkabau pada tahun 1250 M. Pendapat ini dikuatkan oleh sejarah perdagangan orang Arab ke berbagai belahan dunia. Masuknya Islam ke Minangkabau, sebagaimana diceritakan dalam catatan sejarah klasik MuballighulIslam terjadi pada tahun 580 H yang diawali dari sejarah terdamparnya saudagar Arab di perairan Minangkabau, yang kemudian menemukan perkampungan penduduk. Saudagar itu bernama Saidi Abdullah. Dia diterima oleh penduduk dan diakui sebagai anggota masyarakat. Saidi Abdullah memperkenalkan Islam kepada keluarga yang menerimanya dan kemudian kawin dengan putri kepala Dusun yang konon berasal dari keturunan raja Pagaruyung.

Dusun yang dihuni dan sekaligus sebagai tempat penyebaran Islam itu adalah kampung Durian yang terletak di kota Padang Sebelah Timur. Namun, setelah Saidi Abdullah meninggal, terjadi kekosongan penyebaran Islam, bahkan masyarakat kembali kepada agama lamanya. Sementara itu, ada yang menyebutkan bahwa masuknya Islam di Minangkabau terjadi pada abad ke 13 seiring dengan masuknya Islam di Nusantara dengan berdirinya kerajaan Samudara Pasai.

Perkembangan Islam di Minangkabau selanjutnya ditandai dengan diperintahnya kerajaan Pagaruyung oleh Raja Sultan Alif yang beragama Islam pada abad 16. Perkembangan Islam pada masa awal lebih terfokus pada peran Burhanuddin, setelah ia kembali menuntut ilmu dari seorang guru di Aceh bernama Alkalani Amin bin Abd Rauf Singkil Al Jawi bin Alfansyuri. Burhanuddin disebut sebagai peletak dasar Islam di Minangkabau. Akan tetapi, jika melihat pada alur sejarah, sebelumnya Islam sudah hadir di Minangkabau tetapi tidak dapat bertahan lama.

Berbasis pada pendidikan suraunya, Burhanuddin mengembangkan tradisi keislaman, bersama dengan murid-muridnya yang telah selesai belajar. Mereka mendirikan surau di tempat lain atau di kampung halamannya. Penyebaran Islam ketika itu banyak dilakukan oleh murid-murid Burhanuddin, hal ini menyebabkan terjadinya jaringan ajaran seorang ulama yang tersebar di berbagai daerah. Dalam pada itu surau sangat identik dengan ulama. Ulama melangsungkan pendidikan dan membentuk jamaah di surau.

Antara akhir abad ke-13 dan awal abad ke-16 di pulau Sumatera terdapat kerajaan-kerajaan Islam: Pasai, Perlak, Samudra, dan lain-lain yang semuanya terletak bagian utara pulau Sumatera. Mulai tahun 1514 berdiri pula Kerajaan Islam Aceh sampai tahun 1904.• Pada zaman kejayaan Kerajaan Aceh abad ke-15 dan ke-16, pedagang Aceh menguasai hampir seluruh bandar dagang di Pesisir Barat pulau Sumatera. Pedagang Islam inilah yang menyebarkan agama Islam di Pesisir Barat Sumatera Barat. Penyebaran agama Islam dilakukan secara besar-besaran pada abad ke-15 dan abad ke-16 di waktu kerajaan Aceh menguasai hampir seluruh perdagangan di Pesisir Barat pantai Sumatera.

Pendapat lain pula mengatakan bahawa agama Islam sudah mulai masuk ke Sumatera Barat kira-kira pertengahan abad ke-12 yang dibawa oleh Syeikh Burhanuddin yang meninggal di Kuntu Kampar pada tahun 1191. Beliau seorang Ulama Islam yang tinggal tidak menetap pada suatu tempat, tetapi berpindah-pindah. Beliau datang dari tanah Arab melalui Aceh masuk ke Sumatera Barat. Mengajar di Batuhampar Payakumbuh selama 10 tahun, Kumpulan Bonjol selama 5 tahun, Ulakan selama 11 tahun, Kuntu Kampar selama 15 tahun sampai dia meninggal di sana pada tahun 1191.

C. Sejarah Pendidikan Surau
Pendidikan Islam pertama di Sumatera Barat dilakukan oleh pedagang Islam dari Aceh. Sesudah Islam mulai berkembang, maka pendidikan Islam mulai dilaksanakan di surau untuk pertama kalinya di Sumatera Barat dimulai oleh Sheikh Burhanuddin di Ulakan, Pariaman pada tahun 1680. Kerajaan Aceh merupakan salah satu pusat pengembangan agama Islam serta ajarannya di Sumatera pada abad ke-17. Banyak murid yang datang ke Aceh untuk menuntut dan memperdalam ilmu pengetahuan tentang Islam, yang datang dari seluruh pelosok Indonesia, dan dari luar negeri.

Pendidikan surau Syeikh Burhanuddin memiliki ciri-ciri pola surau besar (masjid-pondok), rumah syeikh dan surau kecil (tempat keterampilan dan penginapan). Surau besar biasanya merupakan tempat berlangsungnya pendidikan secara bersama, ulama mengajar dan sekaligus pemilik surau. Sedangkan surau kecil dijadikan tempat tinggal pelajar dan diselenggarakan juga pendidikan, murid yang senior mengajarkan murid junior atas persetujuan ulama (guru). Semenjak tahun 1784 hukum Islam dan tasawuf menjadi bidang kajian yang penting di surau, ini dapat dilihat dari keberadaan Undang-undang Minangkabau yang di pengaruhi oleh tasawuf. Pendidikan surau ini hampir sama dengan sistem pesantren.

Di samping itu, berkembang pula pusat studi Islam yang dipelopori oleh Tuanku Nan Tuo di Koto Tuo tahun 1784. Menurut catatan sejarah, pada awal berdirinya surau Tuanku Nan Tuo memiliki murid lebih dari 1000 0rang, yakni jumlah yang sebanding dengan jumlah murid Burhanuddin, iaitu guru dari Tuanku Nan Tuo. peranan Tuanku Nan Tuo ini merupakan langkah awal di daerah darek membangun sebuah perkampungan pelajar, sekaligus merupakan agen transformasi sosial kultur masyarakat petani menuju keberagamaan. Di Minangkabau, banyak pergerakan-pergerakan lahir dari kaum surau yang terdidik ini. Pada masa pergerakan, muncul kegamangan dari kaum surau dalam melihat perubahan sosial, ekonomi, dan politik. Surau menjadi media Islam yang didirikan oleh para ulama.

Murid murid yang telah selesai menempuh pendidikan mendirikan surau di kampung halamannya, sehingga Islam di Minangkabau cepat diterima oleh masyarakat. Dalam hal ini, surau telah membentuk karakter masyarakat Minangkabau. Dari surau ulama-ulama membangun para pemikir Islam. Surau menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam pendidikan dan pemikiran keislaman orang Minangkabau. Corak dan karakter surau sangat ditentukan oleh otoriti ulama.

D. Metode Pendidikan Surau
Sistem pendidikan di surau pada mulanya berlangsung sangat sederhana, yakni berhalaqah, duduk bersila mendengarkan keterangan guru. Tidak ada mengenal tingkatan kelas apalagi ijazah. Biasanya murid-murid yang lebih yang telah lama dipercayai oleh guru untuk mengajar murid-murid yang baru datang. Ketika murid sudah memiliki kemampuan untuk mengajar dan ilmunya sudah dalam, maka guru mengizinkan murid tersebut untuk mengembangkan ilmunya ke tengah masyarakat. Murid itu pun mendirikan surau baru sebagai tempat untuk mengembangkan ilmunya

Seorang Syeikh dalam mengajar tidak menerima gaji, mereka mengajar ikhlas kerana Allah semata, bukan untuk mencari penghasilan. Seorang Syeikh mendirikan surau atau mengajar biasanya dengan biaya sendiri, kecuali kalau ada sumbangan anak negeri setempat berupa zakat dan fitrah. Syeikh yang sudah terkenal banyak menerima zakat fitrah, terutama dari bekas muridnya, sehingga dengan zakat fitrah itu, ia dapat memberikan biaya bagi beberapa orang muridnya yang tidak mampu.
Muridnya tidak membayar wang mengaji atau wang sekolah. Segala keperluan, mereka siapkan dan cari sendiri. Pada akhir abad ke-19 banyak ulama Islam Sumatera Barat yang belajar ke Mekah dan pada awal abad ke-20 mereka sudah kembali lagi ke Sumatera Barat, dan langsung mengajar di surau yang sudah ada. Sistem pendidikan Islam di Sumatera Barat pada masa ini dinamakan Sistem Pendidikan Surau, kerana pusat pendidikannya adalah surau tersebut. Pada dasarnya pendidikan Islam pada waktu itu terbagi atas dua bahagian, iaitu:

a. Pengajian AI-Quran.

Sistem yang dipergunakan dalam pengajian AI-Quran adalah guru duduk di tengah surau sedangkan murid duduk mengelilinginya dalam satu lingkaran atau guru duduk di sebelah ujung surau, murid duduk mengelilingi dalam bentuk setengah lingkaran. Dalam posisi yang demikian guru menyebutkan pelajaran dan murid mengulangi bersama-sama. Setiap pelajaran diucapkan guru dengan membaca menurut irama lagu pembacaan AI-Quran. Murid secara bersama menirukan apa yang diucapkan gurunya, termasuk irama lagunya. Di samping mengajarkan membaca AI-Quran, juga diajarkan cara mengerjakan sembahyang, keimanan, juga sifat Dua puluh. Pelajaran akhlak juga tidak ketinggalan, yang diberikan melalui kisah dan cerita nabi-nabi.

b. Pengajian Kitab

Pengajian Kitab yang dipelajari adalah ilmu Syaraf, Nahu, Fikih, dan Tafsir; yang diajarkan adalah arti dari kalimat AI-Quran tersebut. Cara mengajarkan ilmu tersebut ialah dengan bergantian, mula-mula diajarkan ilmu Syaraf saja. Apabila ilmu ini sudah dikuasai baru diajarkan ilmu Nahu dan kemudian ilmu Fikih. Murid yang telah tamat Pengajian Kitab, sudah menguasai tentang agama Islam secara mendalam ditambah dengan pengetahuan gramatika bahasa Arab.

Hampir semua pelajaran tersebut hafal dengan lancar di luar kepala, termasuk ayat Quran, dan hadis nabi. Sebagai kriteria buat menentukan berhasilnya seorang murid pengajian Kitab adalah: (1) hafal seluruh materi pelajaran, (2) dapat menyebutkan bahasa Arabnya dengan tepat, (3) dapat mengatakan dan menerangkan artinya, (4) dapat menguraikan maksud dan maknanya bagi kehidupan manusia, (5) lancar berbahasa Arab. Setelah tamat belajar dengan kriteria tersebut mereka diberi gelar Syeikh.

E. Falsafah Pendidikan Surau di Minangkabau
Surau adalah sebuah institusi pendidikan dan sosial tempat pembinaan anak nagari di Minangkabau. Disinilah tempat persemaian insan baru dengan ilmu ke-Islaman, ilmu kemasyarakatan dan adat istiadat serta berlatih beladiri silat. Adapun yang dapat dipelajari atau diajarkan di Surau adalah:
1. Pelajaran dan didikan agama setidak-tidaknya sekedar yang pokok-pokok yang harus dimiliki oleh seorang Islam. Pendidikan ini tidak setakat teori sahaja, tetapi langsung dipraktikkan dalam kehidupan pelajar, seperti bagaimana tata cara beribadah, tata cara bermuamalah, pengamalan akidah, akhlak dan sebagainya.
2. Pelajaran adat, tambo, pidato-pidato adat, hariang gendiang sampai-sampai bagaimana tata tertib di atas rumah orang (cara berumah tangga). Banyak sekali adat pantang larang dalam adat minangkabau yang selari dengan Islam seperti seorang bapak saudara yang ingin berkunjung kerumah kemenakannya harus batuk dulu beberapa kali sebelum mengucab salam. Ini untuk mengelakkan agar kemenakan tidak sedang menutup aurat dan sebagainya
3. Tidur bersama, mengaji bersama, shalat bersama, didikan seperti ini bertujuan untuk mendidik bagaimana cara bermasyarakat, dan bagaimana supaya pandai menyesuaikan diri dengan rakan-rakan yang lain.
4. Anak-anak akan dekat berkomunikasi dengan gurunya, didikan seperti ini untuk menempah agar pelajar tidak penakut dan supaya berjiwa besar, dan diberi pelajaran bela diri (silat) dan ilmu bathin lainnya untuk mempersiapkan diri dalam merantau nantinya
5. Di surau ini juga dapat dipelajari bagaimana cara berdagang, cara bertenun ataupun cara-cara serta pengalaman merantau. Ini bertujuan untuk mempersiapkan diri pelajar dalam mengharungi kehidupan apabila dia dewasa kelak
6. Setelah ada kaum pergerakan sekitar tahun 1915/1926, di surau-surau juga diadakan kursus-kursus politik. Ini dipengaruhi oleh sebab keadaan Nusantara yang terjajah ketika itu. Pelajar dicabar untuk memperjuangkan kemerdekaan dari penjajahan Belanda ketika itu.
Perlu diketahui, bahwa waktu itu, untuk mengetahui tinggi rendahnya pendidikan di suatu negeri dapat dilihat dari banyaknya surau serta murid yang mengaji disurau tersebut. Setelah adanya kaum pergerakan, sering diadakan kursus-kursus politik. Hampir disetiap surau, setelah selesai pengajian diadakan kursus politik. Di halaman-halaman surau biasanya terdapat lapangan untuk anak-anak bermain, bersukan di waktu lapang petang hari.
Pada dasarnya di surau dipelajari menulis dan membaca Al Qur'an dan ilmu ilmu agama terdiri dari ilmu akidah, ilmu syari'ah, dan ilmu akhlak. Kebiasaan dalam adat Minangkabau anak-anak muda menjelang kawin tinggal disurau, dengan sendirinya semua orang Minangkabau masa itu telah pandai membaca al Qur'an berikut menulisnya dan secara dasar mengetahui ilmu agama dalam bentuk alamiyah. Dengan demikian lembaga surau telah membebaskan orang Minangkabau dari buta huruf dan telah berhasil melahirkan ulama .
Disurau-surau diberikan kebebasan beberapa materi ilmu untuk mendidik murid berpikir nasional dan menumbuhkan sikap perlawanan terhadap kekuasaan yang dianggap membatasi gerakannya. Ini berlainan dengan konsep pendidikan Belanda pada abad ke 19 yang hanya bertujuan untuk kepentingan penjajahannya sahaja. Memasuki abad yang ke 20 Minangkabau menghasilkan "ulama" yang memiliki keahlian ilmu agama dan cendikiawan Muslim iaitu orang islam yang mempunyai keahlian ilmu umum dengan kualiti dan kuantiti yang sesuai dengan waktunya. Kedua kelompok ini merupakan cikal bakal bagi intelektual Minangkabau, meskipun pemerintahan Belanda memisahkan intelektual minangkabau menjadi ulama dan intelektual umum .
F. Perkembangan Pendidikan Surau
Surau mendapat perkembangan baru dengan kembalinya tiga orang ulama Minangkabau dari Timur Tengah iaitu: Haji Miskin, Haji Piobang dan Haji Sumanik. Pengajian surau yang sebelumnya lebih banyak kepada tasawuf, mengarah kepada akidah dan syari'ah yang lebih banyak dipengaruhi oleh ajaran Hambali. Pada masa berikutnya surau berkembang pesat dimana pada akhir abad ke 19 terkenal nama beberapa surau di pelosok Minangkabau. Pengasuh yang selama ini disebut tuanku, pada waktu belakangan bernama "Syeikh" :
Awal abad 20 beberapa orang ulama minangkabau kembali dari Mekkah, setelah menamatkan pendidikan seperti Syeikh Ahmad Khatib yang juga putra Minang. Setelah menetap dikampung masing-masing, mereka mendirikan surau dengan paham barunya yang popular di antaranya adalah: Syeikh Muhammad Taib Umar di Sungayang. Syeikh Abdullah Ahmad di Padang. Syeikh Abdul Karim Amrullah di Maninjau kemudian di Padang Panjang. Syeikh Muhammad Jamil Jambek di Bukittinggi. Syeikh Sulaiman Ar Rasuli di Canduang Agam. Syeikh Ibrahim Musa di Parabek Agam. Syeikh Muhammad Jami Jao di Padang Panjang. Syeikh Abbas Abdullah di Padang Japang Payakumbuah. Syeikh Abdul Wahid di tabek Gadang
Kemudian terjadi pembaharuan pendidikan agama di Minangkabau. Ada dua bentuk pembaharuan yang berlaku dalam pendidikan agama, pertama memasuki materi pelajaran yang biasa disebut ilmu umum kedalam pendidikan agama, kedua merobah sistem pendidikan surau jadi madrasah atau sekolah yang mempunyai kelas dan bertingkat. Di antara tokoh pembaharu itu muncul nama Dr H. Abdullah Ahmad dengan "Adabiyah"nya dan El Yunusy bersaudara dengan "Diniyah"nya.
Pembaharuan menjadi madrasah ini disatu pihak mempercepat pencapaian suatu tingkat ilmu pengetahuan dan memperjelas batasan batasannya. Dari segi lain memasukkan pelajaran umum kedalam kurikulum pendidikan agama berarti mengurangi volume pelajaran agama. Meskipun terjadi pengurangan, tetapi kerana masa itu madrasah masih berada dalam wilayah dan lingkungan surau, kekurangan pelajaran agama masih dapat disempurnakan di luar kelas, sehingga secara global materi pelajaran agama tidak berkurang dari masa lalu.
Suatu kemajuan pada masa pembaharuan ini adalah munculnya media publikasi di madrasah-madrasah dalam bentuk majalah yang mempublikasikan karya ilmiah dan pendapat yang dimunculkan oleh ulama yang ada pada waktu itu. Di antara majalah yang popular adalah; Al-Munir di Padang Panjang, Al-Basyir di Sungayang, Al-Bayan di Parabek, Al-Iman di Padang Panjang, Al-Ittiqan di Maninjau, Nurul Yaqin di Batusangkar, dan Al-Mizan diterbitkan Tarbiyah Islamiyah. Majalah-majalah tersebut kelihatannya dijiwai oleh majalah Al-Manar yang popular di Mesir pada ketika itu. Dengan adanya publikasi, tokoh ulama yang ada di madrasah yang menerbitkan majalah dan dimadrasah sekitarnya diketahui oleh orang banyak dan tersebar di Minangkabau, yang menyebabkan berdatangannya murid-murid dari luar daerah untuk belajar di madrasah-madrasah yang ada di wilayah Minangkabau.
Pada waktu bersamaan ketokohan ulama semakin menonjol dengan tampilnya ulama sebagai tokoh politik yang membimbing umat Islam dalam menghadapi penjajahan Belanda. Umat pada masa itu tidak dapat menggantungkan harapannya kepada pemimpin formal, kerana jabatan pemimpin formal diduduki oleh orang Belanda dan Melayu yang berjiwa Belanda. Tumpuan umat terarah kepada ulama sebagai pemimpin non formal yang membimbing kehidupan keagamaannya dan kehidupan dunianya. Suatu keuntungan masuknya pelajaran umum ke madrasah adalah semakin mengecilnya arti perbezaan antara ulama atau cendikiawan agama dengan cendikiawan umum, bahkan dalam diri seorang dapat bertemu dua bidang yang kelihatannya berbeza itu, umpamanya pada diri Haji Agus Salim dan M. Natsir.
Sesudah perang dunia II perubahan nilai dalam kehidupan adat semakin terasa. Diantaranya anak muda tidak terbiasa lagi tidur di surau. Fungsi surau sebagai lembaga agama semakin berkurang. Surau hanya tempat ibadah. Pendidikan agama secara formal hanya ada dimadrasah. Dengan madrasah fungsinya sudah keluar dari lingkungan surau. Kalau dahulu surau dapat disamakan dengan pesantren yang terdapat di Jawa dengan beberapa perbedaannya, maka sesudah perang dunia kedua tidak ada lagi yang menjalankan fungsi pesantren di Minangkabau. Dengan keluarnya madrasah dari lingkungan surau bererti waktu belajar agama semakin sedikit dan waktu kesempatan tatap muka murid dan guru serta pembimbing agamanya semakin berkurangan.
G. Tokoh-Tokoh Pendidikan Surau di Minangkabau
Sebelum tahun 1900 ramai ulama Islam Sumatera Barat terkenal sebagai hasil pendidikan surau, pengetahuan mereka tentang Islam tidak kalah dengan pengetahuan ulama Islam abad ke-20. Di antara Tokoh-tokoh ulama Islam Sumatera Barat, yang terkenal sebagai hasil pendidikan surau dan nama-nama surau yang dibangsakan kepada pemilik dan nama tempatnya adalah :
Syeikh Muhammad Jamil (1842-1928), Syeikh Sa'ad Mungka (1857-1923), Syeikh Muhammad Dalil (1864-1923), Syeikh Thaher Jalaluddin (1869-1956), Syeikh Abdul Wahid (1878-1950), Syeikh Abdul Latif Syakur (1882-1963), Inyiak Adam BB (1889-1953), Prof. Mahmud Yunus (1899-1982), KH. Sirajuddin Abbas (1903-1980), Buya Datuk Palimo Kayo (1905-1985), Qasim Bakri (1907-1964), Prof. Dr. Mukhtar Yahya (1907-1986), Buya Mansur Dt. Nagari Basa (1908-1997), Prof. Ilyas Muhammad Ali (1908), Buya Umar Bakri (1912), Syeikh Muh.
Thaib Umar (1874-1920), Sungayang, Syeikh H. Abdullah Ahmad (1878-1933), Padang, (pendiri Pendidikan Adabiah School di Padang tahun 1909), Syeikh H. Abdul Karim Amarullah (1879-1945), Maninjau, (salah seorang Pimpinan surau Jembatan Besi yang banyak jasanya dalam pembaharuan pendidikan Islam. Surau itu sampai sekarang masih berdiri dengan Ruang Pendidikan Thawalib Padang Panjang). Syeikh M. Jamil Jambek (1860-1947), Bukittinggi, dengan Surau Tengah Sawah Bukit Tinggi yang sampai sekarang masih ada dengan nama Mesjid Tengah Sawah.
Syeikh H. Sulaiman Ar-Rasuli, Bukittinggi dengan Surau Candung Baso Bukittinggi, sekarang bernama Tarbiah Islamiah. Syeikh H. lbrahim Musa, Parabek, Bukittinggi yang terkenal dengan Surau Parabek yang sampai sekarang masih ada. Syeikh H. M. Jamil Jaho, Padang Panjang dengan Surau Jaho di Padang Panjang, yang sekarang bernama Tarbiah Islamiah. Syeikh H. Abbas Abdullah, Padang Japang, Payakumbuh dengan Surau Padang Japang yang sampai sekarang masih ada dengan nama Darul Funun Abbasiah. Syeikh H. Abdul Wahid, Tabek Gadang, Padang Japang, Payakumbuh dengan Surau Tabek Gadang yang sekarang bernama Tarbiah Islamiah.
Syeikh M. Saad, Mungkar, Payakumbuh dengan Surau Mungkar. Syeikh H. Mustafa Abdullah, saudara Syeikh H. Abdullah Padang Japang. Syeikh Daud Rasyidi (1880-1948) Syeikh Abdullah Khatib, Ladang Lawas, Bukittinggi, Syeikh M. Jamil Tungkar, Batusangkar, Syeikh Tuanku Kolok, Sungayang, Batusangkar, Syeikh Abdul Manaf Padang Ganting, Batusangkar, Syeikh M. Saleh, Padang Kandis, Suliki, Payakumbuh, Syeikh Abdullah, Padang Japang, Payakumbuh, Syeikh Ahmad, Alang Lawas, Padang. Syeikh Amarullah, Maninjau, Bukittinggi. Surau Syeikh Abdulah Khatib Ladang laweh, Surau Syeikh Muhammad Jamil Tungkar, Surau Syeikh Tuanku Kolok M.Ali di Sungayang, Surau Syeikh Abdul Manan Padang Gantiang.
Surau Syeikh Muhammad Soleh Padang Kandis, Surau Syeikh Abdulah Padang Japang, Surau Syeikh Ahmad alang Laweh, Surau Syeikh Amarullah Maninjau, Surau Tuanku Mansiangan nan Tuo di Paninjauan, Surau Tuanku Rao. Surau Tuanku Kecil di Koto Gadang, Surau Tuanku di Talang, Surau Tuanku di Sumanik, Surau Tuanku di Koto Baru, Surau Tuanku Nan Tuo di Ampek Angkek, Surau Tuanku di Kamang, Surau Tuanku Pakih Sagir. Tiga orang tokoh ulama yang menyiarkan agama di Sulawesi Selatan dan popular dikalangan umat Islam Sulawesi Selatan sampai waktu ini adalah ulama yang dihasilkan oleh pendidikan surau di Minangkabau. Akhir abad ke 18 surau iaitu: Datuak Ribandang, Datuak Patimang dan Datuak Ritiro
Disamping menghasilkan ulama besar, pendidikan Islam pada masa itu juga menghasilkan pemimpin masyarakat yang dihormati dan dipatuhi. Untuk mendapat predikat ulama Islam terkenal memerlukan waktu lama, kerana harus dipraktekkan dalam masyarakat terlebih dahulu. Penilaian yang diberikan masyarakat itu sukar didapat dengan segera. Sebagai guru mereka tidak saja mendidik orang lain, tetapi juga anak mereka, yang biasanya juga menjadi ulama besar di kemudian hari. Syeikh Ahmad, Alang Lawas, Padang mendidik anaknya Syeikh Abdullah Ahmad yang kemudian terkenal sebagai salah seorang tokoh pembaharu pendidikan Islam Sumatera Barat dengan Sekolah Adabiah (Adabiah School). Syeikh Abdul Karim Amarullah dididik langsung oleh ayahnya Syeikh Amarullah, Maninjau. Hampir seluruh Syeikh mendidik sendiri anak mereka dan semuanya berhasil dengan baik.

ltulah beberapa orang Syeikh yang dihormati dan dipatuhi serta diikuti rakyat Sumatera Barat ajaran-ajarannya. Surau mereka banyak didatangi oleh orang yang ingin memperdalam ilmu tentang Islam yang datang dari seluruh pelosok Sumatera Barat. Beberapa orang Syeikh terkenal sebagai pejuang kemerdekaan Indonesia di Sumatera Barat seperti Syeikh H. Sulaiman Ar-Rasuli, dan Syeikh H. M. Jamil Jambek. Pendidikan Islam pada masa ini selain melahirkan guru-guru besar di bidang agama Islam dan pemimpin masyarakat Sumatera Barat, juga melahirkan tokoh pejuang kemerdekaan yang gigih berjuang . Diantara yang ikut mengaji di Silungkang adalah Dr. Amir, Prof. Mr. M. Yamin dan Jamaludin Adinegoro. Beliau-beliau ini mengaji dan tinggal di surau Jambak dibawah asuhan H.M. Rasad. Paginya beliau-beliau ini sekolah HIS di Solok.

H. Biografi Ringkas Beberapa Tokoh Ulama Minangkabau
1. Syeikh Ahmad Khatib al-Minankabawi (1860-1916M)
Syeikh Ahmad Khatib bin Abdul Latif bin Abdullah al-Minankabawi dilahirkan dari keluarga yang berlatar belakang agama dan adat yang kuat pada 26 Juni 1860 M/6 Dzulhijjah 1276 H di Bukittinggi, Sumatera Barat. Ayahnya adalah seorang hakim dari kaum Paderi yang sangat menentang keberadaan kolonialisme di Minangkabau, Sumatera Barat. Masa kecil Ahmad Khatib dihabiskan untuk belajar dan menuntut ilmu. Pada tahun 1870, ia masuk sekolah pemerintah Belanda di Minangka¬bau, Sumatera Barat. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya ke sekolah guru (kweekschool) di Bukittinggi.

Sebagaimana anak-anak dari kaum Paderi lainnya, selain belajar di sekolah formal, ia juga belajar ilmu agama kepada orang tua dan guru ngajinya di Surau. Pada tahun 1881, Ahmad Khatib pergi ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji dan memperdalam ilmu agama. Di kota ini, ia belajar kepada ulama Mekah, seperti Sayyid Bakri Syatha, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, dan Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki. Atas penguasan dan pengetahuannya tentang madzhab imam Syafi‘i, Syeikh Ahmad Khatib telah diangkat sebagai “Imam Khatib dan Mufti Besar Madzhab Syafi‘i” di Masjid al-Haram, Mekah, sehingga ia berhak mengajarkan madzhab Syafi‘i dan menyandang gelar ‘Syeikh‘. Menurut riwayat, ia adalah satu-satunya ulama Indonesia yang mencapai penghargaan setinggi itu. Karya Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau yang telah ditemui ada17 judul. Ada yang ditulis dengan bahasa Arab dan ada juga dengan bahasa Melayu.
2. Syeikh Tahir Jalaluddin (Ahli Falak) (1869-1956M)
Nama lengkapnya ialah Syeikh Muhammad Tahir bin Muhammad bin Jalaluddin Ahmad bin Abdullah al- Minankabawi al-Azhari. lahir di Cangking, Minangkabau pukul 4.45 pada hari Selasa, 4 Ramadan 1286 Hijrah/8 Disember 1869 Masihi. Meninggal dunia di Kuala Kangsar, Perak, sesudah sembahyang Subuh pada hari Jumaat, 22 Rabiulawal 1376 Hijrah/26 Oktober 1956 Masihi. Pada tahun 1296 Hijrah/1879 Masihi, dalam usia 10 tahun beliau ke Mekah bersama Syeikh Ahmad Khatib bin Abdul Lathif. Sampai di Mekah beliau dipelihara oleh Syeikh Muhammad Saleh al-Kurdi. Beliau mengaji al-Quran kepada Syeikh Abdul Haq di Madrasah Asy-Syaikh Rahmatullah serta belajar kitab kepada Syeikh Umar Syatha, Syeikh Muhammad al-Khaiyath dan Syeikh Ahmad Khatib al-Minankabawi. Syeikh Ahmad al-Fathani juga termasuk salah seorang guru kepada Syeikh Tahir Jalaluddin. Menurut Muhammad Shagir terdapat 9 karya tulis beliau
3. Syeikh Sulaiman ar-Rasul (1871-1970)
Syeikh Sulaiman ar-Rasuli al-Minangkabawi, lahir di Candung, sekitar 10 km. sebelah timur Bukittinggi, Sumatra Barat, 1287 H./1871 M., wafat pada 29 Jumadil Awal 1390 H./1 Agustus 1970 M. Ia adalah seorang tokoh ulama dari golongan Kaum Tua yang gigih mempertahankan madzhab Syafi’i. Tak jarang pula, Beliau dipanggil dengan sebutan “Inyik Candung.” Ayahnya, Angku Mudo Muhammad Rasul, adalah seorang ulama yang disegani di kampung halamannya. Sebelum meneruskan studinya ke Mekah, Sulaiman ar-Rasuli pernah belajar kepada Syeikh Yahya al-Khalidi Magak, Bukittinggi, Sumatera Barat.
Pada masa itu Masyarakat Minang masih menggunakan sistem pengajian surau dalam bentuk halaqah sebagai sarana penyaluran pengetahuan keagamaan. Pendidikan terakhir Syeikh Sulaiman ar-Rasuli al-Minangkabawi adalah di Mekkah. Ulama Malaysia yang seangkatan dan sama-sama belajar di Mekkah dengannya antara lain adalah Syeikh Utsman Sarawak (1281 H/1864 M - 1339 H/1921 M), Tok Kenali (1287 H/1871 M - 1352 H/1933 M) dll. Dalam hal ini, Syeikh Sulaiman ar-Rasuli adalah ulama besar yang jarang tandingannya, kukuh dan kuat mempertahankan agama berorientasikan Sunni Syafi`i. Syeikh Sulaiman pulalah yang hingga kini dipercayai oleh masyarakat Minang sebagai penggagas landasan kemasyarakatan islami di Sumatera Barat dalam falsafah ”adat bersendikan Syara’, Syara’ bersendikan kitabullah ”.
Terdapat 9 tajuk karangan beliau. Syeikh Sulaiman ar-Rasuli juga merupakan ulama yang gigih mempertahankan tatanan kemasyarakatan Minangkabau untuk tetap mempertahankan tradisi kesalehan Nusantara. Setidak-tidaknya hal ini terlihat dari bagaimana Beliau memperjuangkan prinsip ”Bulat air karena pembuluh, bulat kata karena musyawarah ” serta ”Tungku tigo sajarangan ” yang telah diyakini masyarakat Minang sebagai cara kebijakan paling berurat berakar dalam tradisi Nusantara serta sama sekali tidak bertentangan dengan nilai-nilai Syariat Islam.
4. Syeikh Muhammad Jamil Jambek (1860-1947M)
Syeikh Muhammad Jambek, dilahirkan dari keluarga bangsawan. Dia juga merupakan keturunan penghulu. Ayahnya bernama Saleh Datuk Maleka, seorang kepala nagari Kurai, sedangkan ibunya berasal dari Sunda. Masa kecilnya tidak banyak diketahui. Namun, yang jelas Syeikh Muhammad Jambek mendapatkan pendidikan dasarnya di Sekolah Rendah yang khusus mempersiapkan pelajar untuk masuk ke sekolah guru. Kemudian, dia dibawa ke Mekkah oleh ayahnya pada usia 22 tahun, untuk menimba ilmu. Ketika itu dia berguru kepada Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau . Pada tahun 1903, dia kembali ke tanah air. Ia pun memilih mengamalkan ilmunya secara langsung kepada masyarakat; mengajarkan ilmu tentang ketauhidan dan mengaji.
Di antara murid-muridnya terdapat beberapa guru tarekat. Lantaran itulah Syeikh Muhammad Jambek dihormati sebagai Syeikh Tarekat. Setelah beberapa lama, Syeikh Muhammad Jambek berpikir melakukan kegiatan alternatif. Hatinya memang lebih condong untuk memberikan pengetahuannya, walaupun tidak melalui lembaga atau organisasi. Dia begitu tertarik pada usaha meningkatkan keimanan seseorang. Hingga kemudian dia mendirikan dua buah surau, yakni Surau Tengah Sawah dan Surau Kamang. Keduanya dikenal sebagai Surau Inyik Jambek .
5. Syeikh Muhammad Saleh al-Minangkabawi(1845-1933M)
Syeikh Muhammad Saleh dilahirkan di Kampung Tungkar, Luak Tanah Datar, Minangkabau, Sumatera Barat. Muridnya bernama Muhammad Saleh Mandahiling, penulis buku biografinya yang menyebut bahawa Syeikh Muhammad Saleh lahir kira-kira pada tahun 1266 Hijrah. Syeikh Muhammad Saleh berangkat ke Mekah sejak berumur 6 tahun dan mendapat pendidikan daripada orang tuanya, Syeikh Muhammad Thaiyib @ Syeikh Abdullah, seorang Syeikh haji di Mekah. Beliau sempat belajar kepada ulama-ulama besar Mekah yang terkenal, iaitu Saiyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syeikh Abu Bakar Syatha, Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki, Syeikh Abdul Hamid asy-Syarwani, Saiyid Umar Ba Junaid, Saiyid Muhammad Said Babshail dan Saiyid Abdullah Zawawi. Ahmad Shagir menulis terdapat 4 karya tulis beliau

6. Syeikh Muhammad Amrullah (1840-1909M)
Nama lengkap ialah Syeikh Muhammad Amrullah Tuanku Abdullah Saleh. Beliau inilah yang melahirkan dua orang tokoh besar di dunia Melayu. Yang seorang ialah anak beliau sendiri, Dr. Syeikh Haji Abdul Karim Amrullah. Dan yang seorang lagi ialah cucu beliau, Prof Dr Syeikh Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) Mendapat pendidikan awal daripada datuk atau nenek sendiri secara tradisi di Minangkabau, Buya Hamka menulis, ‘’Setelah cucunya itu berusia 14 tahun, setelah khatam mengaji al-Quran dengan ayahnya, Tuanku Syeikh Pariaman memesankan supaya cucunya itu dihantarkan ke Koto Tuo, kerana beliau sendiri yang hendak mengajarnya ilmu-ilmu agama. Bersama saudara sepupunya Tuanku Sutan, Muhammad Amrullah belajar Nahwu, Sharaf, Manthiq, Ma'ani, Tafsir dan Fiqh kepada neneknya.
7. Muhammad Rasul (1879-1945M)
Muhammad Rasul. Namanya nama yang terkenal ialah Dr. Syeikh Abdul Karim bin Amrullah. Beliau lahir pada hari Ahad, 17 Safar 1296 H/10 Februari 1879 M di Kepala Kebun, Betung Panjang, Negeri Sungai Batang, Manjinjau , Dalam Luhak Agam, Minangkabau, Sumatera Barat. Sejak berumur tujuh tahun, ayah dan ibunya telah memerintahkan beliau mendirikan sembahyang dan puasa pada bulan Ramadan. Selanjutnya pada usia 10 tahun, ayah saudaranya, Haji Abdus Samad membawanya ke Sibalantai, Tarusan, Painan belajar al-Quran daripada Tuanku Haji Hud dan Tuanku Pakih Samnun.

Pada usia 13 tahun beliau mulai belajar ilmu nahu dan saraf daripada ayahnya, Syeikh Amrullah. Ayahnya menghantarnya belajar ke Sungai Rotan, Pariaman, menuntut ilmu daripada Tuanku Sutan Muhammad Yusuf. Kemudian Syeikh Amrullah sendiri membawa anaknya Muhammad Rasul itu ke Mekah untuk mendalami pengetahuannya dengan ulama-ulama Mekah pada zaman itu. Ketika belajar di sana, usia Muhammad Rasul sekitar lingkungan 16 ke 17 tahun iaitu pada tahun 1312 H/1894 Masihi. Buya Hamka membahagikan karangan ayahnya kepada beberapa jenis. Yang ditulis pada peringkat awal mulai tahun 1908 M hingga tahun 1923 M, jumlahnya ada 15 judul. Yang dikarang setelah beliau mengikut Kongres Islam di Mesir ditulis mulai tahun 1928 M hingga tahun 1943 M, ada 11 judul.
8. Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah (Hamka) (1908-1981)
Buya Hamka seorang adalah ulama, politisi dan sastrawan besar yang tersohor dan dihormati di kawasan Asia. namanya Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah . Lahir di kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 dan meninggal di Jakarta 24 Juli 1981. Hamka mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Maninjau sehingga Darjah Dua. Ketika usianya mencapai 10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ beliau mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab.
Hamka juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang di ajar oleh ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjoparonto dan Ki Bagus Hadikusumo. Hamka pernah menerima beberapa anugerah pada peringkat nasional dan antarabangsa seperti anugerah kehormatan Doctor Honoris Causa, Universitas al-Azhar, 1958; Doktor Honoris Causa, Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974; dan gelaran Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno daripada pemerintah Indonesia. Selama hidupnya Hamka telah menghasilkan sekitar 300 karya
9. Haji Agus Salim (1884-1954)
Haji Agus Salim lahir dengan nama Mashudul Haq yang bermakna "pembela kebenaran” di Koto Gadang , Bukittinggi, Minangkabau, 8 Oktober 1884, meninggal di Jakarta, 4 November 1954. Beliau adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia. Pendidikan dasar ditempuh di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah khusus anak-anak Eropa, kemudian dilanjutkan ke Hoogere Burgerschool (HBS) di Batavia. Ketika lulus, ia berhasil menjadi lulusan terbaik di HBS seHindia Belanda. Pada tahun 1906, Salim berangkat ke Jeddah, Arab Saudi untuk bekerja di Konsulat Belanda di sana.
Pada periode inilah Salim berguru pada Syeh Ahmad Khatib, yang masih merupakan pamannya. Karier Agus Salim antara lain: Menteri Muda Luar Negeri Kabinet Sjahrir II 1946 dan Kabinet III 1947, pembukaan hubungan diplomatik Indonesia dengan negara-negara Arab, terutama Mesir pada tahun 1947, Menteri Luar Negeri Kabinet Amir Sjarifuddin 1947, Menteri Luar Negeri Kabinet Hatta 1948-1949. Di antara tahun 1946-1950 ia laksana bintang cemerlang dalam pergolakan politik Indonesia, sehingga kerap kali digelari "Orang Tua Besar" (The Grand Old Man). Ia pun pernah menjabat Menteri Luar Negeri RI pada kabinet Presidentil dan di tahun 1950 sampai akhir hayatnya dipercaya sebagai Penasehat Menteri Luar Negeri.
10. Dr Mohammad Natsir (1908-1993M)
Mohammad Natsir lahir di kota Alahan Panjang, Minangkabau, Sumatera Barat, 17 Juli 1908, wafat di Jakarta, 6 Februari 1993) adalah pemimpin Masyumi dan salah seorang tokoh politik dan tokoh Islam di Indonesia. Ayahnya adalah seorang pegawai pemerintahan di sana, dan kakeknya seorang ulama. Ketika kecil, Natsir belajar di HIS Solok serta di sekolah agama Islam yang dipimpin oleh para pengikut Haji Rasul. Tahun 1923-1927 Natsir mendapat beasiswa untuk sekolah di MULO, dan kemudian melanjutkan ke AMS Bandung hingga tamat pada tahun 1930. Dari 5 September 1950 hingga 26 April 1951 Natsir adalah Perdana Menteri Indonesia.
Banyak jabatan yang diamanahkan kepadanya. Diantaranya: 1. Ketua Jong Islamieten Bond, Bandung. 2. Mendirikan dan mengetuai Yayasan Pendidikan Islam di Bandung. 3. Direktur Pendidikan Islam, Bandung. 4. Menerbitkan majalah Pembela Islam, dalam melawan propaganda misionaris Kristen, antek-antek penjajah dan kaki tangan asing. 5. Anggota Dewan Kabupaten Bandung. 6. Kepala Biro Pendidikan Kota Madya (Bandung Shiyakusho). 7. Memimpin Majelis Al Islam A’la Indunisiya (MIAI). 8. Menjadi pimpinan Direktorat Pendidikan, di Jakarta. 9. Sekretaris Sekolah Tinggi Islam (STI) Jakarta. 10. Anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) 11. Anggota MPRS. 12. Pendiri dan pemimpin partai MASYUMI (Majlis Syuro Muslimin Indonesia).
13. Menteri Penerangan Republik Indonesia. 14. Perdana Menteri pertama Republik Indonesia. 15. Anggota Parlemen. 16. Anggota Konstituante. 17. Mendirikan dan memimpin Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII ) 18. Wakil Ketua Muktamar Islam Internasional, di Pakistan. 19. Aktif menemui tokoh, pemimpin dan dai di negara-negara Arab dan Islam untuk membangkitkan semangat membela Palestina. 20. Anggota Dewan Pendiri Rabithah Alam Islami (World Moslem League) 21. Anggota Majelis Ala Al-Alamy lil Masajid (Dewan Masjid Sedunia). 22. Presiden The Oxford Centre for Islamic Studies London. 23. Pendiri UII (Universitas Islam Indonesia) bersama Moh. Hatta, Kahar Mudzakkir, Wahid Hasyim,. Juga enam perguruan tinggi Islam besar lainnya di Indonesia.
24. Ketika presiden Soeharto kesulitan menuntaskan konforontasi Indonesia-Malaysia, Natsir tampil sebagai diplomat 25. Berkat jasa hubungan baik Natsir dengan PM Fukuda juga, pemerintah Jepang bersedia membantu Indonesia setelah perekonomian negara jatuh di masa Orde Lama dan setelah pemberontakan G 30 S/PKI. 28. Karena jasa baik dan pengaruh ketokohan DR. Muuhammad Natsir pula, Presiden Soeharto diterima di negara-negara Timur Tengah dan Dunia Islam, dan sebagainya.
Abdullah Al-’Aqil dalam bukunya, Min A’lami Al-Harakah wa Ad-Da’wah Al-Islamiyah Al-Mu’ashirah, menulis biografi singkat DR. Muhammad Natsir (satu-satunya dari Indonesia), beserta 70 tokoh dunia Islam lainny dari berbagai negara. Diantara tokoh-tokoh itu ada Syaikh Umar Tilmisani, Syaikh Muhammad Al-Ghazali, Abul A’la Al-maududi, Said Hawwa, Asy-Syahid Sayyid Quthb dan Abdullah Azam. Atas segala jasa dan kegiatannya pada tahun 1957 Natsir memperoleh bintang kehormatan dari Republik Tunisia untuk perjuangannya membantu kemerdekaaan Negara-negara Islam di Afrika Utara.Tahun 1967 dia mendapat gelar Doktor HC dari Universitas Islam Libanon dalam bidang politik Islam, menerima Faisal Award dari kerajaan Saudi Arabia pada tahun 1980 untuk pengabdiannya pada Islam dan Dr HC dari Universitas Sains dan Teknologi Malaysia pada tahun 1991 dalam bidang pemikiran Islam.
11. Prof. Dr Mahmud Yunus (1899-1982M)
Mahmud Yunus lahir di desa Sungayang, Batusangkar, Sumatera Barat, hari Sabtu 10 Pebruari 1899. Keluarganya adalah tokoh agama yang cukup terkemuka. Ayahnya bernama Yunus bin Incek menjadi pengajar surau yang dikelolanya sendiri. Ibundanya bernama Hafsah binti Imam Samiun merupakan anak Engku Gadang M Tahir bin Ali, pendiri serta pengasuh surau di wilayah itu. Sejak kecil, Mahmud Yunus dididik dalam lingkungan agama. Dia tidak pernah masuk ke sekolah umum. Ketika menginjak usia tujuh tahun (1906), Mahmud mulai belajar Alquran serta ibadah lainnya.
Gurunya adalah kakeknya sendiri. Mahmud sempat selama tiga tahun menimba ilmu di sekolah desa, tahun 1908. Namun saat duduk di kelas empat, dia merasa tidak betah lantaran seringnya pelajaran kelas sebelumnya diulangi. Dia pun memutuskan pindah ke madrasah yang berada di Surau Tanjung Pauh bernama Madrasah School, asuhan HM Thaib Umar, seorang tokoh pembaru Islam di Minangkabau. Beliau Memperoleh gelar doctor honoris causa di bidang ilmu tarbiyah dari IAIN Jakarta atas karya-karyanya dan jasanya dalam pengembangan pendidikan Islam di Indonesia. Sepanjang hidupnya, Mahmud menulis tak kurang dari 43 buku, termasuk tafsir Mahmud Yunus. Pada tahun 1982, Mahmud Yunus meninggal dunia.

I. Fungsi dan Aktiviti Surau Di Rao
Surau, masjid, munesah dan mushola adalah sama dari segi esensinya di Rao. Namun masjid identik dengan tempat sholat Jumaat. Nama munesah adalah pengaruh dari Aceh sebagai tempat pertama penyebaran Islam di Nusantara. Konsep pendidikan surau saat ini telah diambil alih dengan adanya madrasah ibtida`iyyah atau sekolah agama petang, namun peranan surau di Rao juga tidak kurang pentingnya saat ini, antaranya;
a. Tempat Suluk
Di Rao saat ini terdapat beberapa surau tempat suluk seperti di mudik tampang, Tobek Ateh dan sebagainya. Suluk juga disebut dengan tarekat atau pengajian tasawuf. Akan tetapi ilmuan Islam mendapati perbezaan yang asazi antara ke tiga istilah tersebut. Biasanya suluk dilakukan selama 40 hari dengan melakukan berbagai-bagai zikir dan amalan dalam surau tempat suluk. Peserta suluk biasanya diikuti oleh orang-orang tua yang berumur 40 tahun ke atas dan jarang sekali diikuti oleh anak-anak muda.

b. Tempat Kegiatan Keagamaan
Disurau biasanya dilakukan perayaan hari besar Islam seperti sholat dua hari raya, acara maulid Nabi, Isra` Mikraj dan Musabaqah Tilawatil Qur`an. Semua aktiviti tersebut telah menjadi budaya yang dilakukan secara terus menerus. Nilai murni yang terdapat dalam kegiatan hari besar keagamaan adalah kebersamaan dan pendidikan untuk berani tampil di khlayak ramai. Kaum perempuan akan memasak kue untuk dibawa ke masjid dan dimakan secara bersama-sama. Bayaran untuk ustaz yang dijemput dari jauh dikumpul dari yuran masyarakat, anak-anak akan tampil berlatih mengaji, pidato dan sebagainya. Surau juga biasanya digunakan sebagai tempat mesyuarat orang-orang kampong.

c. Tempat Mengaji anak-anak
Anak-anak Rao diwajibkan mengaji oleh orang tuanya di surau waktu petang hingga isyak. Mereka akan melakukan sholat magrib dan sholat isyak secara berjamaah bersama ustaz sebelum balik kerumah. Pelajaran yang utama diajarkan adalah membaca al-Qur`an dan fardu `ain seperti cara berwudhu`, sholat lima waktu, puasa, zakat dan sebagainya.

Yuran mengaji hanya dengan membawa sebotol susu beras setiap minggu dan membayar dua kaleng padi setiap tahunnya. Semuanya diserahkan kepada ustaz sebagai gaji. Anak-anak yang nakal suka bising waktu mengaji, suka mengganggu anak perempuan, tak dapat hapalan ayat pendek yang ditugaskan, tak tahu bacaan sholat dan sebagainya biasanya kena hukuman. Hukuman bagi anak yang diberikan ustaz terhadap nakal seperti kena tarik telinga, kena rotan, disuruh berdiri sebelah kaki, kena pukul dan sebagainya. Anak nakal tidak akan berani mengadu kepada orang tuanya kalau di surau dihukum oleh ustaznya. Kalau mengadu orang tua akan menambah kembali hukuman di rumah seperti yang dilakukan oleh ustaz terhadapnya di surau.

Pada bulan puasa Ramadhan masa anak-anak akan dihabiskan di surau. Mereka akan tidur, bermain, bercerita dan melakukan aktiviti lainya di surau. Aktiviti ini mengandungi nilai murni seperti persahabatan, kebersamaan dan kesetiakawanan. Dipekarangan surau juga biasa diajarkan silat beladiri. Seperti orang minang, orang Rao juga suka merantau. Lebih 2/3 orang Rao berada di luar saat ini. Silat adalah penting untuk mempertahankan diri disaat diganggu waktu merantau nantinya.

1. Mengaji Bahasa Rao

Identiti masyarakat Rao yang masih dipertahankan hingga saat ini di SM adalah mengaji bahasa Rao. Namun itu tidak semuanya mennggunakan metode ini. Hanya generasi yang tua sahaja masih menggunakan metode mengaji lama ini. Pun demikian di pelbagai daerah Minangkabau, Tapanuli (Mandahiling) dan Batak Indonesia, hingga saat ini masih ada yang mengaji menggunakan bahasa Rao ini. Sewaktu penulis sekolah rendah dahulu juga menggunakan metode ini juga. Baru-baru ini sahaja mengaji dengan menggunakan bahasa Rao sudah mulai dikalahkan dengan metode Iqra` karya As`ad Humam. Yang jelas dalam berbagai sejarah dinyatakan, beberapa daerah Mandailing dan Batak di Islamkan oleh Tuanku Rao cs. Cara orang mandailing menyuruh beruk memanjat dan memilih kelapa tua pun masih menggunakan bahasa Rao hingga saat ini. Berikut adalah tatacara mengaji menggunakan bahasa Rao;

Tulis Arab Bahasa Rao
اُ اِ اَ Alif dateh a, alif bawah i. alif dopen u →a-i-u
بَ بِ بُ Ba dateh ba, ba bawah bi, ba dopen bu →ba-bi-bu
تَ تِ تُ Ta dateh ta, ta bawah ti, ta dopen tu, →ta-ti-tu
ثَ ثِ ثُ Tsa dateh tsa, tsa bawah tsi, tsa dopen tsu →tsa-tsi-tsu
جَ جِ جُ Jim dateh ja- jim bawah ji- jim dopen ju→ ja-ji-ju
حَ حِ حُ Ha dateh ha, ha bawah hi, ha dopen hu →ha-hi-hu
خَ خِ خُ Kho dateh kho, kho bawah khi, kho dopen khu →kho-khi-khu
دَ دِ دُ Dal dateh da, dal bawah di, dal dopen du →da-di-du
ذَ ذِ ذُ Dzal dateh dza, dzal bawah dzi, dzal dopen dzu →dza-dzi-dzu
رَ رِ رُ Ro dateh ro, ro bawah ri, ro dopen ru →ra-ri-ru
زَ زِ زُ Zai dateh za, zai bawah zi, zai dopen zu→ za-zi-zu
سَ سِ سُ Syin dateh sa, sin bawah si, sin dopen su →sa-si-su
شَ شِ شُ Shin dateh sha, shin bawah shi, shin dopen shu→sha-shi-shu
صَ صِ صُ Shad dateh sho, shad bawah shi, shad dopen shu→sha-shi-shu
ضَ ضِ ضُ Dhad dateh dho, dhat bawah dhi, dhat dopen dhu →dho-dhi-dhu
طَ طِ طُ Tho dateh tho, tho bawah thi, tho dopen thu→Tha-thi-thu
ظَ ظِ ظُ Zho dateh zho, zho bawah zhi, zho dopen zhu→zha-zhi-zhu
عَ عِ عُ `ain dateh `a, `ain bawah `i `ain dopen `u →`a-`i-`u
غَ غِ غُ Ghin dateh gho, ghin bawah ghi, ghin dopen ghu→gha-ghi-ghu
فَ فِ فُ Fa dateh fa, fa bawah fi, fa dopen fu→fa-fi-fu
قَ قِ قُ Kho dateh kho, kho bawah khi, kho dopen khu→kho-khi-khu
كَ كِ كُ Kaf dateh ka, kaf bawah ki, kaf dopen ku →ka-ki-ku
لَ لِ لُ Lam dateh la, lam bawah li, lam dopen lu→la-li-lu
مَ مِ مُ Mim dateh ma, mim bawah mi, mim dopen mu→ma-mi-mu
نَ نِ نُ Nun dateh na, nun bawah ni, nun dopen nu→na-ni-nu
وَ وِ وُ Waw dateh wa, wau bawah wi, waw dopen wu →wa-wi-wu
هَ هِ هُ Ha dateh ha, ha bawah hi, ha dopen hu →ha-hi-hu
ءَ ءِ ءُ Hamzah dateh a, hamzah bawah i, hamzah dopen u→ a-i-u
يَ يِ يُ Ya dateh ya, ya bawah yi, ya dopen yu →ya-yi-yu-
Tulis Arab Bahasa Rao
اٌ اٍ اً Alif duo dateh an, alif duo bawah in. alif duo di dopen un →an-in-un
بً بٍ بٌ Ba duo dateh ban, ba duo bawah bin, ba duo dopen bun →ban-bin-bun
تً تٍ تٌ Ta duo dateh tan, ta duo bawah tin, ta duo dopen tun, →tan-tin-tun
ثً ثٍ ثٌ Tsa duo dateh tsan, tsa duo bawah tsin, tsa duo dopen tsun →tsan-tsin-tsun
جً جٍ جٌ Jim duo dateh jan- jim duo bawah jin- jin duo dopen jun→ jan-jin-jun
حً حٍ حٌ Ha duo dateh han, ha duo bawah hin, ha duo dopen hun →han-hin-hun
خً خٍ خٌ Kho duo dateh khan, kho duo bawah khin, kho duo dopen khun →khon-khin-khun
دً دٍ دٌ Dal duo dateh dan, dal duo bawah din, dal duo dopen dun →dan-din-dun
ذً ذٍ ذٌ Dzal duo dateh dzan, dzal duo bawah dzin, dzal duo dopen dzun →dzan-dzin-dzun
رً رٍ رٌ Ro duo dateh ran, ra duo bawah rin, ro duo dopen run →ran-rin-run
زً زٍ زٌ Zai duo dateh zan, zai duo dibawah zin, zai duo dopen zun→ zan-zin-zun
سً سٍ سٌ Syin duo dateh san, sin duo dibawah sin, sin duo dopen sun →san-sin-sun
شً شٍ شٌ Shin duo dateh shan, shin duo bawah shin, shin duo di dopen shun→shan-shin-shun
صً صٍ صٌ Shad duo dateh shan, shad duo bawah shin, shad duo di dopen shun→shan-shin-shun
ضً ضٍ ضٌ Dhod duo dateh dhan, dhat duo bawah dhin, dhat duo dopen dhun →dhan-dhin-dhun
طً طٍ طٌ Tho duo dateh thon, tha duo bawah thin, tho duo dopen thun→Than-thin-thun
ظً ظٍ ظٌ Zha duo dateh zhon, zha duo bawah zhin, zha duo dopen zhu→zhan-zhin-zhun
عً عٍ عٌ `ain duo dateh `an, `ain duo bawah `in `ain duo di dopen `un →`an-`in-`un
غً غٍ غٌ Ghin duo dateh ghan, ghin duo bawah ghin, ghin duo dopen ghun→ghan-ghin-ghun
فً فٍ فٌ Fa duo dateh fan, fa duo bawah fin, fa duo di dopen fun→fan-fin-fun
قً قٍ قٌ Khaf duo dateh khan, khaf duo bawah khin, khaf duo dopen khun→khon=khin-khun
كً كٍ كٌ Kaf duo dateh kan, kaf duo bawah kin, ka duo dopen kun →kan-kin-kun
لً لٍ لٌ Lam duo dateh lan, lam duo bawah lin, lam duo dopen lun→lan-lin-lun
مً مٍ مٌ Mim duo dateh man, mim duo bawah min, mim duo dopen mun→man-min-mun
نً نٍ نٌ Nun duo dateh nan, nun duo bawah nin, nun duo dopen nun→nan-nin-nun
وً وٍ وٌ Waw duo dateh wan, wau duo bawah win, waw duo dopen wun →wan-win-wun
هً هٍ هٌ Ha duo dateh han, ha duo bawah hin, ha duo dopen hun →han-hin-hun
ءً ءٍ ءٌ Hamzah duo dateh an, hamzah duo bawah in, hamzah duo dopen un→ an-in-un
يً يٍ يٌ Ya duo diateh yan, ya duo bawah yin, ya duo dopen yun →yan-yin-yun-


Di zaman modern ini anak-anak lelaki Rao tidak tidur disurau menurut konsep klasik lagi, tetapi dirumah orang tua mereka. Namun demikian ada dua budaya baru di masjid dan surau saat ini yang cukup menunjang perkembangan mental anak-anak iaitu;
1. Kuliah Subuh
Dalam kuliah subuh yang diadakan setiap ahad pagi selepas sholat subuh, para pelajar akan solat subuh berjamaah di surau dan selepas itu akan diadakan kuliah subuh yang secara bergilir dibawakan oleh anak-anak mengaji. Muatan pelajaran dalam kuliah subuh adalah; murid akan mengaji berirama, menyampaikan bacaan sholat wajib dan sholat jenazah. Rukun iman dan rukun Islam, menyanyi nasyid, pidato, berdo`a, asma`ul khusna, nama dan tugas malaikat, nama-nama Nabi dan Rasul dan sebagainya dan diakhiri oleh nasehat ringkas dari ustaz yang membimbingnya . Konsep kuliah subuh ini akan mendidik keberanian pelajar untuk tampil dihadapan khalayak ramai kelak.

2. Kuliah tujuh menit (Kultum)
Kuliah tujuh menit dibawakan oleh pelajar yang dewasa, ustaz atau penduduk kampong secara bergilir sesuai dengan bidang masing-masing akan memberikan kuliah setelah azan dan sebelum iqamat dalam sholat zuhur. Seorang diploma ekonomi umpamanya akan berpidato tidak melebihi tujuh menit menerangkan tentang prinsip pelaksanaan ekonomi yang baik dan seterusnya . Konsep ini akan mendidik masyarakat menjadi orang yang berani dan bertanggung jawab atas ide-ide yang dikemukakannya.
J. Analisa dan Kesimpulan
Dalam sistem pendidikan surau suatu ketika dahulu di Minangkabau, anak-anak yang telah berumur tujuh tahun, disuruh tidur di surau, dan merasa malu kalau masih sahaja tidur di rumah orang tuanya. Di surau anak-anak diperkenalkan dengan pelajaran dan didikan asas-asas agama Islam, pelajaran adat budaya minangkabau, tambo, silat, pidato-pidato adat, tata cara berumah tangga. Di surau anak-anak tidur bersama, mengaji bersama, shalat bersama, agar mereka dididik bagaimana tata cara bermasyarakat, dan bagaimana supaya pandai menyesuaikan diri dengan khalayak ramai.
Di surau anak-anak tinggal sekali dengan guru mereka, masa yang lapang itu digunakan untuk belajar silat, bercerita, berkomunikasi, dan bekerja, dengan tujuan agar anak-anak tidak penakut dan supaya mereka berjiwa besar. Di surau juga dapat dipelajari bagaimana cara berdagang, cara bertenun pakaian dan songket, cara-cara serta pengalaman merantau. Di surau-surau juga diadakan kursus-kursus politik disaat bumi Nusantara berada dalam jajahan Belanda.
Ramai tokoh-tokoh ulama silam yang berasal dari lembaga pendidikan surau. Nama-nama tokoh ulama besar seperti Hamka, Mohammad Natsir, Syaikh Ahmad Khatib, Haji Rasul, Djamil Djambek, Abdullah Ahmad, Inyiak Canduang, Mahmud Yunus, AR. Sutan Mansur, KH. Agus Salim, Tuanku Rao, Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Tambusai dan lainnya adalah keluaran institusi pendidikan surau suatu ketika dahulu. Kebanyakan dari mereka berjaya tidak melalui pendidikan formal, tetapi melalui otodidak (belajar sendiri) semua kejayaan itu tidak terlepas dari pengaruh didikan surau sebelum ini tentunya.
Fungsi masjid dizaman modern ini agak dipersempit kepada tempat mengerjakan ibadah mahdhah sahaja. Masjid dijauhi oleh generasi muda, kerana tiada daya tarik. Mereka disalahkan atas setiap penyimpangan yang berlaku. Generasi muda dihadapkan pada masalah klasik Khilafiyah yang mewarnai hampir setiap aspek kehidupan beribadah ummat. Sering kita terhalang untuk membaca al-Qur`an kerana belum berwudhu`, anak-anak dilarang daripada mendekati kitab suci, membaca tafsir, buku-buku agama, memasuki masjid kerana dikhawatirkan tidak suci dan sebagainya. Padahal semua itu adalah masalah khilafiyah yang dibesar-besarkan.
Peranan dan aktiviti surau dalam masyarakat melayu Rao saat ini masih mempertahankan idea dan konsep lama dengan beberapa perubahan. Hasil pengamatan dan wawancara penulis dengan masyarakat keturunan Rao di Malaysia mengatakan bahawa, amalan pendidikan surau ini juga diamalkan oleh generasi awal keturunan Rao di Malaysia. Akan tetapi disebabkan oleh perkembangan zaman, adat dan kebiasaan itu sudah mulai berubah dan ditinggalkan.

Bibliografi
Afriadi Sanusi (2008) Usaha Membendung Pengaruh Islam Liberal: Kajian Terhadap Strategi KH. Ahmad Dahlan Dalam Memurnikan Ajaran Islam. Bangi: kertas kerja dalam Seminar Peringkat Kebangsaan Persatuan Ulama Malaysia.

_____ (2008) Peranan Surau Dalam Menghasilkan Tokoh-Tokoh Ulama Melayu Silam Di Minangkabau. Kelantan: Kertas kerja dalam Seminar Kebangsaan Pengurusan Masjid, Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaya, Nilam Puri.

A. Kardiyat Wiharyanto (2005) Asia Tenggara Zaman Pranasionalisme. Jogjakarta: Universitas Sanata Dharma.

Adriyetti Amir et. Al (2006) Pemetaan Sastera Lisan Minangkabau. Padang: Andalas University Press

Anwar Harjono dkk. (2001) Pemikiran dan Perjuangan Mohammad Natsir. Jakarta: Pustaka Firdaus

Azyumardi Azra (2004) Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad XVII & XVIII. Jakarta: Kencana, h. 50

Buletin Silungkang, Nomor : 001/SM/JUNI/1998

Deliar Noer (1994) Gerakan Moderen Islam di Indonesia. Jakarta: LP3S. op.cit, h. 38-40

Hamka (1974) Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao: Bantahan Terhadap tulisan Ir Onggan Parlindungan dalam bukunya Tuanku Rao. Jakarta: Bulan Bintang

_____ (2007) Ayahku : riwayat hidup Dr. H. Abdul Karim Amrullah dan perjuangan kaum agama di Sumatera. Shah Alam, Selangor : Pustaka Dini

_____ (2007) Tasauf Modern. Jakarta: Pustaka Panjimas

Hasmah Haji Omar (2005) Sama Serumpun. Tanjung malim: UPSI

Hasyim Awang (1998) Rumpun Melayu Dispora dalam konteks hubungan Ras. Kuala Lumpur: Universiti Malaya

http://jaro.com.my/

http://sekondakhati.com.my/

http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/m/mahmudyunus/index.shtml

Kenangan-kenangan 70 tahun Buya Hamka. Jakarta : Yayasan Islam, (1979)

Khazin Mohd Tamrin dalam DInamika Adat dan Tradisi Merantau di Alam Melayu dalam adat Melayu serumpun. Kuala Lumpur: Universiti Malaya

Komaruddin Hidayat dan Ahmad Gaus(2006) Menjadi Indonesia: 13 Abad Eksistensi Islam di Bumi Nusantara. Jakarta: Mizan

Lukman Sinar Harian Waspada: Medan

M. Rajab (1976) Perang Paderi. Jakarta: Bulan Bintang

M. Solihin (2005) Melacak pemikiran Tasawuf di Nusantara. Jakarta: Rajawali Pers

Mahmud Yunus, (1996) Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Hidakarya Agung

Mohd. Koharuddin Moh. Balwi (2005) Peradaban Melayu. Johor: UTM

Prof. DR H. Amir Syarifuddin. http://www.cimbuak.net/content/view/77/46/.

Sejarah Pendidikan Daerah Sumatera Barat. http://pakguruonline.pendidikan.net/

Shalahuddin Hamid, Iskandar Ahza (2003) 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Indonesia. Jakarta: Intimedia

Silfia Hanani, M.Si. dalam makalah: Difusi Ajaran dan Pemikiran Ulama dalam Sejarah Islam Minangkabau dalam: http://ern.pendis.depag.go.id/DokPdf/ern-II-03.pdf

Tengku Sutan Hermansyah M. Saman (2003) Sejarah Masuknya Agama Islam ke Minangkabau. Padang: Terbit

Tuanku Rao dan Rakyat Rao Melawan Penjajah. Medan: Tiga Saudara

Umar Ahmad Tambusai (1999) Pahlawan Nasional Tuanku Tambusai. Riau: Pemda TK II Kampar

Undri, (2008) Pusat Dokumentasi Informasi Sejarah-Budaya BPSNT Padang. Padang Ekspres
_____ (2004) Konflik Lahan Perkebunan 1930-1960. Padang: Lipi

Wan Moh. Shagir Abdullah (2001) Penyebaran Islam dan Silsilah Ulama Sehagat Dunia Melayu. Kuala Lumpur: Khazanah Fathaniyah

Wan Moh. Shagir Abdullah (2004) Wawasan Pemikiran Islam Ulama Asia Tenggara. Kuala Lumpur: Khazanah Fathaniyah

Wawancara dengan penduduk kampong Koto Tua Bukit Tinggi Sumatera Barat Indonesia bulan mei 2008

Wawancara Dengan Penjaga Museum Buya Hamka di Maninjau Sumatera Barat Indonesia, 24 Mei 2008

Wawancara dengan pimpinan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Pimpinan Universitas Muhammad Natsir di Jakarta dan dengan Pimpinan Universitas Ibn Khaldun di Bogor bulan mei 2008

www.antara-sumbar.com/id

www.id.wikipedia.com

Zaffuan Haji Manaf (2007) Bingkisan Sejarah Raub: Rao Dan Pagaruyung Dengan Raub dan Pahang. Kuala Lumpur: Anjung Media Resources

Zuriati (2007) Undang-undang Minangkabau Dalam Perspektif Ulama Sufi. Padang: Unand